SUAMI BAJINGAN

SUAMI BAJINGAN
Terlambat


__ADS_3

Cella bersiap-siap ke airport, Frank membantunya memasukkan barang-barang mereka di bagasi mobil. Sebelum berangkat Cella kembali mengirim pesan kepada Logan.


'Sudah beberapa hari aku menunggumu tapi kamu tidak pulang, bahkan kamu mematikan ponselmu. Mungkin kamu lebih memilih wanita itu dari pada aku dan kedua anakmu, baiklah aku akan pergi dari kehidupanmu.


'Semoga kamu bahagia bersamanya dan tolong permasalahan kita berdua jangan sampai keluargaku tahu, apalagi papa. Kamu sudah tahu sifat papa seperti apa. Terima kasih sudah pernah memberikan kebahagiaan kepadaku, darimu aku belajar apa itu cinta dan darimu  juga aku merasakan sakitnya dikhianati.'


'Aku pernah merasa sakit saat papaku berselingkuh tapi sakit itu tidak terlalu di bandingkan melihat langsung orang yang aku cintai sedang berselingkuh. Aku tidak akan pernah mengganggu kehidupanmu lagi, walau pun berat tapi aku harus jalani. Good bye'


Cella menitikkan air mata kemudian  mendudukkan Lucio di booster seat dan menyuruh Sabrina untuk naik ke dalam mobil. Charlotte juga ikut masuk dan duduk di belakang sedangkan Cella di depan samping Frank.


Frank menjalankan mobil menuju airport. Sepanjang jalan Cella hanya diam, air mata tak henti menetes. Dia tidak menyangka perkawinannya dengan Logan hanya singkat. Wanita itu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dan memejamkan mata.


Mereka tiba di airport, Frank langsung turun dari mobil dan mengambil troly. Dia mengeluarkan barang-barang milik Cella dan meletakkan di troly.


Sementara Cella, mengambil kereta dorong dan meletakkan Lucio lalu menatap Frank kemudian mereka berdua berpelukan.


“Kalau pikiranmu sudah tenang, cepat-cepat kembali ke sini ya,” canda Frank lalu Cella tertawa dan menganggukkan kepala.


“Aku akan kembali,” sahut Cella kemudian mencium kedua pipi pria itu.


Cella mengajak Charlotte dan Sabrina masuk, sebelum chek in dia membeli kartu lain untuk di ponselnya. Dia membuang kartu yang lama dan mengganti dengan yang baru.


Selesai Chek in mereka pergi ke Imigrasi untuk mendapatkan stamp.


Sementara itu di perkebunan, terlihat Logan sangat gelisah. Dia mondar-mandir di kamar, pria itu masih berpikir alasan apa yang akan dia berikan kepada istrinya.


“Aku sudah berbuat salah, aku harus kembali ke rumah dan meminta maaf kepadanya. Aku tidak ingin dia meninggalkanku.” Logan bergegas keluar dari kamar kemudian  masuk ke dalam mobil.


Logan langsung meluncur kembali ke rumah, sepanjang perjalanan pikirannya tidak tenang. Perasaan takut terus meliputinya.


“Kalau Cella berikan kesempatan, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi.” Dia tidak tahu kalau istri dan anaknya sudah pergi, pria itu menambah kecepatan mobilnya.


Akhirnya dia tiba di rumah, Logan masih tidak berani turun dari mobil. Dia menundukkan kepala di stir dan membayangkan wajah sang istri yang menatapnya penuh kebencian.


Logan mengangkat kepala dan melihat sekeliling rumah, dia tidak mendengar suara Sabrina yang selalu menyambutnya saat mendengar mobil masuk. Segera dia turun dan berlari masuk ke dalam.


Dia memperhatikan rumah begitu sepi, Logan melangkahkan kakinya menuju ke kamar dia dan Cella. Jantungnya berdebar dengan cepat, ada perasaan takut bertemu dengan sang istri.


Logan berhenti di depan kamar kemudian menunduk, dia memegang gagang pintu dan menekannya kebawah.


Dia mendorong pintu dengan perlahan, dan mengkerutkan dahi saat melihat  kamarnya tidak ada siapa-siapa, Logan langsung masuk dan membuka lemari. Dia melihat sebagian pakaian istrinya tidak ada.

__ADS_1


Pria itu langsung berlari keluar  menuju ke kamar putranya, dia masuk dan melihat Lucio tidak ada di box. Logan berteriak memanggil Sabrina dan Lucio.


Dia berlari turun dan memanggil Charlotte, dia pergi ke halaman belakang tapi  tidak menemukan Sabrina dan Lucio.


“Kalian dimana?” Dia kembali masuk  dan duduk, pria itu menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis. “Dia sudah pergi, Cella sudah meninggalkanku. Dia membawa mereka.” Logan kembali berdiri dan pergi ke kamar, dia mencari charger di laci meja.


Logan menemukan Charger lalu  menyambungkan di ponselnya. Pria itu menunggu sampai gawai itu hidup, Logan terlihat tidak sabar lagi ingin melihat apakah Cella mengirim pesan atau tidak.


Begitu ponselnya hidup, semua pesan sang istri langsung masuk. Dengan cepat dia meraih benda itu dan membacanya.


Pria itu tersungkur di lantai dan menangis, dia tidak percaya Cella sudah meninggalkannya.  Lebih sedih lagi, dia tidak tahu istri dan kedua akanknya pergi kemana. Lalu dia teringat Frank.


“Frank pasti tahu kemana Cella pergi, aku harus bertemu dengannya.” Dia berdiri kemudian  meninggalkan kamar, Logan meraih kunci mobil kemudian  meluncur ke tempat Frank.


Logan tiba, dia langsung turun dan berlari pergi mengetuk rumah Frank. Pintu terbuka lalu dia melihat pria itu berdiri di depannya.


“Frank, apakah kamu tahu Cella pergi kemana?” tanya Logan dengan wajah penuh permohonan, berharap pria itu tahu dimana Cella berada.


“Apakah Cella tidak di rumah?” Frank bertanya balik seolah-olah dia juga tidak tahu Cella dimana.


“Dia tidak di rumah, saat aku kembali mereka semua tidak ada,” sahut Logan dengan cemas.


“Aku tidak tahu dimana Cella, semenjak kejadian di kantormu setiap kali menghubunginya dia tidak pernah menjawab teleponku. Pikirku dia ingin tenangkan pikiran jadi aku tidak ingin mengganggunya,” bohong Frank kepada Logan.


“Kemana aku harus mencarinya?” Logan berpamitan kepada Frank kemudian kembali ke mobil.


“Dia sudah memberikan kesempatan padaku tapi aku tidak tahu, semua karena ponsel sialan ini,” umpat Logan kemudian  menjalankan mobil kembali ke rumah.


Logan tiba kemudian masuk dan menuju ke kamar, dia langsung membanting ponsel ke lantai dan menginjak-injaknya. Pria itu merasa kesal  saat istri mengirim pesan dia tidak bisa membacanya.


“Dia berpikir aku bersama Dylla, semua  gara-gara barang sialan ini.” Logan mengambil ponsel yang ada di lantai kemudian  melemparkan ke dinding.


“Kemana aku harus mencarinya.” Dia duduk di lantai dan menangis.


***


Cella menggendong Lucio dan menyuruh Charlotte dan Sabrina berjalan di depannya untuk masuk ke  pesawat. Dia membeli tiket bisnis class, pramugari mengantar mereka ke tempat duduk.


Dia mengatur tempat duduk menjadi tempat tidur lalu dia meletakkan Lucio yang sedang tertidur, sedangkan putrinya bersama pengasuh.


Sabrina memperhatikan sang ibu yang sibuk mengurus Lucio kemudian dia berdiri dan menghampiri Cella.

__ADS_1


“Mommy, kenapa papi tidak ikut?” tanya Sabrina seraya memegang dan memainkan jari adiknya.


“Sayang, papi sedang sibuk. Nanti kalau pekerjaannya selesai, dia akan menyusul kita. Sekarang kamu duduk ya, sebentar lagi pesawat akan berangkat.” Cella membelai rambut Sabrina, dan mengecup kening putrinya.


Dia tidak ingin menunjukkan kepada Sabrina kalau dia sedang sedih, Cella tersenyum dan mendudukan putrinya di samping pengasuh.


Akhirnya pesawat take off, wanita itu memandang keluar jendela lalu air mata menetes kembali.


'Aku harus melupakannya dan menjalani hidup bersama kedua anakku, untuk kembali lagi ke Brazil tidak akan pernah. Lebih  baik tinggal di Philipin dan membangun bisnis di sana. Mungkin itu lebih baik.' batinnya kemudian dia memejamkan mata.


***


Logan terus dan terus berusaha menghubungi ponsel sang istri, tapi nomor  tidak aktif. Dia tidak tahu lagi kemana akan mencari mereka, pria itu duduk termenung di halaman belakang.


“Dimana aku harus mencari mereka? Cella benar-benar meninggalkanku.” Dia bangkit dari  duduk kemudian pergi ke kamar. Saat di depan pintu langkah terhenti dia teringat Leo, Logan mengambil ponsel kemudian menghubungi pria itu.


“Hallo, Leo. Ini Logan, apakah kamu tahu dimana Cella dan anak-anak berada?” tanya Logan seraya masuk di kamar lalu duduk di sisi tempat tidur.


“Oh .. dia sudah meninggalkan Brazil, tapi aku tidak tahu dia pergi ke negara mana,” jawab Leo dari seberang telepon. Nampak wajah Logan berubah.


“Apakah Cella tidak mengatakan padamu kemana dia akan pergi.” Pria itu bertanya lagi dengan harapan Leo tahu sesuatu.


“Maaf, Logan. Cella tidak mengatakan padaku. Dia hanya bilang ingin pergi jauh meninggalkan Brazil, dan berpesan jangan sampai keluarganya tahu tentang masalah kalian berdua.” Pria itu terlihat kecewa dan tertunduk.


“Oh, aku pikir kamu tahu. Kalau begitu, terima kasih.” Logan menutup telepon dan meletakkan ponsel di meja.


“Frank dan Leo tahu Cella pergi kemana, tapi mereka berdua tidak ingin mengatkan padaku.” Dia berbaring  dan memejamkan mata, pria itu tidak tahu lagi dimana mencari istri dan kedua anaknya.


Dia menghubungi teman-teman di Amerika dan meminta bantuan mereka untuk mengawasi rumah orang tua Cella. Pria itu meminta kalau melihat sang istri langsung menghubunginya.


***


Cella tiba di Philipin, dari airport dia langsung menuju ke resort yang sudah dia booking. Mereka tiba lalu petugas di tempat itu mengangkat semua barang milik Cella dan membawanya ke dalam.


Cella Check in lalu petugas mengantar mereka ke kamar, dia melihat Sabrina kemudian  menciun ubun kepala putrinya.


“Sayang, kamu tidur bersama Charlotte ya.” Sabrina tersenyum dan menganggukkan kepala.


“Iya, Mommy.” Dia pergi bersama Charlotte ke kamar lain lalu Cella mengunci pintu dan memindahkan Lucio di tempat tidur. Dia membelai pipi anak itu, air mata menetes kembali.


Aku akan memulai hidup bersama kedua anakku di sini dan berjuang untuk mereka. Biarlah kebahagiaan itu tinggal kenangan, akan ku tata hidup ini untuk masa depan anak-anak.' Dia mengecup pipi Lucio dan memperhatikan wajah anak itu.

__ADS_1


'Sepahit apapun perjalan hidup akan tetap ku jalani. Mungkin ini sudah takdir, Akanku hapus dia dalam ingatan.' Cella mengambil ponsel dan menghapus nomor Logan juga foto-foto mereka berdua. 'Inilah yang terbaik, kamu sudah memilih jalanmu dan aku pun sudah memilih jalanku.'


__ADS_2