Morning Dew

Morning Dew
314


__ADS_3

Setelah berhasil menggendong Nara. Pangeran Riana berjalan duduk di pinggir tempat tidur. Dekat dengan Yuki sambil menunjukan Nara pada Yuki.


Nara memiliki hidung yang mancung dan bibir tipis yang melengkung sempurna seperti ayahnya. Rambutnya berwarna hitam seperti rambut Raja Bardhana. 


"Terimakasih sudah berjuang untuk melahirkannya" kata Pangeran Riana di dekat Yuki dengan tulus.


"Dia mirip denganmu Riana" kata Bangsawan Voldermont sambil berjongkok untuk mengusap pipi Nara yang sedang tertidur dalam gendongan Pangeran Riana.


"Kau sudah jadi paman yang baik untuk Nara bahkan sebelum Dia lahir" puji Yuki pada Bangsawan Voldermont.


"Aku bisa jadi apapun selain menjadi seorang suami" kata Bangsawan Voldermont penuh arti pada Pangeran Riana. Seolah sedang mengingatkan pada Pangeran Riana bahwa Pangeran Riana memiliki hutang padanya. Karena menemani Yuki melahirkan. Jadi Dia meminta kepada Pangeran Riana agar mau berbicara dengan Ibunya agar tidak lagi memaksanya untuk menikah.


Yuki ingin mengatakan sesuatu. Tapi Dia berhenti ketika menangkap gerakan di balik pintu. Pangeran Sera berdiri dengan tenang. Diam di tempatnya. Menatap Mereka bertiga dengan pandangan penuh makna.


Kemudian pergi tanpa suara....


 


 


Yuki merasa tidak tenang. Setelah kelahiran Nara. Pangeran Sera banyak berubah. Dia jarang mengunjungi Yuki dan menyibukkan diri dengan urusan kerajaan. Seperti ada sesuatu yang sedang Dia kejar.


Meskipun sikapnya dengan Yuki tetap lembut seperti biasa. Tapi Yuki merasakan ada sesuatu yang salah. Dia tidak tahu apa. Dan itu membuatnya semakin frustasi. 


Yuki tidak tahu harus mengatakan apa.


Pangeran Sera bahkan tidak lagi mengenakan cincin kawinnya. Saat Yuki bertanya. Dia mengatakan Dia mengalami alergi sehingga terpaksa menyimpan cincin kawinnya untuk sementara.


Sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Mengingat, Pangeran Sera telah mengenakan cincin itu lebih dari lima tahun lamanya. Kenapa baru sekarang Dia mengalami alergi ?. 


 


Lekky sendiri tidak mau banyak bicara soal perubahan Pangeran Sera. Yuki merasa semua orang sedang mencoba menyembunyikan sesuatu dari Yuki. 


 


Sementara itu pergerakan Iblis Balgira semakin sering terjadi karena Iblis Balgira ingin menghancurkan pohon suci sebelum waktunya. Semua orang terus berupaya mencegahnya.


 


Dua bulan berlalu tanpa ada kejelasan kapan bumi, bulan dan matahari berada pada satu garis lurus.

__ADS_1


 


Yuki terbangun di malam hari ketika sayup Dia mendengar suara tangisan Nara. Bergegas Yuki meloncat turun dari tempat tidur untuk menghampiri Nara yang berada dalam tempat tidur kecilnya. Tapi ternyata Pangeran Sera telah lebih dulu mengendong Nara dan membawanya mendekati Yuki. 


"Dia ingin Asimu" kata Pangeran Sera lembut sambil memberikan Nara pada Yuki. 


 


Yuki menerimanya dan langsung memberikan asi pada Nara. Pangeran Sera duduk di dekat Yuki dan memandang Yuki dengan tatapan sayang. 


Sebenarnya Pangeran Riana telah mencarikan Ibu Susu untuk Nara untuk membantu Yuki. Tapi Yuki menolak dan memilih memberikan Asinya sendiri untuk Nara. Dia ingin lebih lama bisa menghabiskan waktu dengan Nara sebelum Dia mati nanti.


Yuki ingin Nara setidaknya tahu, Ibunya sangat mencintainya di sisa hidupnya.


 


Setelah Nara kembali tidur. Pangeran Sera membantu kembali meletakan Nara di tempatnya. "Sudah malam...lebih baik Kau beristirahat. Aku akan kembali bekerja"


Yuki langsung mencekal tangan Pangeran Sera untuk mencegah Pangeran Sera pergi.


"Sebenarnya ada apa denganmu ?" Tanya Yuki akhirnya. Yuki sudah tidak bisa lagi menahan perasaannya. Pangeran Sera terkejut dan memandang Yuki. "Kau berubah. Aku seperti tidak mengenalimu lagi"


"Yuki.."


 


Pangeran Sera menggengam tangan Yuki. Berjongkok di depannya dan memandang Yuki dengan serius. "Maaf jika sudah membuatmu cemas. Tapi, Kau harus yakin Yuki. Apapun yang terjadi di masa depan, Aku akan tetap sama seperti yang Kau kenal. Tidak akan pernah berubah. Sera Madza hanya akan memiliki satu istri yang sangat di cintainya. Dan itu adalah Kau...."


Yuki melihat keseriusan di wajah Pangeran Sera. Dia menarik nafas sesaat. Mungkin Dia yang terlalu sensitif.


"Aku hanya berusaha menyelesaikan semua tugasku sebelum pertempuran besar. Agar Aku bisa lebih banyak menghabiskan waktu denganmu dan Nara. Kau melakukan semua untukku....begitupun Aku...juga akan melakukan semuanya untukmu. Apapun yang terjadi di masa depan, Aku akan selalu ada di sisimu. Menemanimu ....bukankah Kau akan mempunyai empat orang anak. Kau harus melakukan kewajibanmu...melahirkan Mereka dan membesarkan Mereka sampai Mereka bisa berdiri sendiri"


Yuki menyentuh wajah Pangeran Sera dengan wajah sedih. Pangeran Sera menatap Yuki, Dia tampak lelah. Yuki sebenarnya tidak senang melihat kondisi Pangeran Sera yang sekarang. Dia bekerja terlalu keras dan memaksakan dirinya tanpa kenal lelah. Membuat Yuki khawatir. Bagaimana jika nanti Dia harus mati dan meninggalkan Pangeran Sera sendiri.


 


Akankah Dia bisa bertahan ?.


 


"Jika nanti di pertempuran ini Kita terpisah ruang dan waktu. Aku akan menunggumu di sungai kehidupan agar bisa menyebranginya bersama-sama"

__ADS_1


Pangeran Sera mencium bibir Yuki dengan lembut.


"Ya...Kita akan menyebranginya bersama-sama....siapapun dari Kita yang pergi duluan. Kita akan menunggu di sungai kehidupan" bisik Pangeran Sera bersungguh-sungguh.


Yuki memeluk Pangeran Sera. Dia kembali mendekatkan wajahnya dan mencium Pangeran Sera. 


 


Malam itu keduanya saling memeluk dan menyentuh. Terlambat bagi Yuki menyadari kemana cintanya telah berlabuh. Tapi meskipun terlambat, Yuki merasa bersyukur Dia bisa menunjukannya sekarang pada Pangeran Sera.


 


 


Yuki dan Pangeran Sera duduk diam di atas tempat tidur. Saling berpelukan. Sementara Nara yang baru saja asi, sudah kembali tidur di dalam box bayinya.


Hari masih malam. Tapi baru saja Panglima Perang Gererou menghubungi Pangeran Sera dan mengabarkan berita terbaru dari pendeta suci. Bahwa waktu yang di nanti sudah di pastikan 48 jam mulai dari sekarang.


"Jika di pertempuran nanti ternyata Aku tidak selamat. Apa yang akan Kau lakukan Yuki ?" Tanya Pangeran Sera tiba-tiba, membuat Yuki terkejut. Yuki tidak menyangka Pangeran Sera akan menanyakannya. Meskipun Yuki tidak ingin membahasnya. Tapi sudah tidak ada waktu lagi baginya untuk menghindari topik ini.


"Dalam hidupku, Pangeran selalu menjadi matahariku. Bagaimana bisa bumi bisa hidup tanpa mataharinya ?" Bisik Yuki lirih.


"Kau punya Nara dan semua orang yang mencintaimu"


Yuki menggelengkan kepala. "Tidak akan sama" kata Yuki cepat. "Aku sudah sering kehilangan orang yang kucintai dan Aku merasa hancur karenanya. Talk semua bisa Aku lalui berkat Pangeran di sampingku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika Aku harus kehilangan Pangeran. Duniaku pasti hancur. Aku akan kehilangan jiwaku"


Pangeran Sera terdiam sesaat.


"Berjanjilah padaku Yuki. Jika Aku tidak dapat selamat dalam pertempuran ini. Kau harus tetap hidup. Untukku..."


"Pangeran.."


"Kau harus menyelesaikan tugasmu, besarkan anak-anakmu sampai nanti Kita bertemu lagi di waktu dan tempat yang berbeda"


Yuki terdiam. Dia menatap Pangeran Sera dalam. "Jika, Jika Aku yang ternyata pergi lebih dulu. Apa yang Pangeran akan lakukan ?"


Pangeran Sera tidak menjawab. Dia justru mendekati Yuki dan langsung mencium Yuki dalam. 


Ciuman yang seolah tidak memiliki akhir.


 

__ADS_1


Tinggal hitungan jam lagi sebelum pertempuran besar di mulai.


48 jam dari sekarang...


__ADS_2