
Pintu di tutup. Semua telah keluar kamar dan hanya tinggal Yuki bersama Pangeran Riana.
"Apa Kau tidak mendengarkanku ?. Aku tidak ingin tinggal di sini. Pulangkan Aku sekarang juga" ucap Yuki lagi.
"Di sinilah asalmu. Suka atau tidak suka Kau harus menerimanya" jawab Pangeran Riana akhirnya merespon Yuki.
Yuki terkejut ketika melihat hawa dingin yang meliputi sekeliling Pangeran Riana. Memberi peringatan secara tak kasat mata pada Yuki. Memperingatkan Yuki agar berhenti berdebat dengan Pangeran Riana atau Dia akan celaka.
Pangeran Riana jauh lebih menyeramkan daripada yang Yuki ingat. Suasana hatinya sedang buruk.
"Kenapa..Kenapa Kau terus memaksaku tinggal di sini" tuntut Yuki sembari mengeretakan giginya, menahan amarah yang membuncah di dada. Dia tetap mengajak Pangeran Riana untuk berdebat. Mengkonfrontasinya meskipun Pangeran Riana sudah memperingatkan Yuki untuk berhenti melalui sorot matanya.
"Kau adalah orang yang berasal dari dunia ini, seorang Putri dari Negeri Garduete dan juga Kau telah di angkat oleh kerajaan sebagai kekasihku. Apa itu tidak cukup sebagai alasan untuk membawamu kembali Yuki ?"
"Aku tidak pernah berniat menjadi kekasihmu" teriak Yuki marah. "Kalian yang tetap memaksaku meski Aku sudah menolaknya"
Pangeran Riana tanpa peringatan langsung berdiri dan mencekal tangan Yuki dengan marah. Dia menarik Yuki sehingga Yuki terjatuh di atas sofa. Saat Yuki berbalik, Pangeran Riana sudah berada di atas Yuki. Sorot matanya begitu dingin dan menakutkan. Rasanya, Jika Yuki terus melawan seperti sekarang, Pangeran Riana bisa membunuh Yuki tanpa berpikir panjang lagi.
Kedua tangan Yuki di cekal dengan kuat di atas kepalanya. Dia sangat ketakutan tapi Dia berusaha terlihat kuat.
"Apa yang Kau lakukan, Lepaskan Aku" perintah Yuki marah sembari mencoba melepaskan cekalan Pangeran Riana dikedua pergelangan tangannya. Yuki menggeliat, menumpukan satu kakinya ke sofa untuk mendorong Pangeran Riana menjauh.
Usaha Yuki sia-sia. Bahkan Pangeran Riana tidak bergerak dari atas Yuki.
"Kenapa ?, Apa Kau takut ?" Tanya Pangeran Riana sembari tersenyum sinis menanggapi ketakutan yang berusaha di sembunyikan Yuki. "Sepertinya Kau sudah melupakan ajaranku" bisiknya lagi dengan nada dingin.
"Lepaskan Aku" pinta Yuki lagi. Ketakutan menghinggapi Yuki. Dia takut Pangeran Riana akan kembali memperkosanya seperti dulu. Pandangan mata Pangeran Riana menyiratkan keinginannya dengan jelas. Yuki semakin memberontak, berusaha melepaskan diri sebelum semua terlambat.
__ADS_1
Pangeran Riana duduk di atas perut Yuki, kakinya mengapit pinggul Yuki dengan kuat sehingga merendam perlawanan Yuki atas kedekatan yang terjadi. Yuki seperti seekor tikus yang di lilit ular raksasa. Mengikatnya dengan begitu kencang sehingga tidak mudah bergerak.
Yuki terlihat lebih kurus dari sebelumnya, tapi Dia jauh lebih cantik daripada Yuki yang dulu. Wajahnya jauh lebih cerah dan bersinar. Tampak sangat menggairahkan seperti apel merah yang segar.
"Bersyukurlah, Hari ini Aku punya banyak waktu untuk mengingatkanmu, apa akibatnya jika melawanku" Pangeran Riana tersenyum penuh kemenangan. Satu tangannya yang bebas mulai menyentuh pakaian Yuki. Sorot mata Pangeran Riana menunjukan Dia sangat menikmati ketakutan yang Yuki hadapin.
Meski Yuki sudah tidak perawan, tapi dari gerak-geriknya jelas Yuki tidak pernah berhubungan badan dengan pria lain selain Pangeran Riana.
Yuki memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan dirinya saat Pangeran Riana mendekat. Pangeran Riana menunduk dan langsung mendaratkan bibirnya di pipi Yuki. Membuat Yuki semakin panik dan ketakutan.
Bibir Pangeran Riana dengan tenang menyelusuri kulit pipi Yuki, turun ke leher Yuki. Pangeran Riana langsung menyusupkan wajahnya dan memberikan tanda merah di kulit leher Yuki.
Aroma Yuki membuatnya ingin merasakan seluruh tubuh Yuki seperti dulu.
Hembusan nafas Pangeran Riana terasa di kulit Yuki. Yuki terus memberontak sembari berteriak meminta tolong. Tapi tidak ada seorangpun yang datang. Air mata membasahi wajahnya, Yuki memohon kepada Pangeran Riana agar melepaskan Yuki. Tapi Pangeran Riana benar-benar tidak peduli. Dengan beringas, Dia terus menciumi wajah dan leher Yuki.
Pangeran Riana ingin kembali memasuki Yuki dan merasakan bagaimana nikmatnya tubuh Yuki.
Air matanya menetes deras di pipi. Pangeran Roana mencengkram rahang Yuki kuat dan memaksanya untuk menatap Pangeran Riana, ketika Yuki mencoba memalingkan wajahnya.
"Ini hukuman untukmu karena Kau berani menggoda laki-laki lain di depanku" bisiknya dingin.
"Aku tidak menggoda siapapun" bantah Yuki cepat. "Lepaskan Aku...Mmmpph"
Yuki merasakan manisnya anggur di bibirnya, ketika Pangeran Riana tanpa peringatan ******* bibir Yuki dengan ciuman penuh tuntutan. Yuki menendang-nendang sofa, berusaha menjauhkan tubuh Mereka. Pangeran Riana menumpukan berat tubuhnya pada Yuki. Terus mencium Yuki dengan kuat.
Yuki menutup bibirnya, ketika lidah Pangeran Riana berusaha merangsek masuk ke dalam mulutnya. Cengkraman di dagu Yuki di perkuat sehingga bibir Yuki terbuka. Pangeran Riana langsung memasukkan lidahnya. Menerobos masuk dan langsung menyusuri seluruh rongga mulut Yuki.
__ADS_1
Air liur Mereka menetes di sela bibir Yuki. Pangeran Riana tidak melepaskan ciumannya meski nafas Yuki sudah tersenggal-senggal. Dia justru mencoba membuka pakaianYuki.
"Tiidakkk !!" Yuki berusaha menarik jari-jari Pangeran Riana yang akan membuka kancing pakaian Yuki. Pangeran Riana sudah mengambil posisi di sela-sela paha Yuki. Mengunci pergerakan Yuki sehingga Pangeran Riana dapat bergerak lebih bebas.
"Tampaknya Para Penggemarmu tidak keberatan mengetahui Kau sudah tidur denganku. Jadi bagaimana kalau Aku buat agar Kau segera hamil anakku. Dengan begitu Mereka akan tahu siapa yang memilikimu"
"Aku tidak mau..lepaskan Aku"
Yuki tidak ingin menjadi kekasih Pangeran Riana. Dia tidak menginginkan jabatan dan kedudukan apapun di istana. Yuki hanya ingin kembali ke dunianya yang lama. Hidup dengan normal dan melupakan dunia asalnya. Tapi kenapa keinginaannya begitu sulit di lakukan.
Yuki semakin meradang di buatnya.
Pangeran Riana berhasil melepaskan jas sekolah Yuki dan membuangnya ke lantai. Yuki terus melawan ketika Pangeran Riana mencoba membuka kemeja sekolahnya.
Akhirnya, Pangeran Riana justru mengangkat kemeja Yuki ke atas sehingga memperlihatkan dada dan perut Yuki yang menggoda secara gamplang.
Rontaan Yuki dapat di tahan Pangeran Riana dengan mudah. Tanpa sungkan Pangeran Riana mendekatkan wajahnya ke dada Yuki untuk menikmati kulit Yuki melalui bibirnya.
Yuki menangis, masih terus memberontak membebaskan diri. Sementara Pangeran Riana justru sibuk menyesapi kulit dada Yuki dan memberikan tanda ciuman yang cukup banyak di tubuh Yuki.
Mati-matian Yuki berusaha melawan, tetap saja tenaga Mereka berdua tidak seimbang. Akhirnya Yuki harus merelakan tubuhnya kembali di nikmati Pangeran Riana.
Yuki membungkuk, berpegangan erat pada sofa di depannya. Sementara Pangeran Riana bergerak maju mundur, memompa Yuki dari belakang.
Nafas Mereka terasa panas memburu. Yuki menahan tubuhnya dengan kedua tangan agar tidak jatuh. Sementara Pangeran Riana justru dengan bebas menjamah tubuh Yuki dari posisinya. Rintihan kecil dan lenguh kenikmatan terdengar memenuhi seluruh ruangan.
Yuki menutup mulutnya rapat, menahan ******* atas respon daripada tubuhnya. Menangkupkan kedua rahangnya dengan kuat. Rambutnya tergerai tidak beraturan, sementara tubuhnya bergerak mengikuti irama Pangeran Riana.
__ADS_1