
"Apakah Pangeran Sera pernah marah sebelumnya ?"
"Ya, tapi lebih baik Putri tidak mendengar, Aku tidak mau Putri menjadi takut dan membenci Kakak" Kata Putri Magitha sambil mengibaskan tangannya ke udara. Wajahnya sangat tidak nyaman ketika membahas topik mengenai Pangeran Sera saat sedang marah.
Putri Magitha memalingkan wajahnya sesaat, menatap laut berwarna gelap di depannya. Kemudian Dia kembali menatap Yuki yang terus menunggu dengan sabar di sampingnya.
"Bagaimana...Apakah Putri betah tinggal di sini. Aku dengar dari para Pelayan, beberapa Putri sering menganggu Putri dan mengucapkan perkataan yang tidak sopan di istana Kakak, terutama ketika Kakak sedang tidak ada di istana"
Yuki diam. Tidak tahu harus mengatakan apa. Rupanya Putri Magitha juga mengetahui pembullyan yang terjadi padanya.
"Putri pasti merasa tertekan. Kenapa Putri tidak memberitahukan Kakak mengenai masalah ini ?" Tanya Putri Magitha lagi dengan wajah penasaran. "Kakak sangat menyayangi Putri, Dia pasti akan membantu Putri mengatasi masalah ini untuk Putri"
"Tidak perlu Putri. Pangeran Sera sudah begitu banyak masalah yang harus di hadapi. Aku tidak ingin menambah masalah lagi untuknya. Lagipula sampai saat ini Aku baik-baik saja" kata Yuki menolak saran dari Putri Magitha.
Putri Magitha menatap Yuki penuh iba. "Putri terlalu baik. Jika Aku jadi Putri Aku sudah akan mencambuk Mereka karena telah berani menghinaku"
"Aku tidak tahu kenapa Mereka begitu membenciku. Mungkin Aku tanpa sadar telah melakukan kesalahan yang menyakiti hati Mereka" ujar Yuki kembali mencoba mengakhiri topik Mereka.
Putri Magitha menggelengkan kepala dengan wajah muram. "Bukan Putri yang bermasalah tapi Mereka. Jadi Putri tidak perlu mencari tahu apa salah Putri. Mereka begitu membenci Putri, Aku yakin saking bencinya, melihat Putri bernafas di depan Mereka saja itu sudah merupakan kesalahan bagi Mereka"
"Kenapa.." Yuki terkejut dengan kejujuran yang di ucapkan Putri Magitha secara gamblang.
"Tentu saja karena Mereka menyukai Kakak. Mereka sangat cemburu pada Putri, Karena Kakak begitu perhatian pada Putri. Kakak memang baik orangnya tapi Seumur hidup Aku mengenal Kakak, Aku tidak pernah melihat Kakak selembut ini pada orang lain selain Putri"
"Apa semua ini bukan hanya prasangka kalian saja ?"
"Tidak..Aku sangat yakin akan hal itu" ucap Putri Magitha tegas. "Kakak biasanya selalu berpikir jernih, tapi ketika menyangkut Putri Dia bisa di luar kendali dan melewati batasannya. Seperti ketika Kakak mendapatkan luka dalam di Garduete karena memulangkan Putri"
__ADS_1
"Apa ?" Yuki menegakkan tubuhnya. Dia terkejut mendengar penuturan Putri Magitha.
"Apa Putri tidak tahu ?" Tanya Putri Magitha balik terkejut.
Yuki menggelengkan kepalanya merasa linglung.
"Kakak menggunakan tenaganya untuk membantu membuka gerbang dimensi. Sebenarnya tidak ada masalah. Tapi saat menyalurkan tenaga tubuh Kakak menjadi rapuh dan Dia menerima serangan dari Pangeran Riana yang mencoba menghalangi Putri pergi. Kakak mengalami luka dalam dan harus di rawat selama sebulan di dalam kamar. Beruntung sekarang kondisi Kakak sudah kembali sehat" ujar Putri Magitha mencoba menghibur Yuki. "Bahkan membawa Putri Yuki kemaripun adalah salah satu tindakan Kakak yang nekat. Tapi begitulah Kakak, Dia akan melakukan apapun untuk Putri tanpa berpikir panjang"
Yuki tidak tahu harus mengatakan apa. Dia baru mendengar mengenai masalah ini. Yuki meminta Pangeran Sera memulangkannya dan Pangeran Sera langsung menyanggupinya. Tapi Dia tidak tahu akibatnya sampai separah itu. Pangeran Sera juga tidak pernah menyinggung kejadian setelah berhasil memulangkan Yuki.
Yuki merasa bersalah. Dia sangat egois dan memikirkan dirinya sendiri tanpa peduli akibat yang di timbulkannya pada orang lain.
"Putri apakah Aku boleh bertanya hal penting pada Putri ?" Tanya Putri Magitha tiba-tiba dengan wajah serius. Dia mencondongkan tubuhnya mendekati Yuki. Yuki mengerjap sesaat. Kemudian Dia menganggukan kepala pelan.
"Ya...silahkan" Kata Yuki tenang.
"Aku dengar Putri adalah calon ratu yang di tunjuk oleh dewa untuk Pangeran Riana"
"Ya..." Bisik Yuki akhirnya dengan berhati-hati ketika Putri Magitha juga diam menunggu jawaban Yuki.
"Aku belum pernah bertemu dengan Pangeran Riana secara langsung. Tapi Aku pernah melihat potret dirinya. Dia jauh berbeda dengan Kakak. Tapi cukup tampan dan berkharisma. Dia seperti gunung es yang misterius. Tapi itu juga yang menjadi daya tarik bagi kaum hawa" ujar Putri Magitha mencoba mengambarkan sosok Pangeran Riana dalam benaknya.
Mendengar Putri Magitha, Yuki langsung menyadari. Tujuan Putri Magitha membawanya ke taman tengah bukan untuk melihat pemandangan atau hanya berjalan-jalan melepaskan suasana menjemukan di aula seperti yang di klaim sebelumnya. Dia ingin mengajak Yuki untuk berbicara empat mata. Sebagai seorang Adik kepada wanita yang menjadi pilihan hati Kakak kesayangannya.
"Aku juga tahu hubungan Putri dengan Pangeran Riana sudah sangat jauh" lanjut Putri Magitha lagi sembari melihat reaksi Yuki.
"Apa yang ingin Putri tanyakan ?" Tanya Yuki langsung. Dia tidak suka jika ada orang yang membahas hubungannya dengan orang lain.
__ADS_1
Putri Magitha menarik nafas sejenak. Berusaha memilih kata-kata yang akan di ucapkan. Dia tidak mau menyinggung Putri Yuki.
"Baiklah, Aku akan bertanya secara langsung. Pada intinya, di antara Kakak dan Pangeran Riana. Putri Yuki akan memilih bersama siapa ?"
Yuki terdiam sesaat. Dia tidak menduga akan di tanya seperti itu oleh Putri Magitha.
"Apa.." kata Yuki kebingungan.
"Putri tidak bisa membiarkan situasi seperti sekarang terus berlangsung. Juga Putri tidak bisa bersama keduanya sekaligus. Cepat atau lambat Putri harus memilih, di antara Kakak dan Pangeran Riana siapakah yang paling Putri inginkan untuk hidup bersama Putri ?"
Yuki tertegun. Dia tidak menampik apa yang di katakan Putri Magitha adalah benar. Baik Pangeran Riana maupun Pangeran Sera menginginkan hubungan yang lebih pada Yuki. Mereka menolak tawaran persahabatan yang selalu di berikan Yuki. Yuki tidak mungkin bisa bersama dengan keduanya sekaligus. Dia harus memilih suatu saat nanti.
Tapi apakah Mereka mau menghargai pilihan Yuki. Bukankah selama ini Dia sudah sering memberikan jalan pada Mereka untuk meninggalkan Yuki. Tapi Mereka sangat keras kepala dan susah di goyahkan.
"Putri binggung ya ?" Tanya Putri Magitha ketika melihat Yuki hanya diam.
"Aku..."
"Pangeran Riana memang tampan, tapi Kakakku juga tidak kalah tampan. Jika Aku jadi Putri, Aku pasti juga akan binggung untuk memilih" kata Putri Magitha mencoba meredakan suasana.
"Aku selalu memikirkan hal ini. Tapi Aku belum menemukan cara terbaik untuk menyelesaikannya" Aku Yuki dengan jujur.
"Pasti berat untuk Putri, apalagi meskipun Putri sudah memberikan jawabannya. Mereka berdua tidak mau mendengar dan mengabaikan pilihan Putri"
Yuki menganggukan kepala menyetujui. Di luar dugaan, Putri Magitha cukup cerdas membaca situasi.
Putri Magitha mengulurkan tangan untuk menggengam tangan Yuki yang terkulai di pangkuannya. "Pikirkan baik-baik Putri, kepada siapa hati Putri di letakkan. Sebagai seorang adik, Aku tentu ingin melihat Kakak bahagia. Dia sangat mencintai Putri. Tapi semua keputusan tetap ada di tangan Putri"
__ADS_1
"Terimakasih" Ujar Yuki tulus. Dia merasa lega karena ucapan Putri Magitha yang tidak memaksa atau menghakiminya meskipun Dia sangat menyayangi Kakaknya.