
Pakaian yang di kenakan Yuki menjadi basah terkena air hujan, ketika Dia menunduk untuk menengok ke bawah. Yuki membuka mulutnya nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihat. Pangeran Sera berdiri di halaman, tepat di bawah balkon kamarnya. Yuki mengusap mata, untuk meyakinkan bahwa Dia tidak bermimpi.
Itu memang Pangeran Sera. Kenapa Dia ada di sini ?.
Pangeran Sera menekan jari telunjuknya ke bibir. Meminta Yuki untuk tetap tenang. Yuki melirik ke arah para penjaga di depan pintu kamar. Mereka semua terlihat tenang. Sepertinya Mereka tidak menyadari kehadiran Pangeran Sera.
"Lompatlah" ujar Pangeran Sera pelan. Suaranya nyaris tidak terdengar karena terhalang hujan yang turun. Yuki kembali membungkuk untuk mendengarkan dengan jelas.
Yuki mendengar Pangeran Sera mengatakan lompat. Apa Dia yakin meminta Yuki terjun dari balkon lantai dua begitu saja.
"Lakukan Yuki. Cepat" perintah Pangeran Sera lagi. Tangannya melambai untuk memberi kode Yuki agar segera melompat.
Yuki menatap Pangeran Sera sesaat. Setelah membuang keraguannya. Yuki melepaskan sepatunya dan langsung menaiki pagar balkon. Dia menghentakan kakinya kuat, membiarkan gravitasi membawa tubuhnya meluncur ke bawah.
Pangeran Sera merentangkan tangan bersiap menangkap Yuki yang meloncat ke arahnya.
Yuki berhasil mendarat dengan selamat di pelukan Pangeran Sera. Pangeran Sera menangkap Yuki dengan sigap. Sehingga Yuki tidak perlu merasakan sakitnya membentur tanah dari lantai dua. Tercium aroma Pangeran Sera yang begitu di sukai Yuki. Aroma manis dan hangat yang menyenangkan.
"Kenapa Pangeran ada di sini ?" Bisik Yuki tidak percaya.
Tidak mungkin Pangeran Riana mengizibkan Pangeran Sera datang ke kamarnya.
__ADS_1
"Akan kujelaskan nanti. Sekarang lebih baik Kita segera pergi dulu dari sini" ajak Pangeran Sera sembari menarik tangan Yuki. Yuki diam menurut. Dia mengikuti Pangeran Sera menerobos hujan. Menyelinap diam-diam keluar istana dan mengelabui penjagaan.
Sesampainya di sudut istana yang tersembunyi dan jarang di lewati orang. Pangeran Sera menyodorkan bungkusan berisi pakaian dari kain biasa yang telah di persiapkan sebelumnya.
"Ganti pakaianmu dengan ini" ujar Pangeran Sera memberikan bungkusan itu pada Yuki. Yuki mengambil bungkusan di tangan Pangeran Sera dan bersembunyi di sudut gang buntu sementara Pangeran Sera menunggu di ujung gang untuk mengawasi sekitar. Yuki melepaskan semua pergiasan dan pakaian sutranya. Mengganti pakaian wanita petani. Setelah selesai, Yuki menyimpan semua perhiasan dan pakaian di tempat Pangeran Sera menyembunyikan bungkusannya.
Yuki mencuci muka dengan guyuran air hujan untuk membersihkan makeupnya. Airnya sangat dingin seolah menusuk ke kulit.
"Ayo" ajak Pangeran Sera lagi ketika Yuki telah selesai merubah penampilannya. Mereka berjalan meninggalkan lingkungan istana Pangeran Riana. Pangeran Sera telah mempersiapkan seekor kuda berwarna coklat yang di tambatkan di pohon. Dia melepaskan talinya dan mengangkat Yuki naik ke atas kuda. Kemudian Dia sendiri ikut naik ke atas bersama Yuki.
Baju Mereka berdua telah basah kuyup dengan air hujan. Buku-buku jari Yuki memutih karena kedinginan. Tapi Yuki sama sekali tidak perduli. Pangeran Sera yang melihat Yuki mengigil kedinginan kemudian berkata lembut "Sabarlah, sebentar lagi Kita akan tiba di tujuan".
Yuki menganggukan kepala mengerti. Dia mengusap air hujan yang mengalir di wajahnya.
"Bagaimana bisa Pangeran berada di istana Pangeran Riana ?" Tanya Yuki kembali ketika Mereka telah sampai ke sebuah penginapan. Yuki kembali berganti pakaian dan mengeringkan rambutnya. Mereka duduk berdua di tempat makan yang telah sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang masih tersisa. Sementara pelayan sibuk membersihkan sisa makan para pengunjung saat jam makan siang berlangsung.
Yuki tidak tahu kenapa Pangeran Sera begitu nekat membawanya. Tapi Yuki merasa nyaman ketika meninggalkan istana. Dia butuh udara segar bebas dari pengaruh istana yang memuakkan.
"Tentu saja untuk bertemu denganmu" jawab Pangeran Sera tersenyum lembut. Yuki menatap Pangeran Sera sembari menyesap teh di cangkir. Hujan masih belum berhenti. Pangeran Sera tahu akibatnya jika Dia tertangkap basah saat menyelinap di istana Pangeran Riana. Kerajaan Garduete tidak akan segan padanya meskipun Pangeran Sera adalah perwaris tahtah kerajaan Argueda. Meski begitu Pangeran Sera tidak peduli dan tetap melaksanakan rencananya untuk membawa Yuki keluar istana.
"Yuki.." panggil Pangeran Sera dengan nada mendesak. Membuyarkan lamunan Yuki. "Bisakah sekarang Kau memberitahu padaku. Apa yang sebenarnya telah terjadi ?"
__ADS_1
Yuki terdiam sesaat. Dia tahu Pangeran Sera pasti membawanya untuk menanyakan secara langsung mengenai masalah calon ratu. Jadi sebelum Yuki menjawab, Dia memikirkan setiap kata yang akan Dia ucapkan. Agar tidak terjadi kesalahpahaman yang tidak perlu ada.
Setelah yakin. Yuki kemudian mulai bercerita. Di mulai dari pesta penyambutan yang diadakan Raja Bardana untuknya, ketika Dia tanpa sengaja bertabrakan dengan Pendeta Serfa dan memungut kantung kain milik Pendeta Serfa yang terjatuh di lantai. Kemudian kejadian di dalam kamar ketika Dia memegang batu amara untuk pertama kali. Terakhir makan malam di istana Raja Bardana. Yuki menanyakan kenapa batu amara yang sedang di pegang Pendeta Serfa tidak bersinar seperti saat Dia memegangnya. Waktu itu Pangeran Riana bersikap angkuh dan malah menuduh Yuki berbohong. Untuk membuktikannya Yuki memegang batu amara tepat di hadapan Raja Bardana, Pangeran Riana dan Pendeta Serfa. Semenjak itu sikap Pangeran Riana menjadi aneh.
Dia dengan seenaknya mengklaim Yuki sebagai miliknya dan mengatur hidup Yuki termasuk dengan siapa Yuki bergaul.
Pangeran Sera diam mendengarkan penjelasan Yuki. Sesekali Dia bertanya jika ada yang di rasa menganjal. Yuki menjawab semua dengan jujur. Setelah Yuki selesai bercerita Pangeran Sera menghela nafas panjang. "Tapi meskipun begitu, Aku tidak akan menyerahkanmu. Aku yang lebih dulu menemukanmu" ujar Pangeran Sera tersenyum lembut.
Yuki ingin mengatakan sesuatu. Tapi Pangeran Sera menutup mulut Yuki dengan telunjuknya. Mencegahnya berbicara.
"Aku tahu apa yabg ingin Kau katakan. Tapi seperti yang sudah kukatakan padamu sebelumnya, Aku tidak akan menyerahkanmu pada siapapun"
Setelah hujan cukup reda dan Perut Mereka sudah terisi. Pangeran Sera mengajak Yuki untuk meninggalkan penginapan. Mereka naik ke sebuah kereta petani yang baru saja membawa sayur ke ibukota dan sedang menuju jalan pulang ke desanya. Yuki dan Pangeran Sera duduk berdempetan di dalam Kereta yang di penuhi keranjang bambu kosong. Tempat meletakan sayur mayur yang di panen petani.
Mereka sampai di sebuah perbukitan, dengan latar belakang hutan yang sunyi. Yuki turun dari kereta kuda di bantu Pangeran Sera. Setelah mengucapkan terimakasih dan memberi uang yang di janjikan. Pangeran Sera membiarkan petani yang membawa kereta melanjutkan perjalanannya.
Yuki memandang ke sekeliling. Tempat jni sama sekali tidak terurus. Tidak ada tanda kehidupan di sini. Yuki memandang Pangeran Sera tidak mengerti.
Pangeran Sera menyentuh lembut bahu Yuki. "Nanti Kau akan mengerti" bisik Pangeran Sera lagi.
Mereka berjalan menuju sebuah bukit di sebelah timur hutan. Ada jalan setapak yang terbentuk secara alami karena sering di gunakan untuk lewat. Mereka menyusuri jalan itu. Pangeran Sera menggengam tangan Yuki lembut. Berjalan tenang menuntun Yuki untuk mengikutinya. Mereka sampai di ujung jalan. Sebuah gerbang dari baja berwarna hitam dengan daun-daun menjalar tidak terawat. Sebuah tempat yang luas di dalamnya, di kelilingi oleh pagar besi tinggi menjulang.
__ADS_1
Jantung Yuki berdebar cukup kencang saat menyadari tempat apa yang Mereka tuju. Ini adalah sebuah pemakaman.