SUAMI BAJINGAN

SUAMI BAJINGAN
Aku berbohong


__ADS_3

Terdengar bunyi klatson mobil di depan rumah orang tua Cella. Terlihat gadis itu meraih tasnya kemudian dia keluar dari kamar, dia berlari turun menemui mamanya. Gadis itu berlari ke ruang makan dan melihat Jessica sedang mengatur sarapan di meja makan.


“Mam, aku pergi dulu ya. Nasya sudah menjemputku,” pamit Cella seraya memeluk Jessica dan mencium kedua pipi mamanya.


“Pagi-pagi begini mau kemana?” tanya Jessica dengan heran.


“Aku ada tugas, makanya pagi-pagi Nasya menjemputku,” bohong gadis itu kepada mamanya, selama ini Cella tidak pernah berbohong tapi demi melepaskan rindunya dia melakukannya.


“Nasya yang dari Semarang?” tanya Jessica lagi sambil merapikan rambut putrinya.


“Iya, Mam. Dia menungguku di mobil,” jawab gadis itu sambil matanya memandang keluar jendela.


“Oh, baiklah. Hati-hati ya,” pesan Jessica sambil berjalan bersama Cella ke depan lalu terlihat Nasya sedang berdiri di samping mobil. Nasya melihat Jessica lalu menyapanya.


“Hallo tante, Jessi. Apa kabar?” sapa Nasya dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Dia memeluk Jessica dan mencium kedua pipi wanita itu.


“Baik-baik saja, Nasya. Kamu kemana saja, kenapa tidak pernah kesini lagi?” tanya Jessica seraya tersenyum.


“Tidak kemana-mana, Tan. Selesai kuliah aku kerja, ini kebetulan aku lagi off jadi aku ajak Cella untuk jalan-jalan dan menginap di tempatku, sekalian bikin tugas juga,” jawab Nasya sambil menatap Cella lalu gadis itu tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya kepada Nasya. Jessica menatap Cella dan bertanya,


“Jadi, kamu tidak pulang, sayang?” tanya Jessica dengan memegang pipi Cella, selama ini putrinya tidak pernah menginap di tempat lain.


“Iya, Mam. Aku pulang besok. Boleh ya?” pinta Cella dengan wajah memohon


“Baiklah, Sayang,” Jessica kembali tersenyum dan memeluk putrinya. Terlihat wajah gadis itu begitu senang mamanya mengijinkan dia. Cella memeluk Jessica dengan erat dan mencium kedua pipi mamanya.


“Terima kasih, Mam. Aku sangat menyayangimu,” bisik Cella lalu Jessica tersenyum dan melepaskan pelukan putrinya.


Nasya dan Cella berpamitan kepada Jessica, mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil. Nasya langsung menjalankan kendaraannya menuju ke tempat Logan tinggal.


Sementara itu, Acel memperhatikan Cella dan Nasya, kemudian dia memanggil Erick dan Cliff. Suami Sheren itu meminta mereka berdua untuk membuntuti adik kembarnya.


Cella dan Nasya tidak memperhatikan kalau mereka sedang di ikuti, kedua gadis itu terlihat asik dalam perbincangan mereka.


“Cella, kamu membuatku berbohong pada mamamu,” ujar Nasya seraya tertawa sambil mata tetap fokus ke depan.


“Sekali-kali tidak apa-apa, lagi pula baru sekarang aku minta tolong padamu,” sahut Cella kemudian dia meminta Nasya untuk berhenti di salah satu restoran, dia ingin membeli sarapan untuk sang kekasih. Nasya memarkirkan mobilnya kemudian dia dan Cella turun.


Mereka berdua masuk ke dalam restoran dan membeli makanan. Cella membelikan sarapan untuk Logan dan dia.


“Nasya, kamu tidak pesan makanan?” tanya Cella dengan menatap temannya.


“Tidak, Cella. Aku sudah sarapan tadi, kamu saja dan Logan,” sahut Nasya sambil matanya melihat keluar. Mata Nasya menangkap Erick dan Cliff, dia langsung menyikut lengan Cella.


“Cella, bukankah mereka anak buah papa kamu?” Cella melihat Erick dan Cliff kemudian dia membayar makanan. Mereka berdua keluar dari restoran dan masuk ke dalam mobil. Cella mengambil ponsel dan menghubungi Jessica, lalu terdengar suara mamanya.


“Ada apa, Sayang?”

__ADS_1


“Mam, kenapa papa menyuruh Erick dan Cliff untuk mengikutiku? Katakan kepada papa Logan tidak di kota ini lagi,” ujar Cella dengan kesal.


“Baik, Sayang. Mama akan menyuruh mereka untuk kembali,” sahut Jessica lalu Cella menutup telepon.


“Aku tidak suka dengan orang-orang baru itu. Mereka itu penjilat,” kata Cella dengan menunjukkan wajah kesalnya.


“Terus bagaimana sekarang?” tanya Nasya sambil menghidupkan mobilnya.


“Jalankan saja mobilnya, mamaku akan menyuruh mereka kembali ke rumah,” sahut Cella dengan meletakkan sarapan yang dia beli di kursi belakang.


“Baiklah kalau begitu.” Nasya menjalankan mobilnya keluar dari parkiran.


Sementara di kediaman Orang tua Cella terlihat Jessica pergi masuk ke kamar, dia langsung menghampiri suaminya dan bertanya.


“Apakah kamu menyuruh Erick dan Cliff untuk mengikuti Cella?” Carlos berdiri dan menatap Jessica, kemudian dia melingkarkan tangan di pinggang sang istri.


“Em … aku tidak menyuruh mereka berdua, ada apa?” tanya Carlos seraya mengatur rambut istrinya ke belakang telinga.


“Cella menelepon dan memberitahukan kalau Erick dan Cliff mengikuti dia dan Nasya,” jawab Jessica seraya melepaskan pelukkan suaminya dan duduk di sisi tempat tidur.


“Oh ...,” gumam Carlos, “Aku akan telepon mereka dan suruh kembali,” ujar Carlos kemudian dia mengecup bibir istrinya. Dia  mengambil ponsel dan menghubungi kedua anak buahnya. Panggilan tersambung,


“Hallo, Erick. Kalian dimana?” tanya Carlos seraya matanya menatap Jessica yang sedang melepaskan pakaian satu persatu.


“Kami sedang mengikuti Cella, Carlos,” jawab Erick dari seberang telepon.


“Siapa yang menyuruh kalian?” tanya Carlos dengan heran. Jessica memperhatikan suaminya sambil mengambil pakaian yang ada di atas tempat tidur dan memakainya.


“Acel? Untuk apa dia menyuruh kalian mengikuti Cella? Kembali saja ke rumah,” perintah Carlos kemudian dia menutup teleponnya, dia menghampiri Jessica dan memeluk istrinya dari belakang.


“Acel yang menyuruh mereka,” ujar Carlos di kuping istrinya dan mengecup tengkuk leher wanita itu


“Oh ...,” gumam Jessica kemudian dia melepaskan pelukan suaminya dan keluar kamar. Dia langsung pergi ke kamar Acel, dia mengetuk pintu lalu benda kayu berwarna coklat itu terbuka. Dia melihat Acel  sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor.


“Untuk apa kamu menyuruh Erick dan Cliff mengikuti Cella,” tanya Jessica seraya berjalan masuk ke kamar.  Melihat mertuanya, Sheren hanya diam dan duduk di sisi tempat tidur.


Acel memutar badannya menghadap mamanya.


“Aku tidak ingin dia bertemu lagi dengan Logan,” jawab Acel sambil mengancing kemejanya.


“Acel, cukup! Jangan mencampuri pribadi Cella,” tegas Jessica  kepada putranya.


“Kenapa, Mam? Aku hanya ingin dia mendapatkan laki-laki yang baik, bukan pria seperti Logan,” jawab Acel dengan kesal.


“Cukup, Acel! Mama katakan padamu sekali lagi, jangan mencampuri urusan Cella!” Jessica terlihat kesal kemudian dia meninggalkan kamar. Sheren menatap Acel, dia juga tidak suka suaminya mengurusi pribadi adik iparnya.


“Aku sudah katakan padamu, jangan mencampuri urusan Cella. Lihat, mama saja tidak suka.” Acel hanya menatap Sheren kemudian dia keluar dari kamar dan pergi ke kantor.

__ADS_1


Sedangkan di mobil terlihat Cella dan Nasya bersenda gurau, mereka berdua membicarakan Logan. Nasya terus menggoda gadis itu.


“Sudah cukup, Nasya,” ujar Cella sambil tertawa.


“Ah, Cella mendengar ceritamu dengan Logan aku jadi ingin melakukannya dengan pacarku,” canda Nasya lalu Cella tertawa dan menepuk lengan Nasya.


“Kamu belum melakukannya dengan Nick?” tanya Cella dengan heran karena dia tahu Nasya sering menginap di tempat pacarnya.


“Belum, Cella. Aku masih takut,” jawab Nasya sambil tertawa.


“Ohh … begitu,” gumam Cella kemudian dia menepuk lengan Nasya, “Berhenti di situ saja, itu tempat tinggal Logan,” tunjuk Cella seraya melepaskan sabuk pengaman dan mengambil makanan di kursi belakang.


“Apakah dia tinggal sendiri di sini?” tanya Nasya sambil menghentikan mobilnya.


“Iya, ini rumah temannya,” jawab Cella, “Oh ya, kamu tidak turun?”


“Tidak usah, nanti mengganggu kalian berdua saja,” canda Nasya dengan mengedipkan sebelah matanya sehingga membuat Cella tertawa.


“Kamu tidak mengganggu, Nasya,” jawab Cella sambil matanya memperhatikan rumah yang di tempati sang kekasih.


“Iya tapi aku bisa terganggu dengan desahaan-desahaan kalian berdua.” Godaan Nasya membuat wajah Cella memerah.


“Nasya .…” Mata Cella melotot mendengar candaan temannya.


“Sudah turun dari mobilku, Logan sudah tidak sabar lagi ingin memakan dirimu.” Kembali Nasya bercanda sambil lock door mobil,  Cella langsung tertawa dan mencubit lengan Nasya.


“Auch ... Cella sakit!” rintih Nasya sambil mengusap lengan yang di cubit gadis itu.


“Makanya jangan menggodaku,” ujar Cella kemudian dia membuka pintu dan keluar. Cella menutup pintu kembali dan membungkuk di kaca mobil.


“Hei, jangan lupa menjemputku besok.” Cella mengingatkan Nasya lalu gadis itu menganggukan kepala sambil tersenyum.


“Iya nyonya, Logan,” canda Nasya di ikuti tawa Cella.


“Baiklah, hati-hati ya!” pesan Cella lalu Nasya kembali menganggukan kepala kemudian dia meninggalkan Cella.


Cella membuka pintu dan masuk, dia melihat Logan sedang berdiri menatapnya seraya tersenyum. Dia meletakkan makanan di meja kemudian berlari memeluk kekasihnya dengan erat. Mereka berdua saling berpelukan,


“Aku sangat rindu padamu,” bisik Cella di kuping kekasihnya.


“Aku juga,” balas Logan kemudian dia mengecup bibir Cella. Dia duduk dan menarik gadis itu duduk di pangkuannya.


“Apakah kamu akan tidur disini?” tanya Logan sambil membelai pipi  yang lembut itu.


“Iya, aku berbohong pada mama akan menginap di tempat Nasya,” jawab gadis itu dengan suara manja lalu Logan tertawa dan memeluknya.


“Semenjak bersamaku kamu sering berbohong pada orang tuamu,” canda pria itu dengan membelai rambut kekasihnya.

__ADS_1


“Iya, kamu yang membuat aku berbohong pada mama.” Cella balik bercanda lalu Logan terkekeh.


“Kita sarapan ya,” ujar Logan kemudian Cella berdiri dan membuka makanan yang dia beli itu lalu mereka berdua sarapan bersama.


__ADS_2