SUAMI BAJINGAN

SUAMI BAJINGAN
Dalang penculikan


__ADS_3

Sampai saat ini Carlos belum dapat kabar dari Andrew siapa yang menculik Jessica. Pria itu masih menemani sang kekasih di rumah sakit, saat ini Jessica sedang tidur.


Carlos menatap wajah Jessica lalu terbayang Jessica lagi mengandung anaknya dan tidur di lantai yang kotor tanpa pengalas bahkan tidak di kasih makan dan minum.


“Sungguh terlalu orang itu, tidak punya hati sama sekali,” kata Carlos dalam hati. “Tapi siapa yang menculik Jessica.” Carlos menjadi bingung, awalnya dia mencurigai Glen tapi melihat gelagat pria itu Carlos berpikir itu bukan Glen.


Carlos berdiri dan menghampiri Jessica yang sedang tidur, dia duduk disamping brankar dan membelai sang kekasih. Carlos memegang perut Jessica dan mengelusnya.


Merasa perutnya disentuh Jessica terbangun dan mengambil tangan Carlos lalu menempelkan di pipinya sambil tersenyum pada Carlos lalu dokter kandungan masuk untuk memeriksa jessica.


“Pasiennya sudah terlihat sehat, besok sudah bisa pulang,” ujar dokter sambil memperhatikan cairan infus.


“Baik, Dok. Tapi aku ingin istriku di USG sebelum pulang.” Carlos ingin melihat janin yang sedang tumbuh di rahim sang kekasih.


“Iya, sekarang juga bisa,” sahut dokter dengan tersenyum kepada Jessica dan Carlos.


“Iya Dok, kalau bisa sekarang aku akan mengantar istriku keruangan dokter.” Carlos terlihat sangat bersemangat sedangkan Jessica hanya diam memperhatikan perbincangan sang kekasih dan dokter.


“Iya bisa bawa sekarang tapi sebentar, aku akan minta suster untuk melepaskan infusnya. Lagipula cairannya tinggal sedikit jadi tidak perlu lagi, istri anda juga rajin makan dan minum susu makanya cepat pulih.” Jessica dan Carlos saling pandang dan tersenyum.


“Terima kasih, Dok.” Dokter meninggalkan ruangan lalu suster datang melepaskan jarum infus dari tangan Jessica dan mereka bersiap siap untuk ke ruangan dokter kandungan.


Jessica tidak mau pakai kursi roda dia mau berjalan. Mereka berdua berpegangan tangan lalu pergi ke ruangan dokter. Pasangan kekasih itu masuk dan duduk, dokter meminta Jessica berbaring di brankar.


Kemudian dokter mengoles perut Jessica dengan gel dan alat USG di gerakkan di atas perut Jessica. Mata Carlos melihat janinnya di monitor,   dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya begitu melihat benih yang dia tanam.


Dokter menjelaskan pada Carlos dan Jessica kalau gumpalan itu adalah janin yang belum terbentuk. Carlos memegang tangan Jessica, dia tersenyum bahagia.


Carlos sangat bahagia melihat janin itu walau’pun masih berbentuk gumpalan. Carlos merekam janin itu dengan kamera ponselnya. Lalu dokter membersihkan perut Jessica kemudian gadis itu  dari brankar kemdudian mereka duduk berhadapan dengan dokter.


“Ini trisemeter pertama, jadi aku sarankan harus berhati-hati. Tetap minum susu dan vitamin, makan sayur-sayuran juga buah-buahan,” saraan dokter kepada Jessica.


“Jangan lupa juga, untuk menundah hubungan badan karena kandungan istri Anda masih rentan.” Nampak wajah Jessica memerah, dia merasa malu kepada dokter.


Dokter memberikan vitamin kepada Jessica lalu mereka meninggalkan ruangan dan kembali ke ruangan VIP.


Baru saja akan masuk ruangan VIP, Fanya dan Tini memanggilnya. Mereka berdua berlarian menghampiri Jessica dan memeluknya.


“Bagaimana keadaanmu, Jess?” tanya Fanya sambil memegang pipi Jessica.


“Seperti yang kamu lihat aku sudah sehat, besok juga sudah bisa pulang. Ayo masuk di dalam.” Jessica mengajak Tini dan Fanya masuk lalu Carlos tersenyum memperhatikan mereka bertiga.


“Oh ya, kalian berduakan belum kenalan dengan Carlos sini aku kenalin.” Jessica mengenalkan Tini dan Fanya pada Carlos.


“Babe, ini Tini teman sekolahku dan ini Fanya teman voli.” Carlos bersalaman dengan Fanya dan Tini kemudian Jessica mengajak mereka duduk di sofa sedangkan Carlos duduk di tempat tidur sambil mengutak-atik ponselnya.


“Jess, siapa yang tega meculikmu?” tanya Tini dengan wajah heran.


“Iya, Jess. Siapa?” sambung Fanya, mereka penasaran siapa yang menculik Jessica.


“Aku juga tidak tahu, penculiknya sudah tertangkap tapi katanya mereka hanya di bayar.”


“Siapa yang bayar mereka?” Kembali Tini bertanya dengan mengerutkan dahinya.


“Mereka belum mengaku, Tin,” jawab Jessica.


“Jess, aku lihat kamu tambah cantik saja.” Jessica terkekeh mendengar pujian Tini. “Apa karena Carlosnya ganteng?”  tanya Tini  sambil berbisik di kuping Jessica sehingga membuat kekasih Carlos tertawa.


“Bisa aja kamu, Tin.” Sambil berucap mata Jessica melihat Carlos keluar menerima telepon, mungkin dari kantor.


Jessica tidak ingin mengatakan pada Fanya dan Tini kalau dia sedang hamil.


“Jess, cinta kalian berdua sungguh hebat dan kuat, buktinya Glen tidak mampu memisahkan kamu dan Carlos. Semoga hubungan kalian langgeng sampe tua,” goda  Fanya sambil terseyum pada.


“Iya, terima kasih. Bagaimana hubungan kamu dan Glen?” Kali ini Jessica bertanya kepada Fanya.

__ADS_1


“Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Glen, aku tahu dia sangat menyukaimu.” Jessica terkikik melihat raut wajah Fanya yang lucu.


Sementara itu Carlos menerima telepon dari Andrew, sahabat Jessica itu menginformasikan kalau penculik sudah mengaku siapa yang membayar mereka, dan ternyata yang menyuruh mereka adalah Olivia.


“Sialan perempuan itu, dasar tidak tahu diri,” umpat Carlos, dia terlihat sangat marah.


“Andrew, apakah mereka sudah menahan Olivia?” tanya Carlos dengan suara pelan, dia tidak ingin Jessica mendengarnya.


“Belum, Carlos. Mereka baru saja menuju ketempat Olivia.” Jawaban Andrew membuat Carlos menjadi lega dan berharap Olivia segera tertangkap.


“Baiklah, Ndrew.  Jangan lupa terus memberikan kabar padaku,” ujar Carlos seraya melangkah menjauh dari VIP.


“Baik, Carlos. Bagaimana dengan Jessica?” tanya Andrew di ujung telepon.


“Jessica sudah sembuh, besok sudah boleh pulang.” Andrew sangat senang akhirnya sahabatnya sudah bisa pulang.


“Baiklah kalau begitu.” Carlos kemudian menutup telpon dan kembali ke ruangan. Dia tidak ingin Jessica tahu kalau dalang penculikan adalah Olivia.


Carlos masuk kedalan dan melihat Jessica masih bercakap cakap dengan kedua temannya. Jessica menatap Carlos lalu tersenyum. Carlos’pun membalas senyuman sang kekasih kemudian duduk di brankar.


Tidak lama kemudian Fanya dan Tini pamit pulang. Carlos berdiri dan mengantar mereka sampai depan pintu. Kemudian Jessica kembali berbaring di brankar lalu Carlos mendekatinya dan memegang gadis itu.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Carlos dengan mengusap pipi Jessica.


“Iya, aku baik-baik saja,” jawab Jessica sambil  tersenyum.  “Tadi siapa yang menelepon?”


“Andrew.” sahut Carlos sambil berbaring di samping Jessica dan mengelus perut rata itu.


“Kenapa, Andrew?” Kembali Jessica bertanya penuh selidik.


“Dia hanya bertanya kabar tentangmu, lalu aku katakan besok sudah boleh pulang.” Sambil menjawab pertanyaan Jessica Carlos mengambil tangan sang kekasih dan menempelkan di pipinya


“Babe, kamu belum bercukur?” Carlos terkekeh dan terus menggesekan punggung tangan Jessica di dagunya yang di tumbuhi bulu-bulu tajam.


“Tajam ya,” ujar Carlos dengan tertawa.


“Nanti kalau sudah pulang aku bercukur.” Jessica membenamkan kepalanya di dada Carlos, ada perasaan bahagia dalam hati gadis itu, dia akan memiliki anak dari orang yang dicintainya. Jessica memeluk Carlos dengan erat.


Keesokan harinya pasangan kekasih itu bersiap-siap untuk pulang, kali ini Andrew tidak menjemput mereka. Jessica dan Carlos berpamitan dengan petugas dan berjalan menuju tempat parkir lalu mereka pulang ke apartemen.


Begitu tiba mereka masuk dan Jessica langsung menuju kamar lalu berbaring, Carlos membuka lemari kemudian mengeluarkan kemejanya. Jessica memperhatikan Carlos


“Babe, kamu mau ke kantor?” tanya Jessica dengan mengerutkan dahi menatap Carlos.


“Iya, Sayang. Kamu tidak apa-apa sendirikan? Atau kamu mau ikut ke kantor?”


“Aku disini saja, aku tidak apa-apa sendiri,” sahut Jessica sambil memperhatikan tubuh polos sang kekasih, dia tersenyumm dan menggelengkan kepala.


Carlos mengganti pakaiannya kemudian  memakai sepatu. Selesai, dia duduk di samping tempat tidur dan memegang perut Jessica


“Sayang nanti kalau anak kita lahir dia akan memanggil apa kepada kita berdua? Mommy, papi atau mommy, daddy?” tanya Carlos  sambil tangan mengelus perut Jessica.


“Um ... bagaimana kalau papa, mama saja?” saran Jessica sekaligus menjawab pertanyaan sang kekasih. Carlos tersenyum dan menganggukan kepala.


“Bagus juga, papa mama. Ok, aku pergi dulu ya.” Carlos berdiri dan mencium perut Jessica. “Sayang, papa pergi dulu ya. Kamu temani mama disini,” ucap Carlos sambil tersnyum dan memandang Jessica kemudian mencium kening dan bibir gadis itu. “Te quiro mucho,” bisik Carlos.


“Yo tambien,” balas Jessica dengan tersenyum kepada Carlos.


“Kamu tau artinya, Sayang?” tanya Carlos sambil mengerutkan dahinya.


“Iya aku tau, Babe, author yang memberitahukannya.” Carlos tersenyum pada Jessica dan memeluknya.


“Aku mencintaimu, Sayang. Aku tidak salah memilihmu, dan yakin kamu bisa menjadi mama yang baik untuk anak-anak kita nanti.” Carlos mengusa rambut Jessica dan kembali mengecup bibir sang kekasih.


“Kamu juga pasti menjadi papa yang baik,” balas Jessica dengan membelai pipi Carlos.

__ADS_1


“Baiklah,  aku pergi dulu ya,” pamit Carlos pada Jessica.


“Iya, hati-hati ya,” pesan  Jessica sambil mengibaskan tangannya agar Carlos cepat pergi.


“Iya, Sayang.” Carlos pergi kekantor dan Jessica sendiri di apartemen.


Jessica pergi ke ruang Tv dan menyetel instrument music lalu merebahkan dirinya di sofa sambil membaca buku.


Sebenarnya Carlos berbohong pada Jessica,  dia tidak pergi ke kantor tapi pria itu sudah janjian dengan Andrew untuk pergi ke kantor polisi. Carlos tidak ingin Jessica tahu karena sudah pasti sang kekasih tidak akan mengijinkannya. Carlos mengeluarkan ponsel dan menghubungi Andrew lalu terdengar suara pria itu di ujung telepon.


“Kamu dimana, Carlos?” tanya Andrew.


“Baru keluar dari basement,” sahut Carlos dengan menyetir.


“Ok aku lagi di depan gedung apartemen,” beritahu Andrew dari seberang telepon.


“Tunggu saja di situ,  nanti aku jemput.” Tidak lama kemudian Carlos melihat Andrew lalu dia menghentikan mobilnya tepat di depan sahabat Jessica.


Mereka langsung menuju ke kantor polisi, Carlos ingin bertemu Olivia, dia ingin memberi pelajaran pada wanita itu.


“Bagaimana, Ndrew? Apakah Olivia sudah di tangkap?” tanya Carlos sambil melajukan mobilnya menuju ke kantor polisi.


“Sudah, sekarang dia lagi di tahanan.” Carlos tersenyum smirk, dia tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Olivia.


“Baguslah Ndrew,” ujar Carlos dengan suara kesal.


Akhirnya mereka tiba, Carlos dan Andrew turun lalu melapor ke petugas jaga. Mereka  diisinkan masuk, Andrew memberitahukan kepada petugasn kalau Carlos ingin bertemu dengan Olivia.


Petugas menjemput Olivia kemudian membawa wanita itu bertemu dengan Carlos lalu  meninggalkan mereka berdua.


Perginya petugas, Carlos langsung mendekati Olivia dan  memegang rahang wanita itu dengan kuat. Olivia kesakitan dan memegang tangan Carlos.


“Berani sekali kamu menculik Jessica dan ingin membunuhnya, kamu pikir kalau Jessica mati aku akan menikahimu. Jangan mimpi, kalau seandainya Jessica mati kamu yang lebih dulu aku bunuh,” kata Carlos  dengan marah. Olivia berusaha melepaskan tangan Carlos tapi pria itu memegangnya dengan kuat. “Kamu wanita iblis, sungguh menjijikan,” umpat Carlos dengan kesal.


“Carlos, lepaskan tanganmu, ini bukan ide ku?” Carlos terdiam dam melepaskan tanganya dari rahang Olivia.


“Oh ya,  lalu ide siapa?” tanya Carlos dengan penasaran, siapa yang telah memberi ide kepada Olivia untuk menculik Jessica.


“Ini ide temanmu, terakhir aku ke kantormu aku bertemu dengannya lalu dia menghadang aku kemudian menyuruhku mencari orang untuk menculik Jessica.” Carlos memicingkan matanya penuh curiga, apakah benar apa yang dikatakan wanita yang ada di hadapannya ini.


“Siapa temanku itu,” tanya Carlos dengan suara menekan.


“Glen.” Carlos membelalakan mata mendengar nama pria itu. Sungguh munafik, dia yang mendesak Carlos untuk melapor kepada polisi ternyata hanya ingin menutup kedoknya kalau dialah dalang penculikan itu.


“Kurang ajar kamu Glen, kamu bener-bener munafik. Kali ini aku tidak akan memaafkanmu.” Carlos keluar dan mengajak Andrew pergi, dia langsung naik ke mobil diikuti Andrew lalu pergi menuju ke kantor Glen.


Sampai di kantor Carlos langsung turun dan mencari pria itu, dia menuju keruangannya tapi  tidak ada disana. Kemudian Carlos bertanya pada karyawannya tapi kata mereka, sudah beberapa hari Glen tidak datang ke kantor.


“Kemana si Glen,” tanya Carlos dalam hati. Carlos mencoba meneleponnya tapi ponsel pria itu tidak aktif. “Kali ini kamu selamat Glen,” gumam Carlos dengan kesal.


Akhirnya Carlos dan Andrew meninggalkan kantor, kekasih Jessica mengantar Andrew pulang setelah itu dia pergi menuju apartemen.


Sampai di apartemen Carlos langsung naik ke atas dan melihat Jessica sedang tertidur di sofa. Dengan perlahan Carlos mengangkatnya dan memindahkan sang kekasih di kamar, kemudian Carlos menciumnya. Jessica terbangun dan menatap Carlos.


“Kamu sudah pulang, Babe?” tanya Jessica seraya mengucek matanya.


“Iya, Sayang. Aku tidak bisa meninggalkanmu lama. Aku selalu memikirkanmu, maaf membangunkanmu.” Sambil berucap Carlos melepaskan kemeja juga celana slim dan melemparkan ke karanjang pakaian kotor.


“Tidak apa-apa, Babe. Aku bisa sendiri.” Carlos hanya tersenyum dan berbaring di samping Jessica.


“Kamu sudah makan, Sayang?” tanya Carlos sambil mengelus perut Jessica.


“Iya sudah, tadi aku memesan makanan dan membuat juice,” sahut Jessica dengan meletakan kepalanya di dada Carlos.


“Bagus supaya anak kita lahir sehat, kalau begitu tidur lagi ya. Aku juga mengantuk.” Carlos dan Jessica tidur saling berpelukan.

__ADS_1


Selamat membaca


"Terima kasih bagi yang masih setia memberi like dan komentar "


__ADS_2