
Karena sering bersama dengan pria itu Lucio tidak mau lagi tidur di box. Dia selalu ingin bersama Eduardo, bahkan saat bangun dia selalu mencarinya.
Akhirnya Eduardo memilih tinggal di rumah Cella karena Lucio, dia selalu tidur bersama anak itu. Eduardo sangat menyayangi Lucio dan Sabrina.
Terdengar tawa Lucio saat Eduardo menggelitik pinggangnya, dia berusaha melepaskan diri dari Eduardo. Pria itu tertawa kemudian dia menurunkan Lucio dan membiarkannya bermain dengan mobil-mobilan.
Eduardo meninggalkan Lucio kemudian dia pergi ke dapur menemui Cella yang sedang memasak. Sedangkan Sabrina dia bermain sendiri dengan boneka-bonekanya.
Eduardo berjalan perlahan-lahan kemudian memeluk Cella dari belakang, dia mengatur rambut wanita itu ke samping kemudian mengecup lehernya.
“Kamu sedang memasak apa?” tanya Eduardo dengan berbisik di kuping Cella.
“Aku hanya membuat spageti, kamu suka?” jawab wanita itu sambil mengaduk masakannya.
“Tentu saja aku suka, apalagi yang membuatnya calon istriku tercinta,” sahut Eduardo dengan bercanda lalu Cella tertawa dan memegang tangan pria itu yang sedang melingkar di perutnya.
“Baiklah, aku akan melanjutkan memasaknya,” ujarnya kemudian Eduardo memutar tubuh Cella dan mencium bibir mungil itu.
Cella melingkarkan tangan di punggung Eduardo kemudian dia membalas ciuman pria itu. Dia membiarkan tangan Eduardo menggerayangi tubuhnya.
Eduardo menyandarkan tubuh Cella ke tembok dan mengecup leher jenjang itu. Saat dia meremas dada sang kekasih, wanita itu langsung menghentikan tangan Eduardo.
“Aku akan memasak,” ujar Cella dengan mendorong pelan tubuh Eduardo.
“Maaf kalau aku terlalu berlebihan.” Cella menganggukan kepala kemudian dia kembali melanjutkan memasaknya, sedangkan Eduardo dia duduk dan memperhatikan wanita itu.
Sementara di sebuah ruangan terlihat anak buah Logan sedang berjalan menghampiri tuan Willfredo yang sedang duduk di kursi kerja. Dia ingin menjalankan perintah Logan untuk membunuh lelaki tua itu.
Willfredo tidak curiga dengan orang itu, dia berusaha tersenyum dan menyuruhnya duduk tapi pria itu mengeluarkan pistol dan menodongkan di kepala Willfredo.
Tuan Willfredo terkejut dan mengangkat kedua tangannya. Pria itu menghampiri Willfredo dan membuka laci meja, dia mengambil pistol milik tuan itu kemudian menembakkan di kepala bagian samping lelaki tua itu.
Kepala Willfredo tergeletak di meja dengan berlumuran darah, pria itu langsung membersikan sidik jarinya kemudian dia membuat tangan Willfredo menggenggam pistol itu.
Pria itu dengan cepat meninggalkan ruang kerja kemudian berpura-pura berlari dari arah dapur menuju ke ruang kerja, dia melihat beberapa pengawal sudah berada di depan pintu.
“Suara apa itu?” Dia pura-pura bertanya untuk menghilangkan kecurigaan.
“Kami juga tidak tahu,” jawab salah satu pengawal kemudian mereka membuka pintu dan melihat Willfredo sudah tidak bernyawa lagi.
Salah satu dari mereka langsung menghubungi 911 dan ambulance. Para pengawal lain berpikir kalau bos mereka bunuh diri. Tidak lama kemudian polisi datang.
Mereka langsung memeriksa tempat itu, jasad Willfredo langsung di angkut ke ambulance. Salah satu anak buah menghubungi putri tuan itu.
Sedangkan anak buah Logan yang menyamar itu mengirim pesan kepada bosnya, dia memberitahukan pekerjaan yang dia lakukan sudah selesai.
Mendapat kabar dari anak buah, Logan sangat senang. Pikirannya menjadi tenang, kini dia ingin mencari kabar keberadaan kedua anaknya.
****
__ADS_1
Eduardo dan Cella sedang duduk di ruang santai sambil memperhatikan Sabrina sedang bermain. Dia tidak melepaskan genggamannya dari wanita itu sesekali bibirnya mengecup punggung tangan Cella.
Dia sangat bahagia berada di samping wanita itu. Saat Sabrina pergi ke kamarnya, Eduardo langsung mencium bibir Cella.
Dia membaringkan Cella di sofa kemudian mereka berdua melanjutkan berciuman, Eduardo memasukkan lidah ke dalam mulut wanita itu, dia memainkannya
Lalu Cella menggigit dengan lembut, dia mulai membalas memasukan lidah ke dalam mulut Eduardo dan membelai rambut pria itu.
Eduardo mulai meremas dada Cella dengan lembut sehingga wanita itu memejamkan mata dan membiarkan tangan itu masuk ke dalam rok dan mengelus pahanya.
Cella mulai merasakan jemari Eduardo bermain di sana, kembali dia memejamkan mata lalu terdengar desahaan dari bibirnya.
“Ah, Logan.” Tanpa sadar dia menyebut nama sang mantan dengan pelan, tapi Eduardo tidak mendengarnya. Dia terlalu sibuk memainkan jemarinya dia ingin membuat wanita itu merasakan kenikmatan.
Eduardo kembali mencium bibir Cella sembari jemarinya terus bermain di sana, desahaan-desahaan kenikmatan keluar dari bibr wanita itu.
Cella meremas rambut Eduardo dia merasakan jari tengah itu mulai menerobos, kembali wanita itu mendesah dia mulai merasakan kenikmatan yang sudah lama dia tidak rasakan.
Sedangkan Eduardo, dia memainkan dengan cepat jarinya sambil terus mencium bibir wanita itu. Tiba-tiba tubuh Cella tersentak, dia mengalami pelepasan.
Dia mengerang di kuping Eduardo lalu pria itu mengeluarkan jarinya dan tersenyum melihat Cella yang masih memejamkan mata.
Eduardo mengecup kening Cella dan turun dari atas tubuh wanita itu. Cella berdiri dan pergi ke kamar mandi, dia menatap wajahnya di depan cermin lalu air mata menetes. Dia terduduk di lantai dan menangis.
“Mengapa aku selalu terbayang wajahmu?” Dia terus menangis lalu tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.
“Cella, kamu kenapa? Mengapa kamu menangis? Aku minta maaf kalau aku sudah melakukan hal itu padamu,” ujar Eduardo seraya mengangkat wanita itu.
“Apakah kamu marah padaku?” tanya Eduardo dengan membelai rambut Cella lalu wanita itu menggelengkan kepala. Eduardo berbaring di samping sang kekasih lalu memeluknya dari belakang.
“Maafkan aku,” bisik Eduardo lagi lalu Cella memegang tangan sang kekasih yang ada di perutnya dan memejamkan mata.
Sedangkan di Brazil Logan masih termenung di kamarnya, dia sangat rindu kepada Cella dan kedua anaknya.
“Sampai saat ini aku tidak tahu keberadaan mereka dimana, ini semua salahku. Hanya karena ingin membalas dendam akhirnya istri dan anak-anak menjadi korban.” Logan berdiri dan pergi ke taman, dia membuka botol minuman dan menuangnya di dalam gelas.
Sementara itu Eduardo mengajak Cella, Lucio dan Sabrina ke Brazil, dia ingin mengenalkan wanita itu kepada kedua orang tuanya. Mereka tiba di kota Teresina lalu Eduardo membawa mereka ke rumahnya.
Cella memperhatikan rumah Eduardo yang begitu besar, tidak ada foto yang tergantung di dinding. Eduardo memeluk wanita itu dari belakang dan berbisik.
“Kamu suka rumah ini?” Cella tersenyum dan melepaskan tangan Eduardo.
“Iya, tapi kita tidak akan tinggal di Brazilkan?” tanya Cella dengan menatap mata Eduardo.
“Tentu saja tidak, Sayang. Kita hanya seminggu di sini,” sahut Eduardo dengan mengecup bibir Cella lalu wanita itu tersenyum.
“Kita hanya istirahat saja di sini, aku akan mengajakmu ke suatu tempat.” sambungnya dengan melingkarkan tangan di pinggang wanita itu.
“Kemana?” tanya Cella dengan mengerutkan dahi.
__ADS_1
“Rahasia, kamu pasti akan suka tempat itu,” sahut Eduardo dengan berbisik di kuping Cella. “Sekarang kita istirahat.” Cella mengangggukan kepala kemudian mengikuti pria itu dari belakang.
Eduardo mengantar Cella, Lucio dan Sabrina ke kamar kemudian dia meninggalkan mereka. Sedangkan Cella Lucio dan Sabrina, berbaring di tempat tidur lalu Lucio menangis mencari pria itu.
Mendengar Lucio menangis, Eduardo pergi ke kamar Cella dan mengambil Lucio. Dia tersenyum dan membawa anak itu ke ruang tidurnya. Melihat Lucio pergi dengan Eduardo, Sabrina juga ingin ikut dengan mereka.
“Mommy, aku mau tidur dengan papi,” ujar Sabrina dengan memegang pipi Cella.
“Sayang, kalau kamu tidur dengan papi terus mommy tidur sendiri?” Sabrina tersenyum kemudian dia mengecup bibir Cella dan memeluknya.
“Kita tidur sekarang, tutup matamu.” Sabrina menutup matanya kemudian Cella mengecup kening sang putri. Dia memperhatikan wajah anak itu dan mengelus pipinya.
‘Kamu benar-benar sudah melupakan papi Logan,’ ujar Cella dengan membelai rambut Sabrina. Dia tersenyum sendiri kemudian kembali mengecup kening putrinya kemudian dia pergi ke dapur.
Saat dia akan mengambil gelas, Cella merasakan tangan Eduardo melingkar di perut. Wanita itu membalikkan badan kemudian dia tersenyum.
“Lucio sudah tidur?” tanya Cella seraya mengambil air di kran.
“Iya dia sudah tidur,” jawab Eduardo kemudian melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu.
Mereka berdua saling bertatap mata lalu Eduardo mencium bibir wanita itu, tangannya mulai menggerayangi tubuh sang kekasih. Sedangkan Cella, dia memejamkan mata dan membiarkan tubuhnya di jamah.
Pria itu mengangkat Cella dan membaringkan di sofa kemudian dia menindihnya. Kembali mereka berdua berciuman, tangan Eduardo melepaskan pakaian wanita itu.
Begitu juga dengan Cella dia melepaskan kaos yang di kenakan Eduardo kemudian dia melemparnya ke lantai lalu kembali berciuman. Sudah lama dia tidak merasakan hubungan itu, semenjak berpisah dengan mantan suami di tidak pernah melakukannya.
Malam ini dia membiarkan Eduardo bekerja di atas tubuhnya, dia sangat menikmati permainan pria itu. Saat benda itu memasukinya, wanita itu meringis kesakitan.
Eduardo berhenti kemudian dia mengecup bibir Cella, dia tahu dua tahun lebih wanita itu tidak melakukan hubungan. Eduardo ingin melakukan dengan perlahan-lahan.
“Kamu seperti perawan lagi,” bisiknya lalu Cella tertawa dan mencubit perut pria itu.
“Pelan-pelan.” Eduardo tersenyum dan melakukan dengan perlahan-lahan.
Cella mengerutkan dahi menahan sakit, dia teringat saat pertama kali melakukan dengan Logan. Dia memejamkan mata dan merasakan benda keras itu berhasil menerobos.
Dia meremas lengan Eduardo dan meringis kesakitan, pria itu melakukan dengan lembut. Dia bekerja di atas tubuh Cella sambil mencium bibir sang kekasih.
Cella mulai merasakan kenikmatan itu, dia mendesah di telinga Eduardo dan merasakan pria itu mulai bermain dengan cepat. Kaki satunya melingkar di pinggang sang kekasih.
Napasnya terhenti saat pria itu menghentakkan pinggangnya berulang kali, Cella memejamkan mata, dia menarik Eduardo dan memeluknya dengan erat.
Eduardo terus bekerja, dia ingin memberikan wanita itu kenikmatan. Lalu tubuh Cella tersentak dia mengalami pelepasan. Eduardo tidak berhenti, dia melakukan dengan cepat dan akhirnya dia mencapai titi puncak.
Berulangkali dia menghentakkan pinggangnya kemudian Eduardo terbaring di atas tubuh wanita itu, mereka berdua saling bertatap mata lalu Cella mengecup bibir kekasihnya.
“Terima kasih,” ucap Eduardo seraya turun dari atas tubuh wanita itu.
“Sama-sama,” balas Cella sambil meletakan kepalanya di dada pria itu.
__ADS_1
Cella memejamkan mata dan membelai dada bidang itu, sudah lama dia tidak merasakan kenikmatan itu dan malam ini Eduardo membuat dia mengalami beberapa kali pelepasan. Ibu dari dua anak itu sangat puas dengan permainan kekasihnya.