
Pedro berjalan keluar di ikuti oleh Charlie, sedangkan Jessica dia hanya mengamati dalam kantor. Charlie berpura pura menyeberang jalan sedangkan Pedro pergi berdiri di dekat mobilnya dan mengeluarkan handphone dari saku celananya. Dia menelepon Jessica dan terdengar suara Jessica di seberang telepon.
“Pedro kamu tidak perlu melakukannya, masuklah kembali kedalam kantor.” Kata Jessica dari seberang telepon.
“Jessi kamu tidak usah khawatir, aku akan baik baik saja. Aku tidak akan mati sebelum mendapatkan cintamu.” Canda Pedro pada Jessica.
“Pedro jaga dirimu, jangan matikan teleponnya.”
“Iya Jessi aku tidak akan mematikan teleponnya, kamu akan terus mendengar suaraku.”
Terdengar suara Charlie di walkie talkie Pedro. “Pedro orangnya keluar dari mobil, kamu hati hati!”
“BaiklCharlie.” Jawab Pedro.
Terdengar lagi Charlie memberi perintah pada Blane dan Hank juga Emil agar mengawasi Arlie yang sedang mengarah kepada Pedro.
Pedro melihat Arlie berjalan ke arahnya dan Arlie mengeluarkan pistolnya dan langsung menembak kearah Pedro dan Pedro melompat ke samping mobilnya, dia berlindung di balik mobil. Dan terdengar lagi suara tembakan, Charlie menembak Arlie dan Arlie tersungkur di tanah. Pedro langsung berdiri dan melihat Arlie yang sudah bersimbah darah di tanah, dia menghampiri Arlie dan menjauhkan pistol milik Arlie.
Charlie Bane, Hank dan Emil langsung berlarian menghampiri Pedro dan Arlie.
“Pedro lenganmu berdarah, sebaiknya kamu kedokter. Orang ini biar kami yang akan mengurusnya.”
“Baik Charlie.”
Jessica melihat lengan pedro berdarah, dia langsung berlari ke arah Pedro dan memegang lengan Pedro,
“Pedro ayo kita ke rumah sakit.” Kata Jessica pada Pedro.
“Iya Jessi kita kerumah sakit.”
Jessica menghampiri Charlie.
“Charlie apakah orang ini baik baik saja?”
“Iya Jessi, dia hanya tertembak di dadanya. Aku akan segera membawanya kerumah sakit.”
“Baiklah Charlie. Oh ya jangan sampai ada yang tahu kalau dia di rumah sakit. Kita harus cari tahu siapa yang menyuruhnya.” Kata Jessica pada Charlie.
“Iya Jessi. Nanti aku akan menghubungi rekan rekanku di kantor polisi.”
“Terima kasih Charlie, aku akan mengantar Pedro kerumah sakit.
“Sama sama Jessi.” Ucap Charlie pada Jessica.
Jessica meninggalkan Charlie dan anak buahnya lalu dia mengantar Pedro ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit Pedro langsung di tangani oleh Dokter. Mereka mengeluarkan peluru yang bersarang di lengan Pedro.
Charlie masuk kedalam ruangan dan melihat Pedro sedang di obati oleh Dokter.
Melihat Charlie masuk ke dalam ruangan, Jessica langsung menghampiri Charlie.”
Bagaimana dengan orang itu Charlie?” Tanya Jessica penasaran.
“Dokter sedang mengeluarkan peluru di dadanya dan ada beberapa polisi juga Bane dan Emil sedang mengawasinya. Handphonenya juga sudah aku serahkan ke temanku. Nanti mereka akan memeriksa siapa saja yang berhubungan dengannya.” Kata Charlie pada Jessica.
“Baguslah Charlie aku jadi tenang, mudah mudahan secepatnya bisa kita ketahui siapa yang menyuruhnya untuk membunuh Pedro.”
“Iya Jessi, secepatnya pasti akan kita ketahui. Apalagi teman terbaikku yang menanganinya.”
“Terima kasih Charlie, kamu sudah banyak membantuku.”
“Sama sama Jessi.” Kata Charlie pada Jessica.
Dokter menghampiri Charlie dan Jessica.
“Oh ya Nyonya, Tuan Pedro sudah selesai di obati. Nanti perbannya jangan sampai kena air ya. Terus obatnya rutin di minum.”
“Baik Dokter. Terima kasih.” Ucap Jessica.
“Sama sama Nyonya.” Dokter meninggalkan Jessica dan Pedro.
__ADS_1
Jessica dan Charlie mendekati Pedro. “Aku pikir kamu tidak tertembak Pedro.” Kata Charlie pada Pedro sambil tersenyum.
“Aku tadi tidak terlalu memperhatikannya Charlie. Tapi syukur hanya tertembak di lengan.”
“Iya syukur hanya lengan saja, bagaimana kalau peluru itu bersarang di kepalamu?” Kata Jessica dengan kesal.
Pedro dan Charlie tersenyum.
“Hmmm.. Pedro sepertinya ada wanita yang mulai mengkhawatirkanmu.” Canda Charlie pada pedro dan Pedro tertawa.
“Itu bagus Charlie kalau ada yang mengkhawatirkanku, apalagi kalau yang mengkhawatirkanku adalah wanita yang aku cintai.” Balas Pedro pada Charlie.
“Hei Pedro, kalau dia sudah mulai mengkhawatirkanmu itu pertanda dia mulai mencintaimu.” Canda Charlie lagi.
“Charlie berhenti menggodaku ya! Kamu juga Pedro, jangan ikut ikutan Charlie menggodaku!”
Pedro dan Charlie langsung tertawa.
“Baiklah Pedro Jessi, aku tinggalkan kalian berdua dan selamat bermesraan.” Canda Charlie lagi.
“Charlieeee… Cukup ya!”
Charlie tertawa dan meninggalkan Pedro dan Jessica.
Jessica menatap pedro.
“Kita pulang sekarang?”
“Iya Jessi, ayo kita pulang!” Kata Pedro pada Jessica dan mereka berdua meninggalkan ruangan dan pergi keparkiran mobil. Mereka masuk kedalam mobil dan Jessica langsung menjalankan mobilnnya ke Santa Barbara. Sampai di rumah mereka berdua masuk dan Pedro duduk di ruang santai, sedangkan Jessica masuk kedalam kamar Isabell dan melihat Isabell masih tidur. Dia menutup kembali pintu kamar Isabell dan pergi keruang santai dan dia berpapasan dengan Teresa.
“Nyonya pulang cepat?”
“Iya Teresa, kamu bisa pulang sekarang dan besok kamu bisa datang jam sepuluh.”
“Baiklah Nyonya, kalau begitu aku permisi.”
“Terima kasih Teresa.” Ucap Jessica kemudian dia pergi keruang santai dan duduk di samping Pedro.
“Iya sakit sedikit.” Jawab Pedro sambil terenyum. Oh ya Jessi, apakah benar apa yang di katakan oleh Charlie?”
“Apa itu pedro?” Tanya Jessica
“Itu perkataan Charlie waktu kita di rumah sakit.”
“Perkataan yang mana?” Tanya Jessica.
“Jess, apakah kamu mulai mencintaku?” Tanya Pedro sambil menatap mata Jessica.
“Uumm.. Aku tidak tahu Pedro, apakah kekhawatiranku itu menandakan aku mulai mencintaimu. Aku tidak tahu.” Kata Jessica sambil menunduk. Dia tidak tahan dengan tatapan pedro. “Sepertinya aku mulai mencintainya.” Kata Jessica dalam hati. “Aku mulai takut kehilangannya.”
“Tidak apa apa Jessi, aku mengerti.” Kata Pedro.
Jessica menatap Pedro dan tersenyum.
“Pedro kamu beristirahat di kamar ya, aku akan memasak.”
“Baiklah Jessi.” Kata Pedro lalu dia berdiri dan pergi masuk kedalam kamar dan dia berbaring di tempat tidur. “Jessi pasti sudah mulai mencintaiku, tapi dia hanya malu saja untuk mengatakannya padaku.” Kata Pedro dalam hati sambil terseyum.
Sementara itu Carlos masih menunggu kabar dari Arlie. Dia duduk di halaman belakang sambil merokok, dia mencoba menghubungi handphone Arlie. Ada nada panggil tapi tidak di jawab oleh Arlie. Carlos tidak tahu kalau Arlie sedang di rawat di rumah sakit dan dalam pengawasan polisi.
“Kenapa Arlie tidak menjawab teleponku?” Tanya Carlos dalam hati. “Apakah dia belum berhasil membunuh Pedro?”
Carlos mencoba mngirim pesan pada Arlie. “Hai Arlie bagaimana dengan tugasmu? Apakah berhasil?” Carlos mengirim pesan itu ke handphone Arlie.
Sementara di kantor polisi, rekan Charlie sedang memeriksa handphone milik Arlie dan dia menerima pesan di handphone Arlie dan membacanya. Rekan Charlie langsung menghubungi Charlie dan meminta Charlie untuk segera ke kantor polisi. Dan tidak lama kemudian Charlie tiba di kantor polisi, dia langsung menemui rekannya.
“Ada apa Cason kamu menyuruhku kesini? Apakah sudah ada petunjuk?”
“Iya Charlie, di handphone Arlie ada pesan dari Carlos. Coba kamu baca pesannya.” Kata Cason pada Charlie sambil memberikan handphone Arlie pada Charlie dan Charlie mengambil handphone itu dari tangan Cason dan dia membacanya. Charlie melihat nomor itu tertulis Tuan Carlos dan Charlie membaca pesan dari Carlos, dia juga memeriksa panggilan masuk dan panggilan keluar dari handphone Arlie. Disana banyak panggilan keluar dan masuk dari Carlos.
__ADS_1
“Hmm.., berarti Carlos yang menyuruh Arlie untuk membunuh Pedro. Dia pasti cemburu melihat Pedro dekat dengan Jessica, dasar laki laki egois.” Kata Charlie dalam hati. “Oh ya Cason terima kasih ya. Awasi terus panggilan dan pesan yang masuk di handphone Arlie dan kabari aku.”
“Baik Charlie, aku akan terus memberi kabar padamu.”
“Terima kasih Cason. Aku pergi dulu.” Kata Charlie pada Cason kemudian dia meninggalkan kantor polisi dan langsung menuju kerumah Jessica. Sampai di rumah Jessica dia berpapasan dengan Alex dan Marcio.
“Nyonya Jessica dimana?”
“Ada di dalam Charlie.” Kata Marcio
“Baiklah aku kedalam dulu, kalian harus tetap waspada ya.” Kata Charlie pada Marcio dan Alex kemudian dia masuk kedalam mencari Jessica. Charlie pergi kedapur dan melihat Jessica sedang memasak.
“hemmm.. Sepertinya masakannya lesat.” Canda Charlie pada Jessica dan Jessica tersenyum.
“Bagaimana Charlie apakah sudah ada kabar?”
“Iya Jessi aku baru saja dari kantor Polisi dan temanku menunjukan padaku pesan Carlos di handphone Arlie.”
“Ternyata dugaanku benar Charlie. Carlos ingin membunuh Pedro tapi dia menyuruh orang lain. Ah.. Charlie aku jadi khawatir pada Pedro. Aku ingin salah satu dari anak buahmu harus terus bersama Pedro. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Pedro Charlie.
“Kamu tenang saja Jessi. Bila perlu aku yang akan bersama dengan orang yang kamu cintai itu.” Canda Charlie pada Jessica.
“Charlie kamu jangan mulai lagi ya.” Kata Jessica pada Charlie dan Charlie tertawa.
“Jessi jujur saja, kamu sudah jatuh cinta pada Pedro kan?”
Jessica menatap Charlie
“Entalah Charlie, aku tidak tahu.”
“Kamu tidak usah malu untuk mengatakannya. Akukan temanmu.”
Jessica bersandar di meja.
“Sepertinya iya Charlie. Aku mulai takut kehilangan dirinya.” Kata Jessica pada Charlie sambil menunduk.
Tanpa mereka sadari Pedro mendengar percakapan mereka berdua. “Ternyata Jessica sudah mencitaiku.” Kata Pedro dalam hati. “Ah.., aku sangat senang. Tidak sia sia aku menunggunya.
Dan Pedro mendengar percakapan Jessica dan Charlie lagi.
“Itu pertanda kamu sudah mencintainya Jessi. Jessi sudah saatnya kamu memiliki suami lagi, kamu masih muda. Kamu masih bisa memiliki kebahagiaan lagi. Lupakan Carlos dan mulailah dengan Pedro. Aku melihat Pedro sangat mencintaimu.”
“Charlie aku sudah melupakan Carlos dan aku sama sekali sudah tidak mencintai Carlos. Aku akan mengikuti saranmu Charlie, aku akan menjalani kehidupanku dengan pedro. Dan aku berharap Pedro tidak mengecewakanku.”
“Aku juga berharap begitu Jessi.” Kata Charlie pada Jessica
Dan Pedro masuk kedapur . Charlie dan Jessica langsung menghentikan percakapan mereka.
“Hi Charlie bagaimana sudah ada kabar?” Tanya Pedro pada Charlie.
“Hhmm, iya Pedro sudah. Orang yang menyuruh Arlie untuk membunuhmu adalah Carlos.”
Mendengar Carlos ingin membunuhnya Pedro langsung tertawa.
“Jessi Carlos pasti masih mencintaimu, makanya dia ingin menyingkirkanku.”
“Pedro biarkan saja dia. Yang penting kita harus waspada saja dan kamu lebih baik tinggal di rumah ini dulu.” Kata Jessica pada Pedro.
“Baiklah aku akan tinggal disini supaya aku lebih dekat denganmu.” Canda Pedro pada Jessica.
“Ok, kalau begitu aku pergi dulu ya. Aku tidak ingin menganggu kalian berdua.” Canda Charlie pada Pedro dan Jessica, kemudian dia meninggalkan Jessica dan Pedro di dapur.
Seperginya Charlie, Pedro langsung melingkaran tangan yang satunya di pinggang Jessica dan mencium bibir Jessica dan Jessica membalas ciuman Pedro. Mereka berdua saling berciuman. Dan Jessica menghentikan ciumannya.
“Oh ya pedro, apakah kamu sudah lapar?” Tanya Jessica.
“Belum Jessi, aku belum lapar.” Kata Pedro pada Jessica. “Kamu sudah selesai memasak Jessi?”
“Iya Pedro aku sudah selesai memasak. Emmm…, kalau begitu aku ingin melihat apakah Isabell sudah bangun.” Kata Jessica lalu dia pergi kekamar Isabell, dia masuk dan melihat Isabell masih tertidur pulas. Jessica menutup kembali pintu kamar Isabell dengan pelan dan pergi kekamarnya. Dia masuk dan melihat Pedro lagi berbaring di tempat tidur. Jessica juga berbaring di samping Pedro dan Pedro memeluknya dan mencium kening Jessica.
__ADS_1
Selamat membaca.
Terima kasih bagi yang masih menanti cerita ini dan terima kasih atas like dan komennya.