Morning Dew

Morning Dew
189


__ADS_3

"Putri, Yang Mulia Raja Bardana ingin bertemu" lapor seorang pelayan yang baru memasuki kamar.


Yuki mengelap mulutnya yang basah. Dia baru saja mengeluarkan semua makan siangnya di dalam kamar mandi. Dia tidak enak badan. Tubuhnya terasa lemas dan tidak bertenaga.


Yuki menganggukan kepala mengerti. "Aku akan bersiap" 


"Yang Mulia sudah berada di istana Pangeran, Dia menunggu Putri di gazebo yang ada di taman tengah"


Di luar salju sedang turun. Gundukan putih tersebar memenuhi pemandangan sekitar. Hawanya terasa sangat dingin. Yuki mengambil mantel yang telah di persiapkan sebelumnya. Setelah membenahi penampilannya sedikit. Dia melangkah keluar kamar.


Para Pengawal dan Pelayan tidak mengikuti Yuki. Raja Bardana dengan tegas telah memberi perintah agar Yuki pergi sendiri untuk menemuinya. 


Langkah kaki Yuki tercetak jelas di belakangnya. 


Ketika Yuki berbelok di persimpangan jalan. Dia berdiri tertegun. Raja Bardana sedang menatap langit sambil merenung. Tatapannya kosong. Ingatannya kembali pada seorang gadis yang dulu selalu mengelayuti Dia sepanjang waktu.


Waktu seolah berhenti. Yuki tidak mampu lagi melangkah. Kakinya terasa lemas. Dia akhirnya duduk di sebuah batu besar yang berada di dekat kolam. Membiarkan salju turun mengenainya.


Yuki tidak tahu, harus bagaimana Dia menghadapi semuanya. Dia tidak tahu apa yang harus Dia lakukan. Apakah Dia mempunyai keberanian untuk bertemu dengan Raja Bardhana.


Entah berapa lama Yuki duduk diam di tempatnya. Ketika sebuah mantel di letakan di pundak Yuki. Yuki tersadar dari lamunannya dan mendongak.


Raja Bardhana berada di samping Yuki. Dia mencari Yuki karena gadis itu tidak juga muncul, padahal para Pelayan telah melapor sebelumnya Yuki sedang menuju ke tempatnya.


"Di sini dingin" Kata Raja Bardhana dengan lembut.


Air mata Yuki sudah tidak terbendung lagi. Dia kembali menangis. Ketika Yuki menunduk, butiran air mata jatuh ke pangkuannya.


"Mama memintaku untuk memaafkan Anda Yang Mulia, Dia mengatakan padaku tidak pernah membenci Anda di sepanjang hidupnya" bisik Yuki lirih. Yuki menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tidak sanggup lagi untuk berkata. Raja Bardhana membungkuk untuk memeluk Yuki di dadanya. Seperti seorang Ayah yang memeluk Putrinya. "Kenapa Yang Mulia melakukannya, Kenapa..."


Raja Bardhana diam. Membiarkan Yuki menangis di dadanya. Menunggunya sampai Yuki tenang dan mampu di ajak berbicara dari hati ke hati.


Setelah akhirnya Yuki cukup tenang, Raja Bardhana mengajak Yuki untuk berlindung di Gazebo. Seorang pelayan datang membawakan teh hangat untuk Mereka berdua. Setelah meletakkan teh di meja, Pelayan itu langsung pergi.


Yuki mengusap wajahnya, menghapus sisa kesedihan yang ada. Raja Bardhana duduk memandang langit sesaat. Sebelum akhirnya Dia berkata tenang. "Sampai sekarang Aku hanya mencintai Ransah. Dia tidak pernah terlupakan dalam hidupku"

__ADS_1


Yuki diam mendengarkan.


"Terlepas apakah ini karena pengaruh dari Ciel atau bukan, Aku tetap mencintainya. Dia adalah gadis yang hangat dan menyenangkan. Sama sepertimu"


Raja Bardhana melihat foto di tangannya. Bukti kebersamaanya dengan Putri Ransah di masa lampau. 


Dia ingat, kala itu Raja Bardhana baru saja pulang bertempur. Wajahnya di penuhi lebam. Putri Ransah diam-diam mencuri telur dari perternakan kerajaan dan merebusnya untuk mengurangi lebam Raja Bardhana. Saat itu, Dia sangat cantik dan menggemaskan.


"Aku pikir ketika Ransah meninggalkan dunia ini ke pengasingannya adalah kesedihan terbesarku. Tapi Aku salah....". Raja Bardhana mengelus pipi Putri Ransah lembut. "Tidak lagi bisa melihatnya, tidak lagi bisa mendengar suaranya dan kemudian berakhir dengan kematiannya adalah penyesalan terbesarku"


"Saat itu, Aku baru saja diangkat sebagai seorang Raja. Aku belum mempunyai kekuatan untuk melindungi Ransah jika Dia berada di sisiku"


 "Jadi Aku membiarkannya pergi meninggalkan kerajaan. Aku pikir dengan begitu sementara Aku bisa menjauhkan Dia dari bahaya sampai Aku punya cukup kekuatan untuk melindunginya di sampingku. Takdir berkata lain, Dia bertemu dengan Ayahmu dan jatuh cinta" kata Raja Bardhana lagi. "Aku masih terlalu muda dan egois waktu itu. Kesalahanku adalah membiarkan Dia pergi dan tidak melindunginya dengan baik"


"Mama tidak ingin Anda hidup dengan menyalahkan diri Anda. Dia memahami kenapa Anda melakukannya. Yang Mama harapkan, Anda bisa berdamai dengan masa lalu" 


Raja Bardhana terdiam beberapa saat. 


"Terimakasih Yuki, telah memberikan surat itu padaku"


"Semoga surat itu bisa mendamaikan Anda Yang Mulia"


"Terimakasih" ujar Raja Bardhana tulus.


Yuki berdiri. Memberi hormat kepada Raja Bardhana dan berlalu pergi.


Yuki memberanikan diri menoleh ke belakang ketika Dia sudah cukup jauh dari Gazebo. Raja Bardhana masih duduk di tempatnya. Meletakan foto di dadanya. Matanya terpenjam. Seolah sedang mengingat masa di mana Dia masih muda, ketika ada Putri Ransah di sisinya.


 


Hari ini Yuki melihat sebuah cinta yang tak lekang oleh waktu dan terhapus oleh jarak. Cinta yang besar dari seorang Pria, yang meskipun sudah menikah berkali-kali. Dia tetap tidak dapat melupakannya. Kesedihan Raja Bardhana membuat Yuki menyadari seberapa besar cintanya pada Putri Ransah.


Kisah cinta Mereka tidak berakhir bersama...


 

__ADS_1


Ketika Yuki baru memasuki lorong untuk kembali ke dalam kamar. Dia berpapasan dengan rombongan Pangeran Riana dan teman-temannya dari arah berlawanan. Putri Marsha ada di antaranya. Melihat kemunculan Yuki, Putri Marsha secara alami langsung berjalan mendekati Pangeran Riana dan berdiri di sisinya. Seperti menunjukan pada Yuki siapa pasangan Pangeran Riana yang sebenarnya.


"Yuki Aku dengar Raja memangilmu untuk berbicara empat mata ?" Sapa Bangsawan Voldermont ketika Mereka sudah saling berhadapan dalam jarak dekat.


Dari sudut mata, Putri Marsha semakin berdiri mendekati Pangeran Riana. Dia bersikap seolah Yuki tidak ada di sana.


"Ya" jawab Yuki singkat.


Bangsawan Voldermont menatap Yuki menyelidik. Dia menemukan sisa air mata di wajah Yuki. Mata Yuki bengkak karena terlalu banyak menangis.


"Apa ada sesuatu yang terjadi ?" Tanya Bangsawan Voldermont kemudian.


Yuki menggelengkan kepala untuk mengelak. "Hari ini Aku sangat lelah, Aku ingin segera kembali ke kamar. Permisi" Kata Yuki lirih.


Yuki berjalan melewati rombongan Pangeran Riana tanpa melihat ke arah Pangeran Riana. Dia ingin segera pergi dan bersembunyi di dalam kamar. Rasanya hanya tempat itu yang aman untuknya.


Namun, Ketika Yuki menoleh. Yuki menyadari Pangeran Riana sudah berjalan di sampingnya. Dia mengikuti Yuki, meninggalkan rombongannya begitu saja. Yuki menundukkan kepala. Berusaha mengacuhkan keberadaan Pangeran Riana.


Ketika Mereka sudah menghilang dari pandangan. Pangeran Riana langsung mencekal tangan Yuki. Menghentikan langkahnya. 


"Apa yang terjadi ?" Tanya Pangeran Riana dengan suara berat.


"Tidak ada apa-apa"


"Lalu kenapa Kau menangis ?. Apa yang Kalian bicarakan ?".


Yuki terdiam beberapa saat. Kemudian menatap Pangeran Riana sedih. "Apakah Kau tahu Ibuku dan Yang Mulia pernah menjalin hubungan ?" 


Pangeran Riana diam. Dari ekpresi di wajahnya Yuki sudah bisa menebak, Pangeran Riana sudah pasti mengetahuinya. Sepertinya hanya Yuki yang tidak tahu apa-apa.


"Siapa yang memberitahukanmu ?. Apakah Ayah"


Yuki menggelengkan kepala pelan. "Mama menulis sebuah surat untukku. Dia menceritakan segalanya di surat itu"


"Lalu..."

__ADS_1


"Dia memintaku memaafkan Raja"


 


__ADS_2