Morning Dew

Morning Dew
290


__ADS_3

Bangsawan Xasfir langsung menghampiri Bangsawan Voldermont yang berusaha bangun. Bangsawan Voldermont tidak menyangka, tangan kecil dan kurus milik Yuki bisa menghasilkan tenaga yang cukup membuatnya kepayahan.


"Apa yang Kau lakukan ?" Tanya Bangsawan Xasfir membantu Bangsawan Voldermont berdiri.


"Cepat kejar Yuki....kejar Dia..." Kata Bangsawan Voldermont pada Pangeran Riana dan Bangsawan Xasfir.


"Berhenti membuat masalah Vold..." Tegur Bangsawan Xasfir mengingatkan.


"Justru bermasalah jika Yuki sampai kabur" kata Bangsawan Voldermont mencoba mengatur nafasnya dengan kesal. "Riana...Yuki...Anak yang di kandung Yuki....anak itu...Anakmu" 


 


Saat Bangsawan Voldermont selesai mengatakannya. Dia menatap wajah Pangeran Riana dan menangkap sebuah senyum kemenangan di sana. Mata Pangeran Riana sedikit menyimpit. Ada binar kegembiraan di dalamnya.


Membuat Bangsawan Voldermont seketika sadar. Rencana apa yang selama ini di jalankan oleh Riana.


Meskipun Yuki sudah menikah dengan Sera, dan Yuki sudah mengatakan hal-hal yang menyakitkan hati Riana untuk membuat Riana pergi meninggalkannya. Tapi Riana masih mengharapkan Yuki kembali. Tapi tentu saja hal itu tidak mudah. Kerajaan Garduete akan menentang keinginan Riana. apalagi Yuki sudah menikah dan menjadi istri dari Sera. Tidak ada yang ingin terjadi perang besar di antara kedua negara hanya untuk seorang wanita di masa sekarang. Jadi Riana merencanakan suatu muslihat agar dapat membawa Yuki dengan dukungan penuh dari kerajaan Garduete.


Membuat Yuki hamil anaknya, sebelum Riana memiliki perwaris tahtah dari wanita lain, agar batu amara kembali bersinar di tangan Yuki. Dengan begitu, kerajaan tidak bisa menolak untuk membantu Riana memperebutkan Yuki kembali.


Sikap Riana yang menolak wanita-wanita yang di hadirkan untuknya selama ini.


Kegigihan Riana untuk memenangkan pertempuran dengan Romawa.


Ternyata hanya untuk mempersiapkan jika saat ini tiba.


Tentunya pertunangannya dengan Marsha adalah salah satu bagian dari rencana Riana untuk mengelabuhi Sera dan Yuki. Sifat acuh dan tidak perduli yang di tunjukan Riana ketika melihat Yuki kembali, juga merupakan bagian rencananya.


Sekarang, Bangsawan Voldermont dapat melihat hal itu dengan jelas.


 


"Anak Riana, Bagaimana bisa ?" Tanya Bangsawan Xasfir terkejut.


Bangsawan Voldermont yang sudah memahami semuanya, menatap lurus ke mata Pangeran Riana didepannya. "Batu Amara kembali bersinar di tangan Yuki. Dia sedang mengandung anak perwaris tahtah selanjutnya dari negeri Garduete"


"Aku akan mengejarnya" kata Pangeran Riana cepat.


"Riana...Biar kami yang akan mengejar Putri Yuki. Lebih baik Kau masuk ke aula dulu dan menemui Raja Bardhana" kata Bangsawan Asry yang muncul bersama beberapa orang prajurit kerajaan Garduete. "Kau juga Xasfir"

__ADS_1


"Apa yang terjadi ?" Tuntut Bangsawan Xasfir menatap Bangsawan Voldermont dan Bangsawan Asry bergantian.


"Tidak ada waktu menjelaskan sekarang. Kalian akan mengetahuinya jika sudah bertemu dengan Raja Bardhana. Aku dan Vold akan mencari Putri Yuki"


Riana tidak membantah. Dia langsung berjalan menuju aula istana kerajaan Garduete diikuti Bangsawan Xasfir di belakangnya.


Bangsawan Voldermont dan Bangsawan Asry langsung memerintahkan prajurit mempersiapkan kuda untuk mengejar Yuki.


 


 


Yuki duduk di  bawah pohon besar, di sebuah perkebunan luas yang menanam sayur mayur, terletak di luar ibukota. Tidak ada siapaoun di sekitarnya. Yuki telah cukup jauh berjalan. Jadi Dia memutuskan untuk beristirahat sejenak. Sebentar lagi hari akan gelap. Yuki sangat lelah. Enam jam berkuda tanpa henti. Kemudian Yuki melanjutkan perjalanan dengan menaiki perahu dan akhirnya Dia sampai di tempatnya yang sekarang.


Kuda yang di bawanya, makan dengan tenang di dekat Yuki.


Yuki menghela nafas panjang sambil menyandarkan punggungnya ke batang pohon di belakangnya. Tatapannya lurus ke depan. Dia sangat kacau sekali.


Yuki tidak memiliki cukup uang untuk berpergian. Dia belum berani ke kota untuk menjual perhiasan yang di pakainya agar dapat di gunakan Yuki bertahan hidup dan ongkos kembali ke rumah keluarga Darmount.


Namun cepat atau lambat Dia harus menjualnya. Yuki mengeluarkan kantung uangnya dan mulai berhitung. Setidaknya Dia harus bisa menemukan tempat untuk bermalam dan semangkuk sup hangat.


Yuki mengambil air dalam botol yang ada di sampingnya dan menghabiskan separuh isinya. Butuh dua minggu perjalanan menuju rumah keluarga Darmount. Selama itu, Yuki harus bisa bertahan hidup dan menghindari kejaran pasukan Garduete. Atau Pangeran Riana....


Kerajaan pasti sudah mencari Yuki sekarang. 


Dia sudah sangat mengenal tabiat Pangeran Riana. Apalagi Putri Marsha sudah membeberkan semuanya. Lebih baik Yuki menghindari Pangeran Riana untuk sementara waktu agar tidak ada lagi timbul masalah baru.


 


 


Yuki mendesah. Dia sangat lapar. Sembari pagi Dia hanya sempat makan dua potong roti. Terdengar suara Gulf dari kantung baju Yuki. Yuki menarik keluar Gulfnya dan mendapati Bangsawan Voldermont kembali menghubunginya.


Yuki tidak memiliki keberanian untuk mengangkat Panggilan Pangeran Sera dan Bangsawan Voldermont yang sembari tadi silih berganti mencoba menghubungi Yuki. Tapi Dia tidak juga bisa menghindari Mereka terus-menerus. Akhirnya setelah berpikir cukup matang. Yuki mengangkat panggilan Bangsawan Voldermont.


"Yuki, Kau ada di mana ?" Tanya Bangsawan Voldermont langsung ketika Mereka sudah terhubung dalam panggilan.


Bangsawan Voldermont duduk di atas kuda. Ada lebam di wajahnya akibat pukulan Yuki dan perkelahian dengan Riana.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Tolong biarkan Aku sendiri" kata Yuki perlahan, tidak ada niat untuk mengatakan posisinya pada Bangsawan Voldermont.


"Kau ada di mana ?" Tanya Bangsawan Voldermont lebih keras. "Riana sudah mengetahui semuanya, sekarang Dia seperti kesetanan mencarimu"


Terasa hembusan angin yang cukup keras di atas pohon. Di susul suara berdebam yang kencang hingga menggetarkan tanah di tempat Yuki duduk. Refleks Yuki mendongak, Dia tertegun ketika melihat Radolft, Naga milik Pangeran Riana sudah berdiri di depannya. Dengan tenang mengayunkan lehernya yang panjang sembari menutup sayapnya.


"Pangeran Riana.." bisik Yuki tertahan. Tanpa sadar Dia langsung menutup Gulfnya. Menutup panggilan dari Bangsawan Voldermont.


 


 


 


Pangeran Riana hanya berdiri diam di tempatnya. Matanya lurus menatap Yuki yang duduk tertegun.


Angin berhembus cukup kencang. Keduanya hanya diam membisu. Namun, Yuki masih bisa merasakan debaran jantungnya yang berdegub kencang.


"Jadi..." Kata Pangeran Riana kencang membuka kesunyian yang terjadi. "Apa semua itu benar ?" Tanyanya lirih.


Yuki berdiri perlahan, terus menatap Pangeran Riana untuk menilai reaksinya. Dia memasukkan kembali Gulf dalam kantung bajunya.


 


"Apakah benar, Kau menikahi Sera untuk menyelamatkan nyawaku waktu itu ?" Pangeran Riana berjalan mendekat. Gerakannya seperti seekor singa yang sedang mengincar mangsanya. Pelan tapi pasti. Matanya lurus menatap Yuki. "Apakah benar bahwa Sera adalah dalang yang menyebarkan kabar mengenai kandunganmu sehingga kerajaan menggugurkannya" 


Yuki menelan ludahnya. Tidak tahu harus mengatakan apa. Rasanya semua yang akan Dia ucapkan akan percuma. 


"Kenapa Kau Diam, jawab Aku !!" Kata Pangeran Riana keras sambil menarik tangan Yuki kuat ke arahnya. Yuki langsung mendorong Pangeran Riana keras. Tapi cekalan di pergelangan tangannya begitu kuat.


"Apa yang terjadi di masa lalu, bukanlah urusanmu Pangeran Riana !" 


"Kau masih bisa bilang ini bukan urusanku ?" Bentak Pangeran Riana marah.


Yuki menatapnya binggung.


Pangeran Riana mengertakan giginya dengan marah. "Kau..."


Pangeran Riana langsung menarik Yuki mendekat, merengkuh wajah Yuki dengan kuat dan langsung mencium bibir Yuki. 

__ADS_1


visual Pangeran Riana Bardhansah



__ADS_2