Morning Dew

Morning Dew
24


__ADS_3

Bangsawan Asry menatap serpihan kertas di depannya. Matanya terbelak dengan mulut tergangga. 


"Apakah Putri Yuki tidak tahu merobek dekrit kerajaan adalah kejahatan serius ?" Tanyanya setelah tersadar dari rasa terkejutnya. Dia menatap Rena dan kepala pelayan bergantian.


Rena langsung membungkuk untuk meminta ampunan. "Maafkan Putri Yuki Pangeran, Putri masih perlu banyak belajar mengenai aturan kerajaan"


"Asry, Aku tidak ingin masalah ini keluar ruangan" perintah Pangeran Riana tegas sebelum Dia berdiri dan keluar ruangan.


Bangsawan Asry menatap punggung Pangeran Riana semakin tidak percaya apa yang Dia dengar. Biasanya, Riana tidak akan mentolerir penghinaan terhadap kerajaan. 


Gadis yang bernama Yuki itu menarik. Selera Riana tidak buruk, bahkan Raja langsung mengangkat gadis itu sebagai consort VIII, kelas wanita Harem dibawah Istri utama Pangeran Riana nantinya.


Namun perintah harus dilaksanakan. Setelah memberi instruksi kepada kepala pelayan dan pelayan pribadi Putri Yuki, Bangsawan Asry keluar untuk menyusul Pangeran Riana.


Sementara itu, Yuki sedang berjalan menuju kereta kudanya ketika terasa getaran pada saku pakaiannya. Dia melihat Bangsawan Dalto yang menghubunginya.


"Yuki apa yang terjadi ?" Tanya Bangsawan Dalto dengan wajah binggung. "Aku tadi ke rumahmu dan..."


"Aku tahu, tapi kumohon percayalah padaku. Ini tidak seperti yang Kau kira, Aku akan menjelaskannya nanti" ujar Yuki memohon.


Dari belakang punggungnya, Pangeran Riana datang dan langsung merampas Gulf milik Yuki. Terdengar suara pecahan saat Pangeran Riana membanting Gulf ke tembok sehingga terbelah menjadi dua.


Yuki menatap pada serpihan Gulf miliknya dengan pandangan tidak percaya. Dia berbalik untuk memprotes Pangeran Riana. 


"Apa yang Kau lakukan ?" Tuntut Yuki kesal.


"Kau baru saja diangkat secara resmi sebagai wanitaku, dan sekarang Kau sudah ingin bermain api dengan Pria lain. Katakan padaku Putri Yuki, apa yang harus kulakukan agar Kau mengerti posisimu sekarang ?"


Pangeran Riana menarik pinggang Yuki agar mendekat, sontak Yuki terkejut dan berusaha melepaskan diri hingga buku-buku yang di pegangnya berjatuhan.


"Lepaskan Aku !" 


Pangeran mendekatkan bibirnya ke telinga Yuki. "Haruskah Aku mengingatkamu kembali dengan kejadian semalam ?"


Wajah Yuki langsung merah mendengarnya.


"Tidak" kata Yuki setelah berhasil menguasai ketakutan yang muncul dari dalam dirinya. Dia langsung mendorong Pangeran Riana, Pangeran Riana sendiripun tidak melawan dan melepaskan Yuki.


Bayangan saat Pangeran Riana menciumnya dengan paksa masih terpampang jelas di mata Yuki. Dia tidak akan melupakan kejadian itu. 

__ADS_1


Pangeran Riana membungkuk mengambil semua buku yang berserakan di lantai, menumpuknya sedemkian rupa dan langsung menyerahkan kepada Yuki.


"Masuk ke dalam kereta" perintah Pangeran tegas mengabaikan tatapan penuh rasa marah, benci dan putus asa yang menyatu.


Yuki tidak punya pilihan lagi. Dia melangkahkan kakinya dan berjalan masuk ke dalam kereta kuda yang menunggu.


Pangeran menyusulnya di belakangnya tepat, diikuti Bangsawan Asry.


Yuki lebih memilih diam dan melihat pemandangan di luar melalui cendela selama kereta berjalan menuju area sekolah.


Begitu kereta kuda berhenti dan pintu dibuka dari luar, Yuki langsung meloncat turun.


Seluruh mata memandangnya secara serempak. Membuat Yuki merasa jengah. Pangeran Riana sudah berdiri di sisinya, Dia tidak terganggu dengan keberadaan Yuki. Seolah kehadiran Yuki merupakan hal biasa dalam hidupnya.


Yuki menundukkan kepala, menghindari tatapan penasaran yang menyoroti kehadiran Mereka. Terdengar gumanan bagaikan lebah yang mengelilingi sarangnya. 


Pintu kereta kembali di tutup, terdengar suara gemeletak roda yang berbenturan dengan aspal jalanan.


Mereka bertiga berjalan memasuki area sekolah. 


"istirahat makan siang Kau harus datang ke ruanganku" Pangeran Riana mengantar Yuki sampai di depan ruang kelasnya. Hembusan nafasnya terasa begitu dekat di telinga Yuki, gadis itu berjengit dan mundur ke belakang.


Yuki langsung pergi. Dia tidak menjawab Pangeran Riana dan memilih langsung masuk ke dalam kelas.


Suasana di dalam kelas pun tidak membuat dirinya menjadi nyaman. Hampir semua murid memperhatikannya. Yuki berusaha untuk tidak memperdulikannya. Dia bersikap seolah tidak tahu apa yang terjadi, hatinya sangat kacau. Dia ingin berteriak menyuruh orang di sekelilingnya untuk berhenti memandangnya.


Elber masuk ke dalam kelas dengan wajah di tekuk, mengingatkan Yuki bahwa Dia lupa menghubunginya semalam karena Dia sibuk meratapi nasib.


Elber menghempaskan pantatnya di bangku yang terletak di dekat Yuki. Menatap Yuki dengan pandangan memprotes.


"Katakan padaku, Aku ini sebenarnya temanmu bukan !!" Protes Elber kesal.


"Maafkan Aku, Semalam Aku tidak sempat mengabarimu" jawab Yuki menyesal. 


"Bukan itu, Aku marah padamu sekarang karena Kau tidak bercerita apa-apa padaku. Kenapa Aku harus mendengar berita mengenai dirimu dari orang lain dan bukan darimu langsung"


"Aku baru ingin bercerita padamu, tapi kabar menyebar lebih cepat" ujar Yuki beralasan. 


"Kan Kau bisa menghubungiku menggunakan Gulf"

__ADS_1


"Aku tidak bisa" gerutu Yuki semakin kesal ketika mengingatnya.


"Hah ?!"


"Pangeran menghancurkan Gulfku"


"Kenapa ?"


Yuki mengangkat bahunya acuh. "Bagaimana Aku bisa tahu pikiran orang gila itu, Dia tiba-tiba mengatakan hal yang tidak masuk akal mengenai aturan-aturan sebagai kekasihnya, bahkan kerajaan mendukung keinginannya dengan mengirimkan dekrit ke rumahku pagi ini"


Mata elber nyaris keluar saat mendengar kerajaan mengirimkan dekrit ke rumah keluarga Olwrendho. "Dekrit istana ?, Apa isinya ?"


Yuki mencembik. Wajahnya muram. "Kerajaan mengangkatku sebagai kekasih Pangeran Riana dan menaikan statusku menjadi Consort VIII"


"Consort VIII" Yuki langsung menutup mulut Elber yang berteriak mengundang perhatian. Dia sudah sebisa mungkin berbicara pelan, tapi Elber malah mengucapkan dengan keras membuat seisi ruangan semakin bergunjing.


Elber melepaskan tangan Yuki. Dia menatap Yuki dengan pandangan kagum. "Aku terlalu menyepelekanmu, Yuki Kau hebat !!"


"Jangan mengejekku" 


Elber menyilangkan kakinya, Dia melirik ke buku di tangan Yuki. Tampaknya Yuki sedang mencari tahu apa itu Consort VIII, Dia sedang membuka buku mengenai istana harem.


"Aku melihatmu di seret Pangeran Riana dari cendela semalam" Kata Elber akhirnya membuyarkan konsentrasi Yuki yang sibuk membaca buku di depannya. 


"Benarkah ?, Lalu kenapa Kau tidak menolongku" Kini giliran Yuki yang merasa kesal.


"Apa Kau gila ?, Menyuruhku cari mati dengan Pangeran ?!. Tidak"


"Kau benar-benar teman yang baik" sindir Yuki tajam membuat Elber nyengir.


"Apa kubilang, Akhirnya kejadian kan..Kau beruntung Pangeran yang mengangkatmu menjadi wanitanya, bagaimana jika Baginda Raja yang memintamu..Kau akan menjadi kekasih dari laki-laki yang umurnya lebih tua dari ayahmu?" 


Yuki menghela nafas pasrah. Jika dipikir apa yang dikatakan Elber cukup masuk akal. Bagaimana jika Baginda Raja yang memintanya menjadi wanitanya ?. Dia tidak bisa membayangkannya.


"Aku tidak mengharapkan semua ini" Aku Yuki jujur.


"Bersabarlah, Menjadi kekasih Pangeran tidak begitu buruk. Kau akan terbiasa nantinya" hibur Elber tulus.


Pangeran Riana memang terkenal dingin, tertutup dan sering tidak mau berdekatan dengan orang lain. Dia seperti ruangan yang tertutup rapat, tapi Elber tidak pernah mendengar Pangeran menyiksa wanitanya. Jika Yuki tahu banyak sekali Bangsawan gila yang senang melecehkan wanitanya sendiri, bahkan ada yang sampai cacat atau meninggal, Dia akan cukup bersyukur diangkat menjadi kekasih Pangeran.

__ADS_1


__ADS_2