
Logan dan Cella sedang bersiap-siap, hari ini mereka akan berangkat ke Brazil. Pasangan kekasih itu mengatur barang-barang mereka di koper.
Sementara di luar sudah menunggu kedua orang tuanya, nampak wajah papa Cella terlihat murung. Dia merasa berat melepaskan putrinya pergi bersama Logan. Pria yang sudah mulai beruband itu mondar-mandir di depan rumah sambil tanganya disilangkan di belakang.
Jessica memperhatikan Carlos lalu dia tersenyum dan menghampiri suaminya, Jessica menatap mata pria itu dan memegang pipinya.
“Minggu depan juga kita akan ke Brazil untuk mengatur pernikahan Cella,” ujar Jessica menghibur suaminya, tapi pria itu hanya memalingkan wajahnya.
“Kamu tahu, aku tidak pernah jauh darinya.” Jessica kembali memegang wajah Carlos dan membelainya, dia mengerti apa yang di rasakan Carlos, dia tahu suaminya begitu menyayangi Cella. Terlihat adik bungsu Cella berlari menghampiri Jessica dan Carlos,
“Mam, apakah Cella akan pergi sekarang,” tanya Isabell dengan memegang tangan Jessica
“Iya, Isabell. Cella akan berangkat sekarang,” jawab Jessica kepada Isabell sambil membelai rambut putrinya bungsunya.
Lalu Logan dan Cella keluar sambil menarik koper, mereka berdua menghampiri Jessica dan Carlos. Cella melepaskan tasnya kemudian memeluk papanya dengan erat.
Carlos membalas pelukan Cella dia mencium ubun kepala putri kesayangannya itu kemudian mengeratkan pelukannya. Carlos memejamkan mata lalu airmata menetes di pipinya.
“Papa akan merindukanmu.” Dia membelai rambut putrinya, perasaannya begitu berat melepaskan Cella sendiri dengan orang yag belum lama dia kenal.
Perasaan was-was melingkupi dirinya, Carlos melepaskan pelukkannya kemudian dia menatap salah satu pengawal yang bernama Mauricio.
“Kamu besok menyusul ke Brazil, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada putriku. Aku ingin kamu ke Brazil karena kamu berasal dari sana,” ujar Carlos kemudian dia menatap Jessica,
“Tolong belikan tiket untuk Mauricio.” Jessica tersenyum dan menganggukan kepala, kemudian dia memeluk Cella dan mencium kedua pipi putrinya.
“Begitu tiba di Brazil langsung kabari papa dan mama ya.” Cella tersenyum kepada kedua orang tuanya, dia mengerti dengan kekhawatiran orang papa dan mamanya. Karena selama ini dia tidak pernah tinggal jauh dari mereka.
“Iya, Mam. Begitu sampai di sana aku akan mengabari papa dan mama,” sahut Cella kemudian dia memeluk Jessica dengan erat. Cella memeluk Isabell dan mencium kedua pipi adiknya itu.
Cella kembali memeluk Carlos dan berbisik, “Aku sangat menyayangimu.” Carlos tersenyum dan mencium kembali kedua pipi Cella. Dia mengantar putrinya masuk ke dalam mobil kemudian menatap Logan.
“Jaga baik-baik putriku, kalau sampai terjadi sesuatu padanya, aku akan mencarimu,” ucap Carlos dengan tegas kepada Logan lalu pria itu tersenyum dan menganggukan kepala,
“Tentu saja aku akan menjaganya dengan baik, Anda tidak usah khawatir,” kata Logan kemudian dia berpamitan kepada Jessica.
__ADS_1
Logan masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Cella, lalu Bane mengantar mereka berdua ke airport.
Mereka tiba lalu Bane membantu mengeluarkan koper dari dalam bagasi. Logan mengambil barang miliknya dan Cella dari tangan Bane.
“Terima kasih, Bane,” ucap Logan sambil memeluk pria itu.
“Sama-sama, Logan. Tolong jaga Cella dengan baik.” Dia menatap Cella kemudian memeluknya.
“Terima kasih, Bane,” ucap Cella sambil berbisik lalu melepaskan pelukan Bane.
Cella dan Logan masuk ke dalam, mereka berdua check in dan pergi ke Imigrasi untuk mendapatkan stamp di paspor.
Selesai mendapatkan stamp mereka berdua pergi ke ruang tunggu. Tidak lama kemudian pasangan kekasih itu masuk ke dalam pesawat,
Mereka duduk di bussines class, Cella duduk di samping jendela kemudian menatap Logan dan tersenyum.
Logan memegang tangan Cella serta tangan satunya mengelus perut calon istrinya.
***
Cella dan Logan tiba di Rio de Jainero Airpot RJ Santos Dumont, mereka keluar lalu Logan memanggil taxi. Taxi berhenti tepat di depan mereka berdua lalu Logan menggunakan Bahasa Portuguese kepada sopir.
“Si, Sonher,” balas sopir kemudian dia membuka bagasi dan memasukkan koper milik Cella dan Logan.( Baik, Tuan)
“Obrigada,” ucap Logan kemudian dia dan Cella masuk ke dalam taxi lalu sopir mengantar mereka berdua ke hotel.
Tiba di hotel, Logan dan Cella turun kemudian Logan mengambil koper mereka dan membayar taxi. Logan dan Cella masuk ke dalam hotel dan check in. Mereka di antar petugas hotel ke kamar lalu Logan memberikan tip kepada Petugas hotel.
Cella langsung berbaring di tempat tidur, sedangkan Logan dia mengatut koper di dekat lemari kemudian dia duduk di sisi tempat tidur.
“Apakah kamu lelah?” tanya Logan seraya mengelus perut sang kekasih.
“Sedikit,” sahut Cella dengan tersenyum dan memegang tangan Logan yang berada di perutnya.
“Kalau begitu istirahat saja.” Logan berdiri kemudian masuk ke kamar mandi. Sedangkan Cella, dia merasa lelah lalu memejamkan mata dan tertidur.
__ADS_1
Selesai mandi Logan keluar dan melihat Cella sudah tertidur pulas, dia tersenyum kemudian membuka koper mengambil celana pendek lalu memakainya. Logan duduk di sisi tempat tidur sambil mengelus perut wanita pujaan hatinya.
Malamnya Logan mengajak makan di luar, dia memperhatikan perhiasan yang ada di telinga dan leher kekasihnya.
“Sayang, lepaskan perhiasanmu dan letakkan di brankas. Di luar banyak kejahatan, mereka tidak segan-segan merampas perhiasan di depan umum, ponselmu nanti aku masukkan di saku celanaku.” Dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Cella.
Kota dimana mereka tinggal penuh kejahatan, tidak segan-segan mereka merampas perhiasan, tas, ponsel dari para turis yang sedang berjalan. Bahkan mereka terkesan sangat sadis, tidak segan-segan membunuh apabila korban berteriak.
Logan dan Cella keluar dari hotel dan mencari restoran, pasangan kekasih itu berjalan kaki dan masuk di salah satu restoran. Mereka di sambut pelayan lalu mengantar Logan dan Cella ke meja.
Mereka berdua duduk lalu pelayan memberikan buku menu. Logan mengambil benda berisikan daftar makanan kemudian dia membukanya.
Dia dan Cella melihat-lihat menu lalu pasangan kekasih itu memesan makanan, sambil menunggu mereka berdua berbincang-bincang.
“Apakah polisi tidak bisa menangkap pencopet-pencopet itu?” tanya Cella karena dia merasa ngeri dengan apa yang di katakan pria itu.
“Mereka itu terorganisir, dan sangat lihai. Dalam sekejap mereka bisa mengambil ponselmu tanpa kamu ketahui.” Logan menjelaskan sambil membelai tangan Cella.
“Oh … begitu,” gumam Cella sambil matanya memandang keluar restoran dan melihat keramain di luar.
Terdengar musik samba dan orang-orang berdansa di pinggir jalan, Cella tersenyum melihatnya.
“Aku suka melihat mereka berdansa,” ujar Cella, “Apakah kita harus memberi mereka uang?”
“Iya, kalau kamu ingin memberikan uang pada mereka letakkan di kotak itu,” sahut Logan sambil menunjuk sebuah kotak yang terletak di pinggir trotoar.
“Aku ingin memberi mereka uang, apakah kamu memiliki mata uang Brazil?” Logan tersenyum kemudian dia merogoh saku dan mengeluarkan dua Real Brazil lalu memberikannya kepada wanita berperut buncit itu.
Cella berdiri dan memberikan dua Real Brazil ke dalam kotak, salah satu wanita menarik Cella untuk berdansa tapi kekasih Logan tidak bisa.
“Desculpe não sei dançar,” ujar Cella sambil tertawa (Maaf, aku tidak tahu bagaimana cara berdansa atau Maaf, aku tidak bisa berdansa)
Wanita itu tertawa dan memeluk Cella, kemudian kekasih Logan kembali ke dalam restoran. Pria itu tertawa melihat Cella kemudian memegang tangan pujaan hati.
“Apakah kamu bahagia?” tanya Logan sambil membelai tangan Cella.
__ADS_1
“Iya, aku sangat bahagia,” jawab Cella dengan tersenyum kemudian pesanan mereka datang.
Logan dan Cella makan, sesekali pria itu menyuapi wanitanya, tampak kebahagiaan terpancar di wajah mereka berdua.