
Setelah kandungan Cella sudah masuk enam bulan, dia mengurangi aktifitas di kantor. Mommy dari Sabrina lebih memilih bekerja dari rumah, sekaligus memperhatikan putrinya yang baru saja bergenap lima tahun.
Sedangkan sang suami dia begitu sibuk dengan pekerjaannya tapi sesibuk apapun dia selalu ada waktu untuk istri dan anaknya. Hari ini karena libur mereka bermain-main di halaman belakang.
Logan dan Sabrina kejar-kejaran di halaman sedangkan Cella hanya duduk dan membaca buku lalu ponselnya berbunyi, dia melihat panggilan dari papanya. Cella langsung menjawab telepon itu.
“Hallo, Pap. Bagaimana kabar kalian?” tanya Cella sambil matanya melihat Logan dan putrinya.
“Mama dan papa baik-baik saja, oh ya opa Federico sedang terbaring sakit. Dia ingin melihatmu juga Sabrina.” Cella terdiam mendengar opanya sakit.
“Baiklah, Pap. Besok kami ke Amerika.” Dia memang sudah berencana untuk berkunjung ke rumah orang tuanya, Cella ingin memberikan kejutan kepada mereka.
Selama ini mereka tidak tahu kalau dia sedang hamil, Cella sengaja tidak mengatakan kepada keluarganya.
“Baiklah, Sayang. Sampaikan salam kepada Logan,” ujar Carlos dari ujung telepon.
“Iya, Pap. Nanti aku sampaikan.” Cella menutup telepon kemudian memanggil Logan.
Pria itu berhenti bermain dengan Sabrina kemudian menghampiri Cella dan mengecup kening wanita itu.
“Ada apa, Sayang?” tanya Logan seraya duduk di samping istrinya.
“Papa baru saja menelpon, dia memberitahukan kalau opa Federico sedang sakit,” jawab Cella dengan memegang tangan suaminya.
“Kamu ingin ke Amerika?” tanya Logan lagi sambil matanya tertuju kepada Sabrina.
“Iya, aku sudah katakan kepada papa besok aku, kamu juga Sabrina akan ke Amerika.” Logan mengangguk-anggukkan kepala kemudian memegang tangan sang istri.
“Sayang, aku menyusul saja. Pekerjaanku banyak. Kamu dan Sabrina juga pengasuh saja yang lebih dulu ke Amerika.” Wajah Cella sempat berubah.
“Baiklah.” Cella berdiri kemudian dia memanggil Sabrina untuk masuk. Logan juga ikut berdiri, dia tahu kalau istrinya kesal kepadanya.
“Sayang, aku janji setelah selesaikan pekerjaanku langsung ke Amerika.” Cella hanya diam kemudian memegang tangan Sabrina dan masuk ke dalam menuju kamar putrinya.
Logan kembali duduk, dan menatap sang istri berjalan ke dalam. Dia menggeleng-gelengkan kepala dan menarik napas panjang.
Di kamar Cella membuka laptop dan memesan tiket untuk dia dan putrinya juga pengasuh. Selesai, dia mengeluarkan pakaian dan mengaturnya di koper. Dia memanggil pengasuh dan meminta wanita itu untuk mengatur juga pakaian Sabrina di koper.
Logan masuk ke kamar dan melihat Cella sedang berbaring, dia duduk di sisi tempat tidur dan mengelus perut sang istri.
“Aku janji, begitu pekerjaanku selesai aku langsung ke Amerika.” Cella memutar tubuh membelakangi suaminya.
“Terserah kamu.” Logan diam kemudian berdiri dan duduk di sofa, dia tahu istrinya sedang kesal.
Keesokan harinya Logan mengantar Cella dan putrinya ke airport, di dalam mobil Cella hanya diam. Dia tidak ingin bicara kepada suaminya, sedangkan Logan dia terus menyetir.
Tiba di airport dia turun dan mengeluarkan koper milik Cella dan Sabrina kemudian memeluk putrinya.
“Papi akan rindu padamu, Sayang.” Dia mencium kedua pipi putrinya sedangkan Cella dia menarik koper dan masuk ke dalam untuk chek in, dia tidak mempedulikan suaminya.
Logan hanya bisa memandang Cella, dia ingin memeluk sang istri tapi dia tahu wanita itu sedang marah. Logan menyuruh pengasuh untuk menyusul Cella bersama putrinya kemudian dia masuk ke mobil dan meninggalkan airport.
Dari airport dia langsung menuju ke perusahannya, tiba di kantor dia langsung masuk ke ruangannya Logan duduk dan memikirkan istrinya. Dia sangat kesal karena Cella tidak mau bicara kepadanya, bahkan saat di airport berpamitan dengannya pun tidak.
Amerika
Semua sedang berkumpul di rumah Federico opa dari Cella, Jessica sedang duduk di sisi tempat tidur dan memegang tangan mertuanya.
“Dad, kita ke rumah sakit ya,” ajak Jessica, dia berusaha membujuk Federico agar di rawat di rumah sakit tapi pria tua itu hanya menggelengkan kepala.
Dia tidak bisa bicara lagi, badannya terlihat lemah karena tidak ada asupan makanan hanya cairan infus yang masuk. Perawat dan dokter selalu mengontrol kesehatan Federico. Carlos memegang pipi Federico dan mengelusnya.
“Ayolah, Dad. Kalau di rumah sakit banyak peralatannya.” Federico hanya menggelengkan kepala, dia menarik napas panjang dan memegang tangan Jessica.
Federico membuka matanya dan mandang satu persatu mereka. Dia tersenyum melihat Kairos yang sedang menggendong Clau, dia juga tersenyum melihat Acel dan Sheren juga Isabell. Raut wajahnya berubah saat dia melihat Cella tidak ada.
Jessica memperhatikan raut wajah Federico dia tahu ayah mertuanya pasti mencari Cella.
“Dad, Cella sedang dalam perjalanan kesini.” Federico langsung tersenyum kemudian memberi isyarat kepada Tania agar mendekat. Tania duduk di sisi tempat tidur sambil memangku Chantiq.
Federico berusaha memegang tangan Chantiq, lalu Tania mendekatkan putrinya kepada Federico.
Federico juga memberi isyarat agar Clau dan Isabell naik ke tempat tidur. Kairos meletakkan Clau di tempat tidur, begitu juga Isabell. Dia naik ke ranjang dan duduk dekat Federico.
Raut wajah Carlos terlihat begitu sedih. Dia berdiri dan memeluk Liliana.
Brazil
Logan sedang berada di ruang kerjanya, matanya tertuju di komputer lalu pintu terbuka, dia lihat Dylla yang datang. Wanita itu langsung duduk di pangkuan Logan dan mengecup bibir sang mantan yang sudah menjadi suami Cella.
__ADS_1
Mereka berdua saling berciuaman dan memainkan lidah. Dylla menghentikan ciumannya kemudian tersenyum.
“Berapa lama istrimu di Amerika?” tanya Dylla seraya membelai pipi Logan
“Tidak tahu, selesai urusanku, aku akan menyusulnya,” jawab Logan kemudian kembali mencium bibir Dylla. Wanita itu kembali menghentikan Logan yang bernapsu menciumnya.
“Bagaimana kalau kita pergi ke villaku?”
“Baiklah. Ayo,” sahut Logan. Dylla berdiri di ikuti Logan lalu mereka keluar dan pergi ke parkiran. Pria dan wanita itu langsung pergi menuju ke villa.
Logan dan Dylla tiba di villa kemudian wanita itu mengajak Logan masuk menuju kamarnya.
Mereka berdua langsung melepaskan pakaian lalu Logan menghempaskan tubuh Dylla di ranjang dan menerjang bibir wanita itu.
Sensasi saling memainkan lida membuat Logan sejenak melupakan Cella, mereka saling bergantian memainkan lidah.
Tangan Dylla mulai masuk ke dalam underwear boxer Logan, dia mengelus benda yang sudah keras itu. Sambil berciuman, Logan menikmati elusan-elusan jemari Dylla.
Logan turun dari atas tubuh Dylla dan meminta Dylla untuk memainkan miliknya. wanita itu turun ke bawah dan memainkan benda yang sudah keras itu Logan.
Logan membelai rambut Dylla dan merasakan saliva membasahi miliknya.
Amerika
Akhirnya Cella berserta putri dan pengasuhnya tiba di Amerika, mereka di jemput oleh Bane pengawal setia dari keluarga wanita itu. Cella melihat Bane kemudian tersenyum dan menyapanya.
“Hi, Bane. Akhirnya aku melihatmu lagi,” canda Cella lalu Bane tertawa dan melihat putri Cella.
“Putrimu cantik sekali.” Dia membungkuk dan membelai rambut Sabrina. “Siapa namamu?” Cella tersenyum melihat putrinya.
“Sabrina,” jawabnya dengan lembut lalu Bane menatap Cella.
“Putrimu sangat pintar.” Sabrina tersenyum kepada Bane kemudian memegang tangan Cella.
Bane mengantar mereka ke kediaman orang tua wanita itu, saat tiba Cella tertawa melihat papanya sedang mondar-mandir di depan rumah.
Carlos melihat kendaraan yang menjemput putrinya masuk ke pekarangan rumah, wajahnya terlihat ceria. Mobil berhenti tepat di depannya, dia langsung membuka pintu dan memeluk Sabrina.
Berulang kali dia mencium pipi cucunya, dia tidak memperhatikan perut putrinya yang sudah besar. Carlos terlalu sibuk dengan cucunya, Jessica keluar dan melihat Cella turun dari mobil. Dia membelalakan mata saat melihat perut Cella.
“Kamu hamil, Sayang.” Cella tertawa dan menganggukkan kepala, Jessica langsung memeluknya sedangkan Carlos menurunkan Sabrina dan memperhatikan perut putrinya.
“Iya, kandunganku sudah enam bulan,” jawab Cella lalu terlihat kedua kakaknya keluar. Mereka berdua langsung memeluknya.
Mereka masuk dan menemui orang tua papanya yang sedang terbaring sakit di kamar, Cella melihat opanya kemudian memeluk dan mencium kedua pipinya.
“Kenapa tidak ke rumah sakit?” tanya Cella dengan memegang tangan opanya.
“Opa tidak apa-apa, untuk apa ke rumah sakit.” Cella meliat omanya kemudian dia memeluk dan menciumnya lalu Cella duduk kembali di sisi tempat tidur.
Sementara di Brazil terlihat Logan sedang duduk termenung di teras kamar, dia melihat ponsel tidak ada panggilan ataupun pesan dari istrinya.
‘Dia sudah tiba di Amerika tapi mengapa dia belum memberi kabar? Apakah dia masih marah padaku? Dia mencoba menghubungi istrinya tapi tidak ada jawaban. Lalu Logan mencoba menghubungi Acel, ada nada panggil lalu terdengar suara kembar Cella di telepon.
“Hei, Logan. Kenapa kamu tidak datang?” tanya Acel dari seberang telepon.
“Aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, nanti begitu selesai aku segera ke sana. Oh ya, Cella mana?” tanya Logan lalu dia mendengar tawa putrinya di ujung telepon.
“Dia sedang di kamar sebentar aku temui dia.” Logan tidak menutup telepon, dia masih mendengar tawa putrinya di sana. Lalu terdengar suara sang istri.
“Ada apa?” Suara istrinya begitu dingin.
“Mengapa tidak memberi kabar kalau sudah tiba,” tanya Logan seraya berdiri dan masuk kamar.
“Aku lupa.” Logan tertawa mendengar jawaban istrinya.
“Aku janji selesai pekerjaanku langsung menyusul ke sana.” Cella tidak menjawab dia hanya diam. “Kamu masih marah padaku?” Cella tetap diam lalu terdengar Sabrina memanggilnya.
“Papi, kapan ke sini?” Logan tersenyum mendengar suara putrinya.
“Selesai papi kerja ya, mommy mana?” tanya Logan kepada putrinya.
“Mommy pergi ke kamar.” Wajah Logan berubah kesal kemudian dia mematikan ponselnya.
Dia keluar dari kamar kemudian pergi ke mini bar dan mengambil botol red wine serta gelas lalu pergi duduk di halaman belakang, Logan menuangkan cairan yang mengandung alkohol di gelas dan meminumnya. Dia masih bingung dengan sikap diam istrinya.
Amerika
Cella melihat Federico kemudian menghampiri dan memeluknya. Dia mencium kedua pipi Federico.
__ADS_1
“Opa, kita ke rumah sakit ya,” bujuk Cella tapi Federico menggelengkan kepala dan berusaha memegang pipi Cella.
Cella membantu mengangkat tangan Federico dan menempelkan di pipinya. Jessica tersenyum melihat Cella dan Federico, dia duduk dekat dengan Cella dan membelai rambut putrinya.
Carlos meletakkan Sabrina di tempat tidur dekat dengan Chantiq, Ezer dan Isabell. Federico tersenyum melihat Sabrina, kemudian memejamkan matanya.
Mereka semua keluar dari kamar dan pergi ke ruang santai. Carlos duduk dekat Cella dan membelai rambut putrinya.
“Apakah Logan akan datang?”
“Iya,Pap. Kalau pekerjaan sudah selesai dia akan langsung kesini,” jawab Cella sambil memperhatikan Sabrina yang sedang bermain dengan Ezer, Clau dan Chantiq.
Terdengar ponsel Cella berbunyi, dia mengambil benda pipi itu dari dalam tas kemudian melihat panggilan dari Frank. Cella tersenyum kemudian berdiri dan menerima panggilan itu.
“Hi, Frank. Aku lagi di Amerika, bagaimana kabarmu?”
“Oh ... kamu lagi di Amerika? Kebetulan sekali aku juga sedang di Amerika. Aku lagi di West Covina, kamu dimana?” tanya Frank dari seberang telepon.
“Kamu juga di Amerika? Aku di Torrance, kamu nanti ke Torrance ya,”
“Baiklah, sebentar aku ke sana.”
“Ok, aku tunggu ya.” Cella tersenyum kemudian menutup teleponnya. Dia kembali masuk dan bergabung dengan mereka.
Brazil
Di kamar terdengar *******-******* kenikmatan dari bibir Dylla saat dia merasakan milik Logan masuk keluar dengan cepat di miliknya.
Dia meremas lengan Logan yang sedang bertumpu di tempat tidur. Dylla mengangkat kepala dan memperhatikan milik Logan yang sedang bekerja dengan cepat lalu dia memejamkan mata.
Dylla tidak tahan lagi lalu dia mengalami pelepasan. Logan berhenti lalu mengeluarkan miliknya dan memasukan ke tempat lain, dia merasakan kenikmata berbeda di area itu.
Logan menghentakan pinggulnya dengan kasar lalu terdengar teriakan kesakitan dari Dylla, walau’pun sakit akhirnya wanita itu tetap membiarkan Logan melakukannya.
Logan memejamkan mata dan menikmati betapa sempitnya daerah yang baru saja dia masuki, pinggulnya bergerak maju munduk dengan cepat. Dia merasakan ada sesuatu yang akan menyembur dari miliknya, Logan menggerakkan dengan kasar sehingga membuat Dylla berteriak kesakitan.
Dia menekannya sehingga miliknya terbenam semua di dalam area tersebut lalu dia mengalami pelepasan. Berulang kali dia menyentakan pinggulnya lalu Logan berbaring di samping Dylla.
“Auh … sakit Logan,” rintih Dylla saat Logan mengeluarkan miliknya dengan kasar dari area sempit itu.
Tiba-tiba ponsel Logan berbunyi, dia langsung melompat dan meraih gawai miliknya yang berada di atas meja.
Dia melihat panggilan dari Cella, Logan cepat-cepat berlari ke kamar mandi dan menerima telepon dari Cella.
“Hallo, Sayang. Bagaiman kabar kalian?” Mendengar napas Logan yang ngos-ngosan Cella menjadi heran.
“Kenapa napasmu tidak teratur begitu?”
“Oh, aku lagi ada meeting. Melihat telepon darimu aku langsung berlari pergi ke kamar mandi,” bohong Logan sambil mengatur napasnya.
“Oh begitu, nanti malam aku mau makan malam dengan Frank, kebetulan dia juga lagi di Amerika.”
“Untuk apa kamu makan malam bersamanya?” Logan merasa cemburu dia tidak suka Cella dekat dengan Frank.
“Dia rekan bisnisku, aku ingin menghargainya saja,”
“Tapi, Sayang ....”
“Logan, apakah kamu tidak percaya padaku?”
“Bukan begitu, Sayang. Tapi ....”
“Tapi apalagi?” sela Cella dengan kesal lalu dia menutup telelponnya. Logan langsung keluar dari kamar mandi dan memakai pakainnya.
“Aku harus pulang,” ujar Logan kepada Dylla. Dia terlihat kesal karena Cella menutup teleponnya.
“Baiklah, aku mandi dulu.” Dylla berdiri kemudian pergi ke kamar mandi.
Sedangkan Logan, dia mecari tiket untuk ke Amerika. ‘Aku tidak akan membiarkan Frank dekat dengan Cella, kata Logan dalam hati.
Dylla selesai mandi kemudian dia mengajak Logan pergi.
NOTICE
INI NOVELKU, KALIAN MAU BACA SILAHKAN BERHEN**TI JUGA GAK MASALAH BUATKU. JANGAN TERLALU BANYAK MENGATUR PENULIS MENGAPA BUKAN KALIAN SAJA YANG MENULIS. CUKUP DARI SS 2 SAMPAI 3 PEMBACA TERLALU BANYAK MENGATURKU, SEKARANG AKU HANYA INGIN MENGIKUTI APA YANG ADA DI PIKIRANKU.**
MAU BERHENTI BACA AKU TIDAK PERDULI SILAHKAN.
TERIMA KASIH
__ADS_1