Morning Dew

Morning Dew
230


__ADS_3

Mahkluk hijau tersebut memiliki mata yang lebar, yang hampir mendominasi seluruh wajahnya membuat Yuki teringat dengan sulgar Glider peliharaannya ketika Dia masih sekolah dasar dulu.


Penampilan Lekky sangat menarik perhatian.


Semua mata memandangnya dengan penuh kekaguman. Semua wanita melihatnya penuh pengharapan.


"Lekky Darmount" bisik Pangeran Arana mengenali. Sikapnya berubah menjadi sangat waspada. Yuki sampai bisa merasakan ketegangan didalam diri Pangeran Arana.


Pangeran Sera yang juga mengenali Lekky, langsung berjalan cepat dan duduk di samping Yuki dengan sikap protektif.


"Kalian mengenalnya ?" Tanya Yuki terkejut. Bangsawan Voldermont pernah mengatakan hampir tidak ada orang yang pernah melihat keluarga Darmount secara langsung. Tapi nyatanya Pangeran Arana langsung mengenali Lekky ketika Mereka bertemu.


"Aku belum pernah bertemu dengannya secara langsung. Tapi kulit pucat, rambut berwarna putih susu dan mahkluk hijau itu. Sudah pasti Dia adalah Lekky Darmount. Aku tidak akan salah menebaknya" ujar Pangeran Arana yakin. "Dua tahun lalu Dia pernah membuat kekacauan di Argueda dengan menyerang dan membunuh seluruh anggota keluarga dan para pekerja di kediaman Bangsawan Tua di Argueda dalam semalam"


"Untuk apa Dia ada di sini ?" Tanya Putri Magitha keheranan. Namun Yuki melihat ada sorot ketertarikan di dalam mata Putri Magitha.


"Apapun itu Kita harus berhati-hati" jawab Pangeran Sera tegas.


Lekky berjalan melewati tempat Yuki dan yang lainnya berkumpul. Tanpa sengaja Yuki bertatapan dengan mahkluk hijau yang berjalan di dekat Lekky.


Matanya membelak besar ketika melihat Yuki. Sejurus kemudian Dia mendongak untuk melihat Lekky. Di tangannya ada sebuah apel merah besar yang baru di gigit setengah bagian.


Mereka berlalu di hadapan Yuki.


"Lebih baik Kita segera pergi dari sini" Pangeran Sera menarik Yuki agar berdiri mengikutinya. Pasir menempel di kedua betis Yuki. Pangeran Sera tampak cemas dan waspada. Dia terus menggengam tangan Yuki saat berjalan pergi untuk meninggalkan pantai. Diikuti Pangeran Arana dan Putri Magitha di belakangnya.


Para Prajurit datang dengan sikap siaga. Mengelilingi rombongan Pangeran Sera untuk melindungi Mereka dari kemungkinan buruk yang terjadi setelah Mereka menyadari keberadaan Lekky Darmount. Membuat Yuki bertanya apakah Lekky memang sangat menakutkan sekali ?.


 


Akhirnya, Pangeran Sera memutuskan Mereka akan pulang lebih cepat dari waktu yang di jadwalkan begitu Mereka kembali ke penginapan. Para pelayan dan Para Prajurit sibuk untuk mempersiapkan keberangkatan yang mendadak. 


Yuki berdiri di atas dek kapal dan memperhatikan kesibukan di bawahnya dengan tenang. 


Bahan makanan untuk pembekalan selama perjalanan di angkut ke dalam kapal. Putri Magitha bersungut kesal karena liburannya harus terhenti lebih cepat. Dia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan mengurung diri di dalamnya. Sementara itu Pangeran Arana sibuk membantu mempersiapkan keberangkatan kapal. 


Dalam waktu satu jam, Kapal telah siap berangkat dan sekarang perlahan mulai meninggalkan daratan.

__ADS_1


Yuki masih berdiri di tempatnya. Menyaksikan langit sore yang mulai berubah menjadi gelap. Pangeran Sera berjalan di belakang Yuki. Kemudian memeluk Yuki dengan mesra.


"Apa yang Kau pikirkan ?" Bisik Pangeran Sera di telinga Yuki dengan lembut.


Yuki tersenyum. Masih memandang laut lepas di depannya. Di langit matahari sudah sepenuhnya tenggelam. Di gantikan oleh bulan yang merayap ke atas, dengan cahayanya yang lembut.


"Aku memikirkan soal Kita" Aku Yuki jujur pada akhirnya.


Pangeran Sera semakin mempererat pelukannya. Keduanya sama-sama terdiam.


"Pangeran..."


Kepala Penjaga Gererou datang bersama dua orang Jendral.


"Aku akan berbicara sebentar dengan Mereka...Kau masuklah dulu ke dalam kamar" pinta Pangeran Sera lembut melepas pelukannya.


Yuki menganggukan kepala. Dia berjalan menuju kamar dengan patuh. Dari sudut mata Pangeran Sera melihat Yuki membuka pintu sambil berbicara dengan pelayan agar meminta Mereka meninggalkan Yuki sendiri.


Kepala Pelayan melihat ke arah Pangeran Sera meminta jawaban. Pangeran Sera menganggukan kepala pelan.


 Di dalam kamar, Yuki langsung melepaskan seluruh perhiasan di tubuhnya. Hanya menyisakan sebuah cincin pernikahan di jari manisnya. Dia sengaja meminta para pelayan untuk tidak menganggunya malam ini. Jadi Yuki bisa bertindak bebas tanpa harus merasa di awasi.


Yuki beranjak ke meja kerja Pangeran Sera yang terletak di dalam kamar. Mengambil kertas kosong di laci dan sebuah pena. Kemudian membuat tulisan yang di tujukan pada Pangeran Sera. Setelah selesai, Yuki melipat rapi kertas di tangannya dan menindihnya dengan hiasan rambut pemberian Pangeran Sera, agar tidak terbang tertiup angin.


Jantung Yuki berdebar kencang. Dia melihat ke arah pintu kamar. Memastikan tidak ada seorangpun berada di luar kamarnya. Yuki merasa hanya ini kesempatannya untuk pergi. Sebelum Pangeran Sera kembali ke dalam kamar. Biasanya meskipun hari sudah larut malam tapi jika Pangeran Sera belum kembali ke dalam kamar. Para pelayan tetap akan menunggu agar Yuki tidak sendirian. 


Sepertinya, Pangeran Sera memerintahkan para pelayan untuk terus mengawasi Yuki jika Pangeran Sera sedang tidak berada di dekatnya.


Namun kali ini, karena melihat Pangeran Sera bersama Putri Yuki di ujung lorong kapal, berdiri menyaksikan pemandangan bersama di luar. Para pelayan menuruti keinginan Yuki dan meninggalkan kamar.


Sekarang Yuki seorang diri.


Yuki kembali teringat. Dengan pembicaraannya tempo hari dengan Lekky. Sebelum upacara pernikahan Mereka di mulai.


"Pilihan kedua...Kau bisa ikut denganku dan pergi meninggalkan kedua Pangeranmu itu. Tapi tenang saja, jika suatu saat Kau ingin kembali..Kau bisa kembali sewaktu-waktu"


Yuki terdiam menatap Lekky. keputusan sudah di ambil.

__ADS_1


"Aku bisa membawamu sekarang jika Kau mau ?" tawar Lekky lagi menjawab isi hati Yuki.


Yuki menggelengkan kepala lemah.


"Pangeran Sera mempunyai cermin ajaib"


"Aku tahu" jawab Lekky tenang penuh rasa percaya diri. "Lalu di mana masalahnya.?"


"Tidak sekarang" Kata Yuki tertahan. "Aku tidak bisa pergi dan meninggalkan pernikahan ini. Itu akan membuatnya malu dan lagi, Aku ingin kepergianku ini tidak diketahui Pangeran Riana. Biarlah Dia mengira jika Aku berada di Argueda bersama dengan Pangeran Sera dan bukan pergi menghilang bersamamu. Apakah Kau bisa melakukannya ?"


"Bisa di atur. Sera pasti tidak akan membiarkan kabar Kau menghilang sampai ke telinga Riana. Aku akan menemuimu di Negerl Qaiyan nanti. Beritahu Aku jika Kau berubah pikiran"


Yuki tidak melihat siapapun berada di dalam kamar. Namun Dia sangat yakin orang itu ada di sekitarnya dan bisa mendengar Yuki.


"Lekky..." Panggil Yuki pelan.


"Kau sudah siap ?" Tanya Lekky yang muncul secara tiba-tiba di belakang Yuki. Membuat Yuki terperanjat. Tidak menyangka akan kedatangan Lekky di dekatnya.


"Ya...."  Kata Yuki dengan keyakinan penuh.


Dia melirik surat yang telah di simpannya di atas meja kerja Pangeran Sera. Sangat yakin jika Pangeran Sera akan segera menemukan keberadaan surat itu.


Lekky mengulurkan tangannya. Tanpa keraguan Yuki langsung menerima uluran tangan Lekky.


Lalu, Yuki merasakan hembusan angin yang cukup keras datang dengan cepat di sekeliling Yuki.


Saat sadar, Yuki sudah berada di punggung Lekky. Memeluk Lekky dari belakang dengan kedua kaki menaut di pinggul Lekky. Di depan matanya, ada hamparan air laut yang cukup dekat nyaris dapat di sentuh jika Yuki mengulurkan tangannya ke depan.


Ada sepasang sayap berwarna hitam yang cukup besar dan mengkilat di punggung Lekky. Yang sebelumnya tidak terlihat. Rupanya Lekky dapat terbang dengan menggunakan sayap itu. 


Di sebelah Lekky, mahkluk berbulu hijau lumut terbang mengikuti Lekky dengan jarak yang cukup dekat. Dia terbang menggunakan kedua telinganya yang panjang, melebihi panjang tubuhnya.


Yuki mendekap erat tubuh Lekky. Udara dingin membuat giginya bergemeletuk. 


Di belakang Mereka, kapal kerajaan Argueda berada dalam jarak seratus meter. Berjalan berlawanan arah dengan Yuki.


 

__ADS_1


__ADS_2