SUAMI BAJINGAN

SUAMI BAJINGAN
Di keroyok


__ADS_3

Carlos menyemprotkan parfum di badannya, kemudian mengambil kemeja dan celana jeans lalu memakainya. Dia berdiri di depan cermin sambil menyisir rambut.


“ Hmmmm selesai.” gumamnya kemudian pria itu turun menemui kedua orang tuanya. Disana ada Liliana dan Federico lalu dia memeluk mereka berdua.


“Kamu sudah rapi, mau kemana, Sayang?” Tanya Liliana sambil memperhatikan pakaian anaknya.


“Ke tempat teman, Mom,” jawab Carlos sambil tersenyum.


“Jangan pergi sendiri, Nak. Ajak Garry atau Marco ikut denganmu," ujar Federico. Dia khawatir terjadi sesuatu kepada putranya mengingat apa yang sudah di alami oleh Dario.


“Dad tidak apa-apa, aku pergi sendiri saja.” Carlos menolak himbauan sang ayah, dia tidak ingin ada yang ikut bersamanya.


“Tapi Nak lebih bagus kamu mengajak Garry atau Marco.” Tuan Federico bersih keras agar putranya itu membawa pengawal, dia begitu trauma dengan kejadian salah satu putranya.


“Sayang, biarkan dia pergi sendiri.” Liliana membela Carlos dia tahu putranya itu bisa jaga diri.


“Sayang aku hanya khawatir saja.” Carlos tersenyum melihat Federico kemudian dia duduk di samping ayahnya.


“Dad tidak perlu khawatir ok.” Federico hanya menarik napas panjang dia tidak bisa berbantah dengan istri dan anaknya.


“Ya ... ya ... ya … baiklah terserah kalian saja.” Federico berdiri dan berjalan keruang kerjanya


“Aku pergi ya, Mom,” pamit Carlos sambil mencium kedua pipi ibunya


“Hati-hati ya, Sayang.” Carlos tersenyum kemudian dia mengecup kembali pipi sang ibu.


“Iya, Mom. Bye love you.” Carlos mengambil kunci dan meluncur ke tempat Victoria


“Dari pada bosan di rumah lebih baik aku ke tempat Victoria.” kata Carlos dalam hati.


Tidak lama kemudian Carlos sampai, dia langsung naik dan menuju condominium milik Victoria. Carlos mengetuk pintu lalu pintu terbuka. Seorang wanita tersenyum padanya dan menyuruh Carlos masuk. Victoria mencium ke dua pipi Carlos.


Mereka duduk di sofa dan berbincang bincang. Carlos berdiri lalu pindah ke teras kemudian dia duduk dan menyalakan rokok. Victoria membawakan pria itu minuman.


“Ini minum untukmu.” Carlos tersenyum kemudian dia meletakkan rokok di asbak.


“Terima kasih,” ucap Carlos sambil mengambil minuman itu dan meletakkan di atas meja.


“Kamu sepertinya betah tinggal di Indonesia ya ” ujar Victoria membuka percakapan.


“Iya karena bisnis ku disana jadi aku betah .” Carlos kembali tersenyum dan mengambil rokok dari asbak kemudian mengisapnya.


“Aku pikir karena sudah punya pacar di Indonesia sampai kamu betah tinggal disana.” Dia mengajukan pertanyaan itu hanya ingin tahu apakah di Indonesia pri itu sudah punya pacar.


“Ahh ... belum. Aku sibuk dengan bisnisku jadi belum berpikir untuk mencari pacar.” Wajah wanita itu terlihat senang mendengar jawaban dari Carlos. Sudah lama dia mengaguminya.


“Oh ya Carlos bagaimana kalau kita makan dulu," ajak Victoria lalu Carlos menganggukan kepala dan mematikan rokok di asbak.


“Ok …” Dia berdiri dan berjalan mengikuti Victoria ke ruang makan. Mereka duduk lalu wanita itu mengambilkan makan untuk Carlos.


“Terima kasih,” ucap Carlos lalu Victoria. Dia juga mengambil makanan untuknya.


“Hmm ... makanannya lesat,” puji Carlos. “Kamu yang memasaknya?” tanya Carlos seraya menyuap makanan ke dalam mulut.


“Bukan aku yang memasaknya, mana bisa aku masak.” Victoria tertawa mendengar pujian pria itu.


“Semua makanan ini aku pesan.”


“Oh ... begitu.” Selesai makan Carlos pergi ke wastafel dan membersihkan mulutnya kemudian dia berjalan ke ruang tengah. Disana Victoria sedang duduk di sofa. Carlos pun duduk di lalu wanita itu mendekatinya.


“Carlos bagaimana kalau malam ini kamu tidur disini,” pinta Victoria dengan memohon.


“Kenapa?” tanya Carlos dengan menatap wajah wanita itu.


“Hm ... tidak kenapa-kenapa.” jawab Victoria sambil membelai wajah Carlos. Wanita itu terlihat mulai aktif.

__ADS_1


“Bagaimana kalau kita bersenang senang malam ini,” bisik Victoria di kuping pria itu. Carlos berpura-pura tidak tahu maksud dari Victoria.


“Ehmm … bersenang senang bagaimana?” tanya Carlos lagi seraya mengernyitkan dahi.


“Bersenang senang seperti ini.” Victoria mulai mencium leher pria itu.


Carlos tersenyum, lalu jari jemari Victoria mulai masuk di antara kancing kemeja pria itu. dia menatap Carlos dan tersenyum.


Carlos membiarkan Victoria beraksi lalu wanita itu berdiri dan pergi memutar musik, terdengar instrumen musik. Carlos tersenyum dan memandang Victoria yang mulai melepas gaunnya satu persatu.


Wanita itu duduk di pangkuan Carlos dan mulai mencium bibir yang sedikit tertutup dengan kumis dan jenggot tipis, Carlospun membalas ciuman Victoria.


Tangan Victoria mulai dia mulai melepaskan satu persatu kancing kemeja pri itu, Carlos hanya diam dan terus memperhatikan tubuh seksi yang sudah tidak memakai apa-apa lagi.


Wanita itu membuka resleting celana Carlos kemudian dia tersenyum melihat sebuah benda besar sudah mengeras. Carlos hanya tersenyum, dia ingin melihat apa yang akan di lakukan oleh Victoria.


Victoria mengeluarkan benda besar itu dari sarang kemudian dia memainkannya. Carlos memejamkan mata saat merasakan hangatnya saliva membasahi benda itu. Dia begitu menikmati permainan wanita itu.


Carlos membelai rambut Victoria dan terus memperhatikan kerja wanita itu, sesekali terdengar ******* dari bibirnya. Dia bahkan menekan kepala Victoria sehingga membuatnya sulit bernapas. Carlos tersenyum melihat dan menggerakan kepala Victoria dengan cepat.


Carlos menarik Victoria dan membaringkannya. Dia melepaskan celana slimnya lalu dia mengarahkan benda itu. Terdengar ******* dari bibir wanita itu.


Malam ini dia menikmati kebersamaan dengan wanita itu, mereka saling mengganti posisi dan gaya. Rintihan-rintihan kenikmatan keluar dari bibir mereka berdua. Masing-masing berusaha ingin mendapatkan kenikmatan itu.


Carlos terus bekerja di atas tubuh Victoria sehingga membuat wanita itu mengalami beberapa kali pelepasan. Carlos berpacu untuk mendapatkan kenikmatan akhirnya terdengar erangan dari bibirnya, dia mengalami pelepasan.


Carlos duduk sejenak di sofa, kemudian dia pergi membersihkan tubuhnya dan memakai kembali pakaiannya. Pria itu kembali keruangan tengah dan melihat Victoria sudah tertidur.


Carlos mengangkatnya lalu memindahkan dia di kamar, dia meletakkan wanita itu di tempat tidur dan memakaikan selimut padanya. Carlos meninggalkan Victoria kemudian dia memakai sepatu.


Pria itu keluar menuju lift, sampai depan lift tiba tiba empat orang mencegatnya lalu seseorang melayangkan pukulan ke wajah Carlos sehingga membuatnya terjatuh. Saat dia akan berdiri salah satu dari mereka menendang perutnya.


Carlos tersungkur lalu dua orang memegang tangannya serta mengangkat dia untuk berdiri. Kembali yang lain memukul lagi wajahnya, bibir pria itu mengeluarkan darah.


Carlos tidak tau lagi berapa pukulan yang mendarat di wajah dan perutnya. Mereka melepaskan dia sehingga pria itu tersungkur kembali di lantai.


“Siapa mereka? Berani sekali mengeroyok aku.” Carlos mengambil ponsel dan mencari nomor Rick lalu dia menelepon pengawal itu, terdengar suara Rick disana.


“Hallo tuan, Carlos. Anda lagi dimana?” tanya Rick dari ujung telepon


"Rick tolong aku ” mohon Carlos dengan suara menahan sakit.


“Tuan Carlos kenapa? Apa yang terjadi pada Anda?” Terdengar suara Rick begitu khawatir.


“Kamu kesini Rick bawa yang lainnya juga, tapi jangan sampai orang tuaku tahu. Aku tidak ingin mereka khawatir, kamu datang ke Condominium W sekarang Rick.” perintah Carlos seraya memegang perutnya yang sakit.


“Aku segera kesana, Tuan.” Carlos menutup telepon lalu lift terbuka, Carlos masuk sambil memegang perutnya.


Lift turun di lobby, Carlos keluar dengan terhuyung huyung dan akhirnya dia terjatuh. Security melihat Carlos, dia berlari menghampiri pria itu dan mengangkatnya lalu mendudukan di kursi.


“Apa yang terjadi, Tuan?” tanya security. Tapi Carlos tidak menjawabnya. “Tuan, bagaimana kalau aku bawa kerumah sakit?” Carlos menggelng-gelengkan kepala sambil tangan memegang perut.


“Tidak usah.” Carlos merasa sakit di perut dan wajahnya, dia menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Tidak lama kemudian Rick Marco Albert dan Garry datang, mereka berempat berlari masuk ke dalam lobby dan terkejut melihat Carlos.


“Apa yang terjadi, Tuan? kenapa tuan seperti ini?” tanya Rick sambil memegang wajah Carlos.


“Air Rick, ambilkan air.” Rick langsung pergi mengambilkan air untuk Carlos.


“Siapa yang melakukan ini pada, Tuan?” tanya Marco wajahnya terlihat sangat marah saat melihat keadaan Carlos.


“Aku tidak tahu, siapa mereka.” jawab Carlos lalu Rick datang membawa air dan memberikannya pada Carlos. Pria itu langsung menyiram ke wajahnya.


“Kita harus cari tahu siapa yang melakukan ini pada tuan Carlos, pasti disini punya cctv.” Marco ingin menyelidiki siapa yang sudab berbuat hal itu kepada bos mereka.


“Kita bisa lihat dari cctv, sebentar aku akan menanyakannya pada petugas,” kata Garry sambil meninggalkan mereka kemudian dia menghampiri Security. “Tuan apakah di setiap lantai ada cctv?” tanya Garry kepada security.

__ADS_1


“Iya setiap lantai ada cctv, di lift juga ada cctv,” jawab security.


“Boleh kami memeriksa cctvnya, Tuan? kami ingin melihat siapa yang mengeroyok Tuan kami.” Security menganggukkan kepala.


“Tentu saja boleh, mari aku antar.” Garry memanggil Albert untuk ikut dengannya. Mereka mengikuti security dan masuk keruangan cctv.


Mereka memeriksa rekaman cctv nya, Garry mendapat rekamannya lalu Albert mengambil gambar orang orang yang mengeroyok Carlos. Setelah itu mereka keluar dan menemui Carlos.


“Kami sudah mendapatkan rekaman atas pengeroyokan tuan Carlos, wajah mereka terlihat jelas jadi kita bisa mudah menemukan mereka,” kata Albert pada Carlos. Terlihat raut wajah pria itu berubah, dia ingin membalas perbuatan mereka kepadanya.


“Cari mereka sekarang dan bawa ke villa di pinggir danau, aku ingin tau siapa mereka!” perintah Carlos, dia terlihat sangat marah.


“Albert Marco bawa orang orang kita untuk mencari ke empat orang itu, aku dan Garry akan menemani tuan Carlos,” ujar Rick pada Marco dan Abert.


“Baik Rick.” Marco dan Albert meninggalkan mereka. Rick dan Garry memapah Carlos menuju ke mobil. Garry membukakan pintu lalu Carlos dan duduk.


“Garr langsung ke villa dekat danau saja!” perintah pria itu, dia tidak ingin pulang ke rumah dengan wajah seperti itu.


“Baik Tuan.” Garry langsung mengarahkan mobil ke villa.


“Tuan baik baik saja? bagaiman kalau kita ke rumah sakit saja dulu.” Carlos menggelengkan kepala, dia tidak ingin ke rumah sakit.


“Ah … tidak Rick kita langsung saja ke villa, aku tidak apa apa. Cuma rasa sakit sedikit saja.” Carlos begitu penasaran siapa yang sudah mengeroyoknya, dia ingin malam itu juga mereka mendapatkan informasi.


“Baik Tuan.” Garry melajukan kendaraanya menuju ke villa di dekat danau dan akhirnya merekapun tiba.


Penjaga membukakan pintu lalu mereka masuk, Carlos langsung menuju ke teras menghadap danau dan menyuruh Rick mengambilkan es untuk mengompres lebam yang ada di wajahnya.


Rick membawakan es lalu Carlos mulai mengompres wajahnya yang lebam. “Siapa yang mau bermain-main denganku.” Dia terlihat begitu penasaran.


“Garry coba telepon Albert dan Marco, cari kabar kepada mereka!” perintah pria itu seraya memegang wajahnya.


“Baik Tuan.” Garry pun menelepon Marco dan terdengar suara Marco disana.


“Hallo Garry ada apa?” tanya marco dari seberang telepon.


“Bagaimana sudah dapat informasi?” tanya Garry seraya mata memperhatikan Carlos yang sedang mengompres wajahnya.


“Sudah, Garry. Albert dan orang orangnya sedang menuju ke tempat mereka.” Wajah Garry terlihat senang mendapatkan informasi dari rekannya.


“Bagus kalau begitu." Garry menutup telepon, lalu pergi menemui Carlos. “Tuan, Albert sedang menuju ke tempat orang orang yang mengeroyok tuan.” Carlos terlihat senang kemudian dia meletakkan kain itu di meja.


“Ok, bagus." Pria itu duduk lalu menyalakan rokok sedangkan Rick sedang duduk di dekat danau. Carlos berjalan menghampiri anak buah orang tuanya dan duduk.


“Bagaiman, Tuan? Masih sakit?” tanya Rick dengan memperhatikan wajah Carlos.


“Sedikit.” jawab Carlos sambil terseyum "Aku akan menelepon orang tuaku.” Carlos tidak ingin kedua orang tuanya khawatir.


“Iya sebaiknya begitu Tuan, supaya mereka tidak khawatir.”


“Iya Rick.” Carlos mengambil ponsel di saku celana dan menelpon ayahnya, lalu tedengar sudara Federico.


"Nak kamu lagi dimana?” tanya Federico, suaranya terdengar khawatir.


“Aku lagi di villa pinggir danau, Dad. Kalian belum tidur?” tanya Carlos seraya kakinya bermain di air.


“Belum, Nak Mommy kamu juga belum tidur dia masih menunggu kamu pulang,” ujar Federico dari ujung telepon.


“Katakan pada mommy tidur saja aku di danau, disini juga ada Rick dan Garry jangan khawatir, Dad.” Dia tidak mengatakan apa yang terjadi kepadanya, kasus sang adik sudah membuat kedua orang tuanya terpukul.


“Baguslah kalau begitu aku jadi tenang, hati hati ya,” ujar Federico dari seberang telepon


“Iya, Dad. Good night, love you.” Carlos menutup telepon dan memandang rembulan yang mulai bersembunyi di balik awan.


JANGAN LUPA LIKENYA DAN KOMENTARNYA YA..💖💖💖💖💖

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2