
Sekarang Yuki sendirian.
Tidak ada Lekky. Tidak ada Curly. Dan tidak ada keluarga Darmount.
Apa yang harus di lakukannya sekarang.
Yuki terus berdiri dalam diam. Memandang sosok Lekky yang semakin mengecil sehingga berubah menjadi titik di udara. Tidak berapa lama titik itu menghilang, hujan turun dengan cukup deras.
Yuki langsung berlari menuju pintu masuk. Bajunya basah. Sementara itu Dia harus memikirkan cara bagaimana keluar dari gedung menuju rumah Bangsawan Voldermont tanpa ada orang yang menyadarinya. Terutama orang-orang dari Argueda.
Yuki berjalan dengan hati-hati dan waspada, menuruni tangga dan menyusuri lorong kelas yang sepi. Di luar hujan turun semakin deras di sertai angin kencang. Tampaknya akan ada badai.
Jantung Yuki nyaris berhenti. Saat Dia akan berbelok ke ujung lorong, Dia melihat Pangeran Sera dan rombongannya berjalan tak jauh didepannya. Mereka tidak menyadari kehadiran Yuki.
Yuki langsung berdiri di balik tembok. Tampaknya Pangeran Sera tidak menduga jika Yuki akan berada di lingkungan sekolah hari ini. Yuki tidak boleh sampai ketahuan. Dia memilih menunggu sampai rombongan Pangeran Sera menjauh.
Ketika cukup yakin jaraknya dengan rombongan Pangeran Sera cukup jauh. Yuki bergegas berjalan dengan berjinjit. Agar tidak menimbulkan suara. Dan dengan cepat menyeberangi lorong, membuka sebuah pintu ruangan yang ada di depannya.
Terdengar bunyi klik saat gagang pintu di putar. Yuki bersyukur pintu itu tidak terkunci. Tanpa membuang waktu Dia segera masuk ke dalam ruangan.
Yuki masuk ke dalam ruangan yang kosong, terkesan sudah lama tidak di gunakan lagi. Ada bangku-bangku yang berserakan di sepanjang ruangan dengan sebuah meja panjang yang cukup untuk menampung sekitar dua puluh orang. Di sisi lain, sebuah cermin besar di pasang menempel pada tembok sebelah utara. Bersebelahan dengan sebuah pintu yang tertutup di sudut ruangan.
Tidak ada siapapun di dalam ruangan dan cukup aman untuk Yuki berada di dalamnya.
Yuki melihat sekeliling untuk memastikan sekali lagi dan memutuskan untuk sementara bersembunyi di dalam ruangan sampai Pangeran Sera dan rombongannya pergi meninggalkan gedung Kuldhi tempatnya berada sekarang. Selain itu, Dia juga harus menyusun rencana agar bisa pergi kembali ke rumah Bangsawan Voldermont tanpa ketahuan.
Yuki melepaskan pakaian luarnya sehingga hanya menyisakan pakaian dalam berupa gaun tipis dengan tali satu. Panjangnya lima belas sentimeter di atas lutut. Yuki duduk di sebuah bangku kayu yang ada di dalam ruangan, dekat jendela. Mengurai rambutnya yang lembab akibat terkena air hujan. Sementara itu, di luar hujan semakin turun dengan deras.
Airnya menampar jendela sehingga menimbulkan bunyi yang berirama.
__ADS_1
Terdengar suara langkah kaki mendekat. Yuki menegang. Dia menajamkan telinganya dan yakin jika suara itu menuju ke arah ruangan tempatnya berada sekarang.
Dengan panik Dia langsung berdiri sambil meraih semua pakaian yang diletakkannya begitu saja di atas meja. Matanya memandang ke sekeliling untuk mencari tempat bersembunyi.
Yuki tidak mau seseorang menemukannya apalagi dengan busana yang sekarang di kenakannya. Bisa gawat jika hal itu sampai terjadi.
Pandangan Yuki menuju sebuah pintu yang terletak di ujung ruangan. Letaknya cukup tersembunyi sehingga jika tidak di perhatikan dengan seksama, orang tidak akan menyangka ada pintu di sana. Sambil berlari memeluk semua pakaiannya, Yuki bergerak cepat menuju pintu itu dan langsung membukanya tanpa berpikir panjang.
Melempar dirinya bersembunyi di dalam ruangan tepat saat pintu di luar terbuka.
Yuki menyandarkan punggungnya di pintu. Berharap orang itu tidak masuk ke dalam ruangan tempat dia sekarang berada.
Jantung Yuki berdebar cukup kencang. Terdengar suara klik dari sebuah pintu yang ada di dalam ruangan tempat Yuki berada.
Pangeran Riana muncul dengan hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Rambutnya basah sehabis mandi. Aroma sabun tercium dari badannya.
Mata Yuki bertemu dengan Pangeran Riana.
Yuki terkejut. Tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Dia memperhatikan sekitar dan tersadar. Ruangan tempatnya berada sekarang adalah sebuah kamar dengan tempat tidur kecil. Ada sebuah sofa lengkap dengan meja di depannya. Dan lemari pakaian yang berada di sudut ruangan.
Langkah kaki di luar semakin mendekat. Yuki semakin panik. Jika ada yang menemukan Mereka berdua dalam penampilan yang sekarang, pasti orang itu akan salah paham dan mengira yang tidak-tidak.
Gagang pintu di putar dari luar.
Yuki berdiri membeku di balik pintu. Matanya terus menatap pintu tidak tahu harus berbuat apa.
Saat pintu sedikit terbuka, tanpa di duga Pangeran Riana maju dan langsung mendorong pintu hingga tertutup kembali.
Yuki menempel pada gagang pintu. Tidak berani bergerak sedikitpun bahkan Dia juga tidak yakin bisa bernafas dengan benar. Kedua tangan Pangeran Riana yang menahan pintu, mengurungnya sedemikian rupa. Jarak Mereka cukup dekat, hanya seperkian milimeter. Saking dekatnya hingga Yuki bisa melihat dengan jelas lekuk tubuh Pangeran Riana.
"Riana ?" Tanya Bangsawan Xasfir dari balik pintu.
__ADS_1
"Ada apa ?" Jawab Pangeran Riana tenang.
"Rombongan keluarga Darmount sudah meninggalkan Garduete dan sedang menuju titik kumpul" lapor Bangsawan Xasfir.
"Teruslah mengawasi perjalanan Mereka dan laporkan jika ada kendala atau perubahan rencana"
"Istriku dan Marsha mengajak makan siang bersama, apa Kau ada waktu ?"
"Pergilah, Aku masih punya urusan yang harus kuselesaikan"
"Apa ada masalah ?" Tanya Bangsawan Xasfir lagi.
"Ya...Ada sedikit masalah yang baru saja datang" Yuki memalingkan wajah ketika Dia merasa Pangeran Riana berbisik ke telinganya. Berusaha menghindari kedekatan yang terjadi sebisa mungkin. "Aku bisa mengatasinya. Kalian pergilah tanpa Aku"
"Baiklah kalau memang begitu"
"Dan Xasfir.." panggil Pangeran Riana kemudian.
"Ya.."
"Jangan katakan pada siapapun jika Aku berada di sini. Aku sedang tidak ingin di ganggu. Jika ada pekerjaan yang tidak terlalu membutuhkanku Kau dan Voldermont selesaikan dulu"
"Baiklah, Aku mengerti. Aku pergi dulu"
Bukan kali ini saja Pangeran Riana ingin menyepi dan tidak mau di ganggu siapapun. Jadi Bangsawan Xasfir tidak bertanya lebih lanjut dan segera beranjak pergi meninggalkan ruangan tempat kamar rahasia Pangeran Riana berada.
Terdengar langkah kaki milik Bangsawan Xasfir yang semakin menjauh. Di susul suara pintu di buka dan di tutup dari luar. Setelah itu sunyi.
Yuki terus diam di tempatnya. Memastikan Bangsawan Xasfir telah pergi meninggalkan ruangan.
Dia menggeser tubuhnya sedikit menjauhi Pangeran Riana. Mengatur nafasnya sebentar dan kemudian baru memberanikan diri untuk berbicara dengan Pangeran Riana yang masih berdiri cukup dekat dengannya, dengan dua tangan masih mengurungnya.
"Terimakasih atas bantuanmu kali ini Pangeran, Maaf telah menganggu waktumu. Aku akan segera pergi dari sini" ujar Yuki cepat sambil berbalik untuk memutar gagang pintu.
Namun...
Dia mengernyit saat menyadari pintu tidak dapat di buka. Yuki mencoba memutar kembali. Pintu tetap tertutup.
__ADS_1
Pintu itu terkunci.