
Logan kembali menerima pesan dari wanita itu, dia meminta Logan untuk mengantarnya bertemu dengan rekan bisnis di restoran nanti malam. Dengan berat hati dia membalas pesan itu, kemudian tidur.
Malamnya pria itu pergi ke tempat Maurent, Logan tiba kemudian turun dari mobilnya dan mengeluarkan kendaraan yang sering dia gunakan untuk mengantar Maurent dari garasi.
Terlihat Maurent keluar dari rumah dengan pakaian santai, dia masuk ke dalam mobil lalu memasang sabuk pengaman dan meminta Logan mengantarnya ke restoran.
Logan menjalankan kendaraannya menuju ke restoran seperti perintah Maurent, di dalam mobil dia hanya diam saja. Tiba-tiba dia merasakan tangan wanita itu membuka resleting celananya, Logan hanya diam saja. Sekalipun dia menolak, Maurent pasti tetap akan memaksa.
Dia merasakan tangan lembut itu mengeluarkan miliknya dari balik celana. Logan menahan napas saat dia merasakan bendanya masuk ke dalam mulut wanita itu. Logan meletakkan sikut di pintu mobil kemudian mengepalkan tangan dan menggigitnya, dia tidak tahan dengan permainan wanita itu.
Kali ini Logan tidak tahan lagi, dia meremas gagang stir lalu mengalami pelepasan. Maurent tersenyum kemudian merapikan celana pria itu, dia merasa puas karena berhasil membuat kekasih Cella mengalami pelepasan.
“Aku suka cairan hangat milikmu," ujar Maurent tapi Logan hanya diam dan terus menyetir.
Maurent membersihkan mulutnya dengan tissue lalu dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Akhirnya mereka tiba di restoran, Maurent turun lalu dia mengajak Logan untuk ikut dengannya tapi pria itu menolak, dia memilih tinggal di mobil.
Logan lebih memilih diam di mobil, dia ingin mencari cara agar dia bisa terlepas dari Maurent. Dia sudah tidak tahan lagi bekerja kepada wanita itu, Logan terus dihantui rasa bersalah kepada kekasihnya.
Apakah aku jujur saja kepada Cella? Tapi aku takut dia meninggalkanku. Ah, harus bagaimana ini? Kalau aku tetap di sini aku akan semakin tersiksa. Dia keluar dari mobil dan mengambil ponsel di saku celananya bermaksud ingin menelepon Cella.
Tiba-tiba empat pria mendekatinya dan salah satu dari mereka merebut ponsel dari tangan Logan. Logan menjadi emosi dia ingin menghajar pria itu tapi dua orang menahannya, Logan berhasil melepaskan diri dan melayangkan pukulan, dia menghajar ke empat pria itu.
Salah satu dari mereka mengeluarkan pisau dan menghunuskan ke tubu Logan, kekasih Cella tidak sempat menghindar, dan pisau itu masuk ke pinggangnya. Dua tusukan mengenai pinggang Logan.
Saat pria itu ingin menusuk lagi tiba-tiba mobil patroli datang, mereka langsung melarikan diri dengan membawa ponsel milik Logan. Sementara Logan tersungkur di tanah lalu polisi datang menghampirinya, salah satu petugas langsung menghubungi Ambulance.
Melihat keramaian di luar, Maurent langsung berdiri dan keluar dari restoran, dia terkejut melihat Logan terkapar di tanah. Dia berlari menghampiri Logan tapi polisi menghalanginya.
Tidak lama kemudian Ambulance datang, mereka langsung memasukkan Logan ke dalam mobil itu, tidak ketinggalan Maurent juga ikut masuk ke dalam Ambulance.
Logan tidak mau menatap Maurent dia memejamkan mata dan memikirkan kekasihnya. Dia juga merasakan sakit di pinggang yang terkena tusukan itu.
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit, Logan langsung di bawah ke dalam untuk mendapatkan perawatan. Mereka memasukkan kekasih Cella di ruang bedah, sedangkan Maurent dan kedua polisi menunggu di depan ruang.
Torrance
Cella dan Nasya berbincang-bincang di dekat mobil, mereka baru saja selesai jalan-jalan. Cella tidak tahu kalau sudah terjadi sesuatu kepada kekasihnya.
“Kamu tidak menghubungi Logan?” tanya Nasya sambil bersandar di mobilnya.
“Iya, nanti aku akan menghubunginya,” sahut Cella seraya melihat jam di tangannya. “Nasya, bagaimana kalau kita berbincang di dalam saja,”
“Ah, Cella. Aku harus pulang ini sudah malam, oh ya besok tidak ada jam kuliah sampai senin ya?” tanya Nasya seraya membuka pintu mobil.
“Iya, tidak ada. Bagaimana kalau besok kita pergi ke San Jose, kita ajak juga Nicky,” ajak gadis itu dengan wajah memohon.
“Um, nanti aku tanya Nicky ya, kalau begitu aku pulang dulu,” sahut Nasya sambil masuk ke mobil.
“Kabari aku kalau Nicky mau ikut.” Nasya tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Iya, Cella. Aku pasti kabari kamu, aku pergi ya,” pamit Nasya sambil menghidupkan mesin mobilnya.
__ADS_1
“Ok, hati-hati ya,” pesan Cella dengan tersenyum kepada sahabatnya.
“Tentu saja kesayangan Logan,” canda Nasya lalu Cella tertawa dan mencubit pipi Nasya.
“Jangan menggodaku,” canda Cella dengan wajah cemberut. Nasya tertawa kemudian menjalankan mobilnya, dia melambaikan tangan kepada Cella dan meninggalkan kediaman gadis itu.
Cella masuk ke dalam rumah, dia langsung menuju kamarnya. Dia melepaskan tas dan mengambil ponsel, dia ingin menghubungi Logan. Cella berbaring di tempat tidur dan menempelkan ponsel di kuping, terlihat dia mengkerutkan dahi.
“Kenapa ponselnya tidak aktif? Tidak biasanya.” Cella bangun dan duduk di tempat tidur kemudian dia mencoba menghubungi Logan kembali, tapi tetap sama.
San Jose
Dokter keluar dan menemui Polisi juga Maurent, dia ingin menjelaskan kepada wanita itu dan petugas keadaan Logan.
“Satu tusukan nyaris kena ginjalnya, tapi dia tidak apa-apa. Sebentar lagi kalian bisa menemuinya,” jelas dokter kepada polisi dan Maurent. Terlihat Maurent menarik napas lega setelah mendengar penjelasan dokter.
“Terima kasih,” ucap salah satu polisi kemudian dia duduk.
Tidak lama kemudian Logan di pindahkan ke ruang perawatan. Maurent dan dua polisi masuk. Logan menatap Maurent dan meminta wanita itu untuk mendekat.
“Boleh aku pinjam ponselmu? Aku ingin beri tahu pacarku kalau aku di rumah sakit. Aku tidak ingin dia khawatir,” pinta Logan dengan suara yang masih terdengar lemah.
“Maaf, Logan. Ponselku habis baterai,” bohong Maurent, dia tidak ingin Logan menghubungi Cella. Wanita itu ingin dia yang merawatnya.
“Baiklah kalau begitu,” sahut Logan kemudian dia memejamkan mata dan menahan rasa sakit.
Salah satu polisi menghampiri Logan dan bertanya-tanya tentang kronologi kejadian yang menimpanya. Logan menceritakan semuanya kepada pria itu, lalu Polisi menulisnya.
Polisi itu tersenyum lalu dia mengambil ponsel itu di kantong yang terkait di pinggangnya kemudian dia menatap Logan.
“Katakan saja nomornya dan aku akan menghubungi pacarmu,” ujar polisi itu lalu Logan memberitahukan nomor kekasihnya. Polisi itu keluar dari ruangan dan menghubungi Cella. Sedangkan Maurent dia terlihat kesal saat Logan meminta tolong kepada polisi, dia duduk di sofa dengan wajah cemberut.
Torrance
Cella terus mencoba menghubungi kekasihnya tapi ponsel Logan tetap tidak aktif. Dia menjadi khawatir, Cella duduk di sisi tempat tidur lalu ponselnya berbunyi. dia melihat nomor tidak kenal, Cella mengkerutkan dahi dan berpikir siapa pemilik nomor yang mengubunginya. Cella penasaran kemudian dia menjawab panggilan itu lalu terdengar suara seorag pria dari seberang telepon.
“Selamat malam, Nona. Kami dari kepolisian wilayah San Jose, apakah Anda mengenal tuan Logan?” Mendengar Polisi yang menelepon, Cella langsung menjadi khawatir, jantungnya berdegub dengan cepat.
“Iya, Opsir. Aku mengenal Logan, dia pacarku. Ada apa dengannya, Opsir?” tanya gadis itu dengan khawatir.
“Ya, kami ingin beritahu kalau sekarang tuan Logan sedang berada di rumah sakit, dia meminta kami untuk memberitahukan kepada Anda,” sahut polisi itu dari seberang telepon.
“Opsir tolong beritahu aku, dia di rumah sakit mana sekarang?” tanya Cella seraya mondar-mandir di kamar.
Opsir memberitahukan kepada Cella rumah sakit tempat Logan di rawat. Cella langsung menutup ponselnya kemudian berlari keluar. Dia langsung menuju ke kamar Jessica, Cella mengetuk kamar orang tuanya lalu pintu terbuka.
“Ada apa, Sayang,” tanya Jessica sambil menatap wajah putrinya yang terlihat sangat khawatir.
“Mam, aku ingin bicara sebentar tapi tidak disini,” pinta gadis itu dengan wajah memohon. Dia tidak ingin Carlos mendengarnya.
“Baiklah, Sayang. Ayo ikut mama.” Jessica mengajak Cella pergi ke ruang kerja. Mereka berdua masuk lalu Jessica memegang pipi putrinya.
__ADS_1
“Ada apa, Sayang. Mengapa wajahmu terlihat sangat khawatir seperti itu?” tanya Jessica seraya membelai rambut putrinya.
“Mam, ijinkan aku ke San Jose malam ini, Logan di rumah sakit. Tadi polisi meneleponku, aku khawatir sudah terjadi sesuatu padanya,” pinta Cella dengan memohon kepada mamanya lalu Jessica mengusap airmata Cella.
“Sayang, ini sudah malam. Kamu mau pergi dengan siapa? Mama tidak ingin kamu pergi sendiri ke San Jose, apalagi perjalanan kesana sangat jauh,” ujar Jessica dengan memegang kedua pipi putrinya.
“Sebentar, Mam. Aku akan menghubungi Nasya dan Nicky,” ujar Cella kemudian dia keluar dari ruang kerja dan berlari ke kamarnya.
Cella mengambil ponsel kemudian dia menghubungi Nasya. Dia mengajak Nasya untuk menemaninnya ke San Jose dan gadis itu mau ikut bersamanya. Cella juga menghubungi Nicky, pria itu juga mau ikut. Cella kembali menemui Jessica di ruang kerja.
“Mam. Nasya dan Nicky akan menemaniku ke San Jose. Tapi bagaimana denga papa?” tanya Cella kemudian Jessica terseyum dan membelai rambut Cella.
“Masalah papa serahkan kepada mama. Sudah siap-siap saja nanti papamu bangun," ujar Jessica kemudian Cella memeluk mamanya.
“Terima kasih, Mam. Aku sangat menyayangimu,” bisik Cella lalu Jessica tersenyum
“Mama juga menyayangimu, ayo cepat.” Cella langsung keluar dari ruang kerja dan berlari ke kamarnya. Dia mengatur pakain ke dalam tas. Tidak lama kemudian Nasya dan Nicky datang menjemputnya, dia berpamitan kepada Jessica lalu masuk ke dalam mobil.
Nicky langsung mengarahkan mobilnya menuju ke San Jose. Mereka bertiga saling bergantian menyetir. Pagi hari mereka tiba kota tempat Logan bekerja.
“Cella, kamu tahu alamat rumah sakitnya?” tanya Nicky sambil menyetir.
“Aku tidak tahu, Nicky. Tapi kita pakai aplikasi saja untuk mencari rumah sakitnya,” ujar Cella kemudian dia mengambil ponsel dan membuka aplikasi dan memasukkan alamat rumah sakit tersebut.
“Nicky ikut saja instruksinya,” kata Cella sambil memberikan ponsel kepada Nasya. Nicky menyetir dengan mengikuti instruksi dari aplikasi.
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Nicky memarkirkan mobil kemudian mereka bertiga masuk ke dalam. Cella , Nicky dan Nasya menuju ke ruang informasi dan menanyakan ruangan tempat Logan di rawat.
Petugas informasi memberitahukan ruangan tersebut lalu mereka bertiga langsung mencari ruang tersebut.
Cella berhenti di depan ruangan tempat Logan di rawat, dia membuka pintu dan melihat kekasihnya sedang tertidur dengan balutan di perut dan infus di tangan.
Cella juga melihat Maurent yang masih tertidur di sofa. Dia berjalan perlahan-lahan menghampiri kekasihnya, dia berdiri di sisi tempat tidur dan menatap wajah Logan lalu mengusap pipi yang terlihat pucat itu.
Merasa ada yang memegang pipinya, Logan membuka mata dan menatap Cella. Dia sangat senang kekasihnya bisa datang. Nicky dan Nasya juga masuk mereka berdiri di sisi tempat tidur dan menyapa Logan. Cella memegang tangan sang kekasih dan memperhatikan pinggang yang di balut dengan perban kain berwarna putih.
“Apa yang terjadi,” tanya Cella seraya membelai wajah Logan.
“Semalam aku ingin meneleponmu, tiba-tiba datang empat orang menghampiriku dan merampas ponselku .…” Logan menceritakan semua kejadian malam itu kepada kekasihnya.
Maurent terbangun dan melihat Cella sedang memegang tangan Logan, ada rasa cemburu dalam dirinya. Tapi dia tidak ingin menunjukkannya kepada mereka. Melihat Maurent Logan langsung memperkenalkan wanita itu kepada Cella.
Saat melihat wajah cantik Maurent, Cella menjadi cemburu. Dia berusaha tersenyum kepada wanita itu dan menyambut tangan Maurent untuk bersalaman kemudian dia duduk di sisi tempat tidur dan memegang tangan Logan.
Sedangkan Maurent dia hanya berdiri sedikit jauh dari tempat tidur dan melihat Cella membelai rambut Logan. Dia tidak tahan lalu meninggalkan rumah sakit dan kembali ke rumah.
Selamat membaca
Jangan lupa like dan komentar ya
Terima kasih
__ADS_1