
Bangsawan Dalto menatap Yuki dengan kebencian. Pandangannya seolah meneriakan agar Yuki tidak menyentuhnya.
Yuki menyadari tatapan tidak bersahabat dari Bangsawan Dalto, Dia menarik kembali tangannya yang telah terulur. Kemudian melangkah mundur di dekat Bangsawan Xasfir sembari menatap sedih ke depan.
"Aku hanya ingin membantu" bisik Yuki sedih.
Bangsawan Dalto kembali berusaha bangun, Dia kembali terjatuh. Namun kembali Dia mengangkat tangannya, menghentikan Yuki yang ingin membantunya.
"Prajurit, Bawa Bangsawan Dalto kembali ke kediamannya" perintah Pangeran Riana tenang. Keberadaanya mengejutkan Yuki.
Ekpresi Pangeran tenang. Namun pembawaanya yang begini menyulitkan orang lain untuk menebak apa yang sedang di pikirkannya.
Dua orang Prajurit datang dan langsung membantu memapah Bangsawan Dalto.
"Terimakasih sudah membantu wanitaku" kata Pangeran Riana tanpa ekpresi ketika Bangsawan Dalto berdiri di depannya.
Setelah memberi hormat, Bangsawan Dalto di papah pergi menjauh.
Pangeran Riana berpaling, Melihat Pendeta Agung Hiro berjalan tenang dari arah hutan. Sesaat keduanya bertatapan. Pendeta Agung Hiro memalingkan wajah dengan cepat dan berjalan menghilang dalam kerumunan.
"Vold, Kau tidak apa-apa ?" Tanya Bangsawan Xasfir masih memegangi Yuki. Bangsawan Voldermont berjalan tertatih mendekat.
"Ya, Aku belum pernah melihat sihir seperti itu sebelumnya" Bangsawan Voldermont meringis memegangi punggungnya. "Penampilanmu jelek sekali" selorohnya kemudian ketika melihat Yuki.
Yuki terdiam melihat dirinya. Rambutnya berantakan dan sebagian yang terpotong terurai bebas di bahu. Dahinya masih mengeluarkan darah. Seluruh tubuhnya terbores dan pakaiannya koyak.
"Apa yang terjadi sebenarnya ?" Tanya Yuki kebinggungan dengan suara serak.
Penyerangannya hanya berlangsung tidak lebih dari lima menit, tapi mampu membuat Yuki babak belur dan hampir mati.
"Bulan biru yang datang seratus tahun sekali hampir tiba. Para penganut ilmu hitam akan dapat memiliki kekuatan dasyat jika di bulan itu dapat meminum darah ciel, tepat saat bulan purnama di atas kepala" jelas Pendeta Serfa tenang.
"Kekuatan dasyat ?" Tanya Yuki lagi masih tidak mengerti.
"Ya kekuatan dasyat yang dapat menghancurkan seluruh dimensi. Dengan kata lain kiamat"
__ADS_1
Kiamat ?!
"Orang itu terlalu percaya diri dan nekat menyerang, saat situasi sedang ramai seperti ini. Pangeran, Kita harus semakin waspada" kata Pendeta Serfa dengan wajah serius.
Pangeran Riana diam. Dia menghampiri Yuki. Menyibakkan rambut yang menutupi dahi Yuki yang terluka. Dan menutupnya dengan kain yang di ikat ke kepala. Pangeran Riana melepaskan jubahnya ketika Pendeta Serfa kembali berkata.
"Seorang Ciel akan sangat berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah"
"Cukup Serfa, jangan menakuti Yuki lagi" hardik Pangeran Riana tidak suka membuat Pendeta Serfa langsung terdiam.
Pangeran Riana menggendong Yuki di dadanya, setelah memasang jubah untuk menutupi pakaian Yuki yang terkoyak.
"Ini adalah tempat umum. Ada banyak mata dan telinga di sini. Jaga ucapanmu" lanjut Pangeran Riana dingin.
"Maafkan Hamba Pangeran"
Pangeran Riana tidak menjawab. Dia langsung membawa Yuki pergi meninggalkan lokasi.
Yuki duduk termenung di sofa. Hari ini udara sangat cerah, tapi Dia merasa muram.
Entah sudah berapa kali Yuki memimpikan bagaimana orang yang di kenalnya di bunuh dengan sadis, tanpa belas kasihan atau kesempatan untuk membela diri. Tidak peduli apakah Mereka adalah wanita atau Laki-laki, Mereka semua di siksa kemudian di bunuh dengan brutal. Yuki tidak pernah menemukan orang yang sekejam itu. Sangat jahat dan tidak memiliki hati.
Tak jarang, setiap malam Yuki terbangun dengan keringat bercucuran setelah bangun dari mimpi buruknya. Bahkan, Dia pernah menjerit histeris sebelum akhirnya terbangun.
Pangeran Riana tidak banyak berkomentar melihat kondisi Yuki. Dia juga tidak pernah bertanya mengenai mimpi-mimpi yang di alami Yuki, Pangeran memilih membiarkan Yuki siap dengan sendirinya untuk bercerita padanya.
Saking seringnya bermimpi buruk, Yuki sampai takut untuk memejamkan mata. Bathinnya jelas tersiksa.
Dia mengalami depresi.
Kemudian menolak makan daan tidur. Yuki takut, jika Dia sampai tertidur Dia akan kembali bermimpi mengenai kematian orang di sekitarnya. Menyaksikan Mereka di bunuh dengan sadis, tanpa Yuki bisa menolong sama sekali.
Mental Yuki berusaha di rusak secara perlahan. Emosinya menjadi tidak stabil.
"Putri makanlah, sendari tadi Putri belum makan apapun" Bujuk Rena untuk kesekian kali. Sup di meja yang di letakan satu jam lalu sudah dingin. Yuki sama sekali tidak menyentuhnya.
__ADS_1
"Aku sedang tidak bernafsu makan, jika Aku lapar, Aku akan minta bantuanmu" ujar Yuki tanpa beranjak dari duduknya.
Dia sedang berusaha mati-matian untuk menahan kantuk yang menyerangnya. Semilir angin membuat usahanya terasa berat.
Rena melihat Yuki dengan sedih. Sementara Yuki terus memberi sugesti pada dirinya, menolak rasa kantuk dan keinginan untuk tidur.
"Juru masak istana sudah membuat sup jagung manis untuk Putri, makanlah sedikit saja agar Putri memiliki tenaga yang cukup"
Yuki kembali menggeleng dengan keras kepala. "Aku tidak lapar dan tidak mengantuk" tolaknya lirih. "Kau jangan cemas"
"Putri sudah nyaris tiga malam tidak tidur dan makan pun hampir tidak tersentuh, jika begini terus Putri akan jatuh sakit. Saya mohon jagalah kesehatan Putri"
Yuki bangun secara mendadak. Dia merasa kesal terus di desak untuk makan, meskipun Dia sudah menolak berkali-kali. Namun, akibat gerakan yang tiba-tiba di lakukan Yuki. Kepalanya menjadi pusing. Pandangannya berputar dan seketika menjadi gelap.
Rena menjerit ketika melihat Yuki aambruk tidak berdaya, para Prajurit yang berjaga di luar pintu kamar langsung merangsek masuk begitu mendengar jeritan Rena.
Keributan kemudian terjadi.
Pangeran Riana baru saja tiba ke kediamannya, dari istana Raja Bardana bersama Pendeta Serfa. Ketika seorang pelayan berlari ke arahnya. Wajah pelayan itu tampak panik.
"Hormat Saya kepada Pangeran.."
"Ada apa ?" Tanya Pangeran Riana langsung menghentikan ucapan pelayan yang sedang memberi hormat.
"Putri Yuki terjatuh tidak sadarkan diri"
Pangeran Riana langsung berlari meninggalkan Pendeta Serfa. Dia tahu hal ini akan terjadi kemudian. Laporan kesehatan Yuki baru di bacanya pagi ini, Yuki menolak makan dan tidur. Berat badannya berkurang lima kilo dalam sepuluh hari ini. Dia sengaja menyuruh Serfa datang hari ini untuk memberikan ramuan agar kondisi Yuki stabil.
Saat Pangeran Riana masuk ke dalam kamar, dua orang perawat istana sedang merawat Yuki. Yuki terbaring di atas tempat tidur. Tak jauh dari tempatnya, Rena membakar aroma teraphi atas permintaan perawat.
Pangeran Riana menghampiri Yuki dan duduk di samping ranjang. Tubuh Yuki menjadi kering seperti tanaman yang tidak di beri air. Tapi siapa yang tidak frustasi, jika setiap hari harus melihat orang yang di kenalnya di bunuh dengan sadis di depan matanya ?.
Serfa datang beberapa saat kemudian. Dia baru saja datang dari kuil suci atas perintah Pangeran Riana untuk mengabarkan adanya pergerakan kekuatan iblis di wilayah kekuasaannya.
Mereka sudah punya tersangka utamanya. Tapi orang itu sangat pandai bermain sandiwara. Sebuah test kecil, yang meski harus mengorbankan Yuki. Telah menguatkan kecurigaan padanya.
__ADS_1
Riana masih harus mengumpulkan banyak bukti, jika Dia salah langkah, Maka Para Pesaingnya akan memanfaatkan situasi untuk mengulingkannya dan menyingkirkan keluarganya dari tahtah pemerintahan.