SUAMI BAJINGAN

SUAMI BAJINGAN
Memiliki kelainan


__ADS_3

Sementara itu Logan terus berusaha menghentikan Maurent yang semakin agresif, tapi wanita itu semakin menjadi. Dia terus berusaha membuat milik pria itu bangun. Maurent mencium leher Logan sambil tangannya terus mengelus milik pria itu.


Obat yang dimasukkan ke dalam juice sudah mulai bekerja, Logan berusaha untuk tetap sadar dan melawan hasrat yang mulai bangkit dalam dirinya.


Logan merasakan tangan satu Maurent berusaha membuka ikat pinggang dan kancing celananya. Sedangkan tangan satunya lagi terus mengelus benda yang bersembunyi di balik celana itu.


Akhirnya dia hanya memilih pasrah saat tangan lembut itu berhasil memegang miliknya yang sudah keras. Belaian lembut jari itu semakin membuat 20cm itu berdiri tegak.


Dia memejamkan matanya saat dia merasakan miliknya masuk ke dalam mulut wanita itu, hangatnya saliva membasahi seluruh benda yang sudah keras itu. Logan ingin bersikap dingin tapi tak kuasa dengan serangan lidah Maurent ke benda yang sudah keras dan berurat itu.


Logan tidak tahan lagi, dia menghempaskan tubuh Maurent di sofa dan langsung menindih tubuh wanita itu. Bahkan tanpa pemanasan Logan langsug melepaskan pakaian dalam Maurent dan menancapkan miliknya ke dalam inti sang atasan.


Maurent terkejut, dia membelalakan mata saat milik Logan masuk ke dalam intinya. Dia menjerit kesakitan karena pria itu sama sekali tidak ada lembut-lembutnya, Maurent meronta ingin melepaskan diri dari Logan tapi sayang kekasih Cella menahannya dan menggempur dengan kasar.


Maurent berteriak kesakitan dan memukul dada Logan, dia tidak tahan dengan rasa sakit itu tapi pria itu tidak perduli. Obat yang diberikan Maurent sudah menguasai Logan, dia membekap mulut sang atasan agar suaranya tidak terdengar di luar.


Logan terlihat begitu beringas di atas tubuh Maurent, dia bahkan tidak perduli darah yang mengalir di inti wanita itu. Baginya dia harus mengalami pelepasan, obat membuatnya bermain secara brutal kepada Maurent.


Walau terasa sakit tapi Maurent sempat mengalami pelepasan saat Logan bermain dengan cepat, dia hanya bisa pasrah melihat pria itu belum berhenti bekerja di atas tubuhnya.


Maurent masih merasakan nyeri di intinya sedangkan Logan terlihat masih lama untuk mencapai puncak kenikmatan, tapi entah mengapa Maurent menikmati rasa sakit itu sedangkan Logan, jeritan wanita itu seola-olah symphoni yang indah di telinganya sehinga dia lebih bergairah menggempur milik Maurent.


Sudah sejam lebih Logan berada di atas tubuh Maurent dan akhirnya dia mengeluarkan miliknya dan menyemprotkan benih itu di wajah Maurent. Napas pria itu tidak teratur dia segara berdiri dan merapikan celana juga kemejanya kemudian meninggalkan ruang kerja atasannya dan masuk ke mobil.


Sementara Maurent, begitu Logan pergi dia melihat darah segar di atas sofa. Dia bangkir berdiri dan pergi ke kamar mandi dengan tertatih karena merasakan sakit di intinya. Maurent mengambil kursi dan duduk di depan cermin lalu membuka lebar pahanya.


Dia melihat intinya bengkak dan berdarah serta mengalami lecet, dia meringis kesakitan saat membersihkannya dengan air. Tapi dia sangat suka dengan perlakuan kasar Logan kepada dirinya, dan membayangkan itu akan terulang lagi.


Sedangkan Logan, dia menjalankan mobil meninggalkan kediaman Maurent, pria itu tidak tahu harus kemana. Terlintas bayangan sang kekasih, lalu dia menepikan mobil dan meletakkan kepalanya di gagang stir. Logan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


"Aku jijik dengan perempuan itu, kenapa juga aku minum juice itu." Dia merasa geram, “Aku akan berhenti bekerja, aku ingin kembali ke Torrance dan mengajak Cella untuk pergi denganku. Aku ingin menikahinya dan tinggal di Brazil.


Logan kembali menyetir, dia memutuskan kembali ke tempat tinggalnya. Pri itu tiba kemudian pergi ke apartemen, dia memasukkan pakaiannya ke dalam tas punggung kemudian Logan mengambil ponsel dan menulis pesan.


"Maaf Maurent aku akan kembali ke Torrance, aku berhenti dari pekerjaanku," pesan Logan kemudian dia mengirimnya kepada wanita itu. Logan duduk menghadap jendela sambil mata memandang keluar.


Ini pertama kalinya aku bertemu dengan wanita seperti itu, gumamnya dengan menggeleng-gelengkan kepala. Dia masih tidak habis pikir lalu ponselnya berbunyi, dia melihat pesan dari Maurent. Logan membuka pesan itu lalu terkejut melihat video dia dan Maurent di ruang kerja. Semua yang Maurent dan dia lakukan terekam di cctv.


Logan menjadi khawatir apalagi dengan membaca pesan ancaman wanita itu, dia menjadi bingung. Kalau dia berhenti, Maurent akan mengirim video mereka berdua kepada  Cella.


Dari mana dia tahu tempat tinggal Cella? Apakah dia mengikutiku saat aku ke Torrance? Tanya Logan dalam hati.


Aku harus bagaimana, kalau aku berhenti dia bisa mengatakan kepada Cella,  kalau aku tetap bekerja padanya, bisa-bisa dia melakukannya. Ah ... **** ... umpat Logan kemudian dia berbaring di tempat tidur.


Sementara di kediaman Maurent, terlihat wanita itu tersenyum sendiri di ruang kerjanya, dia merasa sudah berhasil memiliki Logan.

__ADS_1


"Aku akan memanfaatkan video ini untuk memilikinya,” gumamnya seraya tersenyum sinis.


“Lagipula dia sangat tampan, aku tidak perduli dia sudah punya kekasih, video ini akan membuat dia menjadi milikku," kata Maurent lagi kemudian dia berdiri. Sambil tertawa dia keluar dari ruang kerja dan pergi ke kamar dengan tertatih.


Torrance


Terliha Cella berbincang-bincang dengan Nasya dan Nicky di cafe kampus, mereka membicarakan Logan.


"Kamu terlihat sangat mencintai Logan, Cella," ujar Nick dengan bercanda.


"Tentu saja, Honey. Makanya dia rela melepaskan virginnya kepada Logan," sela Nasya dengan bercanda  lalu Cella membelalakkan mata dan menepuk lengan Nasya.


"Nasya, jangan menggodaku," ujar Cella lalu Nasya dan Nicky tertawa.


"Sungguh hebat cintamu, Cella," goda Nicky dengan melirik kekasihnya.


"Nick, aku sangat mencintai Logan, dia cinta pertamaku dan aku hanya menginginkan dirinya, walau orang tuaku menentang hubunganku dengannya, aku tidak perduli. Aku akan tetap memilih Logan,” ujar gadis itu dengan wajah cemberut.


"Tapi, Cella. Bukankah mama kamu tidak melarang hubunganmu dengan Logan?" tanya Nicky seraya mengaduk-ngaduk kopinya


"Iya, Nick. Mamaku tidak melarang aku dan Logan, hanya papa dan Acel saja," jawab Cella sambil tersenyum.


“Nanti juga papa kamu dan Acel akan meneria Logan, yang terpenting mama kamu sudah merestui hubungan kalian berdua,” sambung Nasya dengan memegang tangan Cella.


“Iya, Nasya. Aku harap juga begitu.” Mereka bertiga terus membicarakan Logan,  selesai dari kantin Cella langsung pulang ke rumah.


Akhirnya karena ancaman wanita itu, Logan tidak berhenti bekerja. Dia tetap mengawalnya kemana pun wanita itu pergi, bahkan untuk melayani nafsunya Maurent selalu mengancam Logan dan terpaksa pria itu menuruti permintaan Maurent.


Seperti hari ini, Maurent meminta Logan untuk mengantarnya kesuatu tempat, pria itu menuruti keinginan sang atasan. Saat tiba, Logan mengerutkan dahi melihat tempat yang di maksud oleh Maurent. Sebuah villa yang terletak jauh dari kota, Logan turun dan memperhatikan sekita bangunan megah itu.


Maurent juga turun lalu dia menarik tangan Logan untuk ikut masuk bersamanya, wanita itu langsung membawa Logan kesuatu ruangan. Dia membuka pintu dan menyalakan lampu.


Logan terkejut melihat isi dalam ruangan yang serbah hitam itu, dua buah tiang dengan rantai di masing-masing sisi. Alat-alat penyiksa, ada cambuk, bahkan beberapa macam bentuk milik pria berjejer rapi di atas meja.


Pria itu menatap Maurent dengan mengerutkan dahi, dia tidak percaya kalau wanita itu punya kelainan. Logan berpikir Maurent akan menyiksanya sebelum melakukan penyatuan.


“Tidak usah khawatir, aku tidak akan merantaimu,” ujar Maurent dengan mengedipkan sebelah matanya sambil memegang sebuah benda besar seperti milik pria yang sekelilingnya bergerigi lembut.


“Aku ingin kamu memuaskanku di ranjang itu.” Logan mengarahkan pandangannya mengikuti telunjuk Maurent, sebuah ranjang king size dengan sprei berwarna putih.


Maurent sengaja memasang warna putih karena dia ingin melihat hasil permainan mereka, wanita itu mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu. Selesai dia memberi isyarat kepada Logan agar mengikutinya.


Pria itu bagaikan dicocok hidungnya mengikuti Maurent berdiri di sisi tempat tidur dan memperhatikan wanita itu yang sudah  berbaring terlentang.


“Rantai aku,” perintah Maurent sambil menunjuk beberapa borgol di atas meja.

__ADS_1


Walaupun bingung, Logan mengikuti permintaan Maurent, dia memborgol tangan kanan menyatu dengan kaki begitu juga dengan bagian kiri tangan dan kaki. Kini wanita itu tidak leluasa bergerak. Maurent meminta Logan untuk melepaskan pakaiannya.


Kembali Logan menuruti permintaan Mauren, dia melepaskan pakaiannya dan kini tinggal underwear boxer yang membalut miliknya. Maurent tersenyum melihat milik Logan yang masih bersembunyi.


“Kamu tahu, aku sering melakukan hal ini dengan kekasihku sebelum penyatuan, aku selalu di sisksa terlebih dahulu dan aku sangat menikmatinya.” Kini Logan sadar kalau Maurent memang memiliki kelainan, dia semakin ngeri dengan wanita ini tapi pria itu sudah tidak bisa lepas lagi dari atasannya ini.


“Ayo naik, aku akan memberikan kenikmatan yang selama ini belum kamu rasakan.” Logan naik ke ranjang dan memposisikan tubuhnya di antara kedua paha Mauren.


Maurent tersenyum saat melihat Logan melepaskan pakaian dalam dan kini sudah berada di antara pahanya, dia begitu suka melihat milik Logan yang besar.


“Perlakukan aku seperti waktu pertama kali kita melakukannya.” Pria itu mengikuti perinta Maurent, tanpa pemanasan dia langsung menghentakan pinggangnya dengan kasar sehingga membuat wanita itu berteriak kesakitan.


“Logan sakit sekali.” Itu hanya sebuah teriakan, sebenarnya Maurent sangat menikmati rasa sakit itu seolah-olah itu adalah nikmat yang luar biasa.


Logan tidak bermain dengan pelan, dia justru bermain dengan sangat kasar dan itulah yang diinginkan Mauren. Kini wanita itu merasa kembali seperti dahulu saat bersama sang mantan.


Dia mengeluarkan kata-kata frontal yang membuat adrenaline Logan memacu, sengaja wanita itu mengucapkan hal-hal kotor agar gairah kekasih Cella semakin panas.


“Sebentar.” Maurent meminta Logan berhenti lalu menyuruh pria itu untuk memasukan miliknya di tempat yang tidak semestinya.


Logan terpekun dengan permintaan Maurent, biasanya wanita tidak suka kalau pria bermain disitu tapi justru atasannya inginkan Logan memasukan miliknya di tempat yang tidak semestinya. Ini kali pertama dia melakukan hal itu, Logan mengikuti permintaan Maurent.


Logan meraih pengaman dan memasangkan di miliknya, dia tahu perkasanya akan masuk ke tempat yang kotor. Logan tidak ingin terkena penyakit, dia memasukan benda pusakanya tapi sulit untuk di terobos karena sempit juga rintihan kesakitan dari Maurent membuat Logan menghentikannya.


“Tidak apa-apa, aku bisa menahannya,” ujar Mauren dengan tersenyum kepada pria itu.


Logan kembali memasukannya, kali dengan paksa. Ah, damn. Ini sungguh nikmat bagi Logan, tempat yang dia masuki sangat sempit dan menjepit miliknya dengan ketat. Logan menggeram dengan mengetatkan rahangnya menahan kenikmatan itu.


Sementara Maurent kembali dia berteriak kesakitan saat milik Logan sudah berhasil masuk bahkan terbenam semuanya di dalam miliknya. Sungguh sakit tapi nikmat baginya.


Begitu miliknya sudah masuk Logan langsug menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan cepat dan kasar, dia tidak perduli dengan teriakan Maurent baginya ini sangat nikmat. Jeritan-jeritan kesakitan dari mulut wanita itu semakin membuat Logan memacu dan tidak memberikan ampun kepada atasannya.


Ingin meronta tapi tidak bisa kedua tangan di borgol menyatu dengan kaki, ini sungguh nikmat bagi Maurent. Dia mengalami pelepasan pertama, sementara Logan tidak berhenti bekerja, pelu keringat membasahi tubuh pria itu.


Pada akhirnya dia mengalami pelepasan, hampir dua jam menggempur milik Maurent akhirnya Logan terbaring puas di sisi wanita itu. Ternyata begitu nikmat saat miliknya masuk ke tempat lain milik Maurent, Logan melepaskan pengaman dan membuangnya ke tempat sampah.


Dia bangun dan melihat darah di atas sprei berwarna putih itu, Logan menggelengkan kepala lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Sementara Mauretn, dia tersenyum puas dengan apa yang dilakukan oleh Logan. Maurent tahu permukaan miliknya pasti sobek karena tidak ada pemanasan dan intinya masih kering saat Logan memasukan benda besar itu. Terbukti dengan kain putih itu banyak darahnya.


Maurent dan Logan tidak berhenti, hari itu mereka berdua melakukan berulang kali. Terkadang kedua tangan Maurent diikat menggantung di kedua tiang, bahkan wanita itu meminta Logan untuk memasukan benda yang mirip milik lelaki ke bagian satunya sedangkan milik Logan ke intinnya sehingga tangan dan pinggul Logan harus bekerja bersamaan.


Walau’pun kedua miliknya di masuki dengan benda besar tapi Maurent sangat menikmatinya. Sungguh wanita yang memiliki kelainan (Masokis)


Selamat membaca

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar ya.


__ADS_2