SUAMI BAJINGAN

SUAMI BAJINGAN
Ke villa


__ADS_3

Pagi hari Carlos terbangun, melihat kesamping sang kekasih masih tertidur pulas. Menaikan sudut bibir sehingga terbentuk senyuman pria itu membangunkan wanita yang sedang mengandung anaknya.


“Sayang, ayo bangun.” Sambil mencium kening Jessica, memperhatikan mata wanitanya mulai terbuka.


“Iya sebentar, Babe. Aku masih mengantuk.” Dengan suara manja, melingkarkan tangan di  leher Carlos sambil memejamkan matanya kembali.  Akhirnya Carlos memeluk wanitanya dan membiarkan dia tidur kembali.


Setengah jam kemudian Jessica terbangun, melihat Carlos tidak di sampingnya wanita itu berdiri, mengayunkan kaki menuju ke kamar mandi. Membuka pintu dan melihat sang kekasih lagi di bawah guyuran shower.


“Hm, ternyata dia lagi mandi,” gumamnya dalam hati, dia melepaskan pakaianya dan ikut bergabung mandi bersama Carlos.


Carlos terkejut saat merasakan tangan lembut melingkar di perutnya, segera membuka mata, memutar tubuhnya dan tersenyum kepada wanitanya yang semakin hari semakin cantik. Mungkin karena pengaruh hamil.


Mencium lembut bibir Calon sang istri, sambil tangan menggosokan sabun di punggung juga belakang wanitanya. Menjalar ke depan tak lupa meremas sedikit salah satu dada yang tidak terlalu besar.


“Tangan kamu sangat nakal,” celetuk Jessica dengan menepuk pelan tangan Carlos yang sedang meremas lembut kedua dadanya. Pria itu terkekeh dan mengecup kening wanitanya.


“Kedua bukit ini selalu membuat aku bergairah.” Jessica memanyunkan bibirnya, tak habis pikir sang kekasih tiada bosan menjamah tubuhnya.


“Ayo cepat, mereka pasti menunggu kita untuk sarapan,” gerutu Jessica. Carlos menyalakan shower,  membersihkan sabun di tubuh dia dan wanitanya. Melingkarkan handuk kemudian pergi ke walk in closet. Jessica memilih pakaian yang akan dia kenakan.


Selesai, mereka berdua turun ke ruang makan, disana sudah ada Federico, Liliana  juga seorang pria yang tidak dikenal oleh Jessica. Wanita hamil itu mencium Liliana dan Federico.


“Oh ya, Sayang. Kenalkan, ini Mike kakak angkat Carlos.” Liliana mengenalkan pria itu kepada Jessica.


“Ternyata benar apa yang dikatakan tuan Federico, Anda benar-benar cantik. Pantas saja Carlos sangat betah di Indonesia.” Jessica terkekeh dan mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Mike.


“Terima kasih atas pujiannya, senang bertemu dengan Anda.” Mike menyambut tangan Jessica, tersenyum dan mengagumi kecantikan calon istri Carlos.


“Ayo kita sarapan,” sela Federico.” Jessica duduk di antara Carlos dan Liliana. Sang pujaan hati mengambilkan sarapan untuk Jessica, meletakan piring di depan wanitanya.


“Terima kasih, Babe.” Melihat kemesraan Carlos dan Jessica membuat Liliana teringat bagaiman dia dan suaminya dahulu. Federico memperlakukannya seperti Carlos memperlakukan Jessica. Wanita tua itu tersenyum dan melanjutkan sarapan.


Sambil sarapan mereka berbincang-bincang tentang pekerjaan, Jessica hanya menjadi pendegar setia.


Selesai, Jessica berdiri, pamit kepada mereka pergi kehalaman belakang mengayunkan kaki menuju pondok tempat dia dan Carlos bercinta.


Melayangkan pandangan ke pepohonan yang bergerak ditiup angin membuat daun-daun yang kering berjatuhan, mengingatkan Jessica akan kampung halamannya.


Jessica teringat akan rumah orang tuaku, hampir dua tahun dia meninggalkan mereka tanpa kabar berita. ‘Papa, apakah kamu baik-baik saja, aku merindukanmu. Aku tahu papa sangat menyayangiku, maafkan aku pa.” Jessica memejamkan mata dan merasakan hembusan angin menerpa wajahnya.


“Pa, aku akan segera menikah, maaf tidak memberitahukanmu.’ Memang suatu kebahagiaan saat pernikahan ada orang tua yang mendampingi.


Carlos memang menginginkan orang tua Jessica hadir tapi wanita itu tidak mengijinkannya, rasa marah terhadap mamanya belum hilang. Jessica tidak bis melupakan bagaimana sang ibu selalu menyiksanya seolah-olah dia bukan anak kandungnya.


Jessica berdiri, berjalan di antara pepohonan yang rindang. Dia duduk, menyandarkan tubuhnya di pohon, ada perasaan sedih dalam hatinya.


Dia menunduk lalu merasakan  tangan menyentuh  bahunya. Jessica mengangkat kepalaku dan melihat Carlos sudah berdiri di sampingnya.


“Sayang, kamu baik-baik saja?” tanya Carlos seraya duduk di samping Jessica, tangannya melingkar di punggung sang wanita lalu Jessica menyandarkan kepala di dada bidang berotot itu.


“Iya, aku baik baik saja, Babe.” Memejamkan mata dan merasakan tiupan angin yang menyejukan.


“Kenapa kamu duduk disini, Sayang?” Kembali Carlos bertanya sambil tangan tak henti mengelus perut yang mulai membesar itu.


“Tidak apa-apa,  aku hanya rindu teman temanku.” Jessica berbohong kepada Carlos, sebenarnya dia rindu papanya.


“Kamu bisa menghubungi mereka.” Jessica langsung menekuk wajahnya.

__ADS_1


“Bagaimana aku bisa menghubungi mereka sedangkan ponselku ada padamu,” sahut Jessica dengan manja sekaligus kesal.


“Iya, nanti aku berikan padamu ayo ke dalam, kita akan pengambilan gambar prewedding.” Carlos berdiri dan menarik tangan Jessica, mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah.


Jessica langsung ke kamar dan mengganti pakaiannya, berdiri di depan cermin dan memperhatikan tubuhnya. Wanita itu tersenyum melihat perutnya yang sudah membesar.


Terkadang Jessica tidak percaya di usianya yang enam belas sudah hamil, dia mengelus-elus perutkunya dengan lembut. Jessica melihat dari cermin sang kekasih menghampirinya. Serta memeluknya dari belakang, Carlos juga tersenyum melihat perut wanitanya.


“Sayang perutmu sudah mulai membesar,” ujar Carlos sambil memperhatika sang kekasih lewat cermin..


“Iya, sudah masuk lima bulan makanya sudah mulai membesar.” Jessica mengelus tangan Carlos yang berada di perutnya dan tersenyum kepada pria itu lewat cermin.


“Nanti selesai prewedding kita ke dokter, kamu harus rutin memeriksa kandunganmu.” Jessiaca menganggukan kepala.


“Iya, oh ya, preweddingnya di mana?”


“Di villa pinggir danau, kita akan ke sana. Pakai bajumu sekarang, Sayang!” Carlos melepaskan pelukannya kemudian mengenakan mengatur pakaian dia dan Jessica di koper kecil.


“Baiklah.” Jessica memakai pakaiannya kemudian dia dan Carlos turun ke lantai satu. Disana ada Federico dan Liliana, mereka berdua tersenyum kepada Jessica dan Carlos. Liliana berdiri dan menghampiri Jessica.


“Kalian mau kemana?” tanya Liliana dengan mengelus perut Jessica.


“Kami ingin ke villa di pinggir danau, Mom. Akan melakukan pengambilan gambar prewedding disana. Pemandangan disana sangat bagus,” jawab Carlos sambil duduk.


Awalnya Carlos dan Jessica akan melakukan pengambilan gambar di kapal pesiar milik orang tuanya, tapi ternyata kapal tidak menentu kapan akan masuk ke pelabuhan karena sedang berada di Eropa. Pada akhirnya Carlos memutuskan untuk melakukan prewedding di villa yang kebetulan ada danau yang besar dan indah serta airnya jernih.


“Baiklah, jangan pulang malam ya. Jessica lagi hamil,” pesan Liliana.


“Iya, Mom. Kami hanya sebentar disana setelah itu aku akan mengantar Jessica ke dokter untuk memeriksa kandungannya.”


“Bagus, Nak,” sambung  Federico. “Berangkatlah sekarang!”


“Hati-hati, Sayang,”  pesan Liliana sambil memeluk Jessica


Pasangan kekasih yang sebentar lagi akan menikah itu langsung berangkat ke villa. Carlos Sambil menyetir Carlos menelepon studio yang akan mengambil foto mereka, memberitahukan kalau dia dan Jessica dalam perjalan menuju ke villa.


“Sayang, tidur saja dulu nanti kalau sudah sampai aku bangunkan kamu.” Jessica menggelengkan kepala, dia tidak mau ketinggalan menikmati perjalanan ke villa walau’pun jauh.


“Tidak, Babe. Aku tidak mengantuk, lagipula aku ingin menikmati perjalanan ini.” Carlos tersenyum dan mengelus perut Jessica.


Sepanjang perjalan Jessica menikmati pemandangan bukit yang sangat bagus. Dua jam perjalanan menuju Villa,  akhirnya mereka tiba. Carlos turun dari mobil lalu membuka pintu gerbang kemudian kembali menyetir.


Dari gerbang sekitar dua ratus meter untuk sampai ke villa, Jessica membuka jendela mobil sambil mata menyipit terkena pantulan sinar matahari dari danau.


Di sekitar villa penuh dengan pepohonan juga terlihat bukit yang indah. Jessica turun dari mobil saat mereka tiba.


Berjalan bersama Carlos memasuki villa, Jessica dan Carlos langsung menuju ke kamar kemudian  membuka gorden  juga jendela.


View yang sangat bagus Jessica bisa melihat dari kamar, berdiri di depan jendela kaca sambil mata  menikmati jernihnya air danau serta perbukitan.


Carlos membuka pintu menuju ke teras kamar, Jessica langsung melangka menuju ke teras.  Duduk sambil menikmati indahnya danau, terdengar burung berkicau bersahut-sahutan.


‘Ah… sudah lama aku tidak mendengarkan ini.’ Kembali dia bergumam dalam hati.


Udara yang sejuk membuat Jessica ingin tinggal lama disini. Dia berdiri dan memejamkan mata,  merasakan tiupan angin menerpa wajahnya. Jessica merasakan pelukan Carlos dan memegang tangannya.


“Babe, tempat ini sungguh indah,” ujar Jessica dengan suara pelan merasakan setiap elusan tangan Carlos di perutnya.

__ADS_1


“Iya, Sayang. Kamu suka?” tanya Carlos sambil memuta badan Jessica menghadapnya.


“Iya aku suka, aku ingin berlama lama disini.” Jessica melingkarkan kedua tangan ke punggung Carlos.


“Aku senang kamu menyukainya, Sayang,” ucap Carlos sambil mencium kening Jessica lalu ponselnya berbunyi.


Carlos langsung menjawab telepon itu, ternyata dari kru yang akan melakukan pengambilan foto. Carlos keluar dan meminta penjaga untuk membukakan pintu gerbang kemudian  kembali berdiri di samping wanita berperut buncit itu.


 “Sayang krunya sudah datang, ayo kita keluar.” Jessica mengikuti Carlos menemui para kru.


Mereka bersalaman lalu para kru menanyakan dimana akan memulai pengambilan gambar. Carlos menunjuk ke arah pepohonan.


Mereka langsung menuju ke arah yang ditunjuk Carlos. Sambil berjalan Carlos memegang tangan Jessica. Jauh ke dalam disana ada semacam taman yang dipenuhi oleh bunga dan rumput yang tertata rapi.


“Babe, tempat ini sungguh indah dan lihat bunga bunga itu. Wouw, its so beautiful.” Jessica melepaskan tangan Carlos lalu berjalan di tengah-tengah bunga. Carlos menatap calon istrinya dan tersenyum.


Kru mulai mengatur peralatan camera mereka, Carlos mendekati Jessica dan memeluknya.


“Kamu suka, Sayang,” bisik Carlos di kuping Jessica.


“Iya, Babe. Aku sangat-sangat menyukainya. Ini sangat indah, ternyata seleramu sangat bagus,” sahut Jessica dengan bercanda dan mengedipkan sebelah matanya kepada Carlos.


“Tentu saja, Sayang.” Sambil mencubit hidung Jessica.


Akhirnya pengambilan gambar di mulai mereka memberikan arahan tentang gayanya seperti apa, terus Carlos harus bagaimana. Pasangan kekasih itu mengikuti arahan mereka dengan baik.


Selesai pengambilan gambar para kru berpamitan,  sementara Jessica dan Carlos pergi duduk di pinggir danau, pria itu membuka kakinya, menarik Jessica untuk duduk di tengah kemudian Carlos memeluknya dari belakang.


Kedua kaki Jessica  dimainkan di air, Carlos mengatur rambut sang kekasih ke samping dan mencium lehernya.


“Kamu bahagia, Sayang?” tanya Carlos dengan memejamkan mata menghirup aroma shampo di rambut Jessica


“Tentu saja, Babe. Aku sangat bahagia.” Jessica menggenggam erat tangan Carlos yang melingkar di perutnya. “Babe, bagaiman kalau kita tidur disini saja nanti pulang besok?”


“Sayang kitakan harus ke dokter.”


“Besok juga bisa, Babe. Malam ini saja, please.” Jessica memohon kepada Carlos, ingin menginap di villa.


“Baiklah, Sayang. Aku tidak bisa menolak permintaanmu.” Jessica terkekeh dan merasakan kecupan  Carlos di lehernya.


Hari semakin soreh udara di danau sudah mulai terasa dingin, Jessica dan Carlos berdiri kemudian masuk ke dalam villa.


Jessica melepaskan pakaiannya lalu masuk ke kamar mandi menyalakan sahower dan membiarkan air hangat membasahi tubuhnya. Selesai Jessica memakai gaun tidur kemudian berbaring di ranjang.


Sementara Carlos membuka jendela dan pintu teras kamar membiarkan angin masuk ke tempat mereka tidur, Jessica memjamkan mata merasakan sejuknya hembusan angin.


Carlos duduk di teras sambil merokok menikmati udara sore hari. Jessica melihatnya, berdiri menghampiri sang kekasih.


“Babe, apakah kamu tidak bisa berhenti merokok?” Carlos menatap Jessica dan mematikan rokoknya kemudian memeluk calon istrinya.


“Iya, aku akan berhenti merokok,” sahut Carlos sambil membelai rambut wanitanya. Jessica tersenyum, mengajak sang kekasih ke kamar.


“Aku ingin dipeluk olehmu,” ujar Jessica dengan suara manja. Carlos terkekeh, merengkuh pinggang wanita berperut buncit itu serta mengecup bibirnya.


Selamat membaca


Jangan lupa like dan komentar ya

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2