
Selesai makan malam di restoran, Cella dan Logan kembali ke condominium. Cella langsung duduk di ruang santai dan menghidupakan tv. Sedangkan Logan dia pergi ke teras dan menyalakan rokoknya. Cella melihat kekasihnya lalu menggelengkan kepala,
“Logan, apakah kamu tidak bisa kalau tidak merokok,” seru Cella dengan sedikit bercanda lalu Logan mematikan rokok di asbak kemudian masuk dan duduk di samping gadis itu.
“Kamu tidak suka aku merokok?” tanya Logan sambil menarik Cella ke dalam pelukannya.
“Iya, aku tidak suka melihatmu merokok. Tidak bagus untuk kesehatanmu,” jawab Cella dengan mencubit pipi sang kekasih.
“Baiklah. Untuk wanita yang aku cintai, aku akan berhenti merokok,” canda Logan sambil meremas hidung Cella lalu gadis itu tertawa.
Logan memegang tangan Cella dan mendekatkan wajahnya di wajah yang cantik itu. mereka berdua saling bertatap mata kemudian Logan membelai pipi wanita yang dia cintai itu.
“Apakah kita akan melakukan hubungan itu malam ini?” tanya Logan sambil membelai wajah lembut itu dengan jemarinya. Cella menatap mata Logan lalu dia tersenyum.
“Iya, kita akan melakukannya,” jawab Cella kemudin dia berdiri dan mengajak kekasihnya masuk ke dalam kamar. Dia mulai melepaskan satu persatu pakainnya di depan pria itu.
Sedangkan Logan, dia memperhatikan tubuh yang indah itu, tubuh yang belum terjamah oleh laki-laki lain. Dia berjalan menghampiri gadis itu lalu dia mulai membelai kulit nan lembut dan menghembuskan nafasnya di belakang telinga gadis itu.
Cella memejamkan matanya dan merasakan belaian jari-jemari pria itu di tubuhnya. Tangan kekar itu memeluk Cella dari belakang dan meremas kedua bukit yang tergantung di depan.
Cella memegang kedua tangan Logan kemudian menyandarkan tubuhnya di dada bidang dan berotot itu sambil menikmati setiap remasan-remasan lembut yang di lakukan pria itu.
Logan mengangkat tubuh mungil itu lalu membaringkannya di ranjang, kemudian dia melepaskan pakaiannya dan menindih gadis itu. Perlahan-lahan dia menjamah tubuh mulus itu.
Helaan napas yang panjang terdengar saat tubuh mungil itu di serang oleh kecupan-kecupan yang bertubi-tubi. Nafas mereka semakin memburu membuat kedua pasangan yang di mabuk cinta ini bergulat dengan lumataan dan permainan lidah yang di lancarkan di mulut mereka.
Saling mengisap lidah terkadang berganti air liur tidak di hiraukan lagi, rasa cinta tidak membuat mereka jijik. Logan berhenti kemudian dia mencium leher jenjang itu, terdengar ******* dari bibir Cella. Dia meremas rambut berwarna coklat itu dan menggerakan kakinya di antara paha Logan.
Dia merasakan suatu benda mulai keras di sana, Cella membayangkan itu masuk ke dalam miliknya.
“Ah … Logan aku ingin melakukannya,” bisik Cella dengan suara desaahan lalu Logan berhenti dan menatap mata gadis itu.
“Kamu benar-benar ingin melakukannya?” tanya pria itu untuk memastikan.
“Iya,” jawab Cella dengan suara pelan di ikuti anggukan kepala.
“Baiklah, Sayang,” ujar Logan kemudian mereka berdua kembali berciuman. Tangannya kembali mengelus tubuh gadis itu.
Tubuh Cella menggeliat, dia memegang kepala Logan dan meremas rambut coklat itu, desahaan-desaahan kembali keluar dari bibir gadis itu saat dia merasajan jemari pria itu menyentuh daerah intinya. Tubuhnya tersentak, dia mengerang di telinga Logan, Cella mengalami pelepasan pertama.
__ADS_1
Logan berhenti kemudian dia mengarahkan ujung miliknya di permukaan daerah inti gadis itu lalu mulai menekan dengan perlahan-lahan, terdengar rintihan dari bibir Cella.
“Ah … Logan sakit, sakit sekali,” rintih Cella sambil mendorong tubuh Logan lalu pria itu berhenti.
“Aku sudah katakan padamu, ini akan terasa sangat sakit. Apakah kamu masih ingin melanjutkannya?” tanya Logan dengan menatap wajah gadis itu.
“Aku tidak ingin melanjutkannya, aku tidak tahan dengan rasa sakit itu,” jawab Cella sambil mendorong tubuh Logan dari atas tubuhnya.
“Tapi aku ingin, Cella. Ayolah, bukannya kamu ingin melakukannya?” pinta pria itu dengan suara lembut merayu kekasihnya.
“Aku tidak mau, Logan. Ini sakit sekali, nanti saja,” sahut Cella kemudian turun dari tempat tidur.
Belum sempat turun Logan sudah menarik gadis itu sehingga tubuh Cella kembali terbaring di ranjang.
“Aku ingin melakukannya, Cella,” ujar Logan kemudian dia menahan tangan sang kekasih dan berusaha memasukan miliknya di dalam inti gadis itu. Cella meronta dan berusaha melepaskan diri dari Logan.
“Kamu gila, Logan. Lepaskan aku!” seru Cella, dia mencoba menggerakan pinggangnya agar milik Logan tidak masuk ke miliknya.
“Aku mencintaimu, aku ingin melakukannya,” ujar Logan dengan lebih kuat lagi menahan tangan Cella, dia tidak bisa menahan nafsunya lagi.
Tangan satunya berusaha menahan tangan Cella, sedangkan yang satunya lagi memegang miliknya dan menuntun ke arah milik gadis itu.
“Logan, please jangan lakukan. Aku tidak bisa tahan dengan rasa sakit itu,” mohon Cella kepada Logan tapi tidak dhiraukan oleh pria itu. Dia benar-benar ingin melakukannya.
Cella hanya bisa pasrah dia melihat wajah kekasihnya sudah di penuhi dengan nafsu, Cella merasakan milik Logan menempel di permukaan miliknya. Dia memejamkan mata, serta jantungnya berdebar dengan cepat. Rasa takut dengan sakit itu meliputinya.
Tiba-tiba gadis itu berteriak kesakitan saat pria itu menghentakkan pinggangnya, sekali dorongan membuat gawang gadis itu jebol. Tubuhnya serasa terbelah dua, Cella tidak tahan dengan rasa sakit itu.
Logan melihat miliknya sudah setengah yang masuk kemudian dia menindih tubuh mungil itu, Logan melingkarkan kedua tangannya di punggung Cella dan berbisik.
“Apakah masih sakit.” Cella tidak menjawabnya, dia hanya menganggukan kepala dan merasakan milik pri itu masuk keluar.
“Kamu bisa menahannya,” tanya Logan sambil menggerakkan pinggulnya naik turun.
“Ini sakit sekali, Logan.” Cella meremas lengan pria itu sambil merintih setiap kali pria itu menggerakkan pinggulnya naik turun.
Logan tidak ingin memasukan semua, dia ingin membuat gadis itu merasakan dulu kenikmatan itu. Gerakkan-gerakkan lembut yang diberikan pria itu membuat Cella mendesah, dia mulai merasakan kenikmatan itu, ada rasa sakit, geli, gatal semua bercampur menjadi sesuatu yang nikmat.
“Apakah masih sakit,” tanya Logan lagi sambil memperhatikan Cella yang memejamkan mata. Dia terus menggerakkan pinggulnya dengan perlaha-lahan.
__ADS_1
“Ah … tidak, Logan,” bisik Cella dengan mendesaah kemudian pria itu menekan pinggangnya sehingga miliknya masuk semua lalu terdengar rintihan dari bibir gadis itu.
“Ah, Logan pelan-pelan. Aku merasakan sakit,” rintih Cella dengan memejamkan matanya kembali dan mengkerutkan dahi.
“Iya, maaf,” ujar Logan kemudian dia menggerakkan pinggangnya kembali secara perlahan-lahan. Dia merasakan dinding area itu begitu sempit dan memijit-mijit miliknya yang keras.
“Ah ….” Logan mendesaah kemudian dia meremas salah satu bukit itu sambil pinggulnya di gerakan sedikit cepat.
Cella kembali merasakan kenikmatan itu, dia meremas tangan Logan dan mendesah, rintihan keluar dari mulutnya saat pria itu mulai menggerakan pinggulnya dengan Cepat.
“Logan … aku suka … ah … peluk aku,” pinta Cella dengan menahan kenikmatan itu.
Logan mengikuti permintaan Cella, dia kembali melingkarkan tangannya di punggung gadis itu. Dia memacu gerakannya dengan cepat, malam ini dia ingin membuat kekasihnya merasakan kenikmatan yang luar biasa, Logan ingin membuat Cella tidak berdaya.
“Logan … aku tidak tahan lagi,” desah Cella seraya memegang kuat punggung kekar itu.
“Iya, keluarkan saja,” bisik Logan sambil memacu gerakannya.
Tiba-tiba tubuh gadis itu tersentak, nafasnya terhenti saat dia mengalami pelepasan, tubuhnya seraya terbang melayang, kenikmatan yang luar biasa dan tidak terkatan membuat dia memeluk pria itu dengan erat.
Logan tidak berhenti dia bekerja di atas tubuh gadis itu, cakaran kuku menggores punggung kekar itu saat dia mulai bermain dengan liar, perpaduan bunyi cairan terdengar seiring gerakan-gerakan yang di lancarkan.
Kembali Cella merasakan kenikmatan itu, dia melingkarkan kakinya di pinggan Logan dan merasakan gempuran-gempuran yang cepat dari pria itu. Rasa dingin tidak di rasakan lagi oleh mereka berdua, jeritan kenikmatan yang keluar dari bibir Cella semakin membuat Logan bersemangat seakan-akan itu adalah nyanyian yang merdu.
Peluh keringat membasahi tubuh mereka berdua, nampak Logan terus berusaha untuk mendapatkan kenikmatan itu. Dia ingin mengalami pelepasan bersama sang kekasih, entah sudah berapa kali Cella mencapai puncak.
Tubuh kekar itu penuh tenaga menggempur sang kekasih, dia ingin membangkitkan sisi liar dari Cella. Logan mengganti posisi bercinta, dia meminta gadis itu berada di atas tubuhnya.
Cella mengikuti permintaan Logan, walau, dia terlihat sudah lelah tapi Cella tidak ingin mengecewakan Logan. Dia mulai beraksi di atas tubuh Logan, Cella meletakkan tangannya di dada pria itu sambil menggerakan pinggangnya naik turun.
“Ah … sayang aku mau keluar,” desah Logan sambil meletakan kedua tangannya di pinggang Cella dan membantu aksi gadis itu.
Logan tidak tahan lagi, dia menghempaskan tubuh Cella dan kembali menindih gadis itu. Terdengar nafas yang memburu dari mereka berdua, kedua kaki mulus itu melingkar di pinggang yang sedang bekerja keras untuk mencapai puncak kenikmatan. Logan memeluk tubuh mungil itu dengan erat.
Logan menghentakkan pinggangnya berulang kali dan melepaskan benihnya di dalam milik Cella, mereka berdua mengalami pelepasan bersama.
Napas mereka berdua masih tidak teratur, pelahan-lahan Logan melepaskan pelukannya kemudian berbaring di samping gadis itu.
“Maaf, aku juga tidak bisa menahannya,” ucap Logan dengan meraih tangan Cella dan memegangnya.
__ADS_1
Cella hanya diam, dia tidak percaya dengan kenikmatan yang baru saja dia rasakan. Dia sangat menikmati walau awalnya sakit, Cella memutar tubuhnya kemudian meletakkan kepalanya di dada bidang itu.
Karena sudah merasakan kenikmatan, malam itu mereka berdua melakukan hubungan itu berulang kali sehingga gadis itu tidak berdaya di ranjang.