
Akhirnya Logan kalah di pengadilan, segala bukti-bukti perselingkuhannya dengan Dylla menguatkan pengadilan mengabulkan permintaan Cella.
Bahkan pengadilan menjatuhkan hak asuh anak kepada Cella, Federick langsung menghubungi kliennya dan memberitahukan kalau dia dan Logan sudah sah bercerai.
Mendapatkan kabar dari Federick Cella berdiri di depan jendela, kembali air matanya menetes.
“Mungkin ini yang terbaik,” ujar Cella kemudian dia mengambil kunci mobil dan keluar dari kamar. Wanita itu pergi ke kamar Lucio kemudian mencium kedua pipi putranya yang sedang tertidur.
Sedangkan Logan, di ruang meeting dia mendapatkan pesan dari pengacaranya, pria itu membacanya kemudian berdiri dan meninggalkan ruang meeting.
Logan masuk ke ruang kerja dan melempar foto dia bersama Cella dan kedua anaknya.
“Selamanya kamu tetap istriku,” ujar Logan lalu pintu di ketuk. Dia mengambil foto di lantai dan meletakkan kembali di meja kemudian menyuruhnya masuk.
Pintu terbuka lalu Logan melihat orang tua Dylla, wajah pria itu berubah tapi dia berusaha tenang.
“Tuan Willfredo, silahkan duduk,” ujar Logan dengan menyalami tuan Willfredo.
“Terima kasih, Logan. Bagaimana dengan bisnismu?” tanya tuan Willfredo sembari duduk.
“Baik-baik saja, Tuan,” jawab Logan sambil ikut duduk di depan lelaki tua itu dia menatap Tuan Willfredo dengan dalam.
‘Kamu sudah membuat kedua orang tuaku meninggal, sebentar lagi aku akan membuatmu menjadi miskin lewat tangan putrimu,’ kata Logan dalam hati
“Aku senang mendengarnya, kamu sangat sukses. Pantas saja putriku sangat tergila-gila padamu.” Logan hanya tersenyum menatap lelaki tua itu.
Mereka membicarakan kelanjutan bisnis lalu Dylla masuk, dia langsung duduk di samping Logan. Pria itu menatap Dylla lalu dia tersenyum.
‘Sebentar juga kamu akan merasakan kehilangan segalanya. Aku sudah kehilangan istri dan anak karena kebodohanku ingin membalas dendam kepada keluagamu. Sekarang aku harus menyelesaikan semuanya’
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Dylla dengan memegang tangan pria itu.
Logan tersadar dari lamunannya kemudian berusaha tersenyum kepada Dylla dan tuan Willfredo.
“Tidak, aku sedang memikirkan bisnis kita,” sahut Logan kemudian mereka kembali berbincang-bincang.
__ADS_1
Selesai berbincang-bincang, tuan Willfredo berpamitan kepada Logan sedangkan Dylla dia tetap tinggal di ruang kerja pria itu.
Dylla memegang pipi yang di tumbuhi jenggot dan ingin mencium bibirnya tapi pria itu menghindar, Logan tidak mau di sentuh oleh wanita itu. Kekalahan di pengadilan membuatnya kesal.
“Bisakah kamu tinggalkan aku sendiri?” Wajah pria itu begitu datar meminta Dylla untuk pergi.
“Ah, Logan. Aku ingin bersamamu di sini.” Dylla memeluk Logan dengan manja tapi hanya di tepis oleh pria itu.
“Apakah kamu ingin aku berlaku kasar padamu?” Dylla menatap Logan dengan cemberut kemudian dia meninggalkan ruang kerja dengan membanting pintu.
Logan hanya diam kemudian dia duduk kembali dan memejamkan mata. ‘Aku harus segera menjalankan rencanaku membuat dia menjadi miskin dan tidak memiliki apa-apa.’
Aku akan merayu Dylla untuk menandatangi sebuah surat dan secara perlahan-lahan perusahaan mereka akan jatuh ke tanganku. Bahkan perkebunan dan pabrik yang di rebut itu akan kembali. Kita lihat saja nanti.’
Pria itu tersenyum sinis, dia menyusun rencana untuk mengambil semua yang sudah diambil dari orang tuanya. Dia menempatkan orang-orang kepercayaan di perusahaan orang tua Dylla
Bahkan dia membiarkan ayah wanita itu meminjam uang yang banyak kepadanya, perlahan-lahan relasi dari tuan Willfredo di ambil oleh orang-orang bayaran Logan.
Mereka tidak lagi mengambil kopi dari perkebunan tuan Willfredo tapi membeli dari tempat lain, Logan sengaja berbuat demikian agar lelaki tua itu tidak bisa membayar hutang kepada dirinya. Dia ingin membuatnya bangkrut.
*****
Bahkan Logan membuat Dylla mabuk dan memintanya untuk menandatangi surat perkebunan yang sudah di wariskan kepada wanita itu.
Logan tersenyum saat melihat surat yang berisikan tanda tangan Dylla. Dia mengibas-ngibaskan di wajahnya kemudian dia meninggalkan wanita itu sendiri. Logan kembali ke rumah dan menyusun rencana lagi.
Sementara itu, Eduardo tidak menyerah, dia terus mendekati Cella. Dia benar-benar sudah jatuh cinta kepada wanita itu dan ingin mendapatkannya. Eduardo juga memberikan perhatian penuh dan kasih sayang kepada Sabrina dan Lucio, dia ingin tunjukan kepada Cella kalau dia benar-benar tulus menyayangi Sabrina dan Lucio.
‘Aku harus bersabar, walaupun sudah setahun lebih aku menunggu cintanya tapi aku yakin Cella akan menjadi milikku,’ kata Eduardo dalam hati sambil memperhatikan foto wanita itu, dan mengusapnya lalu dia tersenyum sendiri.
‘ Dia sangat cantik dan baik juga lembut. Matanya juga sangat indah, Eduardo meletakkan foto Cella di dada kemudian memejamkan mata.
Sementara itu, Cella mengajak Sabrina ke pusat perbelanjaan. Dia ingin membelikan sesuatu kepada Sabrina, mereka masuk ke toko mainan anak-anak lalu wanita itu menyuruh sang putri memilih sendiri mainannya.
“Mommy, aku mau itu,” ujar Sabrina sambil menunjuk sebuah boneka lalu Cella mengambilnya dan memberikan kepada penjaga toko.
__ADS_1
“Hanya ini, Sayang?” tanya Cella sembari melihat mainan-mainan lainnya, dia mengambil perlengkapan dapur dan memberikan kepada penjaga toko.
“Mommy, nanti cepat pulang ya. Papi mau jemput aku.” Cella mengerutkan dahi kemudian menatap putrinya.
“Kamu mau pergi kemana dengan papi Eduardo?” tanya Cella dengan heran, Sabrina dan Lucio sudah sangat dekat dengan Eduardo terkadang mereka tertidur di rumah pria itu.
“Main di rumah papi, di rumah papi juga banyak mainan,” jawab Sabrina dengan mengambil lagi boneka barbie.
“Baiklah kalau begitu.” Cella pergi membayar semua mainan yang di ambil putrinya kemudian mereka meninggalkan toko dan kembali ke rumah.
Mereka tiba di rumah dan melihat Eduardo sudah berdiri di teras sambil menggendong lucio, Cella turun dari mobil dan membuka pintu pagar kemudian dia memasukkan mobil ke garasi.
Melihat Eduardo Sabrina langsung berteriak memanggilnya, Cella hanya tersenyum dan membuka sabuk pengaman kemudian menurukan Sabrina dari booster seat lalu dia menggendong Lucio dan mengajak pria itu masuk.
Eduardo menggendong Sabrina kemudian dia pergi ke ruang tamu, dia dan Sabrina bermain berama Lucio sementara Cella pergi ke kamar dan mengganti pakaian.
Cella keluar lalu Charlotte mengajak Sabrina dan Lucio untuk bermain di kamar. Tinggalah Eduardo dan Cella di ruang tamu, mereka berdua saling bertatap mata kemudian pria itu berdiri dan duduk di samping Cella. Dia langsung memegang tangan dari ibu Sabrina dan Lucio.
“Menikahlah denganku,” mohon Eduardo kepada kepada wanita itu.
“Maaf, Eduardo. Aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai.” Eduardo menatap mata Cella dan tersenyum.
“Ini demi Sabrina dan Lucio, mereka butuh sosok ayah,” ujar Eduardo seraya memegang pipi wanita itu.
Cella hanya diam dan menatap Eduardo, dia tidak tahu apa yang harus di katakan lalu tiba-tiba pria itu mencium bibir Cella. Ibu Sabrina sangat terkejut dan mendorong Eduardo dengan perlahan.
“Maafkan, aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu dan lagi, aku sudah menganggap Sabrina juga Lucio anakku, Cella menikahlah denganku.” Eduardo berusaha membujuk wanita itu untuk menikah dengannya.
“Kamu tidak mencintaiku tidak masalah bagiku, yang penting kamu Sabrina dan Lucio bersamaku.” Cella menatap dalam mata Eduardo dia ingin melihat keseriusan pria itu.
“Aku pikirkan dulu.” Eduardo terlihat sangat senang dengan jawaban Cella, dia merasa ada harapan. Kemudian dia memeluk wanita itu.
“Jangan lama-lama berpikir,” kata Eduardo dengan bercanda lalu Cella tersenyum dan melepaskan pelukan pria itu.
Eduardo berdiri di ikuti Cella, kemudian dia pergi mengambil Sabrina dan Lucio dan membawa mereka ke rumahnya. Pria itu menemani Sabrina dan Lucio bermain. sedangkan Cella, dia kembali ke kamar dan berdiri di depan jendela.
__ADS_1
‘Apakah aku terima saja dia menjadi suamiku? Tapi bagaimana bisa kalau rasa cinta itu tidak ada.’ Cella menjadi bingung. ‘Sabrina dan Lucio juga sudah begitu dekat dengannya, Sabrina bahkan tidak pernah menanyakan Logan lagi,’ gumam wanita itu dalam hati.
Cella duduk di sisi tempat tidur dan terus memikirkan permintaan Eduardo, dia menarik napas panjang lalu berdiri pergi duduk di kolam renang.