
“Matahari mulai terbangun dari peraduannya, memancarkan sinarnya yang menghapus titik-titik embun di dedaunan, menghangatkan tubuh dari udara dingin. Acel bangun lalu dia membuka gorden jendela di kamar, tampak sinar matahari yang sangat menyilaukan memantul dari danau
Sheren terbangun saat pantulan sinar matahari di danau masuk kedalam kamar dan menyilaukan matanya, dia melihat Acel berdiri di depan pintu kamar. Sheren mengucek matanya kemudian dia berdiri, Sheren menghampiri Acel dan memeluk Acel dari belakang
“Good morning, Dear,” bisik Sheren di kuping Acel sambil menyandarkan kepalanya di punggung Ace
Acel tersenyum kemudian dia memegang tangan Sheren yang melingkar di perutnya.
“Good morning, Sayang, semalam kamu tertidur pulas ya,” ujar Acel kemudian dia memutar tubuhnya menghadap Sheren, dia memegang wajah Sheren dan mengecup bibir Sheren, “aku sangat mencintaimu.”
Sheren melingkarkan tangannya di punggung Acel kemudian dia mengecup bibir Acel, dia menatap mata Acel
“Aku juga mencintaimu,” ucap Sheren dengan suara pelan
“Terima kasih, Sayang,”
Tiba-tiba handphone Acel berbunyi, dia melihat panggilan dari Mike. Acel menatap Sheren kemudian dia tersenyum
“Telepon dari paman Mike,” ujar Acel kemudian dia menjawab telepon dari Mike, “hallo Paman Mike, ada apa meneleponku?”
“Selamat pagi, Acel. Apakah kamu akan ke kantor?” tanya Mike dari seberang telepon
“Iya, Paman. Aku akan ke kantor,” jawab Acel sambil berjalan duduk di pinggir danau
“Oh … bagus, aku tunggu kamu di kantor, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Baiklah, Paman. Sampai jumpa di kantor,” ujar Acel kemudian di menutup teleponnya.
Acel berdiri kemudian dia menghampiri Sheren yang lagi menyapu teras kamar
“Sayang, ayo siap-siap. Aku harus ke kantor,” kata Acel sambil mengambil sapu yang ada di tangan Sheren
“Kamu akan ke kantor?” tanya Sheren dengan kesal
“Iya, Sayang. Paman Mike ingin aku ke kantor, ada yang ingin dia katakan padaku,” jawab Acel dengan tersenyum
“Hmm … baiklah, aku mandi dulu,” ujar Sheren kemudian dia melepaskan tangannya dari punggung Acel
“Aku mandi denganmu ya,” canda Acel lalu Sheren tertawa
“Tidak boleh, nanti bisa-bisa kamu ….” Sheren terhenti
__ADS_1
“Kamu apa, kenapa tidak di teruskan?” tanya Acel dengan mengernyitkan keningnya
“Um … tidak apa-apa,” ujar Sheren kemudian dia tertawa dan masuk ke dalam kamar mandi
Acel menyusul masuk ke dalak kamar mandi dan melihat Sheren sedang melepaskan pakaiannya satu persatu.
“Hmm … tubuhnya sangat indah,” gumam Acel dalam hati, dia masuk ke tempat mandi mandi kemudian dia memeluk tubuh Sheren yang sudah tidak menggunakan apa-apa lagi. Acel memeluknya dari belakang kemudian dia mengecup punggung Sheren. Acel berbisik di kuping Sheren, “tubuhmu sangat indah.”
Sheren tersenyum dan memegang tangan Acel yang melingkar di perutnya, dia memejamkan mata dan menikmati setiap kecupan-kecupan yang di lepaskan Acel di punggungnya.
“Dear, nanti kamu tidak bisa menahannya,” canda Sheren dengan memutar tubuhnya menghadap Acel
Acel menatap dua bukit yang tergantung di dada Sheren kemudian dia meremas kedua bukit itu dengan lembut, dia memegang salah satu bukit itu kemudian dia memasukan ke dalam mulut. Dia memainkan lidah dan menggigit dengan lembut daging kecil yang mulai mengeras.
Sheren mendesah, kemudian dia meremas rambut Acel. Dia kembali memejamkan mata dan menikmati setiap jilatan dan gigitan lembut yang di lancar kan Acel di kedua bukit miliknya.
“Ah …. Acel sudah berhenti, nanti kamu tidak bisa menahannya,” pinta Sheren dengan suara pelan
Acel berhenti kemudian dia memeluk Sheren dengan erat, dia merasakan kedua bukit Sheren menempel di dadanya, Acel melepaskan kaos kemudian dia kembali memeluk Sheren. Dia memejamkan mata saat kedua bukit milik Sheren menempel di kulit dada, Acel menarik napas panjang.
“Hmm …. Sayang, aku ingin melakukannya,” bisik Acel di kuping Sheren
“Dear, pernikahan kita tidak lama lagi. Bagaimana kalau kita melakukan hubungan itu sesudah kita menikah?” ujar Sheren, tangannya membelai wajah Acel
“Hmm ….” sekali lagi Acel menarik nafas panjang, “baiklah, Sayang. Ayo mandi!”
Mereka berdua mandi bersama, selesai mandi mereka memakai pakaian. Acel dan Sheren keluar dari villa dan masuk kedalam mobil, Acel langsung menjalankan mobilnya menuju ke rumah.
Tiba di rumah mereka berdua turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah. Acel dan Sheren langsung menuju ke kamar Acel.
“Sayang, tolong ambilkan kemejaku di lemari,” pinta Acel sambil melepaskan kaos dan melempar kaos itu di keranjang baju.
Sheren membuka lemari lalu mengambil kemeja lalu dia memberi kemeja itu kepada Acel, Sheren membantu merapikan kemeja Acel
“Dear, apakah kamu akan makan siang di rumah?” tanya Sheren sambil merapikan kerak kemeja Acel
“Iya, Sayang. Aku akan makan siang di rumah, kamu tahu kan mama selalu ingin kita makan siang bersama,’ ujar Acel dengan mencubit pipi Sheren.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di kantor terlihat Mike sedang mondar- mandir di ruang kerja, dia sudah merencanakan ingin membunuh Acel dengan cara meracuni Acel. Dia ingin memasukan racun ke dalam minuman Acel.
__ADS_1
Pintu di ketuk, Mike langsung membukakan pintu dia melihat Acel kemudian dia tersenyum. Mike mengajak Acel masuk ke dalam. Mereka berdua duduk di sofa lalu mulai berbincang-bincang
“Oh ya, apa yang ingin Paman bicarakan denganku?” tanya Acel dengan tersenyum
“Um … iya Acel, aku ingin membicarakan tentang perusahaan minyak yang ada di Ecuador,” jawab Mike, “oh ya, Acel. Bagaimana sambil berbincang- bincang, kita minum wine?” Mike menawarkan minuman kepada Acel, di ingin segera melaksanakan rencana untuk membunuh Acel
“Iya, Paman,” ujar Acel sambil tersenyum
Mike berdiri lalu keluar dari ruangan, dia menemui orang yang sudah dia bayar. Dia memerintahkan untuk membawa minuman wine ke dalam ruang kerja. orang itu masuk bersama Mike dan memberikan segelas wine kepada Acel juga, dia juga memberikan segelas kepada Mike kemudian dia meninggalkan ruang kerja Mike
Mike duduk dekat Acel kemudian mereka berdua berbincang-bincang lagi, Mike mengambil minuman wine miliknya kemudian dia minum.
“Acel, silahkan di minum,” ujar Mike
Acel mengambil gelas yang berisikan wine kemudian dia minum sedikit lalu dia meletakkan kembali di atas meja.
“Oh ya, Paman. Ada apa dengan perusahaan minyak yang ada di Ecuador?”
“Begini, Acel. Aku membeli perusahaan itu atas nama perusahaan lain, saat kamu berumur delapan belas tahun aku merubah kepemilikan saham atas nama kamu. Berarti kamu pemilik perusahan itu.”
“Apakah Paman membeli perusahaan itu memakai uang pribadi Paman?” tanya Acel lagi
“Tidak, Acel. Aku membeli perusahaan itu dengan menggunakan uang perusahan opa kamu,” jawab Mike kemudian dia mengambil gelas yang berisikan minuman wine lalu dia meminumnya
Acel juga mengambil minuman wine itu lalu dia minum, Acel meminum minuman itu sampai habis. Mike melihat gelas Acel sudah kosong lalu dia tersenyum
“Sebentar lagi kamu mati,” kata Mike dalam hati, dia sangat senang karena dia berpikir perusahaan minyak akan menjadi miliknya.
“Oh …. Apakah paman ingin aku mengurus perusahaan itu?” tanya Acel dengan wajah serius
“Iya, Acel. Aku ingin kamu yang mengurusnya,” jawab Mike dengan senyum penuh kemunafikan
“Ah … Paman, aku tidak tertarik dengan perusahan itu. Di sini perusahan papa dan mama saja sudah membuatku pusing apalagi perusahaan minyak yang ada di Ecuador, perusahan itu buat Paman saja. aku tidak berminat, atau tanyakan saja kepada papa.” Ujar Acel kemudian dia berdiri, “baiklah Paman aku pergi dulu, aku ingin pergi ke kantor papa.”
“Baiklah, Acel. Nanti aku bicarakan dengan papa dan opa kamu.” Kata Mike sambil berdiri
“Iya Paman Mike, aku pergi dulu,” pamit Acel kemudian dia meninggalkan ruang kerja Mike
Mike tersenyum melihat Acel pergi, dia duduk di kursi kerja lalu dia tertawa.
“Kalau dia mati, akan lebih mudah aku mendapatkan tanda tangan Carlos untuk perusahan yang di german. Sekarang tinggal menunggu hari,” kata Mike sambil tersenyum sinis
__ADS_1