
Yuki tahu Dia di bawa kemari pasti bukan untuk tujuan baik. Panglima Perang Jaibar jauh lebih berbahaya ketimbang Putri Marsha dalam segala hal.
"Kau sangat cantik Putri, Aku mengakui hal itu. Sebenarnya, Aku tidak ingin begini. Tapi Kau terus menerus mencari masalah denganku dan keluargaku. Khususnya Marsha, adikku" Panglima Perang Jaibar menodongkan pisau ke leher Yuki. Yuki duduk dengan sikap tegar. Memandang tanpa rasa takut pada Panglima Perang Jaibar. "Karenanya....Kau harus di singkirkan"
Yuki tahu saat ini percuma baginya untuk berteriak dan meminta bantuan. Letak gudang ini sangat jauh dan terpencil dari sekitar. Lekky sedang tidak ada di sini, begitu juga dengan Curly.
"Apa Kau tidak tahu, dengan membunuhku akan membuat Dua negara menjadi pecah" Kata Yuki mencoba mengingatkan.
Panglima Perang Jaibar tersenyum mengejek. "Apa peduliku ?. Yang penting Marsha bisa menikahi Riana dan menghasilkan keturunan. Maka kedudukan keluargaku akan menjadi kuat. Kau tidak tahu bagaimana perjuangan Kami selama ini sampai Marsha mendapatkan kedudukannya. Dia harus menikahi seorang Pria tidak berguna untuk mendapatkan koneksi. Beruntung setelahnya, Marsha berhasil meracuninya dan membuatnya mati karena sakit. Kemudian, Aku dan Ibu membantu Marsha menyingkirkan semua wanita yang berpotensi sebagai penghalang tujuan Kami" Panglima Perang Jaibar mengoleskan pisau perlahan ke leher Yuki. Dinginnya pisau terasa nyata di kulit Yuki. Tapi Yuki masih tidak bergeming dan berusaha terlihat berani. "Seharusnya Kau tetap menghilang dan tidak muncul lagi Putri. Dengan begitu Kau akan selamat dan Aku tidak perlu membunuh wanita cantik sepertimu"
"Percayalah, dengan membunuhku akan membuat seluruh keluargamu terancam nyawanya"
"Kau mengancamku ?. Tenang saja, tidak ada orang yang akan tahu jika Aku adalah pelakunya"
"Aku hanya memperingatkanmu Panglima"
"Siapa yang dapat membuktikan jika ini adalah perbuatanku. Bahkan kekasihmu Lekky tidak akan bisa berbuat apa-apa dengan kematianmu. Jangan terlalu meninggikan dirimu sendiri Putri" Yuki menahan nafas saat mencium bau alkohol di nafas Panglima Perang Jaibar. "Menyenangkan jika Aku bisa membelah lehermu. Tapi sebelum itu, Aku ingin merasakan bagaimana rasanya dirimu sehingga Kedua Pangeran dan Lekky sangat bersaing untuk memilikimu ?"
Panglima Perang Jaibar langsung menekan tubuh Yuki ke atas lantai. Yuki berusaha melawan dengan keras.
"Aku bersumpah pada Adikku. Akan membuat mayatmu menjadi hina seperti seorang ****** yang tidak ada harganya"
Karena Yuki terus melawan. Panglima Perang Jaibar langsung meninju dada Yuki dengan keras. Yuki terbatuk. Nafasnya terasa sesak. Tenaganya seolah tersedot dengan cepat.
Namun Yuki terus menyemangati dirinya. Dia tidak mau menyerah dan akan terus memberikan perlawanan. Dia merangkak dengan susah payah. Mencoba menjauhi Panglima Perang Jaibar. Panglima Perang Jaibar tertawa puas. Dengan kasar Dia menarik punggung baju Yuki dan merobeknya dengan keras.
Yuki terpekik saat rambutnya di tarik dengan kuat. Sedetik kemudian kepalanya di benturkan dengan keras ke dinding. Mata Yuki berkunang-kunang. Rasanya pusing. Pandangannya menjadi gelap. Yuki berusaha keras melawan perasaan tidak enak yang melandanya. Pelatihan yang di berikan Lekky selama ini membuatnya tetap fokus dan tenang bahkan dalam keadaan terdesak sekalipun.
Yuki melihat ada balok kayu yang tergeletak di dekatnya.
Ketika Panglima Perang Jaibar meraihnya. Yuki mengumpulkan tenaga dan langsung menendang perut Panglima Perang Jaibar dengan kencang hingga Dia terjengkang ke belakang. Panglima Perang Jaibar tidak menduga Yuki masih memiliki tenaga untuk melakukan perlawanan. Dengan cepat, Yuki meloncat untuk meraih Balok Kayu di dekatnya. Dan langsung menghantamkannya ke kepala Panglima Perang Jaibar, saat Panglima Perang Jaibar bergerak untuk meraihnya.
__ADS_1
Panglima Perang Jaibar langsung tersungkur di atas tanah. Darah keluar dari kepalanya.
Yuki berdiri dan langsung berlari ke pintu keluar. Dia terpaksa membuang balok kayu di tangannya untuk membuka kunci pintu gudang. Setelah berhasil membuka, Yuki berlari keluar.
"Toooloonggg...toooloooongg..." Teriak Yuki kencang sambil berlari. Tubuhnya terasa sakit semua. Yuki melangkahkan kaki menuju taman tengah.
Sebuah tangan meraihnya dari belakang.
Panglima Perang Jaibar berhasil menyusul Yuki dan langsung memberikan Yuki dua buah tamparan keras di kedua pipinya. Membuat Yuki tersuruk di atas tanah. Darah keluar dari sudut bibir Yuki.
"Wanita sialan" Maki Panglima Perang Jaibar marah sambil menendang Yuki.
"Apa yang sedang kalian lakukan ?" Tanya Putri Marsha.
Putri Marsha datang bersama dengan Namura dan para pelayannya.
"****** ini mencoba merayuku. Ketika Aku menolak, Dia justru memukulku dengan balok kayu" kata Panglima Perang Jaibar geram. "Sera salah memilih wanita murahan sebagai istrinya"
"Tidak benar...Kau yang..."
"Diam Kau" Panglima Perang Jaibar kembali menampar Yuki dengan kuat. Hingga Yuki kembali ambruk di atas tanah.
"Aku tidak terima ini. Aku akan menuntut kerajaan Argueda atas perlakuannya" kata Panglima Perang Jaibar sambil meludah di dekat Yuki.
"Aku akan bersaksi untukmu Kak" potong Putri Marsha cepat. Putri Marsha melihat Yuki dengan sorot mata merendahkan. "Apa Sera dan Lekky tidak cukup memuaskanmu sehingga Kau masih mengincar Kakakku"
"Kau merayu Suamiku ?. Sialan Kau" tuduh Namura kencang. "Kau sudah mempermalukanku, sekarang Kau malah berusaha merebut suamiku"
__ADS_1
Namura menendang Yuki berkali-kali. Menjambak rambut Yuki dan menariknya dengan kasar hingga Yuki terseret di lantai. Namura sangat histeris dan tidak terkendali. Yuki tidak bisa melawan karena tenaga Yuki telah habis sebelumnya.
Keributan ini menarik perhatian orang sekitar. Apalagi dengan teriakan Namura yang membahana di udara.
Rasa sakit menjalar di seluruh tubuh Yuki. Meski Yuki sudah berbaring tidak berdaya, tapi Namura tetap memukuli Yuki dengan keras. Bahkan Dia dengan brutal meraih gagang sapu yang ada di dekatnya. Dan menggunakannya untuk memukul Yuki.
"Ada apa ini ?"
Sebuah suara menghentikan Namura. Raja Bardhana muncul bersama dengan Pangeran Riana dan Bangsawan Voldermont di sampingnya.
"Yuki...."
Bangsawan Voldermont terkejut melihat Yuki. Dia langsung berlari. Mendorong Namura untuk menjauhi Yuki. "Yuki....!!" Bangsawan Voldermont menggoyangkan bahu Yuki. Tubuh Yuki penuh dengan memar dan luka bekas pukulan.
"Minggir, jangan halangi Aku membunuh ****** sialan ini" raung Namura sambil merangsek maju. Raja Bardhana memberikan perintah yang tidak terlihat. Dua orang prajurit langsung maju dan menodongkan senjata ke leher Namura. Membuatnya berhenti bergerak.
"Apa yang Kalian lakukan dengan istriku. Sialan Aku tidak terima dengan penghinaan ini" teriak Panglima Jaibar Marah.
"Yukiii" Pangeran Sera yang mendapatkan petunjuk untuk pergi ke taman belakang, melihat keributan yang sedang terjadi. Perasaannya tidak enak. Benar saja, begitu Dia menyeruak masuk ke dalam kerumunan. Jantungnya seketika nyaris berhenti karena melihat Yuki dengan tubuh penuh lebam dan darah. Sedang tidak sadarkan diri.
Dalam sekejap, Pangeran Sera mengulurkan tangan dan mendekap Yuki ke dadanya. Matanya memandang ke kerumunan dengan marah. "Apa yang terjadi ?"
"Akhirnya Kau di sini Pangeran, dengarkan Aku. Istrimu berusaha merayu Kakakku. Ketika Kakakku menolaknya Dia malah memukuli Kakakku dengan tongkat kayu" jawab Putri Marsha langsung sebelum ada orang lain yang menjawab. "Pangeran, Aku tidak bermaksud mencampuri urusan rumah tangga Kalian. Tapi Wanita ini untuk apa Kau pertahankan. Lebih baik Kau ceraikan saja Dia"
Visual Pangeran Arana
__ADS_1