Morning Dew

Morning Dew
10


__ADS_3

Jeritan itu terdengar sangat menakutkan siapapun yang mendengar. Dari balik panggung terlihat kericuhan. Pangeran Riana sudah berada dibelakangku. Memelukku sedemikian rupa. Tercium bau darah di udara.


Para prajurit mengamankan situasi. Ada beberapa putri yang diangkat dari balik panggung karena pingsan, yang masih bisa berjalan sendiri,harus dipapah. Wajah mereka pucat pasi.


Bangsawan Xasfir keluar dari balik kerumunan. Wajahnya terlihat tegang.


"Ditemukan enam jasad putri dan bangsawan yang terpotong potong dalam kotak pakaian..Jika melihat kerusakan yang terjadi, mereka dipotong bahkan saat masih hidup"


Aku membenamkan wajahku ke dada Pangeran Riana. Tidak ingin mendengar lebih lagi. Aku mendengar suara bergemeletuk di telingaku, baru kusadari kemudian kalau Akulah yang mengeluarkan suara tersebut. Tubuhku bergetar hebat. Pangeran mengangkat tubuhku, mengendongnya dalam dadanya yang kekar. Aku merangkulkan kedua tanganku dilehernya. Menyembunyikan rasa mual yang seolah mengaduk perutku.


"Kalian urus semua,Aku akan membawa Yuki dulu ketempat aman"


Pangeran membawaku keruangannya yang telah dimanterai Serfa. Aku direbahkan keatas sofa.


"Aku akan pergi sebentar, Kau akan aman disini"


Pangeran mengusap wajahku dengan tangannya. "Tidurlah"


Aku berusaha melawan rasa kantuk yang sangat. Pangeran lagi-lagi membuatku tertidur. Mataku terasa berat. Aku memejamkan mata, menyerah pada rasa kantuk yang datang.


Entah sudah berapa lama Aku tertidur, ketika Aku mendengar keributan dipintu depan. Aku terbangun, terkejut. Ingatanku akan kejadian yang sedang terjadi membuat kesadaranku datang lebih cepat dari biasanya. Pintu dibuka dengan keras, Aku menatap kaget didepanku. Seorang pemuda yang mengenakan kain untuk menutupi wajah dan rambutnya masuk. Dibelakangnya dua prajurit penjaga roboh. Aku mengenali pemuda itu, Dia yang pernah kutemui di hutan saat penyerangan pasukan Pangeran Riana terjadi. Dia yang menolongku dari kematian. Kenapa Dia ada disini ?. Aku beringsut mundur ketakutan. Apakah Dia adalah pemimpin pemberontak istana yang dicari ?. Aku bergerak menghindar ketika Dia menghampiriku. Tapi Dia lebih gesit. "Ti..." mulutku dibekap oleh kain yang berisi obat menyengat. Aku merasa pusing seketika. Tenagaku seolah terkuras habis dari tubuhku. Aku memejamkan mata dan akhirnya tidak sadarkan diri.


Aku merasa tubuhku terus terguncang keras, Terdengar derap langkah dan ringkikan kuda disekelilingku. Seseorang memelukku hangat. Aromanya menenangkan. Aku menyadarkan kepalaku didadanya. Terdengar detak jantungnya yang berirama. Samar kesadaranku kembali menghilang. Aku mendongak, melihat mata birunya yang indah menatap ke depan dengan serius. Biru laut yang indah. Aku membiarkan rasa pusing datang dan tengelam dalam kegelapan kembali.


Aku membuka mataku, terdengar denting besi dan ringkikan kuda dari dekat. Saat kesadaranku pulih, Aku mendapati diriku berada dalam sebuah tenda. Ingatanku kembali secara perlahan.


Dimana ini ? kenapa Aku ada disini ?


Pintu tenda terbuka, Aku membeku saat melihat seorang masuk kedalam. Orang itu masih pemuda yang sama, yang mengenakan kain untuk menutupi wajah dan rambutnya.


"Kau sudah sadar ?"


Sesuatu menghantamku secara dasyat. Aku menatap orang tersebut tidak percaya akan pendengaranku. Tapi Aku tidak mungkin salah mengenali suara.


Pangeran sera membuka kainnya. Dia menatapku, menilai reaksiku.


"Jangan bodoh Yuki, Aku bukan pemberontak istana yang Kau maksud" tegur Pangeran tidak suka.


"Lalu kenapa...Kenapa Kau menyerang masuk ruangan Pangeran Riana dan membawaku kemari ?"


"Aku melakukannya untuk menyelamatkanmu" ujar Pangeran Sera tenang.


"Menyelamatkanku ?" tanyaku tidak mengerti.


"Ya Yuki, kondisi Garduete sedang tidak aman,mulai terjadi pemberontakan seperti yang sedang Kau ketahui. Nyawamu terancam, bukankah begitu ?"


"Memang benar seperti itu" Aku ku akhirnya. "Tapi bukan itu alasan yang dibenarkan untuk Pangeran menculikku seperti ini ?"


Pangeran duduk disamping ranjangku.


"Aku menyelamatkan tunanganku sendiri, apakah itu salah ?"


"Tunangan Pangeran ?" kataku binggung. "Lalu apa hubungannya denganku ?"


"Karena gadis itu adalah Kau Yuki"


Aku mengerjap. Menatap Pangeran kosong sesaat. Apa tadi Dia bilang ? Aku adalah tunangannya.


"Tidak mungkin ? " kataku tak percaya. "Pangeran sendiri bilang jika Pangeran sudah dijodohkan semenjak kecil, Pangeran sudah sering melihatnya. Kita baru bertemu, bagaimana bisa itu terjadi ?"


"Saat Aku masih dalam kandungan, Ratu pernah hampir terbunuh oleh suruhan Istri Ayah yang lain, ketika dalam perjalanan kembali ke istana. Saat Ratu dalam pelarian, Putri Ransah yang kebetulan berada disana menyelamatkan hidupnya sampai nyaris kehilangan nyawanya sendiri. Sebagai balas budi ratu berjanji jika nanti Putri Ransah memiliki seorang anak, jika anak itu laki-laki maka akan jadi saudaraku. Namun, jika anak itu perempuan, Dia akan menjadi istriku. Sampai sini apa kau sudah mengerti ?" tanya Pangeran lagi.


"Aku.." kataku binggung. Tunangan Pangeran Sera ?. Jadi karena itukah Dia begitu perhatian padaku. Karena Aku tunangannya.


"Berikan kalungmu ?" ujar Pangeran lagi.


"kalung ?!"


Pangeran menunjukan kalung ditangannya. "Kau selalu memakainya kan ?"


Kalung yang ditunjukan Pangeran Sera adalah kalung dengan liontin yang sangat Kukenali. Aku mengambil kalung ditangannya. Tidak mungkin. Kalung yang Kukenakan dengan liontin setengah lingkaran yang dipatahkan secara paksa. sama seperti kalung milik pangeran sera. Aku mengambil kalungku. Memasangkan patahan milikku dengan Pangeran, membentuk bulatan sempurna.


"Ini adalah kalung perjanjian kedua orang kita, sekarang Kau percaya"


"Tapi Kita bahkan belum saling mengenal" bisikku.


"Hanya Kau yang belum mengenalku Yuki. Aku sudah lama memperhatikanmu dari kecil. Aku tau semua mengenaimu"


"Bagaimana bisa ?"


"Melalui cermin yang dianugerahi Dewa Asoka, dewa negeri kami. Aku bisa melihat dirimu dari sana."


Karena itukah Dia tau kenapa kapan Aku berulang tahun dan hadiah yang Kuinginkan. Ternyata perasaanku bahwa Dia sangat mengenalku adalah benar.


Pangeran Sera menatapku lembut. tangannya menyentuh pipiku. "Aku ingin menjemputmu ketika mendengar Kau kembali ke dunia ini, Tapi karena banyak yang terjadi Aku mengurungkan niatku, sekarang...Kau sudah mengetahui semua. Yuki..ikutlah bersamaku. Disini sudah tidak aman untukmu"


Aku menundukkan kepala, tidak membalas tatapan Pangeran. "Maaf...Pangeran...maaf


Aku tidak bisa....Aku harus kembali untuk mengungkapkan kematian Ayah dan semua yang telah meninggal gara-gara Aku. Aku tidak bisa melarikan diri seperti ini"


"Kau ingin kembali karena Ayahmu atau karena Riana ?"


Aku menatap kearah Pangeran Sera terkejut. Ada kesedihan di mata Pangeran Sera.


"Tidak ada hubungan dengan Pangeran Riana ?"


"Benar kah?"


Aku ingin kembali untuk menuntaskan kematian Ayah. Aku ingin mengetahui kebenarannya.


"Asal Kau tahu Yuki, Riana tidak pernah bersikap baik pada wanita manapun. Tapi denganmu Dia berbeda"


Aku menatap Pangeran Sera kebingungan. apanya yang berbeda, Pangeran Riana selalu bersikap seenaknya padaku. Beberapa kali Dia membuatku menangis karena sikapnya itu. Dia memaksaku menjadi miliknya, mengurungku di istananya, menjauhkanku dari Bangsawan Dalto bahkan....beberapa kali Dia berusaha menyerangku. Aku akui, Aku berutang budi padanya karena telah menyelamatkan nyawaku dan mau membantuku mengungkapkan kematian Ayah. Tapi hanya itu. Apakah itu termasuk istimewa ?


"Lihat Aku..." pinta Pangeran merengkuh wajahku dengan kedua tangannya. Mendongakkan wajahku hingga kami bisa bertatapan.


Lihat Aku...lihat cintaku....


Seolah Pangeran meneriakan hal itu di matanya. Warna matanya sangat indah, biru laut yang menenangkan.


Pangeran mendekatkan wajahnya dan langsung menciumku. Ciuman yang manis dan hangat. Dia menciumku sangat lembut, membuatku terlena didalamnya. Waktu seakan berjalan begitu lambat. Saat akhirnya Dia melepaskan ciumannya. Wajahku sudah memerah menahan malu.

__ADS_1


"Aku tidak akan menyerahkanmu pada siapapun, Kau milikku" bisiknya seolah berkata pada diri sendiri.


Pangeran tetap akan membawaku walaupun Aku sudah menolaknya. Kami berada ditengah hutan yang rimbun. Entah dimana sekarang Aku berada. Sebelumnya Aku telah dibuat pingsan beberapa hari. Aku kembali tidak sadarkan diri. Pangeran memasukkan sesuatu pada makananku. Membuatku menjadi lemas tidak bertenaga. Aku tidak bisa melawan ketika dinaikkan keatas kuda bersama Pangeran Sera, Kami kembali menempuh perjalanan,menembus hutan belantara. Di hari ke lima perjalanan, Kami mendirikan tenda di hutan, dibalik pohon besar yang berdekatan dengan tendaku dan Pangeran Sera, ada danau yang airnya cukup bersih. Pangeran Sera sudah mengecek kondisi sekitar danau dan memastikan danau tersebut aman dari binatang buas seperti buaya dan sejenisnya.


Aku ingin sekali membasuh badanku disana, Sudah beberapa hari Aku tidak mandi.Walaupun selama perjalanan Aku mengelap tubuhku dengan kain yang telah di basahi air, rasanya seluruh kotoran masih menempel dibadanku.


"Pangeran apakah didanau para prajurit masih membersihkan diri?" tanyaku pada Pangeran Sera yang sedang memberi makan kudanya.


"Tidak, mereka semua sudah kembali. ada apa ?"


"Aku ingin pergi kesana"


"Baiklah, Aku antar"


"Apa...tidakk jangan..." kataku panik.


Aku menunduk tidak berani melihat Pangeran karena malu.


"Aku...Aku ingin mandi" kataku akhirnya.


Pangeran terdiam sebentar, kemudian Dia mencubit pipiku.


"Aku mengerti, pergilah. tapi jangan lama-lama. Makan siang akan siap sebentar lagi" Aku menganggukan kepala tanda mengerti.


Aku memasuki tenda, mengambil perlengkapan mandi, kemudian berjalan pergi ke danau. Aku memastikan tidak ada siapapun disini. Danau ini cukup tenang. Aku membuka seluruh pakaianku. Mencelupkan kakiku , airnya sejuk dan segar.Tanpa pikir panjang Aku langsung berenang masuk ke dalam danau.Rasanya seluruh kotoran Ditubuhku larut dalam kesegaran air danau. Aku berenang sedikit ketengah. Menikmati sebisa mungkin waktu mandi yang terasa begitu langka akhir-akhir ini. Otot yang tegang menjadi lebih rileks.


Aku membuang pikiran untuk melarikan diri, Aku tidak tahu sekarang Aku dimana. Yang kutahu Aku berada disebuah hutan yang rimbun. Jika Aku nekat melarikan diri, Aku bisa tersesat. Lebih parah Aku malah bertemu dengan binatang buas, perompak atau malah....pemberontak istana. Jadi sebisa mungkin Aku mengikuti Pangeran Sera. Akan lebih mudah meminta bantuan di kota nanti.


Kraakkk....!!!


Aku berbalik. Ada suara ranting diinjak. Tapi tidak ada siapapun disini.


Aku melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa. sepi. Apa Aku salah dengar ?, Aku rasa tidak. jangan-jangan Pangeran Sera mengutus prajurit untuk melihatku karena Aku terlalu lama mandi. Bisa gawat kalau hal itu terjadi. Aku sedang tidak berbusana sama sekali. Jangan sampai mereka melihatku seperti ini.


Aku mencoba berenang ke tepi. Tapi....Kakiku terasa kram. Aku menggapai-gapai mencari pegangan. Suaraku tertahan air yang memasuki tenggorokanku. Aku tenggelam. Seseorang....tolong Aku....


Aku membuka mata dan mendapati diriku berada didalam tenda. Tampaknya Aku masih hidup. Aku mencubit lenganku. Sakit. Ini bukan mimpi. Berarti Aku masih hidup. Aku terbatuk. Tenggorokanku terasa kering. Aku meraih gelas berisi air dari meja disamping tempat tidur dan meminumnya habis.


"Kau sudah sadar rupanya"


Aku hampir menyemburkan air yang kuminum. Pangeran Riana muncul dari luar tenda. Aku terbatuk-batuk karena tersedak air minum.


Kenapa Dia ada disini ? ini juga bukan mimpi kan ?


"Bagaimana bisa ?" tanyaku tidak percaya.


"Kenapa, Apa Kau tidak senang bertemu denganku ?" tanya Pangeran balik.


"Bukan itu, bagaimana bisa Pangeran menemukan kami disini. Bukankah Pangeran Sera sudah mengecoh Kalian ke hutan lain yang letaknya sangat jauh dari sini ?"


Pangeran Riana tersenyum angkuh. "Aku sudah tahu Kalian akan melewati tempat ini. karena itu Aku membangun tenda tersembunyi sembari menunggu kalian datang dengan sendirinya"


"Sejak kapan Pangeran ada disini ?"


"Tiga hari yang lalu, Aku yakin kalian akan berada disekitar daerah ini.Karenanya Aku membangun tenda diarea tersembunyi. Aku cukup beruntung ketika sedang mencari keberadaanmu, Aku malah menemukan apa yang kucari sedang berenang sendirian, didalam danau tengah hutan, dan tanpa busana"


Aku melihat pakaianku. Aku sudah mengenakan pakaian lengkap. Aku melihat kearah Pangeran Riana curiga. "Siapa yang telah menolong dan mengantikan pakaianku" tanyaku was-was.


Pangeran tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dengan pancaran kepuasan yang tak terhingga.


Pangeran masih diam. Tapi ekpresinya menunjukan bahwa Dialah yang menolongku dari danau dan menganti pakaianku. Dia sudah melihatku tanpa busana. Wajahku memerah seperti kepiting rebus.


"Dari raut wajahmu,Kau seperti menginginkan hal lain terjadi"


"Jangan bercanda" kataku marah.


Aku mundur ketakutan. Tapi Pangeran Riana menahanku.


"Kau yakin Kita akan naik ini ?" tanyaku sanksi.


Didepanku, seekor naga besar berwarna hijau lumut berdiri menjulang keatas. Dengan santainya dia mengunyah pucuk muda daun dipohon.


"Terlalu lama jika berkuda. Kita sudah mendekati perbatasan kerajaan Argueda.Aku tidak mau mengambil resiko"


Aku tidak menyangka, sudah sejauh itu Pangeran Sera membawaku.


Ta...tapi..."


"Dia tidak akan memakanmu"


Pangeran mengulurkan tangannya. Naga hijau itu bereaksi. Dia berhenti mengunyah. Mengendus tangan Pangeran Riana sembari berdekur ringan.


"Radolft, perkenalkan ini Yuki" ucap Pangeran. Radolf melirik kearahku. Aku nyaris lari ketika naga tersebut mengendusku. Radolft tampak memprotes. Pangeran tersenyum.


"Dia takut karena belum mengenalmu, tapi Kau menyukainya bukan ?"


"Kau bisa berbicara dengan naga ?" tanyaku kebingungan.


"Kami telah bersama semenjak kecil, Dia tidak pernah membiarkan sembarang orang menaikinya tetapi Dia memberi pengecualian padamu"


"Mirip seperti tuannya" bisikku lirih.


"Apa katamu"


"Tidak ada apa apa" kilahku.


Pangeran mencubit kedua pipiku. sakit. "Aku mendengar semuanya"


"Lepaskan Aku" pintaku memohon.


"Panggil Aku sayang, baru Aku akan melepaskanmu"


"Tidak ma....aduuhhhhh"


"Katakan"


"Sayang,lepaskan aku"


"Panggil aku cinta"


"Apa..jangan serakah" Pangeran tersenyum puas. Dia melepaskan tangannya. Aku memegang kedua pipiku bekas cubitannya.

__ADS_1


"Sudah waktunya Kita pergi.Cepat atau lambat Sera akan menyisir wilayah ini untuk mencarimu"


Aku menganggukan kepala setuju. Pangeran hanya seorang diri. Aku tidak bisa membayangkan apa yang dilakukan kerajaan Argueda jika menemukan Pangeran begini. Akan berbahaya bagi Pangeran.


Lagi-lagi Dia mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanku. Hutang budiku padanya jadi semakin bertambah banyak.


Pangeran mengangkatku menaiki punggung Radolft. Sisiknya berkilau tertimpa cahaya matahari yang masuk dari sela pohon. Aku langsung memeluk Pangeran erat. Takut Radolf berubah pikiran dan melemparkanku dari udara.


"Jangan biarkan Aku jatuh" pintaku pada Pangeran Riana.


Radolf mengepakkan sayapnya. Mengerakkan pepohonan disekitar.Kami melesat dengan cepat naik keatas. Aku memejamkan mata ketakutan.


"Yuki buka matamu"


"Tidak mau"


"Buka matamu" perintah Pangeran lagi. Aku perlahan membuka mata.


"WWuuuuaahhhh" seruku terkagum. Kami seolah berada diantara langit dan bumi. Dibawah Kami hutan hijau menjulang bagaikan permadani. Di langit,warna orange menyebar sedemikian rupa menandakan matahari akan beranjak keperaduannya. di gantikan oleh sang bulan. Sungai melingkar menembus hutan,meliuk dengan indahnya. "Terimakasih Radolft, pemandangannya sangat indah. Terimakasih sudah memberiku kesempatan melihatnya" kataku masih terkagum. Terdengar geraman dari Radolft seolah menjawab ucapanku.


Pangeran mendekatkan wajahnya ke leherku dan menciumnya. "Pa...Pangeran" kataku tergagap.


"Ssttt...diam"


Sejurus kemudian Pangeran menciumku.Aku terkejut saat Dia menciumku dengan penuh gairah dan tuntutan. Apa yang Pangeran pikirkan. Saat ini Kita berada dipunggung naga terbang. Dan Dia seenaknya menciumku, membuatku kehilangan fokus.Tanganku diarahkan untuk memeluknya. Dia terus menciumku tanpa memberiku jeda berpikir.


Kami tiba di Istana saat pagi sudah menjelang. Aku tidak menyangka perjalanan yang kutempuh berhari-hari, dengan Radolft menjadi beberapa jam saja. Aku sangat lelah dan mengantuk.


Rena membawaku ke istana untuk mandi dan berganti pakaian. Setelahnya, Pangeran datang dan membawaku ke istana Raja untuk menghadap Raja.


Di dalaM aula istana, Raja sudah duduk menungguku bersama para menteri. Aku dituntun untuk menghadap Raja, memberi penghormatan. Aku mati-matian berusaha agar tidak tertidur saat itu juga, tapi mataku tidak mendukung usahaku. Pangeran berjalan dan kemudian duduk ditempatnya.


Aku merasa seperti pesakitan yang sedang menjalani sidang.


"Putri Yuki langsung saja, Aku tahu Kau sangat lelah dan butuh istirahat. Tapi ada beberapa hal yang harus Kami tahu dengan cepat" ujar Raja dengan penuh wibawa.


Aku mengangguk mengerti.


"Bisa Kau ceritakan padaku, apa tujuan Pangeran Sera dari Negeri Argueda menculikmu dan membawamu ke negaranya ? Apa ada hubungannya dengan pemberontakan istana yang sedang terjadi akhir-akhir ini ?"


Aku menundukkan kepala penuh hormat. "Atas sepengetahuan dan apa yang telah Pangeran Sera ceritakan kepada hamba tidak ada yang mulia"


"Lalu kenapa Sera membawamu ke negerinya ?"


Aku menatap Raja ragu. Jika Aku menceritakan hal ini sekarang, Di depan Pangeran Riana. Aku pasti akan dalam masalah besar. Aku sangat yakin itu. Tapi jika Aku berbohong, dan nanti Raja mengetahuinya. Aku tidak tahu hukuman apa yang bisa kudapatkan dengan tuduhan memberikan informasi palsu pada kerajaan. Aku seperti makan buah simalakama. Kebimbangan merasukiku. Tapi....


"atas...atas yang diceritakan pada hamba....Pangeran Sera menculik hamba untuk melindungi hamba"


"Melindungimu ?" Raja menatapku tidak mengerti. "Apa hubungan kalian sampai Sera begitu peduli padamu ?"


"Karena..." Aku merasa berat mengatakannya. "karena hamba adalah tunangan Pangeran Sera"


Sedetik Aku menceritakan hal itu. Aku merasakan keheningan yang mencekam. Rasanya Aku ingin segera menghilang dari sini. Kehebohan mulai terdengar.


"ceritakan putri yuki" nada suara raja menjadi lebih tegas daripada sebelumnya.


"Sebenarnya hamba juga baru mengetahuinya soal ini Yang Mulia..."


Aku menceritakan semua kepada Baginda Raja dari kecurigaanku terhadap Pangeran Sera yang mengetahui hari ulang tahunku,hadiah yang kuinginkan, bagaimana sampai Aku diculik dari ruangan Pangeran,pembicaraanku dengan Pangeran Sera dan apa yang kualami dalam perjalanan sampai bertemu kembali dengan Pangeran Riana. Aku menunjukan kalungku pada baginda. Pangeran menatap kalung itu dingin, Matanya sampai menyipit membentuk seperti garis. Aku langsung menutup kalung itu dengan kedua tanganku. Jika sampai istana nanti Aku harus menyembunyikannya agar Pangeran tidak membuangnya.


"Aku sudah mengerti perkaranya. Putri Yuki, terimakasih karena telah mau mengatakan yang sebenarnya padaku. Tapi Kau harus mengerti, walau Kau dan Pangeran Sera telah dijodohkan semenjak kecil, statusmu telah lebih dulu diangkat menjadi kekasih Pangeran Riana. Kami tidak akan menyerahkanmu ke Negeri Argueda"


Aku hanya diam. Tidak ingin berdebat. Jujur saja Aku sendiri binggung dengan semua yang terjadi.


"Pengawal antar Putri Yuki kembali ke istananya" perintah Raja lagi.


Aku menunduk memberi hormat. kemudian berjalan bersama para pengawal menuju istana Pangeran Riana.


Sesampainya di istana Pangeran, Aku langsung mencari tempat untuk menyembunyikan kalungku. Aku tidak ingin Dia mengambilnya. Ini adalah benda berharga yang ditinggalkan Mama untukku. Aku merasa beruntung, Pangeran tidak mengikuti pulang. Sehingga Aku punya waktu untuk mencari tempat persembunyian. Aku menyembunyikan di balik laci terdalam. tempat yang menurutku Dia tidak akan menemukannya.


Aku sama sekali tidak dapat tidur setelahnya. Rasa kantukku lenyap begitu saja entah kemana. Aku berjalan gelisah di kamar, menanti hal buruk yang akan terjadi padaku.


Pangeran kembali ke istana saat matahari baru saja terbenam. Dia tampak dingin. Aura ingin membunuhnya terasa sekali disekitarnya. Hanya orang bodoh yang mau mencari masalah dengannya saat ini. Pangeran memasuki kamar. "Semuanya keluar" perintahnya langsung kepada para pengawal dan pelayan. Dalam waktu singkat hanya ada Kami berdua. Aku mengkeret di pojok ketakutan.


Pangeran berjalan mengacuhkanku, Dia mengambil anggur di meja dan meminumnya. kemudian...Aku tersentak saat Dia tiba-tiba membanting gelas ke lantai. Gemelentang nyaring terdengar.


"Tunangan Sera...jadi karena itukah Dia berlaku baik padamu ?"


"Aku juga tidak tahu. Kenapa Kau marah-marah begitu ?"


"Kekasihku adalah tunangan orang lain. Menurutmu Aku harus menerimanya dengan senyum ?"


"Kenapa Kau menyalahkanku. Kedua orang tua kami yang menjodohkan Kami. Sebagai Anak Aku tidak dapat berbuat apa-apa"


"Jadi Kau menginginkannya" pangeran menghampiriku dingin. "Berikan kalung itu"


Aku mengelengkan kepala menolak.


"Cepat berikan kalung sialan itu !!"


"Aku tidak akan memberikannya padamu. Itu adalah peninggalan ibuku." Balasku menolak.


Pangeran mencengkram bajuku. Aku berusaha menghindari sekuat tenaga. Dengan kasar Dia merobek pakaianku sehingga dadaku terlihat.


"Dimana Kau sembunyikan kalung itu ??!!"


"Aku tidak akan memberitahukanmu, Lepaskan Aku" pintaku marah.


Pangeran makin mempererat cengkramannya.


"Baik,Kita akan lihat sampai mana Kau bisa bertahan"


Aku ditarik Pangeran mendekat, Dia langsung menciumku. Terdengar robekan bajuku yang cukup keras, hingga dadaku terpampang jelas.


"Kau gilaaaa....apa yang Kau lakukan ?, lepaskan Aku !!" jeritku ketakutan. Aku semakin memberontak. Pangeran mencekal tanganku kebelakang dan langsung mengikat tanganku dengan sobekan bajuku. "Tidak mau...lepaskan Aku"


"Berikan kalung itu atau...Aku akan menyentuhmu sampai Aku sendiripun tidak dapat mengendalikan diriku" bisik Pangeran di telingaku.


Aku mengelengkan kepala menolak. Pangeran merobek pakaianku semakin besar. Aku terus berusaha memberontak, tapi tanganku terikat. Aku tidak dapat berbuat banyak. "Jangan...."pintaku memohon. Air mataku sudah membasahi wajahku. Pangeran dengan dinginnya masih saja menyabik pakaianku. Dia mulai menciumi dan menjamah tubuhku. Terdengar suara gulf milik Pangeran.


Pangeran mengerang marah. Dia melepaskan Aku. Membenahi pakaiannya. Tanpa memandangku Dia berjalan menuju pintu keluar.

__ADS_1


"Apa..apa Aku tidak boleh disini?" tanya Pangeran pada seseorang. Pintu ditutup dengan keras. Tubuhku terasa sakit semua. Seseorang melepaskan ikatan tanganku dan menyelimutiku.


"Putri" ternyata itu adalah Rena. Aku langsung menghamburkan diri. Memeluk erat Rena sambil menangis tersedu. Takut. Aku takut.


__ADS_2