Morning Dew

Morning Dew
1


__ADS_3

"Ki...Yuki..."


Siapa itu


"Yuki..."


Begitu membuka mata, hal yang pertama kali kulihat adalah bulan purnama berwarna biru es, mendominasi langit tanpa bintang.


Kenapa Aku berada disini ?


Aku memandang sekeliling. Mendapati diriku berada dipadang rumput yang luas. Garis horizon berada diujung sana, menjadi batas antara langit dan padang rumput. Semilir angin meniup rambutku, membawa hawa dingin yang menjalar kedalam sumsum tulang. Tanganku menyapu rumput setinggi lutut, embun membasahi ujung jariku.


Di mana ini


Aku berjalan. Mencoba mencari apapun atau siapapun. Tapi rasanya, sejauh Aku berjalan Aku hanya berputar putar ditempat yang sama. Tidak ada apa-apa disini.


"Yuki..."


"Siapa...siapa disana" teriakku. Aku mencoba tetap tenang. Bagaimana mungkin ada suara tanpa rupa. Aku terus berjalan. mencari sumber suara yang terus memanggil namaku.


*H*arusnya Aku takut pikirku. Bagaimana ada suara tanpa rupa. Tapi anehnya Aku sama sekali tidak takut. Suara itu terasa familiar ditelingaku. Nadanya sarat akan kesedihan, membuatku ingin segera menemukannya. Aku sudah cukup lama berjalan. Piama yang kukenakan sudah basah terkena embun.


Tiba-tiba kesunyian menghantam. Suara itu menghilang. Hanya ada Aku sendiri dan gemerisik rumput tertiup angin.


Apa yang terjadi.


Aku merasa takut menyadari sekarang Aku sendirian. Aku melangkahkan kaki lebih cepat, melewati rerumputan dengan perasaan panik yang mulai menghantam. Terasa getaran hebat dibawah kakiku. Ketika menunduk Aku mendapati diriku berada di pusat lingkaran cahaya biru es yang bergerak membentuk simbol dalam lingkaran.


Apa ini


Diatas langit kilatan cahaya bagaikan formasi kawanan burung muncul. Aku terjatuh saat getaran itu semakin hebat. Lututku terasa sakit. "Aduh" Aku meringis. Melihat darah mengalir di lutut kiri. Rasanya sekelilingku kini dipenuhi pusaran cahaya berwarna biru es.


Apa yang terjadi.


"Kau yang terpilih" Terdengar suara mengelegar dari atas langit. Suara yang berbeda dari suara tadi. Suara ini lebih terdengar mengintimidasi dan tidak terbantahkan. Belum hilang rasa kagetku, pusaran dibawah kakiku menyeruak naik keatas langit. Bersatu dalam suatu titik besar, sedetik kemudian melesat kearahku dengan kecepatan cahaya. Aku menutup kedua mataku silau.


"Tidakkk"


Sraakk


Aku mengerjap saat cahaya matahari langsung menyorot ke mataku dari cendela didepanku. Terdengar suara jam beker yang cukup nyaring. Disamping cendela itu, bibi Sheira berkacak pinggang, sosoknya tidak begitu jelas terlihat karena cahaya matahari dibelakangnya. "Pagi bibi" Kataku sambil meregangkan otot-ototku yang kaku. Rasanya seluruh tubuhku sakit semua. Padahal Aku baru bangun tidur.


"Mau tidur sampai kapan ?, apa Kau tidak bersekolah." ujar bibi Sheira mulai mengeluarkan jurus mautnya.


"Iya..iya.. Aku bangun, astaga sudah jam berapa ini ?"


Aku mencari cari jam beker yang berdering dari tadi. Akhirnya Aku menemukannya terjatuh disamping tempat tidur. Tertutup boneka dan sebuah buku tebal. Aku segera mematikannya. Terkejut saat menyadari bahwa jam ini sudah berbunyi dari tiga menit yang lalu. Padahal biasanya Aku langsung bangun jika mendengar jam beker berbunyi, Seberapapun capeknya Aku. Aku merapikan tempat tidur dengan terburu-buru. Setelahnya berlari menuju kamar mandi yang terletak diseberang kamar. Aku membilas seluruh tubuhku dengan menggunakan shower. Lututku terasa berdenyut. Ada guratan luka baru disana.


Apa bisa orang bermimpi jatuh dan ketika bangun benar-benar terluka ?.

__ADS_1


Aku mengabaikan pikiran konyol yang melintas dikepala. Setelah selesai mandi Aku bergegas menuju kamar dan berdandan.


Hay, namaku Yuki Orrie Olwrendho. Saat ini Aku berumur 15 tahun. Kata orang, Aku adalah gadis yang aktif dan ceria. Tapi nyaris semua orang tidak percaya jika Aku sudah berumur lima belas tahun. Mereka menyangka Aku baru berumur dua belas tahun. mungkin karena postur tubuhku yang pendek. Tinggi badanku saat ini 155 cm dengan berat badan 43 kg. Aku memiliki kulit kuning langsat, dan rambut ikal sepunggung, Berwarna cokelat tanah. Mataku bulat besar, dengan bulu mata panjang yang mengelilinginya. Hampir semua orang yang mengenal Mamaku, mengatakan Aku sangat mirip dengan Mama. Tapi Aku tidak merasa seperti itu. Mama memiliki tinggi 172 cm dengan badan langsing dan kulit putih bersih. Rambutnya lurus jatuh berwarna hitam legam. Dia bagaikan boneka barbie dalam versi kenyataan. Dia seorang wanita yang sangat anggun dan bersahaja. Karena kecantikannya Mama sering mendapatkan kontrak kerja sebagai model atau pemain film. Tetapi Mama sudah meninggal enam bulan yang lalu karena kecelakaan mobil. Semenjak itu Aku tinggal bersama dengan bibi Sheira.


bibi Sheira sendiri adalah teman baik Mama, Aku ingat Dia lah yang merawatku sendari kecil ketika Mama harus bekerja untuk kami. Mama dan bibi Sheira adalah yatim piatu. Mereka hidup saling membantu satu sama lain. Bibi Sheira menikah dengan seorang dokter di tempatnya bekerja sebagai perawat. Mereka berdua memperlakukanku dengan sangat baik. Aku sangat menyukai Phil, suaminya. Walau umur mereka terpaut sepuluh tahun, kadang Aku merasa Phil lebih seperti anak muda ketimbang bibi Sheira yang terlalu banyak aturan. Mereka sudah kuanggap sebagai orang tuaku sendiri.


Ayahku sudah lama meninggal dunia, dari cerita Mama, Dia meninggal ketika kandungan Mama menginjak empat bulan. Mama tidak pernah banyak bercerita soal Ayah, Akupun tidak begitu banyak bertanya. setiap kali Mama bercerita soal Ayah, Mama akan terlihat sedih. Aku bahkan tidak tahu seperti apa Ayahku. hanya yang Aku tau Mama sangat mencintai Ayah. Buktinya, walau berulang kali banyak pria datang untuk melamar, Mama selalu menolak . Dia tidak pernah tertarik menjalin cinta dengan siapapun.


"Yuki jam berapa ini ?!!,apa Kau sudah siap" teriak bibi Sheira dari bawah membuyarkan lamunanku. Aku menyambar tas, bergegas menuruni tangga.


"Aku datang ...Aku datang" Sahutku nyaring.


diruang makan, Phil sudah duduk sembari menyantap makanannya. sedangkan bibi Sheira sibuk menata bekal untuk kami berdua.


"Selamat pagi Phil"


"Pagi Swetty, ayo segera sarapan. Aku tidak mau terlambat hari ini" Ajak Phil. Aku duduk dan langsung memakan makananku. Phil menanyakan beberapa pertanyaan mengenai sekolahku. Membuatku teringat bahwa Aku lupa membawa tugas sekolahku. Aku bangun dan berlari menaiki tangga kembali. Terdengar bibi Sheira mengomel dari belakang. "Untung hidungmu tidak tertinggal".


Aku menuju ujung lorong dimana kutaruh tanaman cabai yang didekat cendela. Saat Aku akan kembali ke ruang makan, Aku merasakan perasaan familiar. Sesuatu seolah memanggilku. Diujung lorong tempatku sekarang, ada sebuah kamar yang pintunya selalu tertutup. bibi Sheira selalu menguncinya. Baik Mama dan bibi Sheira, mereka melarang keras Aku untuk masuk kedalam ruangan ini. Bahkan Mama pernah memintaku bersumpah untuk tidak masuk atau bahkan menyentuh pintu ini. Aku tidak tahu kenapa, tapi jika melihat raut ketakutan di wajah mereka, Aku rasa tidak baik mengabaikan larangannya.


Aku menatap pintu itu. Dorongan itu semakin kuat. Ukiran di pintu seolah bergerak, berkilau memunculkan sinar es yang tampak terlihat seperti mimpiku semalam. Tanpa sadar tanganku terulur hendak memegang gagang tersebut.


"Yukiii...apa Kau masih lama" Aku tersentak. terdengar suara bibi Sheira dari bawah, suara kakinya yang menaiki tangga berdebum. Aku memeluk pot bungaku, memasukkannya ke tas yang telah kupersiapkan sore harinya.


"Sebentar lagi Bi" Aku mengangkat pot itu dan berjalan menuju kearah bibi yang sudah berada diatas anak tangga.


"Ada apa" tanya bibi curiga.


"Jika Kau sakit tidak usah masuk saja, bibi ada dirumah seharian"


"tidak bi, Aku ada kelas penting hari ini. Aku berangkat dulu bi." Aku mencium pipi bibi Sheira. menuruni tangga, melupakan perasaan aneh yang kurasakan beberapa menit yang lalu. Aku naik kedalam mobil, dimana Phil sudah menunggu didalam. Saat mobil melaju, sekilas Aku melihat bibi Sheira berdiri di anak tangga menatap ke arah ruangan tadi dengan ekspresi yang sukar kupahami.


"Yuki, apa kau ada acara hari ini" tanya Haswa teman sebangkuku. Hari ini kelas kosong karena ada rapat guru. Murid-murid yang telah menyelesaikan tugas sibuk mengobrol. Bahkan ada yang sudah menyelinap pergi ke kantin.


"Aku belum tahu, ada apa ?"


"Hari ini club basket akan merayakan kemenangannya. mereka mengundang kita untuk karaoke bersama"


Aku menghela nafas. jika club basket pasti Raymond yang menyuruhnya. Ya, Raymond Gernadus. Cowok populer disekolah, mantan pacarku ketika SMP yang begitu kukenalkan pada Mama langsung ditolak mentah mentah oleh Mama. Tampaknya pintar disekolah, kapten tim basket dan anak keluarga terpandang tidak masuk kriteria Mama. Mama tidak ingin Aku dekat dengan lawan jenis dalam arti khusus,menurutnya Aku masih terlalu kecil. Kami hanya bertahan dua tahun, sebuah perselingkuhan kecil dari Raymond mengakhiri semuanya. tapi sampai sekarang Raymond masih mencariku. bahkan ketika aku mendengar Dia sudah memiliki kekasih. Aku tidak ingin menjadi perusak hubungan orang. tapi Raymond seolah tidak peduli. Baru seminggu kemarin, pacarnya mencaci makiku dengan kasar karena menuduhku merayu Raymond hanya karena kita satu kelompok belajar. Padahal, kelompok itu ditentukan sendiri oleh wali kelas.


"Maaf, ternyata bibi Sheira memintaku pulang cepat" Aku menunjukan pesan dari bibi Sheira yang baru masuk ke handphoneku. bibi Sheira kembali mengirimkan pesan supaya Aku lekas pulang sekarang. Dia sudah menelephon sekolah untuk meminta izin. Aku membalas pesannya, lalu bergegas merapikan buku. "Aku pergi dulu"


"Ah baiklah" ujar Haswa kecewa. Saat Aku keluar kelas, Aku hampir bertabrakan dengan Raymond yang akan masuk kedalam kelas, sontak seluruh murid yang melihat berteriak menggoda. Aku menyingkir. Tanpa melihat kearahnya Aku langsung pergi.


Hubungan kami sudah berakhir.... bisikku pada diri sendiri.


Sesampainya dirumah, Aku melihat mobil Phil sudah terpakir di halaman. Aku langsung masuk dan mendapati bibi Sheira menangis dipelukan Phil. Phil menghibur bibi Sheira dan sesekali mengecup dahinya.


*A*pa yang terjadi ?.

__ADS_1


"Bibi.." panggilku binggung. Bibi bangun dan langsung menghambur ke pelukanku. Tangisnya semakin kencang.


"Ada apa Bibi" Aku membiarkan bibi Sheira menangis sampai dia tenang. Setelah tenang bibi mengusap air matanya. Mengenggam kedua tanganku lembut. "Ada yang ingin bibi tunjukan padamu, ayo ikut bibi"


Dalam kebinggungan Aku mengikuti bibi Sheira. Dia membawaku ke ujung koridor lantai dua. Tempat ruangan tertutup itu. Phil hanya diam mengikutiku dari belakang. Bibi membuka pintu itu. Tiupan angin menyambut kami. Aneh sekali padahal kami berada di dalam rumah. Tapi suasanannya seperti kami berada di padang rumput semalam. Aku melangkah masuk dan langsung terbelak. Pintu tertutup dibelakang.


Didalam ruangan ini Aku melihat ruangan yang keseluruhannya berdinding cermin. Sebuah patung pria berjanggut duduk bersila dengan posisi tangan memegang cawan dan satu tangan memberi restu. Kedua matanya ditutup oleh kain hitam. Keanehan kurasakan, walau dinding ini ditutupi cermin, tapi tidak satupun bayangan kami yang ada didalamnya. Cermin itu kosong.


Bagaimana bisa ?


Simbol bersinar berwarna biru es seperti sulur memanjang, bergerak dengan gerakan acak didalam ruangan.


"Ruangan apa ini bibi"


"Ini adalah ruangan penghubung dunia kita" bisik bibi Sheira dengan ekpresi yang tidak dapat ditebak. Ada kerinduan dan juga kesedihan didalam matanya. Bibi Sheira menutup matanya, bibirnya bergetar. Jiwanya seolah tidak disini. Dia seperti mengingat kehidupannya dimasa lalu. Tak berapa lama bibi Sheira membuka matanya. Keteguhan mengantikan segala kesedihan yang dia tampakan tadi. "Yuki, apa Kau masih ingat cerita soal putri dan pangeran yang diceritakan oleh ibumu"


Aku mengangguk. Mama sering sekali bercerita sampai Aku hafal diluar kepala. alurnya. Cerita mengenai seorang putri bangsawan sebatang kara dan pangeran kerajaan yang menjalin kasih tapi kemudian harus terpisah karena aturan kerajaan. Pangeran harus menikah dengan putri yang sudah dipilih untuknya. Jika dia menolak, maka dia harus mati. Sang putri yang ditinggalkan, pergi untuk mengobati hatinya, Dia bertemu dengan seorang bangsawan yang juga patah hati karena ditinggal istrinya. Singkat cerita mereka saling mendukung sehingga timbul cinta diantara mereka. Tapi pangeran yang telah menikah tidak bisa melupakan sang putri. Betapa marahnya pangeran saat putri menolak kembali padanya dan memilih untuk menikah dengan bangsawan tersebut. Pangeran kemudian mengatur siasat untuk memisahkan keduanya. Putri difitnah dengan kesalahan yang tidak pernah dia lakukan. Saat Dia sedang mengandung empat bulan, kerajaan memutuskan membuang putri ke dunia lain sampai dia dibuktikan tidak bersalah. Bangsawan dan putri itu terus mencintai dari jarak yang tidak terbayang. Bangsawan berjanji dia akan membawa putri kembali walau membutuhkan waktu yang lama sekalipun.


Kadang saat Mama bercerita, Aku merasa dia tengelam dalam lamunannya. Seolah kisah itu adalah kisahnya sendiri.


bibi Sheira mengenggam kedua bahuku. Dia menatap mataku, memohon pengertianku. "Itu adalah cerita soal Ayah dan Ibumu Yuki"


"Apa ?" kataku binggung.


"Dengarkan bibi, Aku adalah pelayan pribadi putri Ransah, Ibumu. Aku dan putri dibuang kemari saat dia mengandung dirimu. Kita bukan orang dari dunia ini. Kita orang dari dunia yang berbeda dimensi dengan dunia ini. Selama ini Ayahmu berusaha membuktikan bahwa ibumu tidak bersalah. Dia berhasil. Kerajaan memutuskan membawa Kau kembali. Sekarang Kau bisa pulang Yuki. kedunia asal kita"


"Apa maksud bibi, Aku tidak paham. bibi jangan bergurau". Aku melepas tangan bibi.


"Yang Aku katakan adalah kenyataan. Kumohon percayalah padaku"


"Phil" Aku menatap Phil memohon. tapi Phil mengelengkan kepala dengan wajah sedih.


"Bukankah ruangan ini sudah membuktikan kebenarannya Swetty" bisiknya sedih.


"Aku tidak percaya" kataku marah. "Jika andaikan itu benar sekalipun, Aku tidak akan kembali ke tempat dimana Mama dibuang seperti itu"


"Kau harus kembali, kita tidak bisa menolak perintah kerajaan. Tapi maafkan bibi Yuki, bibi tidak bisa ikut pulang. Disini, ada seseorang yang Bibi ingin bersama dengannya seumur hidup Bibi"


"Aku tidak mau kembali, tidak"


bibi Sheira menatapku menyerah. Sesuatu di belakangku membuatnya mundur. Lalu membungkuk penuh hormat.


"Saya Sheira Albey, pelayan pribadi putri Ransah memberi hormat kepada pangeran"


"Aku terima hormatmu"


Aku berbalik, terkejut saat seorang pemuda berusia sekitar 25 tahunan muncul. Dia mengenakan pakaian ala kerajaan jaman dahulu. Rambutnya berwarna hitam dengan semburat biru es, sebahu. Tubuhnya tinggi dan kekar. Aku harus mendongak untuk melihatnya. Dia cukup tampan. Kulitnya putih bersih dengan otot yang menonjol dibalik kulitnya.Tetapi, Aku merasakan takut saat melihat tatapannya, matanya berwarna biru es, dingin dan menusuk. Orang yang sukar dipahami dan didekati. Seperti bulan yang dingin dimalam hari. Pemuda itu menangkapku yang hendak berlari pergi. "Aku akan membawamu kembali" ujarnya.


"Lepaskan Aku, tidak....Bibi...tolong" Aku berusaha memberontak. Dibalik punggung pemuda itu,muncul pusaran putih setinggi orang dewasa. Perlahan pusaran itu melahap kami. Aku terus memberontak melepaskan diri. Tapi cengkraman pemuda itu begitu kencang. Tanganku mengapai, memohon pertolongan bibi. Bibi Sheira masih membungkuk, Phil disampingnya menghiburnya yang menangis.

__ADS_1


Kepalaku terasa semakin berat. Aku merasa kesadaranku mulai berkurang. Hal yang terakhir kulihat adalah bibi Sheira berlari sambil menangis untuk mengapai tanganku tapi Phil menahannya.


__ADS_2