
Kebenaran itu terkadang menyakitkan, setelah mengetahui kejujuran dari sang kekasih putri Carlos memilih meninggalkan pria itu. Dia tidak ingin bertemu lagi dengan kekasihnya, gadis itu memutuskan untuk pergi meninggalkan Amerika. Cella tidak ingin kedua orang tuanya tahu kalau dia sedang mengandung.
Sementara Logan dia tidak terima kalau sang pujaan hati meninggalkannya, seminggu mereka tidak bertemu bahkan telepon dari pria itu tidak mau di jawab oleh Cella.
Logan tidak tahan lagi, dia harus menemui gadis yang sangat Ia cintai. Dengan berani pria itu mendatangi kediaman orang tua sang kekasih,
Saat tiba di depan rumah, pria itu turun dari taxi dan melangkah masuk tapi dia dihadang oleh dua pengawal setia Carlos yaitu Cliff dan Erick. Salah satu pengawal itu pergi memanggil Carlos yang sedang berada di ruang kerja.
Mendengar Logan datang, Carlos keluar menemui pria itu. Dia menunjukkan wajah marah kepada kekasih Cella, dia menghampiri Logan dan tak banyak bicara lagi Carlos langsung melayangkan pukulan di wajah Logan.
“Berani sekali kamu menginjakkan kaki di rumah ini.” Kembali Carlos memukul wajah Logan sehingga pria itu tersungkur di lantai, papa Cella terlihat sangat emosi.
Logan tidak ingin membalas, dia membiarkan Carlos memukul dirinya sambil berteriak memanggil nama wanita yang dia cintai.
“Cella ….!” Melihat Logan terus berteriak memanggil putrinya, Carlos memerintahkan kedua anak buahnya untuk menghajar Logan.
Sementara di kamar, Cella tidak tahu kalau Logan berada di depan rumah dan sedang dihajar oleh papanya serta kedua anak buah. Dia bahkan tidak mendengar teriakan sang kekasih memanggilnya karena telinga tertutup oleh headset.
Di depan rumah Carlos dan kedua anak buahnya tak henti-hentinya memukul Logan lalu sebuah mobil masuk. Terlihat seorang wanita turun dari mobil, yang tak lain adalah Jessica. Dia terkejut melihat suami dan anak buahnya sedang memukul Logan.
Jessica langsung berteriak kepada Carlos dan mendorong kedua anak buah dari suaminya. Jessica membungkuk dan memegang tangan kekasih Cella serta melihat wajah pria itu sudah babak belur. Dia berdiri dan menampar kedua anak buah itu.
“Aku tidak ingin melihat kalian berdua di rumah ini, pergi sekarang!” Carlos terkejut melihat istrinya memecat kedua anak buahnya, dia menatap Jessica dengan tatapan tajam.
“Kenapa kamu memecat mereka?” Jessica kembali menatap suaminya kemudian dia membantu Logan berdiri.
__ADS_1
“Aku tidak suka mereka, apakah kamu ingin membunuh lagi?” Carlos terdiam lalu dia menatap Logan.
“Aku tidak ingin melihatmu lagi di sini.” Carlos meninggalkan Jessica dan Logan dengan marah.
“Kenapa kamu ke sini?” tanya Jessica dengan memperhatikan wajah pria itu.
“Aku hanya ingin bertemu dengan Cella,” jawab Logan dengan menyeka darah di sudut bibirnya dan meringis kesakitan.
“Ada masalah dengan Cella?” tanya Jessica dengan mengerutkan dahi memperhatikan wajah kekasih putrinya. Pria itu tidak menjawab dia hanya menganggukkan kepala.
“Mungkin Cella tidak ingin bertemu denganku, aku pergi sekarang. Katakan saja padanya kalau aku sangat mencintainya.” Logan berjalan meninggalkan rumah itu dengan memegang perut, sedangkan Jessica dia hanya terpaku melihat pria itu pergi.
Ada masalah apa dia dengan Cella? Jessica pergi ke dalam menemui sang putri. Dia mengetuk pintu tapi tidak ada suara, tidak sabar Jessica langsung masuk dan melihat Cella sedang berbaring di tempat tidur dengan headset di kuping.
Sambil menggeleng-gelengkan kepala dia melangkahkan kaki menghampiri putrinya dan melepaskan headset dari telinga gadis itu.
“Kekacauan apa, Mam?” Jessica menarik napas panjang kemudian dia duduk di sisi tempat tidur.
“Tadi saat mama tiba di rumah, papa dan kedua anak buahnya sedang memukul Logan.” Cella terkejut kemudian dia duduk di tempat tidur.
“Logan tadi ke sini?” Jessica menganggukkan kepala. “Terus papa memukul Logan?” Kembali Jessica menganggukkan kepala. “Lalu di mana Logan sekarang?” tanya Cella, terlihat wajahnya begitu khawatir. Walau’pun dia sedang marah kepada pria itu tapi Cella tidak tega kalau sang kekasih di pukul oleh papanya.
“Dia sudah pergi, Logan hanya berpesan kepada mama. Katakan kepadamu kalau dia sangat mencintaimu.” Terlihat gadis itu tidak tenang, pikirannya langsung tertuju kepada Logan.
“Apakah kamu punya masalah dengan Logan?” Cella tidak menjawab pertanyaan mamanya, dia hanya diam. Gadis itu belum ingin mengatakan kepada Jessica kalau dia sedang hamil.
__ADS_1
“Sayang.” Cella menatap mamanya dan berusaha tersenyum.
“Tidak ada, Mam. Aku hanya sedikit kesal saja padanya tapi nanti aku temui dia.” Jessica tersenyum kemudian dia berdiri dan mengecup kening sang putri.
“Baiklah, mama akan pergi ke kamar.” Cella turun dari tempat tidur dan mengantar Jessica sampai di depan pintu kemudian dia menutupnya kembali.
Cella langsung teringat kekasihnya, dia ingin menelepon Logan tapi akhirnya dia mengurungkan niatnya. Masih ada perasaan kesal dan marah dalam diri gadis itu.
Sementara itu Logan tiba di tempat tinggalnya, dia pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Pria itu memperhatikan wajahnya di cermin kemudian menarik napas panjang.
Dia tidak ingin bertemu lagi denganku, jangankan bertemu, jawab teleponku saja tidak mau lebih baik aku kembali ke Brasil saja. Untuk apa aku di sini. Dia membersihkan sisah darah di hidugnya kemudian pergi ke dapur membuka kulkas dan mengambil es batu lalu mengompres wajahnya yang memar.
Sambil menempelkan es batu yang di balut dengan kain, Logan pergi ke kamar dan membuka laptop dia ingin mencari tiket ke Brasil.
Dia benar-benar ingin berpisah denganku, makanya dia tidak mau keluar saat aku berteriak memanggilnya. Kalau tidak ada Jessica mungkin aku sudah mati di hajar oleh Carlos dan anak buahnya. Dia meringis kesakitan saat menyentuh wajahnya, Logan berdiri dan termenung di depan jendela kamar. Dia mengambil ponsel dan mencoba menghubungi kekasihnya tapi tidak ada jawaban di sana.
Logan kembali duduk di depan laptop dan memesan tiket, pria itu berpikir tidak ada harapan lagi dia akan bersama putri Carlos.
Nampak kesedihan di wajah Logan, dia akan berpisah dengan orang yang dia cintai juga bayi yang sedang di kandung gadis itu.
Selesai memesan tiket dia merebahkan dirinya di kasur, dan melihat foto-foto dia bersama Cella di ponsel. Terkadang wajahnya sedih, terkadang dia tersenyum saat melihat video-video bersama gadis itu.
Hubunganku bersamanya terlalu rumit, selalu saja ada masalah yang datang. Seandainya aku tidak berkerja kepada wanita itu mungkin semua ini tidak akan menimpaku. Tapi ini sudah terjadi, dan dia juga tidak mau memaafkanku. Dia tidak ingin memberi kesempatan kepadaku lagi jadi untuk apa aku di sini, lebih baik aku kembali saja ke Negaraku. Dia bangun kemudian mengambil jacket dan meninggalkan tempat tinggalnya.
Selamat membaca
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar ya
Terima kasih