Morning Dew

Morning Dew
263


__ADS_3

Tidak mungkin.


Bukankah Bangsawan Xasfir baru saja bisa membuka pintunya. Kenapa sekarang terkunci ?.


Yuki mencoba lagi membuka pintu dengan memberi sedikit tarikan, tapi tetap saja pintu masih tidak dapat terbuka.


Terdengar suara gemerincing besi di belakang Yuki. Yuki berbalik dan menemukan Pangeran Riana dengan tenang menimang kunci di tangannya. 


Membuat Yuki kebingungan dengan tujuan Pangeran Riana mengunci pintu secara diam-diam, tanpa Yuki sadari sebelumnya.


"Maaf Pangeran, boleh Aku meminta kunci itu ?" Pinta Yuki sambil mengulurkan tangan untuk mengambil kunci di depannya. Namun Pangeran Riana justru melemparkan kunci itu sambil menatap lurus ke arah Yuki, hingga kunci itu jatuh ke belakang sofa.


Yuki memandang ke arah Pangeran Riana dengan pandangan tidak mengerti.


Yuki mencoba mendorong Pangeran Riana dengan kedua tangan menempel di dada Pangeran Riana. Mencoba memberi jarak pada keduanya. Tapi Pangeran Riana justru berbalik mendorong Yuki dengan keras hingga punggungnya menabrak pintu. 


Yuki yang terkejut, dengan cepat bereaksi untuk melepaskan diri. Tapi Pangeran Riana sudah lebih dulu menangkap kedua pergelangan tangan Yuki dan menahannya dengan kuat di pintu.


 


 


Mata Mereka bertatapan dengan jarak yang semakin dekat. Yuki bisa mencium aroma nafas Pangeran Riana yang mengenai pipinya. Di dalam kepala Yuki, terdengar suara sirine mengaung dengan keras, membunyikan tanda bahaya.


"Apa yang Kau lakukan, lepaskan Aku" pinta Yuki tegas sambil berusaha melawan Pangeran Riana. Tapi tubuhnya terkunci sehingga tidak dapat bergerak.


"Kau yang bilang sendiri, Kau bisa datang bermain denganku jika Aku menginginkannya. jadi sekarang...Ayo Kita bermain"


Yuki menatap Pangeran Riana terkejut dengan apa yang di ucapkan Pangeran Riana padanya. Tidak percaya dengan apa yang Dia dengar. Namun, Yuki melihat keseriusan dalam kata-katanya. 


Pangeran Riana tidak sedang bermain-main saat mengatakan semuanya. Dia serius. Yuki menelan ludah gugup.


Masih menatap Yuki, Pangeran Riana tersenyum sinis dan berkata "Apa Kau lupa, Kau sendiri yang menawarkan Padaku. Lalu kenapa sekarang saat Aku menyambut tawaranmu Kau malah binggung ?"


Pangeran Riana melepaskan satu tangannya yang mencekal pergelangan tangan Yuki. Menyentuhkan ujung jarinya, menelusuri pipi Yuki sampai ke lehernya. "Sudah berapa banyak laki-laki yang Kau tipu ?. Dengan wajah ini sudah berapa banyak Pria yang sudah Kau permainkan ?"


"Aku tidak ingin bermain denganmu. Lepaskan Aku" Kata Yuki gusar sambil kembali mencoba mendorong Pangeran Riana dengan satu tangannya yang bebas.


Tapi bukannya menjauh, Pangeran Riana justru semakin menekan Yuki mendekat. Kedua kakinya mengapit Yuki dengan kuat.


"Apa Kau khawatir Aku tidak bisa setangguh kekasih barumu itu ?" Tanya Pangeran Riana dingin membuat Yuki sadar, Pangeran Riana masih mengira Lekky adalah kekasihnya.

__ADS_1


"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang Kau katakan Pangeran. Sekarang lepaskan Aku dan biarkan Aku pergi" 


"Tidak mengerti....Kalau begitu akan ku tunjukan supaya Kau mengerti"


Pangeran Riana tanpa peringatan langsung menarik tangan Yuki untuk mengikutinya. Melewati pakaian Yuki yang sebelumnya sudah jatuh berhamburan di kaki. Pangeran Riana melempar Yuki dengan kasar ke atas tempat tidur, hingga tersuruk dengan keras. 


Yuki mencoba bangun, tapi Pangeran Riana sudah lebih dulu membalikan badan Yuki dan naik ke atas tubuh Yuki. Mengunci Yuki dengan kuat sehingga Dia tidak dapat bergerak bebas.


Kedua tangan Yuki di tahan di atas kepala.


Mata Mereka bertatapan.


"Kau tidak boleh melakukannya...Tidak, Atau Aku akan berteriak" ancam Yuki berusaha mengertak Pangeran Riana.


Yuki bisa melihat dengan jelas sorot mata Pangeran Riana dan maksud di balik tatapannya. Tapi Yuki tidak bisa membiarkannya terjadi. Hubungan Mereka sudah lama berakhir. Yuki sudah menikah. Pangeran Riana sendiri sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah.


 


Tidak boleh terjadi apapun di antara Mereka. 


"Berteriak saja..Lakukan apa yang Kau inginkan" kata Pangeran Riana dingin.


Tanpa canggung Dia langsung mendekati Yuki. Yuki menggelengkan kepala panik ketika melihat tekad Pangeran Riana. Bibirnya tanpa bisa di cegah, langsung ******* bibir Yuki tanpa ampun. 


Yuki mencoba mendorong Pangeran Riana kembali dengan badannya, tapi gagal.


"Tidak hentikan...mmmpp....jangan..." Pinta Yuki di sela ciuman Pangeran Riana di bibir dan wajahnya. Pangeran Riana terus menciumi Yuki. Satu tangannya meraih kerah leher Yuki dan menariknya kuat hingga terdengar robekan kain yang cukup keras. "Pangeran...Hentikan.."


Yuki berhasil mendorong Pangeran Riana kali ini. Dia segera bangun dan ingin berlari ke sisi tempat tidur yang lain. Namun Pangeran Riana berhasil mencengkram bagian belakang bajunya, membuatnya robek hingga menampangkan punggung Yuki yang putih mulus tanpa noda.


Yuki bersandar pada meja yang ada di depan jendela. Menatap Pangeran Riana dengan pandangan memohon.


"Kau tidak boleh melakukannya" pinta Yuki mencoba menyadarkan Pangeran Riana dari kesalahannya. "Biarkan Aku pergi"


Tapi Pangeran Riana kembali menerjang ke arah Yuki. Yuki terpekik saat Pangeran Riana kembali menangkapnya dan mendorong Yuki hingga tersungkur di atas meja. Buku-buku yang di tumpuk di atas meja berjatuhan di lantai.


"Tidaakkk !!!"


"Yukiiii...!!"


Yuki langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Terdengar teriakan Pangeran Sera dari kejauhan memanggil namanya. Sangat jelas di antara suara hujan yang sedang turun dengan derasnya. 

__ADS_1


Ketika mendongak, Yuki melihat dari jendela di depannya. Pangeran Sera berlari di tengah hujan. Tampak mencari keberadaan Yuki. Badannya basah kuyup terkena hujan.


"Yukiiii !!!" Teriak Pangeran Sera lagi dengan kencang.


Dengan kejam, Pangeran Riana kembali mendorong badan Yuki hingga membungkuk di atas meja. Kemudian menahan Yuki dengan kuat pada posisinya.


"Berteriaklah...berteriak yang kencang Yuki. Bagus bukan jika suamimu melihat apa yang sedang Kita lakukan ini"


Yuki terus menutup mulutnya kuat. Menahan diri untuk berteriak. Dia tidak ingin Pangeran Sera menyadari kehadirannya dan mengetahui apa yang sedang terjadi.


Pangeran Riana membungkuk di atas Yuki. Mengigit daun telinga Yuki. Yuki menggelengkan kepala berusaha menolak keinginan Pangeran Riana.


Yuki meringis kesakitan saat Pangeran Riana mulai memasuki tubuh Yuki dengan kasar.


"Sakiitt" Yuki berusaha melepaskan diri. Tapi Pangeran Riana mencengkram Yuki kuat seperti seekor elang yang mendapatkan mangsanya.


 


 


Hujan turun semakin deras. Pangeran Arana berlari mengejar Pangeran Sera yang berlari ke sana kemari sembari memanggil nama Putri Yuki.


"Kakak...hujan semakin deras, Ayo Kita masuk ke dalam" ajak Pangeran Arana sambil memayungi Pangeran Sera dengan raut wajah cemas.


"Aku yakin itu suara Yuki. Dia sedang dalam bahaya"


"Kakak, Putri Yuki pasti sedang ikut bersama dengan keluarga Darmount. Dia tidak mungkin berada di sekolah. Kakak hanya salah dengar saja" bujuk Pangeran Arana menyakinkan Pangeran Sera. "Ayo Kakak, Kita masuk ke dalam. Tidak baik berlama di bawah hujan seperti ini. Putri Yuki berada di tempat aman. Keluarga Darmount tidak mungkin membiarkannya dalam bahaya"


Pangeran Sera memandang sekeliling sesaat. Dia tadi seperti mendengar jeritan Yuki. Tapi benar kata Arana, itu hanya perasaannya saja. Dia yakin Yuki baik-baik saja meskipun Dia tidak tahu bagaimana Yuki selama ini bisa bertahan bersama dengan keluarga Darmount.


Jadi, Dia kemudian membiarkan Pangeran Arana menuntunnya untuk pergi meninggalkan taman dan kembali masuk ke dalam gedung.


 


 


Sementara itu, Yuki melihat semuanya dengan jelas dari posisinya. Dia mengulurkan tangan ke jendela, seolah bisa menggapai sosok Pangeran Sera di depannya. Yuki mengantupkan bibirnya erat, tidak ingin berteriak. Pangeran Riana berada di belakang Yuki, Tanpa perasaan canggung, Dia menikmati setiap gesekkan kenikmatan yang di dapatnya dari tubuh Yuki.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2