Morning Dew

Morning Dew
16


__ADS_3

Suasana hening sebentar. Bangsawan Dalto menatapku terdiam.


"Itukah jawabanmu, sayang sekali padahal Aku berharap Kau akan lebih pintar dari Ayahmu Yuki".


Dia menepuk kan tangan dua kali. Dua orang penjaga masuk ke dalam ruangan. Mengapitku sedemikian rupa. Bangsawan Dalto berjalan di depanku. Aku dipaksa untuk mengikuti langkahnya. "Serfa memblokade kekuatanku di istana, Dia pendeta yang hebat. Aku nyaris menyerah karena tidak bisa menemukan celah untuk menembus blokadenya. Semua kekuatan sihirku dipentalkan olehnya. Akhirnya Aku mempunyai ide untuk memberikan pelayan mu aroma tanaman herbal yang memabukkan tanpa sihir sehingga Dia tidak dapat mengontrol dirinya. Memintanya untuk memberikan surat yang dicampuri aroma yang sama kepadamu. Hasilnya, Kau melarikan diri untuk menemuiku. Seperti yang kuharapkan" Ujar Bangsawan Dalto terkekeh puas.


Jadi perasaan yang begitu kuat dari diriku, kenekatan yang tidak kutemukan sebelumnya ada padaku ini adalah akibat dari ramuan itu. Dia menjebakku dengan sangat suksesnya.


Kanan kiri bebatuan disekeliling kuil ini sudah sangat tua, rembesan air dan lumut memenuhi hampir setiap sudut dindingnya. Hawa disini sangat pengap, bau jamur menyatu dengan bau anyir yang memuakkan. Bangsawan Dalto mengajakku memasuki ruang utama kuil. Disana sudah menunggu pasukan prajurit yang terhipnotis. Berjajar rapi di seputaran tangga menuju ke atas altar doa. Ada sebuah batu besar berbentuk mangkuk di atas mimbar. Aku memberontak saat dinaikkan paksa ke atas mangkuk tersebut. Ikatan taliku dilepas. sebuah kerangkeng berbentuk sarang burung di turunkan ke atas. Membuatku benar-benar bagaikan burung dalam sangkar.


"Aku benar-benar tidak ingin melakukan hal ini, Aku sudah berusaha menghindarimu untuk menghindarkan dari masalah ini, Tapi Kau sama sekali tidak mau bekerja sama dan malah merengek, menangis, mengoyahkan imanku."


"Apa yang akan kau lakukan ?"


"Sedikit Yuki, hanya sedikit saja Aku meminta darahmu lalu kita akan menguasai dunia bersama. Mungkin Kau sekarang tidak menyadari bagaimana nikmatnya menjadi pemimpin diatas segalanya. Tak apa, Aku akan menunjukan padamu nanti agar Kau paham"


"Apa Kau tidak mengerti akibat perbuatanmu ini, Jika iblis itu berhasil meminum darahku, Dia akan memiliki kekuatan tanpa batas. Dunia akan kiamat" seruku untuk menyadarkannya dari kegilaan yang memenuhi kepalanya. Dia seolah sudah di cuci otak.


"Perlu banyak pengorbanan untuk menciptakan dunia yang damai" Jawab Bangsawan Dalto lantang.


"Jutaan manusia akan mati karena ini" Kataku lagi lebih keras. "Pikirkanlah sebelum bertindak, Aku mohon sebelum terlambat"


Bangsawan Dalto memandangku sembari tersenyum. Ada kesedihan di matanya yang terasa menusuk sampai ke hati. Apa yang sudah Dia lalui selama ini bukanlah hal yang indah, kesedihan yang menumpuk terlalu lama menimbulkan kebencian dalam dirinya. Dia memakai tudungnya, berjalan menaiki Altar.


"Sudah waktunya" Katanya sembari memandang bulan biru yang sudah berada tepat diatas kepala.


"Aku mohon...hentikan" Kataku lagi.


Bangsawan Dalto tidak mengindahkan omonganku. Dia merentangkan tangan lebar ke atas mengucapkan mantera dengan cepat.


sebuah geraman keras terdengar membuatku takut.


"Kakek" muncullah api besar berbentuk wajah iblis berwarna merah di altar. Sekilas Dia seperti orang tua pada umumnya, memiliki janggut dan rambut panjang berwarna putih. Dia bertanduk kerbau dengan mata berwarna merah darah. Tawa iblis terdengar mengelegar memenuhi seisi kuil.


"Oh Ciel yang sangat cantik, Pantas saja Kau begitu tergila-gila padanya" Ujar Iblis yang di panggil kakek oleh Bangsawan Dalto.


"Yuki perkenalkan...Dia adalah Trasfis Dalto, Kakekku" Ujar Bangsawan Dalto bangga.


"Apa" Kataku Kaget. Iblis itu adalah Kakek Bangsawan Dalto. Bukankah kedua orang tuanya membakar seluruh pengikut dalam kuil untuk melawan iblis itu. Tapi kenapa, Iblis itu ternyata masih keluarga Bangsawan Dalto.


Seolah mengetahui jalan pikiranku, Bangsawan Dalto kembali berucap " Dalam catatan rahasia yang kutemukan di tempat kerja kakekku, Aku menemukan fakta bahwa Kakek yang terobsesi dalam pemburuan peninggalan jaman dulu berhasil menemukan tempat terlarang yang selama ini di telusurinya. Tempat di mana sihir terbesar ada. Kakek mempelajari sihir itu dan bahkan rela menjual dirinya untuk menjadi apa yang Kau lihat sekarang"


"Dengan kekuatannya Dia mulai mencari pengikutnya dan membuat kerajaannya sendiri namun sayang langkahnya terhenti di tengah jalan ketika Ibuku berhasil mempengaruhi Ayah untuk melawan Kakek"


"Sudah hentikan cerita masa lalu yang buruk itu, Bulan biru sudah diatas kepala..Aku harus segera mendapatkan darahnya atau kita tidak akan dapat kesempatan langka ini lagi" geram iblis itu keras. Bangsawan Dalto kembali bersiap, Para prajurit datang dengan membawa nampan dan perlengkapan upacara keagamaan. Sambil mengucapkan mantera Bangsawan Dalto melakukan ritualnya. Aku menatap mereka dengan perasaan takut. Tidak akan ada yang menolongku sekarang. Tidak ada yang tahu Aku di sini. Inilah Akhirku.


Aku akan mati disini dengan satu penyesalan. Aku mati dengan membawa akibat buruk pada seluruh umat manusia ke depannya. Aku lah penyebab bencana yang akan terjadi nanti. Geraman keras dari iblis terdengar membahana. Matanya berwarna merah terang dengan Api yang semakin tinggi menjilat sekitarnya. Panas.


Sulur-sulur berwarna kemerahan menjalar keluar dari iblis itu. Dengan gerakan yang konstan mereka merambat menuju ke arahku. Aku memperhatikan itu semua dengan jantung berdegub kencang, Dalam hati Aku tidak henti-hentinya berdoa agar ini semua segera berakhir.


Jleebbb


Jantungku serasa berhenti ketika sebuah sulur seakan menusuk tubuhku. belum hilang rasa sakitnya, tusukan lain menembusku di beberapa tempat disusul rasa sakitnya. Aku terhempas ke bawah, meringkuk merasakan sakit. nafasku tersenggal-senggal menahan rasa nyeri yang mendera sekujur tubuhku. Tapi....ternyata ini baru permulaan.


saat iblis itu membuka mata berbarengan dengan teriakan doa akhir dari Bangsawan Dalto, Aku menjerit nyaring. Darahku mengalir pelan di dalam sulur tersebut bergerak maju ke arah iblis itu. Mereka menghisapku sedemikian rupa. Rasanya seperti seolah seluruh organ tubuhmu ditarik paksa dari berbagai tempat.


"Hentikannn.....Aaaaaaaaa" Aku mengelepar kesakitan. Namun seberapapun Aku mencoba melepaskan diri, menarik sulur itu pergi, darahku malah muncrat keluar dan sulur itu kembali menghujamku bahkan lebih keras. Lolongan kesakitanku terasa sampai ke ubun-ubun. Dalam pergulatanku antara hidup dan mati, Aku dapat melihat Bangsawan Dalto terbelak memandangku. Rasanya Aku melihatnya kembali seperti seseorang yang kukenal. Darah semakin banyak keluar dari tubuhku, entah karena di hisap oleh iblis itu atau karena mengalir keluar akibat luka yang di akibatkan ketika Aku memaksa mencabut beberapa sulur dari badanku. Seluruh tubuhku memerah oleh darahku sendiri.


Aku tidak kuat lagi dan ambruk. Pandangan mataku bertemu dengan Bangsawan Dalto. Aku menatapnya untuk terakhir kalinya, jika ini akhirku. Setidaknya Dia harus mengerti jika Aku masih menyayanginya. Aku merasa menyesal terlambat untuk menyelamatkannya sehingga Dia mengambil keputusan yang salah seperti ini. Rasa depresi dan hinaan yang terus ditujukan padanya lah yang menyebabkan Dia senekat ini. Ada kalimat yang pernah ku dengar terus tergiang di kepalaku. Aku tidak menyangka bisa memikirkannya di akhir ajalku.


orang jahat berasal dari orang baik yang sering tersakiti.


Mungkin inilah yang cocok mengambarkan apa yang terjadi dengan Bangsawan Dalto.


Pandanganku mulai mengabur. Aku menghela nafas. Detik-detik kematianku semakin tiba.


Ayah, Mama, maafkan Aku harus pergi dengan cara begini.


"Hentikan...cukup...Dia akan mati" teriak Bangsawan Dalto kencang. "Kau bilang hanya memerluhkan sedikit darahnya, Tapi apa yang terjadi sekarang, Kau akan membunuhnya"


"Diam, Darah Ciel memang akan memberiku kekuatan dasyat, Tapi meminum darahnya sampai habis sekaligus mengambil kehidupannya akan membuatku lebih tidak terkalahkan"


"Kau menipuku...Hentikan sekarang juga"


"Diam Kau...sedikit lagi kita akan berhasil. jangan mengacau seperti Ayahmu. Karena termakan rayuan wanita Dia mengkhianatiku dan akhirnya melawanku. Demi kemanusiaan...Bah...Apa yang Dia dapatkan karena membela mereka, Jika Dia mau mendengarkanku waktu itu. Dia tidak akan mati terhina di tiang gantungan" Guman iblis itu kesal. "Untung saja anakku yang lain berhasil memberikan bukti palsu sehingga Kedua orang tuamu di tuduh tanpa bisa membela diri. Jika tidak mereka akan membuka mulut dan rencana yang sudah ku susun selama ini gagal. Kalau bukan karena harus keturunan laki-laki yang bisa membangkitkanku kembali, Putriku tidak harus bersusah payah hidupnya selama ini di negeri lain. Sebenarnya Kau menemukan buku ku itu adalah bagian dari rencananya, bukan kebetulan semata seperti yang Kau kira. Sekarang jadilah keluarga Dalto yang baik seperti Bibimu. Jadilah pengikutku selanjutnya untuk menguasai dunia"


"Jadi Kalian lah membunuh orang tuaku"


"Mereka sampah untuk apa Kau indahkan. Selalu ada yang harus Kau korbankan untuk mencapai tujuanmu, termasuk gadis itu"


Bangsawan Dalto berjalan mendekatiku yang sudah lemas. Dia menatapku dingin. Ada keputusan yang baru saja dibuatnya.


"Kau salah" bisik Bangsawan Dalto dingin. tiba-tiba Dia mengangkat pedangnya dan memotong secepat kilat sulur-sulur yang menancap padaku dengan sekali tebas. Aku tersentak kebelakang ketika rasa sakit tercabut semua dari tubuhku. Darah menetes dari sulur yang masih menancap di tubuhku, yang kini sudah tidak menghisap apapun.

__ADS_1


"Apa yang Kau lakukan" Geram iblis itu marah.


"Aku tidak akan mengorbankannya untuk tujuanku" jawab Bangsawan Dalto tegas.


"Anak tak berguna" Sebuah sulur mengayun dengan cepat menghantam Bangsawan Dalto. Dia terlempar ke arahku. Membuat mangkuk tempatku berada terguling ke bawah. Aku mengelinding jatuh sampai pertengahan tangga. Aku sama sekali tidak bergerak. Tenagaku telah habis terkuras.


Bangsawan Dalto bangkit, darah segar keluar dari mulutnya.


"Kau sama saja seperti Ayahmu yang tak berguna itu"


Sekali lagi sulur itu menghantam Bangsawan Dalto. Dia melawan kali ini. Tapi tetap tenaganya tidak sebanding dengan kekuatan iblis itu. Duel berlangsung tidak seimbang. Bangsawan Dalto terhantam kembali menabrak dinding. "Sampah di keluarga seperti mu dan Ayahmu memang pantas untuk dibunuh" Ujar Iblis itu saat berhasil menangkap Bangsawan Dalto, melilitkan sulutnya membelit Bangsawan Dalto dan mengangkatnya ke atas sehingga Dia tidak dapat bergerak. "Kau ingin mati bersama gadis itu, Akan kukabulkan".


Bangsawan Dalto tertawa terbahak-bahak. Ada rasa puas dalam dirinya yang tidak kumengerti.


"Yuki.." Panggil Bangsawan Dalto. Aku hanya dapat berkedip untuk merespon. Ujung jariku pun rasanya berat untuk digerakan. "Maaf sudah membuatmu mengalami hal ini, Tapi setidaknya Aku bisa memperbaiki kesalahanku."


"Perpisahan yang menarik, Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi. Aku akan membunuhnya dan membunuhmu setelahnya. Betapa menyenangkan melihatmu menderita melihat gadis yang Kau cintai mati perlahan di depanmu"


"Jika Kau membunuhnya Kami akan menyesal"


"Ha..ha..ha...Kau mau mengancamku"


"Aku mengingatkanmu, Bulan biru sudah lewat. Kematiannya justru akan merugikanmu sekarang"


"Apa...sialan Kau"


Iblis itu melempar Bangsawan Dalto ke lantai. Dia melihat ke langit dimana bulan biru sudah tidak lagi berada di puncaknya.


"Kau tidak bisa membunuhnya jika menginginkan seorang Ciel untuk bulan biru yang akan datang tiga ratus tahun lagi, Atau Kau punya cadangan Ciel lain untuk Kau ternakan selama itu ?"


Terdengar geraman rendah dari atas langit. Bukan geraman buas dari iblis ini, melainkan geraman lain yang penuh amarah dari luar sana. Atap ambrol tanpa di duga. Bebatuan berjatuhan dari atas sana.


"Yuki..." Bangsawan Dalto menerjangku. Melindungiku dari bebatuan yang menghujam tanpa ampun di bawah. Bayangan besar menerjang masuk ke dalam Kuil-Raldoft mendarat sempurna tak jauh dari tempatku, dengan Pangeran Riana menunganginya. Sementara itu dari luar pintu di dobrak paksa, Para prajurit kerajaan masuk. Serfa ada di sana. Merampalkan mantera untuk melawan iblis yang menyerang.


Pangeran Riana turun untuk membantu menyerang.


"Yuki...tidak...yuki" Bangsawan Dalto menepuk wajahku, mencoba mengembalikan kesadaranku.


"Syu...syukurlah...." kataku dengan nafas terengah. "Kau...su....sudah...kem...ba..li"


"Yuki...." Panggil Bangsawan Dalto lagi lebih keras. Bangsawan Voldermon muncul bersama.Bangsawan Asry.


"Astaga Yuki" Panggil Bangsawan Voldermon terkejut. "Minggir" Bangsawan Voldermon mendorong Bangsawan Dalto menjauh. Dia lantas memposisikan diriku sedemikian rupa.


"Dia mengalami pendarahan yang hebat, Tapi kita harus mencabut sulur yang masih menancap. Jika tidak darahnya akan terus mengalir keluar" Ujar Bangsawan Asry setelah memeriksa lukaku.


"Maaf Putri ini akan terasa sakit"


Aku berteriak nyaring ketika sebuah sulur dicabut dari badanku. Bangsawan Asry langsung menekan lukaku agar darahnya tidak mengalir keluar. "Bertahanlah Putri" Pinta Bangsawan Asry terdengar tulus sambil mencabut kembali sulur yang masih tersisa di tubuhku.


"Yuki...Yuki.."


"Putri Yuki..."


Aku merasakan kejang di seluruh tubuhku. Kesadaranku semakin tengelam.


"Serfa...cepat kemari"


Rasa sakit di tubuhku terasa menjalar. Ribuan jarum seolah ditusuk secara berbarengan. Aku tidak tahu bagian mana yang paling sakit atau bagian mana yang tidak merasakan apapun. Semua terasa berbeda di lain waktu.


Aku seolah bisa melihat flashback hidupku yang lalu. Aku duduk di sekolah mengobrol bersama teman-temanku. Membahas hal-hal ringan mengenai kehidupan kami. Mungkin jika Aku masih di sana, permasalahan utamaku hanyalah bagaimana cara menghindari Raymond, Tidak berkecimpung dengan darah dan kematian seperti sekarang ini.


Aku terus bertanya apakah Aku masih hidup atau sudah mati. Seluruhnya tampak seperti kegelapan yang hilang timbul dengan bayangan masa laluku. Apakah dalam kematian rasa sakit masih akan tetap terasa ? . Aku berusaha bangkit dari keterpurukan, menggapai berusaha menemukan cahaya yang nyata. Aku tidak tahu bagaimana akhir pertempuran itu, Apakah Pangeran bisa memenangkan pertempuran ataukah Kami gagal dan membiarkan dunia menjadi kiamat. Bagaimana nasib Bangsawan Dalto. Bagaimana Pangeran bisa menemukan Kami tepat pada waktunya. Aku ingin hidup....banyak pertanyaan yang masih harus ku temukan jawabannya. Bisakah Aku mendapat kesempatan untuk melihat dunia lagi.


Aku menggapai sesuatu yang kosong. Disini sangat gelap. Hanya ada Aku sendiri terapung dalam kegelapan itu.


yuki.....


Terdengar suara yang memanggilku.


Mama....


Oh pasti Aku sudah mati. Aku bisa merasakan kehadiran Mama di dekatku. Mungkin sebentar lagi kita akan bertemu diperbatasan sungai untuk berkumpul kembali.


yuki...bangunlah....


Mama..


berjuanglah, Kau tidak boleh menyerah.


terasa sebuah tangan menarikku lembut. menuntunku ke arah yang benar. Tempat cahaya di mana Aku bisa keluar dari kegelapan ini.


bangunlah....yuki...

__ADS_1


Aku membuka mata. Tidak ada siapapun di sini. Di atasku ada lubang sebesar manusia berisikan cahaya yang menyilaukan. Aku mengulurkan tanganku. Memasuki cahaya itu. Memanjat keluar dari kegelapan panjang tanpa akhir.


Aku membuka mata perlahan. Memicingkan mata saat melihat sinar yang menyilaukan di depanku. Rasa sakit kembali mendera tubuhku dengan nyata.


"Bangun...Putri Yuki sudah sadar" teriak seorang pelayan girang. Terdengar langkah kaki yang datang dan menjauh di iringi teriakan histeris pelayan di luar. Aku memalingkan wajahku sedikit. menelusuri setiap jengkal dengan mataku. Aku berada di kamarku. Tampaknya Aku masih hidup. Seluruh tubuhku di perban. Satu lenganku tampak mengalami patah tulang melihat bagaimana cara mereka membungkusku.


Aroma terapi dan bau obat menyatu dalam kamar.


Terdengar suara pintu di buka. Rena muncul dengan terenggah-enggah. "Putri..." Air mata kebahagiaan tampak jelas di matanya. "Syukurlah...Putri selamat...terimakasih dewa"


"A...Ak...u"


"Putri jangan terlalu banyak bergerak terlebih dahulu. Pelayan telah memanggil Pangeran dan Pendeta Serfa. Putri Akan baik-baik saja"


Rupanya Pangeran juga selamat. Syukurlah.


Pendeta Serfa datang tak lama kemudian. Dia langsung memeriksa nadiku.


"Serfa Bagaimana ?" Pangeran muncul kemudian disusul Bangsawan Voldermon di belakangnya.


"Putri baru saja melewati masa kritis. Kita akan melihat perkembangan Putri tiga hari ke depan untuk menentukan perawatan lanjutan yang tepat. Saya akan menyiapkan ramuan untuk memulihkan kondisi Putri Yuki"


Bangsawan Voldermon menghampiri Ku yang masih diperiksa Serfa. "Aku tau Kau akan baik-baik saja. Kau ini kan kucing liar yang mempunyai sembilan nyawa" Katanya bangga. Aku hanya bisa sedikit tersenyum mendengar selorohnya. Tampaknya untuk sementara semua berakhir baik-baik saja.


Aku telah melewati masa kritis. Setengah perban di tubuhku sudah di lepas. Ada 13 tusukan di tubuhku. Tangan kananku mengalami pegeseran sendi, kemungkinan Akibat jatuh dari tangga. Ada banyak lecet lain di tubuhku. Mata kiriku agak bengkak karena terbentur saat menghempas lantai.


Sampai sekarang Aku masih tidak percaya Aku masih hidup. Menurut Rena Aku sudah koma selama satu minggu. Selama itu sudah tiga kali jantungku sempat berhenti berdetak. Para pelayan terus berjaga bergiliran, tidak membiarkanku sendiri barang satu detik. Pangeran sering tidur di sofa di sampingku selama Aku tidak sadarkan diri. Raja juga sering mengunjungiku langsung untuk melihat kondisiku.


Ini sudah hari kelima semenjak Aku sadar. Aku sudah mulai bisa berjalan lagi walaupun sangat lambat. Aku tidak bisa bergerak terlalu cepat, khawatir luka tusukan di tubuhku akan robek kembali. Pangeran sering sekali membantuku untuk membersihkan tubuhku atau mengantikanku baju. Bahkan Dia tak sungkan menyisir rambutku di depan para pelayan. Dia tidak banyak berbicara mengenai kejadian itu. Dia juga melarang para pelayan membahasnya jika Aku bertanya kepada mereka. Aku menunggu Bangsawan Voldermon datang mengunjungiku, Biasanya Dia lebih terbuka dan rileks ketimbang saudaranya yang satu ini.


"Ku dengar Kau terus mencariku ?"


Akhirnya apa yang ku tunggu datang juga. Bangsawan Voldermon memasuki kamar dengan suasana hati yang cukup senang. Aku meletakkan makanan yang sedang ku makan. Rena menungguku di samping dengan sabar.


"Suasana hatimu sedang bahagia ?"


"Tentu saja melihatmu hidup Aku sangat bahagia" Selorohnya sembari menarik kursi ke samping ranjangku.


"Oh ya, Apa bukan karena Kau menemukan korban baru untuk Kau cabuli. Anak gadis ke empat saudagar Zubira misalnya"


"Walaupun sakit tapi mulutmu sehat rupanya"


Aku tertawa mendengar ucapan Bangsawan Voldermon.


"Apa yang ingin Kau tanyakan ?" Tanya Bangsawan Voldermon santai.


"Kau tau tujuanku ?" cengirku senang.


"Mulailah Aku akan menjawab mumpung Riana tidak akan kembali sampai nanti malam"


"Bagaimana Kalian bisa menemukanku di sana" Rena tampak menegang mendengar topik pembicaraan Kami. Dia seperti Pangeran terlalu over protektif.


"Aku pernah memasangkan Anting di telingamu, Apa kau ingat ?" Aku refleks meraba telingaku. Sekarang sudah tidak ada apa-apa di sana.


"Itu adalah anting terbuat dari batu almira yang jika terkena kekuatan sihir, dapat mengeluarkan sinyal yang bisa ditangkap oleh Serfa"


"Semacam alat pelacak ?" Tanyaku tak yakin.


"Ya semacam itu."


"Jadi kalian memberiku alat pelacak ?"


"Hey jangan marah, itu ide Riana. Dia khawatir Kau berhasil di tipu daya oleh Dalto untuk membawamu ke markasnya. Awalnya Kami ingin memakaimu sebagai pancingan tapi Riana menolak mentah-mentah ide itu."


"Tunggu sebentar" Kataku memotong omongan Bangsawan Voldermon.


"Pangeran sudah mencurigai Bangsawan Dalto, sejak kapan ?"


Bangsawan Voldermon tampak berpikir sejenak. "Sejak Ayahmu terbunuh. Dia melihat hanya Dalto lah yang kemungkinan besar dapat dengan mudah di terima Ayahmu pada malam hari sebelum kematiannya, Dan Dia sangat punya banyak kesempatan untuk mengetahui jati dirimu"


Jadi Pangeran sudah mencurigainya dari awal. Dia bahkan bisa memprediksinya secara cepat.


"Tapi Riana tidak punya bukti apa-apa untuk mendukungnya, namun kecurigaannya semakin runcing ketika para korban yang mulai berjatuhan adalah para bangsawan yang bermasalah dengannya. Walaupun pada Akhirnya Dalto berusaha menyamarkan pembunuhan ini dengan pembunuhan acak lainnya" jelas Bangsawan Voldermon lagi.


"Ditambah, Saat kejadian di pemakaman Norah. Melihat dari serangannya itu seperti serangan fatal namun ternyata hanya main main. Jika menilik dari kekuatan sihir yang selama ini di gunakan. Kita tidak mungkin akan hidup saat serangan itu terjadi. Tampaknya Dalto sudah mulai merasa bahwa Dia di awasi, karenanya Dia berusaha membuat berbagai cara agar dirinya bebas dari tuduhan. Namun itulah yang malah membuatnya lebih menonjol daripada yang lain".


Aku menarik nafas panjang mendengarnya. Aku sama sekali tidak menyangka sampai sekarang bahwa Bangsawan Dalto akan senekat itu.


"Lalu bagaimana akhir cerita dari pertempuran itu ?"


"Iblis itu berhasil lolos, Semua pasukan terhipnotis sudah di sadarkan dan semua korban sudah di kembalikan ke keluarganya masing masing untuk diberi pemakaman yang layak. Kami sudah melakukan pencarian besar-besaran. Tapi Dia menghilang. Aku tidak tahu apakah Kita disebut beruntung atau tidak, Iblis itu berhasil meminum darahmu tapi tidak berhasil merebut kehidupanmu. Yang Artinya Dia hanya mendapatkan setengah dari kekuatan yang seharusnya Dia dapat. Namun tetap saja..." Bangsawan Voldermon terdiam sebentar. Dia agak ragu mengucapkannya.


"Tetap saja setengah kekuatan itu walau tidak menyebabkan kiamat tapi bisa membunuh banyak manusia dalam sekejap" bisikku.

__ADS_1


Bangsawan Voldermon mengangguk pelan menyetujui. Kami terdiam cukup lama dengan pikiran masing-masing.


"Lalu....Bagaimana dengan Bangsawan Dalto ?" Bisikku lirih.


__ADS_2