Morning Dew

Morning Dew
156


__ADS_3

"Ha...ham...ba.." Darah keluar dari mulut Rena. Yuki semakin memeluk Rena erat. 


"Aku mohon Rena...Jangan katakan apa-apa lagi" teriak Yuki nyaring. Dia tahu apa yang akan di katakan Rena. Wajahnya membiru secara perlahan.


Para Prajurit masih berjaga dengan ketat membentuk barisan. Seorang Prajurit terlatih berjongkok memeriksa denyut nadi Rena. 


"Ma...maaf...maa..af...Kan..Ham...ba...Ti...tidak...bisa melayani..." Ujar Rena terbata. 


"Panggil medis cepat" teriak Prajurit yang nemeriksa kondisi Rena. Dua orang pelayan berlari untuk menjalankan perintah. Langkah kaki Mereka terdengar semakin menjauh.


Yuki menggelengkan kepala. Dia menangis sesenggukan. Dadanya terasa sesak. 


"Jangan berkata seperti itu, Kau akan menikah bukan...Kau akan memiliki keluarga...Kau harus bertahan Rena...Aku mohon padamu..." Isak Yuki tergugu. Dia terus memeluk Rena dengan erat, seolah takut Rena akan menghilang begitu saja di depannya.


Rena menarik nafas panjang. Kemudian Dia diam. Menatap Yuki dengan pandangan kosong. Sorot matanya semakin meredup, tapi masih menyiratkan ucapan maaf yang begitu besar, yang ingin Dia sampaikan pada Yuki.


Dia menyesal tidak bisa menjaga Yuki lagi. Dia berharap Yuki akan selalu baik-baik saja. 


Tangisan Yuki tidak terbendung. Dia meraung menahan perihnya hati.


Air mata semakin deras membanjiri wajahnya. 


Yuki teringat saat Mereka pertama kali bertemu. Ketika Mereka bertengkar karena Rena memaksanya mengenakan pakaian Putri yang tidak disukai Yuki. Ketika Mereka bergadang bersama membuat Gererou di istana Pangeran Riana. Rena selalu sabar menghadapi Yuki yang sering bersikap menyebalkan. Dia selalu tersenyum pada Yuki.


Dan sekarang, demi melindungi Yuki. Rena bersedia menjadikan badannya sebagai tameng yang melindungi Yuki.


Tangan Rena terjatuh di pangkuan Yuki. Jantungnya berhenti berdenyut.


Tidak ada suara apapun. Hening. Di luar hujan semakin deras dan kilat menyambar begitu kencang.


"Rena..." Bisik Yuki lirih. Rena tidak bergerak. Yuki menggoyangkan tubuh Rena kencang. Berharap Rena memberikan respon untuknya. "Renaa..." Panggil Yuki lebih kencang 


Jantung Yuki berdebar kencang. 


Terdengar isakan lirih di belakang Yuki. Para pelayan menangis.

__ADS_1


Prajurit yang terus memeriksa Rena dan berusaha memberikan pertolongan pertama mendongak. Menatap Yuki penuh simpati. "Maafkan Hamba Putri, Kita baru saja kehilangan Pelayan Putri" 


Yuki menggelengkan kepala menolak. Dia semakin menggoncangkan tubuh Rena. "Bangun...Rena...Aku mohon padamu..Bangunlah" 


"Yuki" sepasang tangan milik Pangeran Sera terulur dan memeluk Yuki dari belakang.


"Pangeran..Pangeran..Aku mohon...selamatkan Rena...Aku mohon padamu" kata Yuki histeris.


Pangeran Sera memandang Prajurit di depannya. Prajurit itu menggelengkan kepala pelan, menjawab pertanyaan Pangeran Sera yang tidak terucap.


"Dia sudah tidak ada Yuki" bisik Pangeran Sera lirih. 


"Tidak..Dia sebentar lagi akan menikah..Dia harusnya bahagia...Bukan seperti ini" 


Pangeran Sera melepaskan pelukan Yuki pada tubuh Rena. Badan Rena di ambil alih oleh dua orang pelayan dan Prajurit. Pangeran Sera mengusap wajah Rena. Menutup matanya yang masih terbuka.


Matanya terpejam. Rena telah tidur untuk selama-lamanya. Kemudian Pangeran Sera menarik Yuki untuk berdiri. Dia harus menahan tubuh Yuki yang menolak bangun. Ketika berhasil membuat Yuki berdiri, Pangeran Sera langsung memeluk Yuki untuk meredakan kesedihan Yuki. 


Yuki menangis sedih di dada Pangeran Sera. Tangannya berlumuran darah segar milik Rena. Dia sangat kacau dan terpukul.


Sementara para pelayan mulai membersihkan noda darah di lantai. Pangeran Sera tidak menunggu sampai selesai. Dia langsung membopong Yuki untuk pergi.


Yuki berdiri di depan tumpukan kayu tempat tubuh Rena di baringkan. Ini kedua kalinya Dia harus menghadiri pemakaman orang-orang yang di cintainya dan ketiga kalinya Dia menyaksikan Mereka kehilangan nyawa tanpa ada yang bisa Yuki perbuat.


Hati Yuki terasa beku. Dia hanya berdiri tercenung di tempatnya. Menyalahkan dirinya atas kematian orang-orang yang di cintainya. Perdana Menteri Olwrendho, Bangsawan Dalto dan sekarang Rena. Yuki tidak mampu berbuat apapun untuk menyelamatkan Mereka. Dan Mereka semua mati karena Yuki.


Sebenarnya luka yang di alami Rena tidak mengenai organ vital. Tetapi anak panah yang di gunakan telah di lumuri racun berbahaya terbuat dari bisa katak yang sangat berbahaya. Itulah sebabnya meski sudah di lakukan pertolongan, nyawa Rena tidak dapat di selamatkan.


Tidak perlu menjadi pemanah handal untuk membunuh Yuki, asal panah beracun itu mengenai tubuhnya. Yuki sudah pasti terbunuh. Tapi Rena yang menyadari adanya bahaya, mendorong Yuki ke lantai dan membuatnya terkena panah.


Yuki menghampiri tubuh Rena. Melihatnya untuk terakhir kalinya. Rena sangat cantik hari ini. Dia seperti seorang pengantin wanita yang sedang menanti mempelainya datang.


Api di sulutkan. Perlahan asap tebal membumbung tinggi di udara. Yuki merasa lemas. Pangeran Sera yang terus berdiri di belakang Yuki langsung maju, dengan sigap menompang tubuh Yuki agar tidak jatuh ke tanah.


"Kita beristirahat sebentar" ujar Pangeran Sera dengan suara tidak mau di bantah, sembari menuntun Yuki meninggalkan pemakaman. Mereka berjalan menuruni tangga batu. Pangeran Sera mendudukan Yuki di bawah pohon trambesi dengan berhati-hati.

__ADS_1


Pemakaman hanya di hadiri sedikit orang, karena Rena yang berstatus penduduk Negeri Garduete. Dia tidak mempunyai keluarga atau banyak teman di Argueda. Yuki memandang kosong ke depan. Pangeran Sera duduk di samping Yuki. Meremas lembut tangan Yuki.


"Aku akan mengutus orang untuk mengirim abunya ke keluarganya" janji Pangeran Sera pelan.


"Terimakasih" jawab Yuki tulus.


Sekarang, tidak ada lagi orang yang di percayainya yang akan membantu Yuki melewati hari-harinya di Argueda.


 


 


Kesehatan Yuki menurun setelah Dia pergi dari pemakaman Rena. Yuki mengalami panas tinggi dan nyaris tidak dapat bangun dari tempat tidur. 


Yuki tidak bisa melupakan Rena. Bahkan semakin buruk ketika kematian Rena membawa kembali ingatan Yuki akan kematian setiap orang yang pernah dilihat Yuki.


Kematian Putri Ransah, Perdana Menteri Olwrendho, Sei, Bangsawan Doldores, Putti Norah dan Bangsawan Dalto. Semuanya seolah bertumpuk, saling menyatu dan menjadi mimpi buruk bagi Yuki.


 


 


Yuki terlonjak bangun dari tidurnya. Secara refleks Dia langsung menepis tangan yang terulur di dekatnya. Kain lap yang di gunakan untuk membasuh wajah Yuki terlempar ke lantai akibat tepisan tangan Yuki.


"Putri Magitha" panggil Yuki terkejut ketika menyadari siapa pemilik tangan yang baru saja di tepisnya.


Yuki memandang ke sekeliling kamar. Tidak ada siapapun selain Putri Magitha. Entah sudah berapa lama Putri Magitha berada di sana untuk menjaga Yuki.


"Maaf, sepertinya Aku telah mengejutkan Putri" ujar Putri Magitha sambil membungkuk untuk mengambil lap yang terjatuh di dekat kakinya. Dan kemudian melemparkan ke dalam baskom berisi air dingin di dekatnya. 


"Aku yang minta maaf. Aku tidak tahu Putri berada di sini" ujar Yuki dengan nada menyesal.


"Putri bermimpi buruk. Aku mendengar Putri menggigau beberapa kali" Kata Putri Magitha tenang. Seolah apa yang di alami Yuki adalah hal yang tidak perlu di besar-besarkan.


Yuki melihat pemandangan di luar melalui cendela di dekatnya. Hari sudah larut malam. Terdengar suara gerimis yang cukup jelas. Bercampur dengan nyanyian katak yang tinggal di kolam istana.

__ADS_1


"Terimakasih telah menjagaku" Kata Yuki akhirnya.


__ADS_2