
Sebulan sudah akhirnya Jessica kembali tinggal bersama Carlos dan hari ini dia pulang cepat
dari sekolah, mereka tidak belajar karena sedang mengadakan ujian semester. Seperti biasa Jessica dan Andrew selalu pulang bersama.
Jessica masih melanjutkan shooting terakhir iklan susu, dia sudah menceritakan pada Carlos dan sang kekasih memberi ijin padanya asalkan tidak bertemu dengan Glen. Tentu saja, Jessica menyetujui permintaan Carlos, lagipula untuk apa dia bertemu lagi dengan Glen lagi.
Sampai di apartemen Jessica mengambil handuk dan mandi. Selesai, Jessica mengganti pakaiannya. Ponselnya berbunyi dia melihat satu pesan dari Andrew.
‘Kamu shooting hari ini?’ begitulah bunyi pesan sahabatnya.
‘Iya, kamu lagi dimana?’ Jessica membalas pesan Andrew tidak lama kemudian ponselnya berbunyi.
‘Aku lagi di apartemen, mau aku antar?’
‘Tidak usah, Ndrew. Kamu sudah banyak membantuku.’ Kemabli Jessica mengirim pesan itu.
‘Ayolah, aku antar ya.’ Andrew memohon lewat pesan sambil memasukan emoticon kedua tangan mengatup rapat serta wajah sedih.
‘Baiklah, kalau begitu datang sekarang ke tempatku,’ Jessica menggeleng-gelengkan kepala kemudian memasukan ponsel ke dalam tas lalu duduk di sofa menunggu Andrew.
Tidak berselang lama terdengar apartemen di ketuk, Jessica sudah menduga itu pasti Andrew. Dia bangkit berdiri dan pergi membuka pintu, Jessica langsung tersenyum melihat Andrew lalu mengajak pria itu masuk.
“Sebentar aku ambil kunci mobil.” Jessica meninggalkan Andrew dan naik ke lantai dua masuk ke kamar dan mengambil kunci kemudian kembali menemui Andrew. “Ini kuncinya.”
Andrew berdiri dan mengambil kunci dari tangan Jessica, kemudian mereka meninggalkan apartemen menuju ke basement. Carlos tidak mengijinkan lagi Jessica naik motor makanya dia meninggalkan kunci mobil sementara dia ke kantor menggunakan kendaraan yang satu lagi.
Jessica dan Andrew tiba di basement, mereka berdua masuk ke mobil dan langsung pergi ke tempat shooting. Akhirnya mereka tiba, Jessica langsung menemui pak Rudy dan Donal.
Mereka bercakap-cakap sebentar dan akhirnya waktu pengambilan gambar di mulai. Jessica mengikuti sesuai arahan sutrada.
Selesai pengambilan gambar Jessica berjalan mendekati Andrew dan tiba-tiba tangan gadis itu di tarik kasar oleh Glen. Jessica terkejut Glen ada di tempat shooting, dia berusaha melepaskan tangannya dari Glen.
“Glen lepaskan tanganku, kenapa kamu menarikku, kamu kasar, Glen.” Nampak wajah Jessica merah karena marah, dia tidak suka pria itu berlaku kasar padanya.
“Jess, kenapa kamu harus kembali pada Carlos, dia sudah mengkhianatimu.” Glen mulai memanasi Jessica tapi tidak berpengaruh kepada gadis itu.
“Karena aku mencintainya,” jawab Jessica
sambil berusaha melepaskan tangannya dari Glen
“Tapi dia sudah mengkhianatimu, Jess. Tinggalkan dia.” Glen tidak melepaskan tangan Jessica tapi malah menariknya untui ikut bersamanya.
“Dia sudah minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya.” Sambil berucap Jessica berusaha melepaskan tangannya dari pria itu.
“Kamu percaya pada Carlos? Sekali pengkhianat dia akan tetap jadi pengkhianat. Kamu ikut denganku.” Glen tidak melepaskan tangan Jessica dia menariknya dengan kasar, terdengar ringisan sakit dari bibir Jessica.
Andrew melihat Glen menarik tangan Jessica dan menghampiri mereka, dia terlihat tidak suka dengann kehadiran pria itu di lokasi shooting apalagi menarik tangan Jessica dengan paksa.
“Lepaskan tangannya!” seru Andrew seraya memegang tangan Jessica satunya.
“Kamu jangan ikut campur urusan kami,” sahut Glen sambil menarik tangan Jessica, tapi gadis itu berusaha melepaskan tangannya dari Glen.
“Hei sudah aku katakan lepaskan tanganmu dari Jessica!” seru Andrew dengan wajah marah.
“Diam kamu, sudah aku katakan jangan ikut campur.” Tangan satu Glen menunjuk wajah Andrew sementara satunya lagi tetap memegang tangan Jessica.
“Glen lepaskan, tanganku sakit.” Melihat Jessica kesakitan Andrew mendekat dan memukul Glen.
Pria itu terjatuh, dia bangkit dan ingin membalas
pukulan Andrew tapi kru di tempat shooting langsung datang dan melerai mereka. Lalu Glen menunjuk pada Andrew.
“Hati hati kamu, tunggu saja pembalasanku,’ ancam Glen tapi tak sekalipun Andrew takut.
“Aku tidak takut padamu,” balas Andrew dengan menatap marah kepada Glen lalu pria itu meninggalkan mereka.
“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Andrew dengan memperhatikan tangan Jessica.
“Iya, hanya tanganku sedikit sakit.” Sambil berucap Jessica memegang pergelangan tangan dan mengusapnya.
“Kamu harus hati hati, Jess. Kalau mau kemana-mana jangan sendiri. Sepertinya Glen itu orangnya nekat.” Andrew mengingatkan Jessica setelah melihat kenekatan Glen kepada gadis itu.
“Iya, Ndrew. Aku pikir dia orangnya
Baik,” sahut Jessica sambil mengeluarkan ponsel dan menghubungi Carlos, ada nada panggil lalu terdengar suara kekasih Jessica.
“Iya, Sayang. Kamu masih shooting?” tanya
Carlos di seberang sana.
__ADS_1
“Sudah selesai Babe,” jawab Jessica sambil mengatur peralatannya ke dalam tas sementara Andrew tetap berada di samping gadis itu.
“Kalau begitu datang saja ke kantorku.”
“Aku tidak tau alamatnya,” sahut Jessica dengan suara manja.
“Aku kirim alamatnya sekarang nanti kamu langsung kesini ya.” Telepon di putus, Jessica langsung tersenyum kepada Andrew.
“Ndrew kita ke kantor Carlos ya,” pinya Jessica
“Sekarang, Jess?” tanya Andrew sambil berjalan di samping Jessica.
“ Iya.” Jessica pamit pada pak Rudy serta kru lalu berjalan bersama Andrew ke mobil, Andrew melihat pergelangan tangan Jessica merah.
“Jess tanganmu masih sakit?” tanya Andrew seraya menghidupkan mesin mobil.
“Sedikit, ayo jalan!” Andrew menjalankan mobilnya meninggalkan lokasi shooting lalu ponsel Jessica berbunyi, dia melihat ada sebuah pesan dari Carlos.
“Ndrew, ini alamat kantor Carlos.” Jessica menunjukan alamatnya pada Andrew.
“Oh iya aku tau alamatnya.” Andrew langsung mengarahkan mpbil menuju ke kantor Carlos, sementara Jessica mengirim pesan pada Carlos untuk menunggu dia dan Andrew di depan.
Tidak lama kemudian mereka tiba di kantor Carlos, terlihat kekasih Jessica sudah menunggu mereka di depan. Jessica dan Andrew turun dan menemui sang pujaan hati kemudian Carlos memeluk Jessica dan mengecup bibir gadis itu.
Semua karyawan melihat Jessica dan Carlos saat boss mereka memegang tangan Jessica dan masuk keruangan, sedangkan Andrew berjalan di belakang pasangan kekasih itu.
Sementara di luar terjadi percakapan, ‘itu pasti pacar boss ya. Masih mudah sekali ya, cantik dan tinggi lagi’ timpal yang lain.
‘Cocok sama boss lah, bosskan tinggi.’
Sampai di ruangan Jessica dan Andrew duduk di sofa kemudian Carlos memanggil Jessica
“Sayang, ayo sini.” Jessica berdiri dan menghampiri Carlos.
Pria itu menarik Jessica dan menyuruh duduk di pangkuannya. Carlos memegang tangan Jessica lalu mengertuka dahi.
“Kenapa pergelangan tanganmu merah sayang? Jessica baru mau menjawab, sudah di sela oleh Andrew. Dia memberitahukan pada Carlos, padahal Jessica ingin menyembunyikannya pada pria itu.
“Itu perbuatan Glen, Carlos. Dia tadi menarik kasar tangan Jessica. Tapi tenang saja aku sudah menghajarnya.” Dengan bangga Andrew menjelaskan kepada Carlos.
“Oh … begitu,” guma Carlos tapi dalam
“Aku tidak apa apa, Babe.” Jessica menangkan Carlos karena melihat raut wajah sang kekasih terlihat marah.
“Iya, jangan berhubungan lagi dengannya ya.” Carlos mengecup kening Jessica dan membelai rambut gadis itu.
“Iya.” Hanya itu yang keluar dari mulut Jessica, dia berpikir mungkin kalau tidak ada Andrew Glen sudah membawanya pergi.
“Ok sayang kita pergi sebentar.” Jessica berdiri dari pangkuan Carlos dan menatap sang kekasih dengan mengernyitkan dahinya.
“Kemana?” tanya Jessica dengan heran.
“Teman mengundangku ke kantornya.” Carlos berbohong, sebenarnya dia ingin menemui Glen dan menghajar pria itu.
“Aku juga ikut?” Carlos menganggukan kepala menjawab pertanyaan Jessica.
“Iya kamu harus ikut sayang, Andrew juga.” Tanpa banyak tanya lagi Jessica dan Andrew mengikuti Carlos menuju keparkiran.
Carlos memberikan kunci pada Andrew lalu mereka masuk ke mobil dan Andrew menyetir. Carlos memberitahukan alamat kantor temannya tanpa menyebut nama Glen.
Andrew langsung menjalankan mobilnya menuju ke kantor yang di tuju. Tidak lama kemudian mereka sampai, Carlos memegang tangan Jessica dan masuk ke dalam kantor. Security tidak menghadang Carlos karen sudah mengenalnya.
Begitu Sampai di dalam Carlos menyuruh Jessica dan Andrew duduk di ruang tunggu kemudian Carlos masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu.
Glen terkejut melihat Carlos ada di kantornya, belum sempat menyapa kekasih Jessica, Carlos sudah menarik kemeja Glen dan melayangkan pukulan ke wajahnya lalu Glen terduduk di kursi kerjanya.
“Carlos ada apa ini?” tanya Glen sambil memegang wajahnya yang terkena pukulan.
“Ada apa?” Carlos menariknya lagi dan memberikan pukulan di perutnya, terdengar Glen meringis kesakitan. “Kamu mau bertanya lagi ada apa?” pekik Carlos dengan marah.
“Iya kenapa kamu tiba tiba memukulku?” sahut Glen dengan memegang perutnya, dia merasakan sakit di bagian yang terkena pukulan.
“Kamu tidak menyadari kesalahanmu?” Carlos terlihat marah kemudian menarik kerak baju Glen. “Berani sekali kamu berbuat kasar pada Jessica.” Kembali dia melayangkan pukulan ke wajah Glen sehingga pria itu terjatuh. Carlos menarik Glen berdiri dan menyandarkan pria itu di dinding dengan kasar.
“Ingat, Glen. Kamu di Indonesia karena
aku, Bisnismu aku yang bantu dan inikah balasanmu padaku.” Carlos terlihat sangat emosi sehingga wajahnya memerah.
“Carlos bukan begitu.” Glen berusaha menenangkan Carlos dia melihat pria itu sangat menakutkan.
__ADS_1
“Lalu apa ha …? Kamu ingin membangkitkan
Carlos yang dulu?” Glen semakin takut melihat wajah Carlos.
“Carlos tenanglah, aku memang salahaku akui itu. Tapi aku juga menyukai jessica.” Emosi Carlos semakin naik, dia memegang dengan kuat rahang Glen.
“Ingat, Glen. Dia itu milikku dan kami saling mencintai. Jangan pernah ganggu hubungan kami,” ujar Carlos dengan rahang mengetat.
“Kalau kamu masih mengganggu Jessica, akanku hancurkan bisnismu disini maupun bisnis
orang tuamu. Ingat Glen aku beritahu padamu, orang tuaku sangat menyayangi Jessica. Kalau kamu macam-macam dengannya aku tinggal telepon orang tuaku maka mereka akan tarik investasinya di perusahaan orang tuamu, maka bisnis orang tuamu hancur termasuk bisnismu disini!” Ancaman Carlos membuat Glen menjadi takut.
“Carlos jangan seperti itu aku mengakui salah, aku minta maaf.”
“Jangan minta maaf padaku, tapi minta maaf pada Jessica.” Carlos menarik Glen dengan kasar
keluar dari ruangannya dan membawa pria itu kepada Jessica. Carlos mendorong Glen sehingga dia tersungkur di depan Jessica.
“Sekarang minta maaf,” perinta Carlos dengan menendang kaki Glen. Jessica terkejut melihat Glen, serta ujung bibir pria itu berdarah. Jessica langsung menatap Carlos.
“Babe ada apa ini?” tanya Jessica sambil melihat Glen yang sedang berlutut di depan kakinya.
“Sudah, Sayang. Kamu tenang saja.” Kembali Carlos menendang kaki Glen dengan pelan “Ayo minta maaf pada Jessica.”
“Jess, aku minta maaf sudah bersikap kasar
padamu.” Akhirnya permohonan keluar dari mulut Glen, dia begitu takut kepada Carlos.
“Iya sudah lupakan saja,” sahut Jessica lalu mata melirik kepada Carlos. “Babe, ayo kita pulang.”
“Sebentar sayang dia belum berjanji padamu.” Jessica terlihat kesal kepada Carlos, pertama dia sudah membohonginya.
“Sudahlah, ayo kita pulang,” ajak Jessica sambil berdiri dan menarik tangan Carlos untuk pergi. Dia sudah tak enak karena beberapa karyawan melihat mereka.
“Sayang dia harus membuat perjanjian denganmu, ayo Glen.” Kembali Carlos memberi perintah kepada pria itu, sedangkan Andrew dia senyum-senyum sendiri melihat Glen berlutut di depan Jessica.
“Jess, aku janji tidak akan pernah mengganggumu lagi.” Ucapan Glen langsung di sela oleh Carlos.
“Hei, satu hal lagi. Hapus semua video dan foto-foto yang kamu edit itu di media sosial, dan ingat aku akan mengawasimu,” ancam Carlos dengan membentak Glen.
“Iya aku akan menghapusnya,” sahut Glen dengan berdiri dan melirik kepada Jessica.
“Sayang, ayo kita pergi.” Carlos memegang tangan Jessica dan keluar dari kantor Glen. “Ayo Ndrew.” Dia juga mengajak Andrew lalu pergi ke parkiran.
“Kita kembali ke kantor Ndrew.” Andrew menjalankan mobilnya menuju ke kantor Carlos.
Di mobil Carlos dan Jessica hanya diam, sampai di kantor mereka turun lalu pergi keruang kerja Carlos.
Diamnya Jessica membuat Carlos menjadi bingung, dia menarik Jessica pergi keruang meeting sementara Andrew sibuk dengan ponselnya.
“Kenapa kamu dari tadi diam saja sayang?” Pertanyaan keluar dari mulut Carlos saat mereka masuk ke ruang meeting.
“Kamu bohong padaku, kamu bilang
temanmu mengundangmu ke kantornya. Tapi ternyata tidak,” jawab Jessica dengan wajah cemberut.
“Sayang kalau aku berterus terang pasti kamu akan menahanku,” sahut Carlos sambil memegang wajah sang kekasih.
“Tentu saja aku akan menahanmu, kalau terjadi sesuatu padamu bagaimana?”
“Glen itu harus diberi pelajaran agar dia tidak mengganggumu lagi,” ujar Carlos dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jessica.
“Tapi aku khawatir padamu, kalau dia melakukan sesuatu yang nekat padamu bagaimana?” Carlos tersenyum dan menatap mata sang kekasih.
“Tidak, Sayang, buktinya sekarang aku baik-baik saja.” Setelah selesai berucapCarlos mengecup kening Jessica.
“Aku hanya takut terjadi sesuatu
padamu.” Suara manja Jessica membuat Carlos terkekeh.
“Iya ... maaf, Sayang,” ucap Carlos lalu mencium bibir Jessica. “Ayo kembali keruangan.
Carlos dan Jessica kembali keruangannya, Jessica duduk bersama Andrew di sofa sementara Carlos kembali bekerja.
Selamat membaca
Jangan lupa like dan komentar ya
Terima kasih.
__ADS_1