Morning Dew

Morning Dew
43


__ADS_3

"Berapa banyak laki-laki yang Kau cium dengan alasan menolong, Apa Kau bisa gila jika tidak berurusan dengan Mereka ?" 


Yuki mundur ketika Pangeran Riana mendekatinya. Saat Dia ingin berlari, Pangeran dengan sigap mencekal kakinya dan menariknya mendekat. Kedua tangannya di cengkram kuat di atas tempat tidur membuat Yuki tidak dapat bergerak.


"Lepaskan Aku" pinta Yuki memohon. 


"Kau terus menerus menguji kesabaran ku Yuki, bahkan rela mempertontonkan tubuhmu didepan banyak orang hanya untuk Dalto"


"Lepaskan" pinta Yuki kencang.


Pangeran Riana sangat marah mendapat penolakan dari Yuki. Dia mencengkram wajah Yuki. Memaksanya untuk melihatnya. "Haruskah Aku menunjukan siapa yang berkuasa atas dirimu sekarang ?!"


Yuki menggeleng, ketakutan menjalarinya. Pangeran Riana mendekatinya.


"Jang...hmmmmpp"


Yuki berusaha melepaskan diri saat Pangeran Riana menciumnya dengan beringas. Yuki tidak mampu melawan, karena Pangeran Riana mencekalnya kuat. Tenaganya tidak sebanding dengan Pangeran Riana.


Air mata sudah membasahi pipi Yuki. "Tidak...Aku mohon..Jangan" Pangeran terus saja menciumi Yuki. Bibirnya, wajahnya dan lehernya secara bergantian. Tangannya bahkan sudah berada di atas dada Yuki. "Tidakk !!"


Dalam sekali sentak, Dia merobek pakaian Yuki. Memperlihatkan dadanya dengan bebas. Pangeran Riana menciumi dada dan leher Yuki seolah Dia tidak pernah mencium wanita sebelumnya. Yuki semakin ketakutan dibuatnya. Pikirannya kalut.


Yuki terus berteriak, memberontak, memohon kepada Pangeran Riana. Tapi Pangeran Riana tidak peduli. Dia terus dan terus melakukan apa yang diinginkan pada tubuh Yuki.


Tok tok tok 


Terdengar suara ketukan pintu berulang-ulang.


Pangeran Riana merasa terganggu. Dia lantas berteriak dengan marah "Aku sudah bilang pergi dari sini !!"

__ADS_1


"Mohon maaf Pangeran, Ada berita penting dari kerajaan. Raja memerintahkan Pangeran untuk segera ke istana sekarang juga" ujar suara dari luar.


Pangeran Riana diam sebentar. Kemudian Bangun, meninggalkan Yuki yang terbaring dengan tubuh gemetaran. Pakaiannya berantakan, sobek di beberapa tempat. Nafasnya masih tersenggal-sengal. Tanpa memperdulikan keadaan Yuki, Pangeran Riana merapikan pakaiannya dan berjalan keluar. Pintu di tutup dengan keras.


Yuki ditinggalkan seorang diri. Dia mulai menangis ketakutan.


Yuki sangat malu saat para pelayan membantunya mandi dan berpakaian. Ada banyak bekas ciuman Pangeran di dada dan lehernya. Dia bahkan tidak berani menatap para pelayan. Bulu kuduknya langsung berdiri setiap kali Dia mengingat kejadian tadi.


Pangeran Riana memerintahkan untuk tidak membiarkan Yuki keluar kamar. Dia tinggal di kamar Pangeran Riana dan itu membuatnya gusar. Apa sekarang penjaranya sudah berpindah ke kamar Pangeran Riana ?.


Ini tidak baik. Apa Dia harus tinggal sekamar dengan Pangeran Riana ?.


Hari sudah larut ketika Pangeran Riana kembali ke kamar. Yuki tampak terkejut ketika melihatnya kembali. Jelas, gadis itu tidak menginginkannya datang. Hal itu semakin membuatnya kesal.


Yuki mengenakan pakaian dengan kerah yang lebih tertutup. Dia juga melilitkan kain seperti sebuah syal di lehernya, untuk menyembunyikan bekas ciuman Pangeran Riana.


Yuki terus bertanya untuk apa Pangeran Riana kembali ?.  Dia sangat ketakutan sekarang. Tangannya mencengkram kain di lehernya kuat.


"Aku tidak senang Kau menutupi bekasku di tubuhmu" ujar Pangeran Riana setelah berhasil merebut kain yang menutupi leher Yuki.


Yuki menatapnya tidak percaya. "Kau gila ?!" Teriak Yuki marah. "Bagaimana jika ada yang melihat ?. Mereka pasti mengira yang tidak-tidak"


"Bagus jika Mereka mengetahui apa yang kulakukan, Kau adalah wanitaku. Sudah sepantasnya Kau menjaga dirimu bukan malah menjadi liar dengan mencium sembarang orang di depanku"


"Berapa kali Aku harus mengatakannya, itu bukan ciuman" Sergah Yuki cepat. Yuki memalingkan wajah setelah keduanya hanya diam cukup lama dan saling menatap dengan penuh emosi. "Kita tidak bisa membahas hal ini terus menerus. Untuk apa Kau kembali jika Kita hanya terus bertengkar seperti sekarang. Pergilah keluar atau biarkan Aku kembali ke kamarku" 


Pangeran Riana berjalan mendekat, Yuki langsung mundur hingga terduduk di atas tempat tidur. Pangeran mencengkram dagu Yuki kuat.


"Aku ingin tahu sampai mana Kau menguji batas kesabaranku Putri" setelah berkata seperti itu, Pangeran Riana langsung menghempaskan Yuki keatas tempat tidur kuat. Kemudian berbalik menuju kamar mandi.

__ADS_1


Yuki tertegun. Jika Pangeran Riana memutuskan untuk tidur di kamar malam ini, ini sangatlah berbahaya. Pangeran Riana sudah mengetahui jika Yuki hari ini genap berusia enam belas tahun. Secara sah Dia sudah aman untuk di sentuh.


Perut Yuki menjadi mulas jika memikirkannya. Dia ketakutan. Yuki sangat menjaga kesuciannya selama ini. Bahkan dengan Raymond, Mereka hanya tiga kali berciuman. Itupun hanya ciuman malu-malu yang kekanakan. 


Dia ingin menyerahkan dirinya untuk pria yang menjadi suaminya di malam pertama pernikahan Mereka. Itu mimpinya sejak kecil. Dia tidak mau melakukannya dengan paksaan. Apalagi dalam kondisi seperti ini. Yuki juga bukan wanita yang akan sudi menerima pasangannya jika Dia memiliki wanita lain seperti yang di lakukan Raja Bardana.


Lebih baik Dia sendiri daripada harus menikah dengan laki-laki yang memiliki wanita lain.


Kepanikan menguasai Yuki. Dia menarik selimut di atas tempat tidur dan sebuah bantal. Membawanya ke sebuah sofa panjang. 


"Apa yang Kau lakukan ?" Tanya Pangeran Riana tiba-tiba dari belakang. Yuki yang sedang mengatur selimut terkejut. Ketika Dia berbalik, Pangeran Riana berdiri tepat di belakangnya, bertelanjang dada.


Otot badannya terpampang jelas, masih ada butiran air mengalir membasahi kulitnya. Yuki tertegun sejenak, namun untungnya Dia mampu mengendalikan diri dengan cepat dan mengalihkan pandangannya.


"Aku akan tidur di sofa, Kau bisa tidur di ranjangmu tanpa gangguan" Kata Yuki akhirnya.


Pangeran Riana mengatupkan giginya. Berusaha menahan keinginan untuk membawa Yuki ke atas tempat tidur dan mengakhiri pemberontakannya dengan segera.


"Apa Kau tidak lelah memicu pertengkaran seperti ini ?" Tanya Pangeran Riana dingin.


"Aku tidak berniat bertengkar denganmu" bantah Yuki cepat.  "Dengarkan Aku, Kau akan menjadi seorang Raja suatu saat nanti dan Kau sudah menemukan calon ratumu. Tidakkah Kau pikir baik jika Kau mengurungku di kamarmu semalaman. Orang-orang akan berprasangka yang tidak baik. Itu akan mempengaruhi reputasimu. Lagipula jika semua ini di dengar oleh calon ratumu, Dia pasti tidak akan suka. Bukankah syarat untuk membuat negeri ini menjadi aman dan makmur di bawah kepimpinanmu adalah membuat calon ratumu jatuh cinta denganmu dan bersedia menikah denganmu ?"


Yuki berusaha menjelaskan sebaik mungkin agar Pangeran Riana mengerti. Dia juga mengingatkan mengenai misi Pangeran Riana untuk membuat calon ratu yang akhirnya berhasil di temukannya dengan susah payah jatuh cinta.


"Aku tidak akan kabur" janji Yuki dengan sungguh-sungguh. "Aku mohon padamu, biarkan Aku kembali ke kamarku" Yuki menangkupkan kedua tangannya di kepala. 


"Kau sangat takut jika omongan orang yang membahas Kita pernah sekamar tersebar keluar, tapi masalahnya Kau peduli pada perasaan calon ratuku atau Dalto ?"


Yuki mendongakkan kepala, Dia tidak menduga Pangeran Riana menanyakan hal ini. Sementara itu Pangeran Riana dengan tenang menatap Yuki, mencoba menebak jawabannya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2