SUAMI BAJINGAN

SUAMI BAJINGAN
Akhirnya


__ADS_3

Terpancar kebahagiaan di wajah pria itu, dia begitu senang karena sang kekasih berada selalu di sampingnya dia memegang  tangan Cella dan  mencium punggung tangan putih mulus itu.


“Aku ingin kembali bersamamu, aku ingin istirahat di Torrance. Aku lelah disini,” ujar Logan dengan membelai wajah gadis itu.


“Iya, aku akan membawamu kembali ke Torrance. Aku akan merawatmu,” sahut Cella seraya tersenyum dan mengecup kening kekasihnya.


Logan terdiam saat Maurent masuk, dia langsung menunjukkan wajah tidak suka atas kehadiran wanita itu. Tanpa dia sadari Nasya memperhatikan raut wajahnya. Terlihat Nasya  berbisik kepada Nicky.


“Sepertinya Logan tidak suka Maurent datang ke sini, coba kamu lihat wajahnya. Tadi wajahnya begitu bahagia, tapi begitu Maurent masuk langsung berubah.” Nicky memperhatikan Logan dan Maurent kemudian dia berbisik kepada Nasya.


“Mungkin ada sesuatu yang di perbuat Maurent,” sahut Nicky sambil terus memperhatikan Maurent.


Nasya berdiri kemudian dia menghampiri Cella dan Logan sedangkan di seberangnya ada Maurent yang sedang mengatur buah-buahan.


“Wajahmu terlihat ceria ya, Logan. Apakah karena kekasihmu yang kamu cintai ini ada di depan matamu?” goda Nasya, dia sengaja bicara begitu di depan Maurent untuk melihat reaksi wanita itu lalu Logan dan Cella tertawa. Cella langsung menepuk lengan Nasya, dia tidak mengerti arti dari candaan temannya itu.


“Tentu saja, Nasya. Apalagi yang merawatku adalah wanita yang paling aku cintai.” Logan balas bercanda sehingga membuat pipi Cella bersemu merah dan menepuk dada Logan.


Maurent hanya tersenyum walau hatinya sangat cemburu melihat kemesraan Logan dan Cella.


Silahkan kalian berdua bermesraan, nanti juga kalian akan berpisah, gumam Maurent dalam hati lalu dia tersenyum sinis kepada Cella dan Logan.


“Oh ya, Logan. Ini sudah waktunya kamu makan,” ujar Maurent sambil mengambil makanan untuk Logan.


“Biar aku saja yang mengambilnya,” sela Cella seraya berdiri dan mengambil makanan yang ada di meja. Cella duduk di sisi tempat tidur kemudian  menyuapi kekasihnya.


Merasa tidak dibutuhkan, Maurent pamit dan meninggalkan rumah sakit. Nasya langsung tersenyum melihat wanita itu pergi.


Cella selesai menyuap logan kemudian dia pergi mandi. Selesai mandi dia langsung naik ke brankar dan berbaring di samping Logan.


“Aku mengantuk,” ujar Cella seraya memutar tubuhnya menghadap sang kekasih.


“Iya istirahat saja,” sahut Logan dengan membelai kembali wajah gadis itu.


Sementara Nasya dan Nick tidur berpelukan di sofa, perjalanan yang sangat jauh membuat mereka berdua lelah dan tertidur. Sedangkan Cella dia memejamkan mata dan meletakkan tangannya di dada pria itu.


Logan tidak bisa tidur, dia masih memikirkan bagaimana cara memberitahukan kepada Cella tentang dia dan Maurent. Dia menarik napas panjang dan memperhatikan wajah kekasih yang sudah tertidur pulas. Logan membelai wajah cantik itu dan mencium keningnya.


****


Keesokan pagi Cella terbangun, dia melihat Nicky dan Nasya masih tidur berpelukan di sofa. Dia tersenyum kemudian turun dari tempat tidur. Tiba-tiba dia merasa pusing, Cella cepat-cepat naik dan berbaring di samping Logan. Dia memejamkan mata dan memanggil Nasya. Nasya terbangun kemudian dia berdiri dan menghampiri Cella.

__ADS_1


“Ada apa, Cella? Mengapa wajahmu terlihat pucat?” Logan terbangun dan memandang Nasya dan Cella, dia juga terkejut melihat wajah Cella yang terlihat pucat.


“Sayang, apakah kamu baik-baik saja?” Dia menjadi cemas dan memegang tangan gadis itu.


“Nasya. Aku merasa pusing, badanku terasa lemah,” sahut Cella, dia tidak ingin membuka matanya.


“Aku panggil dokter untuk periksa kamu ya,” ujar Nasya sambil merabah dahi sahabatnya.


“Iya Nasya, tolong kamu panggilkan dokter,” pinta Logan, dia terlihat sangat cemas.


“Baiklah.” Nasya keluar dari ruangan dan mencari dokter. Sedangkan Nicky, dia bangun dan menghampiri Cella dan Logan.


“Cella, Jangan-jangan kamu hamil?” celetuk Nicky lalu Cella membuka mata dan menatap Logan. Pria itu juga terkejut dengan perkataan Nicky.


“Nicky. Kamu jangan bercanda,” ujar Cella kemudian dia memejamkan matanya kembali.


Perkataan Nicky membuat Logan berpikir, ‘Jangan-jangan perkataan Nicky benar. Selama ini aku selalu mengeluarkannya di dalam,’ kata Logan dalam hati. Dia memperhatikan terus wajah Cella yang pucat.


Aku bahagia kalau dia hamil tapi di lain sisi, Carlos bisa membunuhku. Perasaannya  bercampur bahagia dan cemas.Lalu Nasya masuk bersama dokter. Dokter menghampiri Cella dan memeriksanya. Dia mengangkat sedikit kaos gadis itu kemudian dia menempelkan berulangkali stetoskop di perut Cella.


“Um, apakah anda merasa mual?” tanya dokter kepada Cella.


“Iya, Dok. Sedikit,” jawab Cella seraya menatap Nasya.


Cella mengingat-ingat lalu dia menatap Logan, ada perasaan takut dalam dirinya. Karena sudah beberapa bulan dia period.


“Aku lupa, Dok,” jawab Cella dengan suara pelan.


“Baiklah, tidak apa-apa. Um, sebaiknya Anda periksa ke dokter kandungan. Klinik sudah di buka, mendaftarlah kesana,” jelas dokter lalu Cella menganggukkan kepala.


“Terima kasih, Dok,” ucap Cella seraya mengatur kembali kaosnya.


Dokter tersenyum kemudian dia meninggalkan ruangan. Nasya langsung duduk dan memegang tangan Cella.


“Cella, aku akan mendaftarkanmu ke dokter kandungan, kamu harus memeriksakan kandunganmu, mungkin saja kamu sedang hamil,” ujar Nasya lalu Cella menganggukan kepala.


“Aku akan menemanimu,” kata Nicky kepada Nasya kemudian mereka berdua meninggalkan Logan dan Cella.


Cella dan Logan saling bertatap mata, mereka berdua tidak tahu harus bicara apa. Dalam diri Cella dia takut kepada Carlos, begitu juga Logan.


"A--ku, aku akan bertemu dengan orang tuamu,  dan bicara kepada mereka." Suaranya terbata-bata dia juga takut bertemu dengan orang tua gadis itu, dia sudah membayangkan bagaimana amarah dari papa gadis itu.

__ADS_1


“Aku takut, Logan. Papa akan marah besar padaku,” ujar Cella dengan cemas.


“Kita hadapi bersama.” Cella memejamkan mata, dia merasa tidak tenang. Ketakutan menyelimutinya, kemarahan Carlos membayanginya.


Nasya masuk dan mengajak Cella untuk menemui dokter kandungan. Cella bangun kemudian dia masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya.


Dia mengeringkan wajah dengan handuk kemudian dia menemui Nasya lalu mengajak sahabatnya itu pergi ke dokter. Mereka berdua masuk lalu dokter meminta Cella untuk berbaring.


Cella naik ke brankar dan berbaring kemudian dokter mengoles gel di atas perut gadis itu. Dokter menggerakkan alat usg di perut  seraya matanya di monitor.


Mata Nasya dan Cella juga tertuju di monitor. Jantung Cella berdegup kencang, menelan saliva pun dia sulit. Pikiran gadis itu tertuju terus kepada papanya.


Dokter tersenyum kepada Cella kemudian dia membersihkan sisa-sisa gel di atas perut gadis itu.


“Um, kandungan Anda sekarang berusia 10 minggu,” ujar dokter kemudian dia duduk kembali di kursinya. Cella turun dari tempat tidur kemudian dia menatap Nasya dan duduk di sampingnya.


Nasya tersenyum kepada Cella dan memegang tangan yang sudah berkeringat dingin itu. Dokter memberikan vitamin kepada Cella lalu mereka keluar dari ruangan dokter.


“Nasya, aku takut pada papaku, aku takut dia membunuh Logan,” ujar Cella dengan suara pelan.


“Cella, jangan bepikiran seperti itu, begitu Logan keluar dari rumah sakit, kita kembali ke Torrance dan kamu ajak Logan bertemu orang tuamu. Kamu jujur saja kepada papa dan mama kamu,” nasehat Nasya, Cella hanya menganggukan kepala karena hati merasa cemas.


Mereka berdua masuk ke ruangan dan melihat Logan juga Nicky sedang berbincang-bincang. Cella menatap Logan dan berusaha tersenyum.


“Apa kata dokter?” tanya Logan penasaran.


“Ehm ... aku hamil. Usia kandunganku sudah 10 minggu,” jawab Cella seraya duduk di kursi.


Nicky dan Nasya meninggalkan Logan dan Cella. Sedangkan Cella terlihat tidak tenang. Dia hanya menatap kekasihnya tanpa bicara.


“Ayo berbaring di sampingku,” ajak Logan, lalu Cella berdiri dan naik di tempat tidur, dia berbaring dan memandang langit-langit kamar.


“Jangan terlalu di pikirkan, nanti berpengaruh pada kandungamu.” Cella hanya diam pikirannya tidak tenang, kemarahan papanya terus membayangi dia. Cella begitu takut kalau papanya membunuh orang yang di cintainya.


“Aku takut,” ucapnya lirih seraya memegang tangan Logan. “Aku takut papa membunuhmu.” Logan tersenyum dan berusaha menenangkan gadis itu walau’pun sebenarnya dia juga tidak tenang.


“Tidak mungkin, Cella. Aku akan bertemu dengan orang tuamu dan meminta mereka untuk mengijinkan aku menikahimu," ujar Logan menenangkan gadis itu.


“Iya, mudah-mudahan papa bisa bersikap tenang.” Cella memutar tubuhnya menghadap Logan lalu dia memegang wajah berjenggot itu, dia berusaha tersenyum kepada Logan.


Selamat membaca

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar ya


Terima kasih.


__ADS_2