
Seminggu sudah pria itu tidak melihat kekasihnya, segala upaya sudah dia lakukan agar Cella mau memaafkan dia tapi semua sia-sia. Dua hari lagi dia akan kembali ke Negaranya, Logan masih berharap dia bertemu dengan sang kekasih.
Begitu juga dengan gadis itu, satu hari lagi dia akan meninggalkan Amerika. Dia ingin pergi ke Mexico tempat tinggal kakaknya, Cella ingin menenangkan diri di sana. Sampai saat ini dia belum memaafkan pria itu, Cella merasa sudah dikhianati kekasihnya.
Nampak gadis itu sedang duduk di teras kamar, dia termenung sendiri lalu ponselnya berbunyi. Dia berdiri dan melihat ternyata pesan dari Nasya sahabatnya. Cella mengambil tas dan kunci mobil kemudian meninggalkan rumah dan pergi ke tempat Nasya.
Dia tiba di tempat sahabatnya, Cella masuk dan langsung menyapa Nasya dan Nicky yang sedang duduk di ruang santai. Kemudian duduk di sofa.
Nasya tersenyum kepada Cella kemudian dia berdiri dan duduk di samping gadis itu. Kekasih Nicky bisa merasakan kesedihan sahabatnya itu, dia memegang tangan Cella dan mengelusnya.
“Besok kamu akan berangkat ke Mexico?” Cella menganggukkan kepala, nampak kesedihan di wajahnya. “Kamu tidak ingin bertemu dengan Logan?” Gadis itu tidak menjawabnya, dia hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Nasya menarik napas panjang kemudian dia menatap Nicky, dan mengisyaratkan sesuatu kepada kekasihnya kemudian pria itu berdiri dan mengambil ponsel yang ada di meja. Dia meninggalkan Nasya dan Cella lalu pergi ke halaman belakang, terlihat Nicky menelepon seseroang.
Sementara di kediaman Logan terlihat dia sedang berbincang dengan temannya lalu ponsel berbunyi dia melihat panggilan dari Nicky. Dia langsung menjawab panggilan itu, nampak wajahnya tersenyum. Dia menutup telepon lalu meninggalkan temannya.
Logan langsung pergi ke tempat tinggal Nicky, dia berharap bisa bertemu dengan Cella dan mendapatkan kesempatan lagi dari gadis itu. Di taxi dia tidak tenang, ada perasaan takut bertemu dengan kekasihnya.
Dia tiba lalu Logan membayar taxi, berdiri di depan rumah Nicky. Nampak Logan ragu-ragu untuk masuk, dia takut kalau Cella tidak bisa memaafkannya. Logan mondar-mandir di depan rumah Nicky lalu terlihat Nasya keluar dan menghampirinya.
“Ayo masuk,” ajak Nasya tapi Logan terlihat ragu-ragu.
“Apakah dia tahu aku datang?” Nasya tersenyum kemudian dia menggelengkan kepala.
“Dia tidak tahu, kalau Cella tahu pasti dia akan pergi.” Logan menunduk dan berpikir.
“Logan, ayo.” Kembali Nasya mengajaknya masuk lalu dia mengikuti Nasya dengan berjalan di belakang gadis itu. Jantung berdebar saat melihat sang kekasih duduk di sofa.
Melihat Logan, Cella langsung berdiri ingin meninggalkan kediaman Nicky tapi dengan cepat tangan Nasya menahannya.
“Bicarakan dengan baik, jangan dengan emosi nanti kamu menyesal.” Logan menatap gadis itu dan menariknya pergi ke kamar.
Cella mengikuti Logan dari belakang, mereka berdua masuk ke kamar lalu Cella menatap pria itu dengan tatapan tajam.
“Apalagi yang ingin kamu bicarakan?” tanya gadis itu dengan sinis. Logan menghampiri Cella dan memegang tangannya tapi Cella menepisnya dengan kasar, dia terlihat masih marah kepada pria itu tapi rindu juga hanya gengsi saja.
“Tolong berikan aku kesempatan, aku sangat mencintaimu. Apalagi sekarang kamu lagi mengandung anakku,” mohon pria itu tapi Cella hanya diam saja.
__ADS_1
“Apa yang harus aku lakukan supaya kamu bisa memaafkanku.” Gadis itu menatap Logan, tidak ada senyum yang tercetak di bibirnya.
“Tidak ada, aku tidak ingin melihatmu lagi. Aku tidak ingin bersamamu lagi.” Cella meninggalkan Logan di kamar, dia keluar tanpa pamit kepada Nicky dan Nasya.
Tampak kemarahan di wajah gadis itu, tapi baru saja dia membuka pintu mobil tiba-tiba terdengar letusan senjata api.
Cella terkejut dia kembali menutup pintu mobil dan berlari masuk ke rumah, dia berpapasan dengan Nicky dan Nasya. Tampak mereka juga terkejut mendengar letusan senjata api. Mereka saling bertatap kemudian berlari ke kamar di mana Logan berada.
Nicky membuka pintu tiba-tiba peluru mengenai benda kayu berwarna coklat tua itu. Mereka langsung menunduk, Cella melihat Logan terkapar di lantai bersimbahkan darah. Dia menangis melihat kekasihnya.
"Nicky hubungi 911, cepat!" teriak Cella,
Nicky merunduk dan mengambil ponselnya, dia langsung menelepon 911, sedangkan Cella berusaha menghampiri Logan tapi pria itu memberi isyarat agar tiarap.
Terlihat Logan memegang dadanya, dia terlihat sulit bernapas. Dia hanya bisa menatap kekasihnya. Cella merayap menghampiri Logan, dia meraih tangan Logan dan berusaha membuat pria itu tenang.
Tidak lama kemudian terdengar ambulance dan mobil polisi berhenti di depan rumah Nicky. Kekasih Nasya langsung berdiri dan berlari membukakan pintu.
"Opsir, tolong segera bawa temanku ke rumah sakit, dia tertembak," ujar Nicky saat pintu di buka, wajah terlihat sangat ketakutan.
Petugas ambulance dan beberapa polisi langsung masuk ke kamar dimana Logan tertembak. Mereka mengangkatnya dan memasukkan ke dalam ambulance, Cella ikut masuk dan duduk di dekat sang kekasih. Dia memegang terus tangan Logan, Cella menangis dan memegang pipi pria itu.
Sementara di rumah sakit Cella duduk di depan ruang bedah, dia sangat khawatir dengan keadaan Logan. Sesekali dia menyeka airmatanya, beberapa polisi juga sedang menunggu di depan bersama kekasih Logan mereka juga menginterogasi Cella.
Nasya dan Nicky tiba di rumah sakit mereka berdua langsung mencari Cella, Nasya melihat Cella sedang duduk kemudian dia berlari menghampiri gadis itu dan memeluknya.
“Bagaimana keadaan Logan?” tanya Nasya dengan wajah khawatir. Nicky juga langsung duduk di samping Cella.
“Saat tiba di rumah sakit dia tidak sadarkan diri. Dia mengalami luka tembak di dada dan punggungnya,” jawab Cella sambil menangis.
“Semoga dia tidak apa-apa,” ujar Nicky seraya berdiri dan berjalan mondar-mandir. Dia menjadi penasaran siapa yang menembak Logan. Dia kembali duduk dan menatap Cella juga Nasya,
“Kira-kira siapa yang menembak Logan,” tanya Nicky penasaran.
“Iya, Cella. Kira-kira siapa ya?” sambung Nasya dengan wajah kebingungan.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Cella lalu dia teringat papanya.
__ADS_1
Jangan-jangan papa yang menyuruh mereka untuk membunuh Logan, kata Cella dalam hati. Dia berdiri dan mengambil ponsel, Cella langsung menghubungi Jessica lalu panggilan terhubung.
“Hallo, Mam. Mama lagi dimana?” tanya Cella sambil menjauh dari Nicky dan Nasya.
“Mama lagi di kantor, ada apa, Sayang?” tanya Jessica dari ujung telepon.
“Mam, aku lagi di rumah sakit. Logan tertembak,” jawab Cella dengan suara pelan. Terdengar suara Jessica terkejut.
“Apa? Siapa yang menembak Logan, terus kamu bersama siapa di rumah sakit? Apakah kamu baik-baik?” Pertanyaan beruntun di lontarkan Jessica.
“Mam, aku baik-baik saja. Disini juga ada Nasya dan Nicky yang menemani aku. Mama tidak usah khawatir,” jawab Cella menenangkan mamanya.
“Sayang, mama segera kesana,” ujar Jessica lalu telepon di tutup. Cella memasukkan ponselnya kemudian dia kembali duduk.
“Mamaku akan kesini,” ujar Cella sambil menatap Nasya.
“Apakah kamu akan beritahu mamamu kalau kamu sedang hamil?” tanya Nasya seraya memegang tangan Cella.
“Tidak, aku ingin Logan yang menyampaikan kepada orang tuaku,” sahut Cella kemudian dia bersandar di sandaran kursi. Nampak Nasya tersenyum, dia sangat senang sahabatnya itu sudah memaafkan Logan.
Tidak lama kemudian terlihat Jessica berlari-lari mencari Cella, dia melihat Cella kemudian Jessica memeluk dan mencium kening putrinya.
“Mama sangat khawatir padamu,” ucap Jessica seraya membelai rambut Cella.
“Aku tidak apa-apa, Mam,” ujar Cella kemudian mereka duduk.
Jessica berdiri kembali kemudian dia berbincang-bincang dengan polisi. Lalu tidak lama kemudian dokter ahli bedah keluar, dia langsung menemui polisi. Nasya dan Cella langsung berdiri dan bertanya kepada Dokter.
“Bagaimana, Dok? Apakah dia baik-baik saja?” Tampak wajah Cella begitu cemas kemudian dokter menatap Cella lalu dia tersenyum.
“Anda tidak usah khawatir, dia baik-baik saja. Kami sudah mengeluarkan peluru dari dada dan punggungnya. Sebentar lagi dia akan di pindahkan,” jawab dokter kemudian dia berlalu dari hadapan Jessica dan Cella serta polisi.
Terlihat wajah Cella begitu lega mendengar perkataan dokter lalu dia dan Jessica kembali duduk.
Selamat membaca
Jangan lupa like dan komentar ya
__ADS_1
Terima kasih