SUAMI BAJINGAN

SUAMI BAJINGAN
Cemburu


__ADS_3

Orang tua Carlos sangat menyayangi Jessica terlebih lagi Federico, seakan-akan Jessica adalah anak kandungnya. Kekasih Carlos benar-benar merasakan apa itu kasih sayang.


Jessica menemukan kasih sayang dari Federico dan Liliana. Mommy Carlos bercerita kalau dulu Federico sangat mendambakan anak perempuan tapi saat melahirkan Dario Liliana sudah tidak bisa hamil lagi, makanya begitu Jessica hadir dalam keluarga mereka Federico sangat bahagia.


Sekarang kalau pulang kantor yang mereka cari terlebih dulu adalah Jessica, seolah-olah yang anak kandung mereka wanita itu bukan Carlos.


Kalau Jessica dan Carlos bertengkar Liliana juga Federico selalu membela Jessica. Terkadang Carlos menjadi kesal, kalau  sudah begitu Jessica selalu menggoda sang kekasih.


Tapi Jessica sangat beryukur Carlos tidak berani mengeluarkan kata-kata kasar atau membentak Jessica walau’pun dalam keadaan emosi. Pria itu sangat  menyayangi Jessica.


Apalgi sekarang Carlos sekarang menjadi pencemburu, media sosial Jessica selalu diawasi olehnya. Bahkan aplikasi tempat mengirim dan menerima pesan milik Jessica di hubungkan ke laptopnya,  messenger juga sekarang diawasi oleh kekasihnya.


Kalau ada yang meminta pertemanan, Carlos langsung blockir.  Tapi tidak menjadi masalah bagi Jessica karena diapun tidak aktif bermain media sosial. Jessica berpikir Carlos seperti itu karena  mencintainya. So no problem.


Suatu waktu Jessica jalan-jalan di mall bersama orang tua Carlos,  Federico bertemu dengan rekan bisnis bersama anak laki lakinya.  Federico mengenalkan Jessica kepada mereka sebagai anak perempuannya bukan calon menantu.


Nampak wajah Carlos kesal apa lagi anak dari rekan bisnis Federico itu selalu menatap calon istrinya. Tidak dipungkiri pria itu sangat tampan, Carlos terlihat sangat cemburu.


Sampai dirumah Carlos langsung menarik Jessica masuk ke kamar dan menatapnya dengan kesal. Sementara Jessica hanya tersenyum, dia tahu kalau saat ini sang kekasih sedang cemburu.


“Kenapa wajahmu seperti itu?” Jessica bertanya seolah-olah tidak tahu suasana hati Carlos, melingkarka tangan di pinggang pria itu menunggu jawaban sang kekasih.


Carlos tidak menjawab hanya melepaskan tangan Jessica yang melingkar di pinggangnya membuat wanita hamil itu  lebih ingin mengerjainya.


 “Kamu marah padaku?” Carlos hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Jessica. “Lalu kenapa kamu diam?” Carlos membalikkan badannya menghadap Jessica.


“Kamu mencintaiku?” Jessica menyatukan kedua alisnya menatap sang kekasih.


“Tentu saja aku sangat mencintaimu. Kalau aku untuk apa aku mau mengandung anakmu.”  Carlos menangkup pipi Jessica dengan kedua tangannya, menatap dalam mata Jessica mencari kepastian disana.


“Kamu akan setia padaku?” Kembali Carlos bertanya dengan tatapan sendu kepada wanitanya.


“Tentu saja, kenapa bertanya begitu padaku? Kamu pikir aku akan meninggalkanmu dan pergi dengan laki laki lain?”


“Sayang, aku takut  kamu meninggalkanku, kamu sangat muda, cantik sedangkan aku ….” Carlos terhenti kemudia melepaskan tangannya dari pipi Jessica, menatap keluar jendela. “Kamu tahu sendiri umurku sekarang.  Kita sangat berbeda jauh, aku takut ….” Jessica langsung memeluk Carlos, membenamkan wajah di dada pria itu.


“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, kamu cinta pertama dan terakhirku. Aku akan selalu bersamamu, menghabiskan hidupku bersamamu.” Jessica mendongakan kepala menatap Carlos.


“Aku hanya milikmu, justru aku yang takut kalau suatu waktu kamu mengkhianatiku.” Kembali Carlos memegang pipi Jessica, menatap lekat mata indah itu.


“Tidak akan pernah, Sayang. Selamanya aku milikmu, aku berjanji padamu.” Mereka berdua saling berpelukan setelah mengungkap segala rasa yang ada di hati.


Carlos juga sempat protes kepada Federico karena mengenalkan Jessica sebagai putrinya bukan calon menantu, daddy Carlos tertawa melihat kecemburuan putranya.


“Nak, sepertinya kamu cemburu kepada anak rekan bisnisku,” canda Federico, terdengar decakan dari bibir Carlos.


“Bukan begitu, Dadd. Jessica calon istriku, aku tidak suka ada yang menatapnya seperti itu.” Kembali Federico tertawa karena Carlos tidak mengakui kalau dia cemburu.


“Itu tandanya kamu cemburu, tapi itu bagus berarti kamu mencintai Jessica,” ujar Federico dengan menepuk punggung putranya.


“Tentu saja  aku mencintainya, makanya aku tidak suka ada laki laki yang menatapnya seperti itu.”


“Iya ... Iya, Daddy minta maaf.” Sambil tertawa kembali dia menepuk punggung Carlos.

__ADS_1


****


Pernikahan Jessica dan Carlos tinggal dua minggu, Federico sudah mengurus visa Jessica, kini mereka sedang berbincang-bincang di lantai dua dekat kamar Carlos.


Jessica mendengar perbincangan mereka, tapi dia tidak mengerti karena menggunakan bahasa Spanyol. Jessica tidak tahu apa yang mereka bicarakan, saat akan turun ke lantai satu langkahnya terhenti mendengar Liliana memanggilnya.


“Jessi, ayo duduk sini.” Jessica bergabung duduk bersama mereka.


“Kalian ingin menggunakan nuansa apa di pernikahan kalian?” Jessica bingung lalu menatap Carlos.


“Terserah Carlos saja.”


“Bagaimana, Carlos? kita harus mengaturnya dari sekarang,” desak Liliana.


“Aku lebih suka outdoor, rumah kita di Spanyol halamannya luas, kita bisa pakai untuk pernikahan aku dan Jessica,” tutur Carlos dengan menggenggam tangan Jessica.


“Itu bagus,” seloroh Federico. “Halaman rumah kita luas, kita bisa sewa EO wedding.”


Jessica hanya diam mendengarkan rencana rencana mereka, dia juga suka pernikahannya di buat outdoor. Kalau di dalam gedung terlalu formal.


Selesai berdiskusi Jessica dan Carlos berdiri meninggalkan Federico dan Liliana di ruang santai,  turun ke lantai satu menuju halaman belakang. Jessica  duduk sambil melayangkan mata ke pepohonan.


“Apa yang kamu pikirkan, Sayang?” tanya Carlos sembari menarik Jessica untuk duduk di pangkuannya.


“Tidak ada,” jawab Jessica seraya duduk dan melingkarkan tangannya di leher Carlos.


“Kamu suka dengan tema pernikahan kita?” Jessica tersenyum dan menganggukan kepala.


“Aku suka.”


“Aku sangat bahagia bersamamu.” Mendengar jawaban Jessica, Carlos mencium memeluknya dan berbisik.


“Aku sangat mencintaimu.”


“I do.” Jessica ikut berbisik di telinga Carlos membuat hati pria itu berbunga.


Carlos berdiri mengajak Jessica pergi ke pondok yang berada di dekat pepohonan.  Pasangan kekasih itu berjalan di atas rumput hijau yang tertata rapi, Carlos melingkarkan tangan  satunya punggung Jessica begitu juga dengan wanita itu tangan melingkar di pinggang calon suami.


“Sayang, kamu ingin anak kita berapa?” tanya Carlos saat tiba di pondok meletakan pantat di atas tikar. Menarik Jessica untuk duduk di pangkuan dengan posisi menghadapnya.


“Em ….” Berpikir sejenak. “Empat, dua laki laki dan dua perempuan,” jawab Jessica sambil tersenyum.


“Kenapa banyak begitu sayang?”


“Aku ingin rumah kita ramai dengan anak anak.” Carlos ikut tersenyum dan mencium bibir Jessica.


“Kamu tidak bosan mencium bibirku?”


“Tidak akan pernah bosan, aku ingin menciumnya terus dan terus.” Sambil mencium berulang kali bibir Jessica.


“Sudah, berhenti.” Carlos berhenti dan menatap Jessica.


“Kenapa? Kamu bosan aku menciummu?” Jessica menggelengkan kepala dan memegang tangan Carlos yang sedang mengelus perutnya.

__ADS_1


“Kalau anak kita lahir kamu akan beri dia nama apa.?” Carlos berpikir sejenak.


“Hm, aku akan memberi dia nama Kairos. Ya namanya Kairos.”


“Apakah Kairos ada makna tertentu bagimu?” Kembali Jessica bertanya dengan mengelus pipi Carlos.


“Iya,  artinya saat yang tepat atau waktu yang tepat.” Carlos memegang tangan Jessica dan tersenyum.


“Saat yang tepat aku memilikimu saat yang tepat dimana aku akan memiliki anak dari wanita yang aku cintai dan bisa di artikan kesempatan.” Jessica mengernyitkan dahi mendengar penjelasan Carlos.


“Kesempatan memiliki wanita cantik sepertimu,” jelas Carlos sambil mendekatkan wajahnya ke Jessica dan berbisik. “Aku ingin bercinta disini.”


“Jangan mengada-ngada, bagaimana kalau ada yang melihat kita?” tolak Jessica, dia belum pernah bercinta di alam terbuka bersama Carlos.


“Tidak akan sayang, kita jauh dari rumah,” sahut Carlos sambil jemari menyusup di balik baju hamil Jessica.


“Aku takut,” ujar Jessica dengan berusaha menahan tangan Carlos yang mulai meremas salah satu bukit kembanya.


“Ayolah, Sayang. Tidak ada siapa-siapa disini.” Carlos tidak dapat menahan hasratnya, sudah lama dia ingin bercinta dengan Jessica di alam terbuka.


“Tapi ….” Jessica terdiam saat mulutnya di bekap dengan bibir Carlos.


Tangan Carlos menyusup ke belakang, menekan tengkuk Jessica agar ciuman tidak terlepas. Carlos mengesaap bibir Jessica begitu kuat sehingga wanita itu merintih dan mendorong Carlos.


“Bibirku bisa bengkak kalau kamu menciumku seperti itu.” Carlos terkekeh dan membelai bibir Jessica yang merah karena ulanya.


Carlos membuka kancing serta resleting celana lalu mengeluarkan miliknya yang sudah tegang dan keras serta siap untuk tempur. Dia mengambil tangan Jessica dan meminta untuk memegangnya.


Sambil berciuman Jessica memegang milik Carlos dan mengelusnya. Terdengar lenguhan dari bibir pria itu, dia menyingkap baju hamil Jessica dan melucuuti pakaian dalam wanitanya. Mengangkat sedikit pinggang Jessica dan menuntut miliknya masuk.


Carlos memejamkan mata saat merasakan miliknya terbenam semua di inti Jessica. Dia membantu menggerakan pinggul wanitanya naik turun.


Dengan posisinya  di atas pangkuan Carlos, Jessica merasakn milik Carlos menembus dinding intinya dia menyusupkan jemarinya di rambut lebat Carlos dan merasakan benda itu masuk keluar di intinya.


Jessica merasakan milik Carlos mulai membesar di dalam intinya, itu tanda kalau sang kekasih akan segera mengalami pelepasan.


Benar saja, Carlos menggerakan pinggul Jessica lalu dia mengerang di telinga Jessica. Dia memeluk erat wanitanya  dan menghembuskan napas di lehernya.


“Apakah kamu mengalami pelepasan?” tanya Carlos seraya mengeluarkan miliknya dari inti Jessica.


“Iya, sebelum kamu.” Carlos tersenyum dan memperhatikan miliknya yang masih tegak berdiri.


“Baiklah, kita kembali ke rumah.” Carlos merapikan pakaian Jessica lalu berdiri dan mengancing celananya.


Carlos menggendong Jessica ala pengantin lalu berjalan pergi ke rumah, mereka berdua berpapasan dengan Federico.


“Dari mana kalian berdua?”


“Dari pondok Dadd,” jawab Carlos seraya menurunkan Jessica.


“Oh begitu, kalian tidak ke dokter. Bukannya Jessica akan memeriksa kandungannya?”


“Nanti sebentar, kami akan bersiap-siap.” Carlos dan Jessica meninggalkan Federico lalu pergi ke kamar.

__ADS_1


Selamat membaca


Terima kasih bagi yang masih setia memberi like dan koment


__ADS_2