SUAMI BAJINGAN

SUAMI BAJINGAN
Pergi ke Spain


__ADS_3

Hari ini mereka akan berangkat ke Spain, nampak Carlos masih membereskan barang barang yang akan  dibawah. Sementara Jessica duduk disisi tempat tidur memperhatikan sang kekasih yang terlihat begitu sibuk.


Ingin membantu tapi Carlos tidak mengijinkannya, pria itu tidak ingin wanitanya kelelahan. Selesai membereskan barang Carlos menghampiri Jessica berdiri tepat hadapan sang kekasih, lalu membelai rambutnya.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Carlos sambil mengusap pipi Jessica. Memang semenjak kandungan Jessica masuk lima bulan dia sering merasakan sakit di pinggangnya.


“Iya, hanya pinggang dan belakangku sedikit sakit,” jawab Jessica dengan membenamkan wajahnya di perut  Carlos.


“Sakit sekali, Sayang?” Kembali Carlos bertanya. “Kalau sakit kita tunda saja ke Spanyol, kamu kedokter dulu.” Jessica menggelengkan kepala.


“Tidak usah, Babe kita tetap berangkat hari ini, aku tidak apa apa. Memang begitu kalau hamil  aku baca di buku,” tutur Jessica menenagkan sang pria agar tidak khawatir.


“Kandunganku sekarang sudah lima bulan bayinya sudah mulai bergerak, aku baca di buku seperti itu.” Kembali dia menjelaskan kepada Carlos seperti apa yang dia baca. Jessica mengerti karena ini anak pertama.


“Benar, Sayang?” Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu juga bayi kita, kamu tahu’kan aku sangat mencintaimu. Kamu juga bayi kita adalah kebahagiaanku.” Carlos mengecup ubun kepala Jessica, tetap masih ada perasaan khawatir dalam dirinya.


“Iya, Babe. Aku tidak apa-apa,” jawab Jessica sambil tersenyum. “Aku mau turun sebentar ke bawah  ingin makan buah.” Jessica berdiri dan mengusap lengan Carlos.


“Turunnya pelan-pelan ya.” Carlos mengingatkan. Jessica menganggukan kepala, meninggalkan pria itu lalu pergi ke ruang makan.


Dia berpapasan dengan Liliana, wanita berperut buncit itu tersenyum kepada calon mertuanya.


“Kalian sudah siap, Sayang?” tanya Liliana sambil menghampiri Jessica.


“Sudah, Mom,” jawab Jessica  pada Liliana sambil mencari buah anggur tapi ternyata sudah habis.


“Kamu sedang cari apa?”  Kembali Liliana bertanya dengan memperhatikan Jessica.


“Ehm, aku mencari buah anggur, tapi sepertinya sudah habis.” Jessica tersenyum dan menggaruk kepala yang tidak gatal.


“Iya, sudah habis. Sebentar mommy akan suruh mereka beli,” ujar Liliana kemudian memanggil salah satu pelayan rumah.


“Ah, tidak usah, Mom. Aku makan buah yang lain saja, ini juga masih ada jeruk dan apel. Aku makan ini saja!” Sambil mengambil buah jeruk dan menunjukan kepada Liliana.


“Baiklah, mommy ke kemar sebentar.” Jessica menganggukan kepala.


“Iya, Mom.” Liliana meninggalkan Jessica.


Sementara wanita itu duduk meja makan,  mengambil jeruk yang dia letakan tadi dan mengupasnya. Sambil memakannya, dia melihat Carlos sedang berjalan mengarah padanya. ‘Hm … dia begitu tampan tidak disangka akhirnya akan menjadi milikku selamanya. Awalnya hanya menganggap dia sebagai kakak penolongku. Tapi siapa sangka dia akan menjadi suamiku,’ gumam Jessica degan mengagumi calon suaminya.

__ADS_1


Pertemuan Jessica dengan Carlos mengubah hidup wanita itu. Ya inilah hidup, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan. Manusia hanya mereka-reka jalannya tapi yang menentukan hidup kita hanya sang Ilahi.


‘Ternyata benar apa yang dikatakan pastor, kita jangan pernah takut akan hari esok karena segala sesuatu sudah di atur oleh Tuhan. Siapa sangka aku akan bertemu dengan Carlos, aku bisa katakan ini sudah jalannya Tuhan.’ Kembali dia bergumam pada dirinya sendiri.


Carlos tersenyum kepada Jessica dan duduk di samping wanitanya. “Sebentar lagi kita akan berangkat, Sayang. Kamu baik-baik sajakan?” tanya Carlos sambil tangan menemperl di perut wanita buncitnya.


“Iya, aku baik-baik saja,” Jawab Jessica lalu terdengar suara Federico sedang menelpon. Entah berbicara dengan siapa.


“Oh, pesawatnya sudah siap? Baiklah kalau begitu kami akan berangkat sekarang.” Pria tua itu menghampiri Jessica dan Carlos lalu bertanya. “Apakah kalian sudah siap semua?”


“Sudah, Dadd. Kami sudah siap,” jawab Carlos pada Federico.


“Ok, kalau begitu suruh mereka menurunkan barang-barang kalian.” Carlos berdiri lalu mencari pelayan, dan meminta mereka untuk membawa barang-barangnya ke mobil.


Jessica naik ke atas, masuk ke kamar  mengambil tasnya kemudian turun kembali, menemui mereka yang sedang menunggu di depan.


Jessica dan Carlos masuk ke dalam mobil, sementara Liliana dan Federico di kendaraan yang satu lagi.


Mobil keluar dari halaman rumah dan pergi ke airport. Tapi di perjalanan Jessica memperhatikan jalannya berbeda saat pertama dia datang.


‘Kenapa jalannya lain. Ini bukan mengarah ke airport.’ Jessica penasaran dan bertanya pada Carlos.  “Babe, kita mau ke airport mana?”


“Oh ... begitu.” Carlos tersenyum dan memegang tangan Jessica.


Akhirnya mereka’pun tiba, keempatnya disambut oleh Pilot dan Co Pilot. ‘Sungguh Pilot sama Co Pilot sangat ganteng,’ kagum Jessica dalam hati. Dia menatap kedua pria berbadan lebih tinggi dari Carlos dan mengangguminya.


“Lagi hamil masih saja melirik laki-laki lain, apa aku kurang tampan bagimu?” Jessica terkejut dengan colekan jari Carlos di pinggangnya, menatap pria itu sambil tertawa.


“Babe, Tuhan menciptakan mata itu untuk melihat, jadi apa salahnya aku melihat yang indah-indah di depanku,” canda Jessica tapi lebih ingin menggoda kekasihnya.


“Iya, tapi ingat calon suamimu berada disampingmu dan kamu melirik laki-laki di depan mataku.” Kembali Jessica tertaw tertawa dan mencubit lengan Carlos.


“Kamu cemburu ya?” Wajah Carlos terlihat sangat kesal.


“Tentu saja, Sayang. Kalau aku tidak mencintaimu aku tidak akan cemburu,” sahut Carlos dengan ketus.


Carlos memegang tangan Jessica menaiki tangga pesawat, mereka masuk lalu Carlos mengantar wanitanya ke tempat duduk.


Kemudian Liliana dan Federico masuk, mereka berdua tesenyum pada Jessica. Liliana menghampiri calon menantunya dan bertanya.

__ADS_1


“Kamu baik-baik saja, Sayang?”


“Iya, Mom. Aku baik-baik saja.” Mendengar jawaban Jessica, Liliana terlihat tenang. Dia kembali ke tempat duduknya.


Carlos duduk di samping Jessica, memegang tangan sang wanita saat pesawat mulai jalan dan semakin lama semakin cepat dan akhirnya take off.


Jessica melihat dari jendela pesawat naik semakin tinggi, viewnya semakin indah dan akhirnya hanya terlihat awan putih juga langit yang biru.


Jessica melihat Carlos sedang baca buku, belakang dan pinggangnya mulai terasa sakit. Dia berdiri untuk menghilangkan rasa sakit itu.


“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Carlos dengan memperhatikan raut wajah Jessica.


“Belakangku kembali sakit,” jawa Jessica sambil tangan memegang pinggangnya.


Liliana dan Federico melihatnya, Liliana berdiri dan menghampiri Jessica. “Kenapa? Kamu baik-baik saja?” tanya Liliana dengan mengelus belakang Jessica.


“Hm ... belakangku terasa sakit, jadi aku berdiri untuk menghilangkan rasa sakit.


“Oh ... memang seperti itu, Sayang kandunganmu sudah lima bulan, lebih baik kamu berbaring saja.” Carlos berdiri dan mengantar Jessica ke kamar yang tidak besar, kalau dilihat khusus satu orang.


Jessica berbaring dengan memunggungi Carlos dan meminta pria itu untuk mengelus belakangnya.


“Masih sakit, Sayang?” tanya Carlos sambil tangan tak henti mengelus belakang wanitanya.


“Sedikit Babe,” jawab Jessica. Carlos berbaring di samping Jessica menarik wanita itu untuk tidur dadanya. Jessica merapatkan tubuhnya, melingkarkan tangan di pinggang Carlos. Dia merasa nyaman berada di dekapan sang kekasih.


“Tidur, Sayang. perjalanannya masih lama.”


“Berapa jam?” tanya Jessica dengan memejamkan mata.


“Sekitar delapan jam, kita tidak akan transit,”  jawab Carlos.


“Oh ... begitu ya,” gumam Jessica, mencoba untuk tidur tapi tidak bisa. Jessica meminta satu bantal pada Carlos untuk mengganjal kepalanya.


Dia ingin membaca novel, Jessica menggunakan headphone dan mendengar instrumen music sambil.


Carlos menatapnya, sambil tersenyum dia mengelus perut Jessica. Bukan sang wanita yang tertidur malah pria itu.


Selamat membaca

__ADS_1


Terima kasih bagi yang masih setia memberi like dan koment


__ADS_2