
"Maaf apakah Pendeta Serfa ada ?" sapaku pada Bangsawan Xasfir dan Bangsawan Asry yang baru membuka pintu. Nafasku terengah-engah karena berlari menaiki tangga. Tadi sewaktu akan menuju tempat janji temu dengan Bangsawan Dalto ditaman, Aku melihat Bangsawan Asry dan Bangsawan Xasfir berjalan dilorong menuju ruangan pribadi pangeran disekolah. Akhirnya tanpa pikir panjang Aku berlari menuju kearah mereka.
"Bukankah Kau adalah putri keluarga Olwrendho" ujar Bangsawan Asry mengenali. Aku mengangguk.
"Wow...wow siapa ini" Aku langsung mencembik saat mendengar suara orang yang paling Kubenci. Selama ini Aku sudah mati-matian menghindarinya. Tapi kini kenapa Aku harus bertemu. Bangsawan Voldermon berjalan riang menuju kearahku.
"Aku sudah lama mencarimu, tapi Kau ini seperti belut susah sekali ditangkap" ternyata omongannya yang mengajakku makan malam dipertemuan pertama itu serius. Beberapa kali Dia mencariku. Aku selalu berhasil menghindar. "Jadi apa sekarang Kau ada waktu untuk berkencan"
"Aku mencari Pendeta Serfa" ujarku menegaskan.
"Atau makan malam". Bangsawan Voldermon terus melanjutkan ocehannya, tidak peduli dengan penegasanku.
"Sudahlah Vold, jangan menggangunya" ujar Bangsawan Asry melerai.
"Aku tidak menganggunya, Dia yang mengangguku. Benarkan kucing kecil ?"
"Aku tidak kesini untuk mencarimu atau menganggumu" kataku gusar. "Aku kemari untuk..." perkataanku terputus. Bangsawan Voldermon mencium pipiku. Aku langsung menarik diri, dan refleks menamparnya marah.
"Apa yang Kau lakukan ?" kataku keras. Bangsawan Xasfir langsung memegangku agar tidak menyerang Bangsawan Voldermon. Aku mengusap bekas ciumannya dengan rasa jijik. "Kau pikir karena banyak wanita ingin bersamamu lantas Kau menganggap semua wanita sama ?" Aku menatap marah kearah Bangsawan Voldermon. "Lepaskan Aku Bangsawan Xasfir, Aku harus menghajarnya"
Aku terus memberontak melepaskan diri. Tapi tenaga Bangsawan Xasfir tidak sebanding denganku. "Dengar kan Aku baik baik, walau Kau cium Aku dari ujung rambut sampai ujung kaki Aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu, tidak akan pernah,jadi berhentilah mengangguku"
"Ada apa ini" Pangeran Riana muncul bersama Pendera Serfa. Dia memandangi Kami bergantian. Ekpresinya dingin dan tidak bersahabat. Kabarnya Dia frustasi memikirkan dimana dewa menyembunyikan calon ratunya.
"Hanya kesalahpahaman kecil" jawab Bangsawan Voldermon santai. "Xasfir lepaskan kucing kecil ini".
"Aku akan melepaskanmu jika Kau berjanji tidak akan menyerangnya" ujar Bangsawan Xasfir padaku.
"Aku janji" jawabku akhirnya. Sangat tidak baik bermasalah dengan Pangeran Riana dalam suasana hatinya yang seperti sekarang. Bangsawan Xasfir melepaskan Aku. Pangeran Riana melewatiku masuk ke dalam ruangan. "Aku akan masuk kedalam, Serfa Dia ada perlu denganmu" ujar Bangsawan Xasfir sambil memegang Bangsawan Voldermon. Menariknya untuk mengikutinya. Bangsawan Asry berada dibelakang mereka.
"Ada apa Putri" tanya Serfa tenang.
"Aku menemukan ini kemarin,Aku pikir ini adalah milikmu" kataku sambil menunjukan bungkusan kain yang Kubawa.
"Ah benar, Aku kira jatuh dimana. Terimakasih sudah mengembalikannya" ujar Serfa menerima bungkusan itu.
"Kalau begitu Aku permisi dulu" Aku berpamitan dan bergegas pergi. Dipertengahan jalan Aku melihat Bangsawan Dalto berjalan kearahku dengan perasaan cemas.
"Dari mana saja Kau..bukannya Aku bilang untuk menunggu"
"Maaf, tadi Aku melihat mereka jadi sekalian saja Aku kembalikan"
"Kau ini, jangan berurusan dengan Pangeran dalam kondisi seperti ini. salah-salah Kau bisa dihukum"
"Aku mengerti" Aku mengernyit melihat ada luka lebam yang baru di bibirnya. Padahal luka yang kemarin saja belum sembuh, ini sudah ada luka baru. "Siapa yang memukulmu"
"Ini bukan apa apa"
"Apanya yang bukan apa apa, jika ada yang menyakitimu balaslah. Kau berhak melakukannya"
Bangsawan Dalto tersenyum, sambil mengacak acak rambutku. "Aku serius"
"Baik...baik...tuan putri,lupakan lukaku,ayo Kita kekelas sekarang sebentar lagi pelajaran akan dimulai"
Aku berjalan bersama Bangsawan Dalto menuju ke kelas ketika bel masuk berbunyi.
Elber meletakkan selembar undangan diatas meja didepanku, ketika Aku sedang menulis tugas sekolah. Dia duduk dibangku depanku menatapku dengan sorot berharap.
"Tidak" kataku tegas.
"Ayolah Yuki, pertimbangkanlah perasaanku yang setiap hari di rongrong mereka untuk mengajakmu ke pesta dansa"
"Aku tidak berminat dengan pesta seperti itu"
"Jadi seperti apa pesta yang Kau inginkan ?"
"Elber" hardikku marah.
"Kau tau gara gara sikapmu inilah Bangsawan Dalto terkena lebih banyak masalah"
"Apa maksudmu" tanyaku terkejut.
"Gara-gara Kau menolak berteman dengan bangsawan lain dan terus mengekori Dangsawan Dalto, para bangsawan beranggapan bahwa Bangsawan Dalto telah menjelek-jelekkan mereka sehingga Kau menghindari mereka"
"Aku bersumpah, Dia tidak pernah melakukan hal seperti itu"
"Aku percaya, tapi tidak bangsawan yang ingin dekat denganmu. Mereka semakin menyiksa Bangsawan Dalto". Aku berpikir benar juga, beberapa hari ini Dia memang sering terluka akibat dikerjain temannya.
"Jadi apa yang harus kulakukan" kataku menyerah. Elber tersenyum senang. "Cukup mudah, hadiri saja salah satu pesta yang mereka adakan, setidaknya mereka tau Kau tidak menghindari mereka seperti yang mereka tuduhkan"
Aku menghela nafas. "Tapi tidak hari ini, Raja memanggilku untuk makan malam"
"Kalau begitu besok"
"Sebenarnya berapa banyak undangan pesta dansa yang Kau punya ?" sindirku kesal. Elber hanya nyengir. Dia duduk menyilangkan kakinya yang jenjang.
"Ngomong-ngomong Yuki, kenapa Raja mengundangmu makan malam ?"
Aku mengangkat bahu acuh. "Hanya makan malam biasa, kenapa ?"
"Jangan sampai Raja berniat menjadikanmu wanitanya atau wanita Pangeran Riana"
Aku mencubit Elber gemas. Elber mengaduh kesakitan. "Apa yang kau bicarakan, sembarangan, usia Raja bahkan lebih tua dari Ayah. Dia tidak mungkin mau menjadikanku sebagai wanitanya. Kau jangan menakutiku"
"Didunia ini hal seperti itu sudah biasa" kilah Elber tidak mau kalah. "Umurmu sebentar lagi sudah enam belas tahun, secara hukum Kau sudah dewasa dan dapat dinikahi. apa Kau tidak tahu, kekasih Raja yang terakhir masih berusia 22 tahun.Dia menikah dengan Raja saat usianya baru menginjak enam belas "
Didunia ini ada aturan ketat bahwa seorang gadis tidak boleh menikah atau disetubuhi sebelum usianya menginjak enam belas tahun karena dipercaya dapat membuat dewa murka dan melimpahkan bencana pada negeri. Barang siapa yang melanggar, siapapun itu akan dihukum mati untuk meredakan kemarahan dewa.
"Elber kenapa Kau senang sekali menakutiku" gerutuku marah.
"Aku hanya mengingatkan, tapi jika Kau beruntung Raja mungkin akan menikahkanmu dengan Pangeran Riana"
__ADS_1
"Elber" panggilku lagi kali ini lebih tegas agar Dia berhenti. Jujur saja omongannya membuatku takut.
Malam harinya, Aku datang ke istana Raja seorang diri. Ayah harus pergi ke Negeri Zalea untuk mengurus kerjasama kerajaan disana selama beberapa minggu. Rasanya tidak tenang datang seorang diri. Apalagi gara-gara Elber berbicara yang bukan-bukan. Jelas sekarang Aku merasa takut. Raja mengajakku untuk makan malam bersama dengan Pangeran dan Pendeta Serfa. Kami makan di sebuah gazebo dekat sungai yang alirnya mengalir. Wajah Pangeran Riana dan Pendeta Serfa masih tegang karena masalah calon ratu yang belum diketemukan. Serfa menunduk disampingku, sambil memegang batu kerikil yang pernah kutemukan dulu. Anehnya batu itu tidak bersinar saat Dia menyentuhnya.
"Putri Yuki" Aku terperanjat ketika Raja memanggilku sembari menepuk tanganku.
"Iya Yang Mulia" kataku merasa tidak enak.
"Apa yang Kau pikirkan, apa makanannya tidak sesuai seleramu ?"
"Tidak yang mulia, Saya hanya memikirkan batu yang dipegang Pendeta Serfa. Kenapa batu itu tidak bersinar"
"Ini adalah batu Amara, batu yang diberkahi dewa. Hanya penerus tahtah saja yang dapat membuatnya bersinar" ujar Serfa menjelaskan.
"Tidak mungkin..." kataku ragu. "Saat Aku menyentuhnya dulu, batu itu bersinar"
Pendeta Serfa terkejut. Dia langsung menatapku tidak percaya.
"Maafkan Aku Pendeta Serfa waktu itu Aku mengeceknya untuk memastikan apakah itu milikmu" kataku ketakutan.
Sial, kenapa Aku harus menceritakan hal itu padanya.
"Banyak yang sudah mengatakan bisa membuat batu itu bersinar tapi ternyata tidak. Kau tau kan apa resikonya berbohong pada kerajaan" ujar Pangeran Riana dingin.
"Aku tidak berohong" kataku pada Pangeran Riana keras. "Batu itu mengeluarkan cahaya berwarna biru es saat Aku menyentuhnya." Aku berbalik kembali kepada Pendeta Serfa. "Jika Kau tidak percaya, Aku akan membuktikannya" Aku tidak suka melihat tatapan mata Pangeran Riana yang seolah berkata bahwa Aku ini seorang pembohong.
Aku harap batu itu bersinar kembali. jika tidak habislah Aku.
Aku mengulurkan tangan pada Pendeta Serfa yang membatu. "Bolehkah Aku memegangnya" tanyaku pada Pendeta Serfa. Pendeta Serfa terperanjat. Dia kembali sadar dari lamunannya. Dia mengulurkan tangan. meletakan batu tersebut ke telapak tanganku. Tepat sedetik ketika batu itu menyentuh kulitku. Batu itu mengeluarkan cahaya berwarna kebiruan yang mirip dengan mata Pangeran Riana. Semua orang terdiam.
"Benarkan...Aku tidak berbohong" kataku puas.
"Tentu saja Kita selalu menguji bayi perempuan yang lahir dinegara ini, Tapi Dia...Dia belum pernah karena Dia tidak ada disini sebelumnya" bisik Serfa pada diri sendiri. Aku menarik kembali tangan Serfa dan langsung meletakan batu itu kembali padanya. Batu itu kembali menjadi batu kerikil biasa.
"Putri Yuki siapa saja yang tahu akan hal ini" tanya Raja berhati-hati. Aku mengelengkan kepalaku.
"Tidak ada Yang Mulia, saat memegang batu ini Aku sedang sendirian dikamar, dan Saya tidak pernah bercerita pada siapapun"
"Apa Kau yakin ?"
"Ya Saya sangat yakin"
Raja menatap Pangeran Riana. Dia seolah berkomunikasi secara rahasia dengan Pangeran melalui matanya ketika mereka kira Aku tidak menyadarinya. Aku merasa ketegangan yang sebelumnya ada pada Pangeran sudah menghilang. Lenyap entah kemana.
"Silahkan Putri makanlah ini" ujar Serfa mengambilkan Aku lauk. Aku menatapnya kebinggungan.
"Apakah ini artinya Aku tidak dihukum karena telah lancang membuka kantungmu ?" tanyaku ragu.
Serfa tersenyum. Membuatku takut. "Tidak....tidak akan ada yang menghukum Putri"
Aku pulang kerumah ketika hari sudah larut. agak kaget ketika Pangeran sendiri yang mengantarku pulang.
"Apa yang terjadi Putri, kenapa Pangeran yang mengantar langsung"
"Entahlah Aku tidak tau" Akuku.
"Jangan-jangan Dia tertarik pada Putri"
"Jangan melucu. Kenapa Kau dan Elber senang menakutiku seperti itu"
"Ini sebuah keberuntungan Putri, banyak wanita yang menginginkannya"
"Aku tidak. Pikiranmu terlalu jauh"
"Tapi apa yang ada di wilayah Garduete adalah milik kerajaan, jika Dia menginginkan wanita Dia akan mendapatkannya walau wanita itu tidak menginginkannya. Jika menolak maka besar kemungkinan keluarganya akan dihukum karena membantah perintah kerajaan"
"Tidak....jangan seperti itu.Dia tidak mungkin menginginkanku. Sudah ayo masuk...Aku sangat lelah" Aku berjalan meninggalkan Rena dengan perasaan takut. Mungkin Aku harus menghindari kerajaan agar terhindar dari masalah.
Aku duduk ditaman. melamun. Didalam sana pesta dansa seorang bangsawan berlangsung meriah. Aku telah melaksanakan kewajibanku pada Elber untuk menemani beberapa bangsawan. Akhirnya setelah berbasa basi Aku bisa menghindari mereka dan menyepi ditaman seperti sekarang. Aku tidak mungkin pulang lebih dulu. Elber bisa marah. Bangsawan Dalto pun tidak mungkin datang karena ini adalah pesta milik teman Bangsawan Doldores yang juga sering menyiksa Bangsawan Dalto.
"Bosan" keluhku pada diri sendiri.
"Kalau bosan mari Kita bersenang senang" Aku terkejut saat berbalik dan mendapati Bangsawan Voldermon dibelakangku. Kapan Dia datang. Kenapa Aku tidak mendengar kehadirannya sebelumnya.
"Kenapa Kau ada disini" kataku garang.
"Ayolah Kau masih marah soal ciuman itu"
"Menjauh dariku" Aku bangkit dari dudukku dan langsung berjalan pergi. Tapi sialnya Bangsawan Voldermon mengikutiku dari belakang.
"Tadi Kami ketempatmu untuk mengajakmu bersenang-senang. Riana telah berhasil menemukan calon ratunya. Tapi sayang Kau tidak ada dirumah, jadi Kamu menjemputmu sekarang"
"Terimakasih undangannya, Tapi Aku tidak ingat punya kewajiban untuk ikut acara kalian"
"Pesta itu tidak lengkap tanpa dirimu"
"Kenapa Kau mengikutiku"
"Aku ingin meminta maaf padamu"
"Aku sudah memaafkanmu, sekarang pergilah"
Aku berhenti. didepanku Pangeran Riana, Bangsawan Xasfir dan Bangsawan Asry duduk di bangku taman. Mereka seperti sudah menungguku. Aku berbalik, menatap Bangsawan Voldermon berang. "Kau menjebakku" tuduhku marah.
"Hey sudahlah, kenapa Kau ini....bukankah Kau bilang sudah memaafkanku,jangan jadi pendendam hanya karena sebuah ciuman. atau Kau memang tertarik padaku"
"Putri Yuki sudahlah jangan diperdulikan Dia" Bangsawan Asry berdiri menghampiri kami.
"Ayolah Kita berteman" Bangsawan Voldermon mengulurkan tangan. Aku menatap tangannya sejenak, lalu kemudian memberikan senyum termanis yang bisa Aku tunjukkan padanya. Aku menerima uluran tangannya, Dia tersenyum puas, dalam waktu sedetik Aku langsung menancapkan gigiku ketangannya.
"AAAaaaa" Bangsawan Voldermon menjerit saat aku menggigitnya kencang. Bangsawan Asry menarikku untuk menjauhi Bangsawan Voldermon. wajah bangsawan Voldermon sampai merah menahan sakit.
__ADS_1
"Kau bilang Aku tertarik padamu...bukankah sudah kejelaskan padamu sebelumnya..Kau lupa..baik dengarkan Aku baik baik....walau kau cium Aku dari ujung rambut sampai ujung kaki sekalipun, Aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu. tidak akan pernah" kataku tegas.
"Wanita sepertimu, Aku heran kenapa dewa sampai memilihmu..."
"Cukup kalian berdua" Pangeran Riana mengebrak meja. Membuat Kami langsung terdiam.
"Apa Kau sudah cukup tenang untuk kulepaskan" bisik Bangsawan Asry ditelingaku. Aku menganggukan kepala dan Dia melonggarkan pegangannya tapi tidak benar-benar melepaskan tanganku. Tidak berapa lama Bangsawan Xasfir tertawa terbahak-bahak.
"Bangsawan Xasfir"protesku padanya dengan wajah memerah karena malu. Kelemahanku adalah sering tidak bisa mengontrol perkataanku terutama ketika marah.
"Vold...sekarang Kau sudah menemukan satu wanita yang tidak tertarik padamu bahkan ketika Kau cium Dia dari ujung rambut sampai ujung kaki.Dia sudah menegaskan padamu dua kali" ujar Bangsawan Xasfir puas.
"Kau bisa tertawa seperti itu karena bukan Kau yang di cabik olehnya"
"Aku tidak akan menggigitmu jika bukan karena mulutmu yg jelek" Gerutuku membalas Bangsawan Voldermon.
"Yuki" Aku berbalik, terkejut saat melihat Bangsawan Dalto berdiri tak jauh dari Kami. harusnya Dia tidak datang kemari, jika pemilik rumah mengetahuinya Aku tidak yakin apa yang akan dilakukannya pada Bangsawan Dalto. Aku melepaskan pelukan Bangsawan Asry dan menghambur kearah Bangsawan Dalto. Bangsawan Dalto baru saja menunduk untuk memberikan penghormatan kepada Pangeran Riana.
" Kenapa Kau ada disini" kataku cemas bercampur rasa senang.
"Kau meninggalkan sepatumu di rumah, Aku tidak ingin melihat kakimu seperti gajah hanya karena Kau mengenakan sepatu yg salah" Bangsawan Dalto menyerahkan bungkusan sepatu milikku. Aku mengambilnya dengan senang. Dia membantuku memegang lenganku ketika Aku berjinjit untuk membuka sepatu dan memasang sepatu yg lebih nyaman.
"Terimakasih, Kau memang yang terbaik" selorohku senang. "Jadi apa yang akan Kita lakukan hari ini"
Bangsawan Dalto menggeleng dengan wajah menyesal. Dia menghela nafas sesaat. "Maaf Yuki, hari ini Aku ada keperluan yang penting."
"Apa Aku tidak boleh ikut" tanyaku mencembik.
Bangsawan Dalto tersenyum menyesal. "Kali ini tidak" . Bangsawan Dalto mengusap rambutku. "Besok Aku akan mengajakmu jalan-jalan" ujarnya akhirnya. Aku kembali senang.
"Aku tunggu".
"Aku harus pergi" pamit Bangsawan Dalto lagi. Aku agak terkejut saat Dia mengecup pipiku. Bangsawan Dalto memberikan penghormatan kepada Pangeran dan rombongan. Sementara Aku masih menatapnya terbengong. Aku memperhatikan sosoknya yang menghilang dalam kegelapan. tanpa sadar Aku mengusap pipiku yang dicium olehnya, wajahku memerah karena malu.
Seseorang menarik tanganku secara paksa. Aku hampir saja jatuh karena terkejut. Pangeran Riana sudah mengenggam tanganku erat dan menyeretku menuju halaman depan. Bungkusan sepatuku jatuh, terlepas dari tanganku,Aku tidak bisa mengambilnya. Aku rasa jika Aku jatuh sekalipun Dia akan tetap menyeretku.
"Lepaskan Aku" pintaku memohon sembari berusaha memberontak. Tapi pegangannya begitu kuat. "Pangeran"
Aku dibawa ke dekat kereta kuda kerajaan. "Masuk" ujarnya dingin sembari mendorongku kedalam kereta dengan kasar.
"Aduh" Aku mengaduh saat sikutku membentur pinggiran tempat duduk. Pintu ditutup, kereta mulai berjalan. Aku mengkeret disudut kereta ketakutan. Pangeran menatapku dengan sorot yang sukar ditebak. Ada banyak emosi negatif didalam dirinya.
"Apa hubunganmu dengan Dalto" Aku terkejut akan pertanyaannya yang tiba-tiba. "Jawab Aku" katanya lagi,kali ini lebih tegas. Aku ditariknya dengan kasar hingga menabrak dadanya. secepat kilat Aku menjauh, lenganku digenggamnya kuat. "Kenapa saat Voldermon menciummu Kau begitu marah hingga menamparnya, tapi saat Dalto Radit yang melakukannya Kau hanya diam dengan wajah memerah. Jatakan padaku apa Kau menyukainya"
"Lepaskan Aku, ini semua bukan urusanmu"
"Tentu saja ini urusanku, dengar" Pangeran mendonggakan wajahku dengan kasar, memaksaku untuk menatapnya. "Mulai sekarang Kau adalah kekasihku, Kau paham"
Aku menggeleng."Tidakk!!, Aku tidak mau"
"Kalau begitu Kau ingin Ayahmu digantung"
"Tidakk!!" Aku menatapnya marah sekaligus takut. "Kenapa Aku, begitu banyak wanita kenapa Kau memilih Aku.Aku benar-benar tidak menginginkannya. Aku mohon lepaskan Aku...hmmppp"
Pangeran menarikku, Aku terkejut saat Dia mencium bibirku. Ciumannya begitu menuntut dan memaksa, tidak memberiku jeda untuk melawan. Aku berusaha mendorongnya, tapi tubuhku malah terjatuh dilantai kereta.
"Ja....mmpph...." Air liurnya mengalir di sudut bibirku. Sekuat tenaga Aku masih berusaha mendorongnya, memberontak.
Akhirnya Aku berhasil melepaskan diri. Refleks Aku langsung menamparnya. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena terhalang air mata. Aku menangis. Kedua tangannya masih mencekal tanganku.
Kereta berhenti. Pangeran melepaskan pegangan tangannya. Tanpa banyak bicara Aku membuka pintu dan langsung meloncat keluar. Aku berlari masuk kedalam rumah dan tidak berbalik untuk melihatnya.
Aku membenahi make up ku agar tidak terlalu kelihatan seperti orang yang telah menangis semalaman. Rasanya seperti sebuah mimpi buruk. Aku berharap Pangeran tidak serius akan ucapannya. Menjadi kekasihnya adalah hal yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Memang banyak wanita yang memimpikan status ini karena menjadi wanita penerus tahtah negara sebesar Garduete sama saja memiliki harta dan status tinggi didunia.
Aku menghela nafas, dengan kesal meletakkan kuas ke meja. Aku menggelengkan kepala, mencoba melupakan kejadian semalam. Sebentar lagi Aku akan bertemu dengan Bangsawan Dalto, jangan sampai Dia curiga. Aku mengambil buku dan berjalan menuju ruang makan. Sesampainya diruang makan Aku terkejut saat tidak mendapati Bangsawan Dalto. Biasanya Dia sudah duduk menungguku jam segini, Andaikanpun Dia terlambat Dia pasti akan memberitahukanku.
"Apa Bangsawan Dalto belum datang ?" tanyaku pada seorang pelayan yang sedang mempersiapkan sarapan di meja. Pelayan itu menunduk ketakutan, membuatku curiga.
"Ada apa ?" tanyaku lagi.
"Dia baru saja pergi, Aku juga sudah memberitahukan statusmu dan memperingatkannya supaya tidak datang mengunjungimu lagi" Pangeran Riana masuk kedalam.
"Siapa yang mengizinkanmu membiarkan Dia masuk dan mengusir tamuku ?" ujarku marah pada pelayan. Pelayan itu menunduk ketakutan. Wajahnya pucat pasi. Membuatku merasa bersalah. Tidak seharusnya Aku memarahinya begitu. Jangankan Dia, Aku saja tidak mungkin melawan Pangeran Riana dengan selamat. "Maafkan Aku, Kau boleh pergi" .Pelayan itu memberi hormat dan langsung menghilang.
"Untuk apa Pangeran datang kemari sepagi ini" sindirku kesal. Pangeran Riana duduk ditempat yang seharusnya untuk Bangsawan Dalto. "Itu bukan untukmu"
"Aku kemari untuk mengingatkanmu, atau Kau akan mendapat lebih dari yang telah kulakukan padamu"
Aku langsung mengkeret mendengarnya. "Mari ku tegaskan disini, Kau dengarkan baik-baik karena Aku tidak senang mengulang lagi" Pangeran memasukkan gula kedalam cangkir teh, mengaduknya dengan gaya angkuh. "Pertama, Aku tidak ingin mendengar atau melihatmu berhubungan dengan lawan jenis selain persetujuanku. Kedua,jika Aku memerintahkanmu untuk datang, tidak peduli dimanapun atau apapun yang Kau lakukan Kau harus datang" Aku merasa emosi mendengarnya. "ketiga.."
"Cukup, buat saja peraturan konyolmu itu untuk calon ratumu. Aku telah berpikir semalaman, mencoba mengingat kesalahan apa yang telah Kulakukan padamu. Tapi sayangnya Aku tidak dapat menemukannya. jika memang Aku ada salah, Aku mohon Kau mau memaafkan Aku Pangeran. Tapi tolong...tolong jangan siksa Aku seperti ini. Aku tidak ingin menjadi kekasihmu dan tidak tertarik padamu.Banyak gadis yang lebih cantik dariku yang akan dengan senang menjadi kekasihmu diluar sana"
"Kau memang tidak tertarik padaku, Aku tidak menampik apa yang Kau katakan semuanya adalah bohong, Tapi Putri Yuki kuberitahukan kembali padamu, Aku tertarik padamu dan kerajaan sudah menyetujui dengan sah
Kau sebagai kekasihku, Aku hanya mengingatkan apa yang dapat terjadi pada keluargamu jika Kau bersikeras melawanku"
Pangeran melemparkan amplop didepanku. Aku membukanya dan ternyata amplop resmi dari kerajaan yang mengesahkan Aku sebagai wanita milik Pangeran Riana. Dia tidak berbohong. Aku menyobek kertas itu marah. Kuambil bukuku tanpa berniat menyentuh makananku dan berlalu pergi dari ruang makan.
Aku melangkah cepat ke pintu utama ketika Gulfku berbunyi. "Yuki apa yang terjadi" tanya Bangsawan Dalto kebingungan."Tadi Aku ke rumahmu dan ternyata..."
"Ya Aku tahu, Bangsawan Dalto kumohon percayalah padaku. Ini tidak seperti yang Kau pikirkan. Aku akan menjelaskannya nanti.." Gulfku dirampas dari belakang oleh Pangeran Riana yang ternyata mengikutiku. Dia membantingnya ke tembok hingga pecah menjadi dua. "Apa yang Kau lakukan"
"Aku baru saja mengatakan peraturan sebagai wanitaku dan Kau sudah melanggar. Apa yang harus kulakukan padamu supaya Kau mengerti"
Pangeran menarik pinggangku. Aku terkejut hingga buku ditanganku berjatuhan. "Lepaskan Aku"
"Haruskah Aku mengingatkanmu mengenai semalam" Bisik Pangeran ditelingaku. Membuatku semakin ketakutan.
"Tidak"
Aku mendorong Pangeran. kali ini Dia langsung melepaskanku. Dia membungkuk mengambil buku ku dan memberikannya padaku. Aku menatapnya dengan perasaan marah,benci dan takut yang luar biasa. "Masuk ke kereta" perintahnya tegas.
__ADS_1