
Lelah menangis akhirnya Cella tertidur, pagi hari dia terbangun dan melihat ke samping berharap suaminya pulang. Cella berdiri kemudian pergi membasuh wajahnya dan menuju
kamar sang putra. Cella masuk lalu tersenyum melihat Lucio sedang bermain sendiri di box.
“Sayang, kamu sudah bangun ya,” ujar Cella kemudian menggendong Lucio dan pergi ke kamar Sabrina, dia membuka pintu tapi melihat putrinya tidak di sana.
Cella pergi ke ruang makan dan meletakkan Lucio di kursi bayi lalu dia membuatkan susu untuk putranya. ‘Biasanya pagi begini sudah terdengar canda dia dan anak-anak,’ gumamnya.
“Selamat pagi, Mommy.” Terdengar suara Sabrina menyapanya, Cella menoleh ke arah suara itu lalu tersenyum.
“Selamat pagi, Sayang,” ucap Cella kemudian mengecup kening putrinya. “Kamu sudah minum susu?”
“Sudah, Mommy. Oh ya papi mana?” tanya Sabrina sambil matanya mencari Logan sang ayah.
“Papi tidak pulang, Sayang. Dia lagi di luar kota,” jawab Cella dengan senyum yang di paksakan.
Cella lanjut membuatkan susu untuk Lucio, air mata kembali menetes. Dia cepat-cepat menghapusnya, Cella tidak ingin Sabrina tahu kalau dia sedang menangis.
****
Dua hari dia menanti suaminya tapi yang dinanti tak kunjung datang, Cella berpikir suaminya lebih memilih wanita itu dari pada dirinya. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke Philipin, Cella membeli tiket untuk dia dan kedua anaknya.
Dia rencana berangkat ke Philipin esok hari, dia juga mengajak Charlotte pengasuh Lucio untuk ikut bersamanya ke Negara itu. Cella mengambil kunci mobil lalu pergi ke kantor, begitu tiba dia langsung menuju ke ruang kerja.
Cella duduk dan menghubungi Frank dan Leo, dia ingin bertemu dengan mereka berdua sebelum berangkat ke Philipin. Cella memejamkan mata lalu terbayang lagi Logan dan wanita itu, kembali air mata menetes di pipinya.
Kenapa dia mengkhianatiku, apakah dia kurang puas terhadap aku? hatinya masih terasa sakit. Orang yang sangat dia cintai telah mengkhianatinya, dia lebih merasa kecewa Logan tidak ingin menyelesaikannya.
Terdengar ruangannya di ketuk lalu Cella berdiri dan membukakan pintu, dia tersenyum kepada Frank dan menyuruh pria itu masuk.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Frank sambil masuk dan duduk di sofa.
“Kamu tahu sendiri, Frank,” ujar Cella sambil ikut duduk. “Orang yang kamu cintai kedapatan sedang melakukan hubungan badan dengan wanita lain, itu sangat sakit, Frank.” Cella bersandar di kursi lalu air mata menetes kembali
.
Frank berdiri dan duduk di samping Cella, dia menarik wanita itu ke dalam pelukkan dan membelai rambutnya.
__ADS_1
“Menangislah, jangan di tahan.” Cella langsung menumpahkan rasa sedihnya di pelukan Frank, dia menangis dan memeluk erat pria itu.
“Aku sakit, Frank. Sakit sekali,” tangisnya di pelukan pria itu.
“Iya, aku tahu,” ujar Frank dengan terus membelai rambut Cella.
“Rasanya aku ingin mati saja.” Frank melepaskan pelukannya kemudian menatap wanita itu.
“Jangan bicara begitu, ingat kedua anakmu.” Frank menenangkan Cella lalu pintu terbuka, dia melihat Leo yang datang.
Pria itu langsung memberi isyarat kepada temannya lalu Leo menganggukan kepala dan duduk di sofa. Cella menyeka airmata dan berusaha tersenyum kepada Leo.
“Aku turut prihatin dengan apa yang kamu alami,” ujar Leo lalu Cella menganggukkan kepala.
“Terima kasih, Leo. Oh ya, aku mengajak kalian ke sini karena besok aku akan pergi ke Philipin. Aku titip kepada kalian berdua perusahanku.” Cella kembali meneteskan air mata.
Leo dan Frank saling pandang kemudian Leo berdiri dan duduk di samping Cella, dia mengusap air mata wanita itu.
“Aku tahu ini sangat berat bagimu, apa lagi kamu melihatnya sendiri dan lagi dia juga melarikan diri dari masalah.” Cella mengusap air matanya dan menganggukkan kepala.
“Aku sarankan kamu berlibur, tenangkan pikiranmu dan pikirkan kedua anakmu. Untuk perusahaan ada aku dan Frank. Kamu jangan khawatir, aku dan Frank sudah menganggapmu sebagai saudara kami juga.” Frank ikut mengiyakan apa yang di katakan Leo.
Dia merasa senang di saat dia dalam keadaan sedih ada Leo dan Frank yang menyemangatinya.
“Terima kasih, Leo. Kamu dan Frank temanku yang baik, aku tidak punya siapa-siapa di sini hanya kalian berdua. Aku tidak ingin keluargaku tahu masalah aku dan Logan, apalagi papa dan Acel. Mereka berdua bisa marah besar.” Cella melepaskan pelukannya lalu menatap Leo dan Frank.
“Aku dan Frank akan tutup mulut, kamu tidak usah khawatir. Tenangkan pikiranmu, pikirkan saja kedua anakmu.” Kembali wanita itu berusaha tersenyum lalu memegang tangan Leo.
“Terima kasih, Leo. Kalau begitu aku kembali dulu. aku harus mengatur semua keperluan untuk besok,” pamit Cella kemudian berdiri dan mengambil tas di meja kerja.
“Aku akan mengantarmu,” ujar Frank seraya ikut berdiri.
“Tidak usah, Frank. Aku kesini pakai mobilku.” Leo berdiri kemudian mengampiri Cella.
“Cella, biarkan Frank yang menyetir. Nanti aku akan menjemput Frank di rumahmu,” bujuk Leo akhirnya Cella mengalah. Dia mau di antar oleh Frank.
Mereka bertiga keluar dari ruang kerja dan pergi ke parkiran. Cella memberikan kunci mobil kepada Frank.
__ADS_1
Frank menjalankan mobil menuju ke kediaman Cella, sedangkan Leo mengikuti mereka dari belakang. Mereka tiba lalu Cella mengajak Frank dan Leo masuk, dia menyuruh kedua pria itu duduk.
Frank dan Leo memperhatikan satu persatu foto-foto Cella dan suaminya juga anak-anak yang tepajang di dinding.
“Aku kasihan melihatnya, dia begitu setia kepada suaminya tapi malah dikhianati,” ujar Frank dengan menarik napas panjang.
“Iya, sebenarnya aku sudah curiga waktu pertama kali aku berkunjung ke kantor suaminya. Mata wanita itu tak lepas dari Logan,”
“Dasar wanita busuk,” umpat Frank lalu Cella datang sambil menggendong Lucio.
Leo dan Frank berebutan ingin menggendong Lucio, Cella tertawa melihat mereka berdua, Frank mengambil Lucio dari tangan Cella dan menggendongnya.
“Hi, kamu sangat tampan,” puji Frank seraya mencium pipi Lucio.
“Frank, cukup. Berikan Lucio padaku, aku juga ingin menggendongnya,” ujar Leo sambil mengambil Lucio dari Frank.
Leo menggendong Lucio dan membawanya keluar, Cella mengikuti Leo dari belakang. Dia membiarkan pria itu bermain dengan Lucio lalu dia berbincang-bincang dengan Frank.
“Frank, apakah menurutmu aku ceraikan saja Logan?” Cella ingin mendengar pendapat Frank.
“Um, apakah kamu tidak ingin memberikan dia kesempatan,” tanya Frank sambil menatap mata Cella.
“Bagaimana aku akan memberikan kesempatan padanya kalau sampai saat ini dia tidak pulang. Mungkin saja dia bersama dengan Dylla dan aku berpikir dia tidak mencintaiku lagi.” Cella tertunduk dan kembali air matanya menetes.
“Aku baru saja merasakan hidup bahagia dan sekarang aku hancur, Frank.” Cella menangis lagi, dia masih tidak percaya dengan apa yang di alaminya.
“Cella, tenangkan dirimu. Kamu lihat Lucio, dia masih kecil. Pikirkan anak-anakmu. Aku tahu itu sangat sakit tapi kamu harus kuat demi Lucio dan Sabrina.” Frank berdiri dan mengambil kursi lalu duduk di depan Cella.
“Lihat Lucio dan Sabrina, tujukan pikiranmu kepada mereka berdua.” Frank memberi semangat kepada Cella, dia tidak ingin wanita itu putus asah.
“Iya, Frank. Terima kasih,” ucap Cella sambil menghapus air matanya.
****
Sementara di perkebunan terlihat Logan mondar-mandir di kamar, dia berpikir bagaimana cara untuk bertemu dengan istrinya. Dia mengusap air mata dan duduk kembali.
“Dia pasti akan menceraikanku, dia juga pasti akan membawa kedua anakku. Aku ingin bertemu dengannya tapi aku takut, aku sangat takut.” Dia kembali berdiri dan berjalan mondar-mandir, dia memikirkan apa yang akan dia katakan kepada sang sitri.
__ADS_1
“Aku sudah melukainya, aku sudah melukai orang yang mencintaiku. Maafkan aku, aku salah Cella. Aku sangat bersalah padamu.” Dia berbaring dan menangis lagi.
“Cella pasti mengirim pesan di ponselku, dan pasti dia berpikir aku sengaja mematikan benda ini. Ah ... mengapa juga aku sampai lupa membawa chargerku. ****!” umpatnya sambil menyeka air matanya.