Morning Dew

Morning Dew
102


__ADS_3

Karena Pangeran Sera hanya diam. Maka Yuki kemudian melanjutkan perkataannya sembari mengaduk teh di cangkirnya dengan menggunakan sendok kecil. Matanya masih fokus menatap ke isi cangkir. Tidak berani menatap mata Pangeran Sera.


"Aku ingin menyendiri, itulah yang kurasakaan saat ini. Jauh dari kerajaan, dari semua orang yang mengenalku di sini" 


Perasaan Yuki sekarang hancur lebur. Kerusakan yang terjadi di dalam dirinya cukup parah. Dia butuh waktu untuk dapat memulihkan dirinya, bangkit dari kepedihan yang Dia rasakan. Menyusun kembali hidupnya yang tercerai berai, entah bagaimana Yuki akan melakukannya. Yuki sendiri belum mengetahui caranya. Hanya yang Dia tahu, Jika Yuki tetap berada di sini, Dia akan semakin terpuruk. Banyak kenangan. Terlalu banyak, yang membuatnya akan selalu teringat dan bersedih. Belum lagi situasi kerajaan yang selalu membuatnya tidak dapat bernafas dengan lega.


Semua orang bersikap seperti mengerti kondisi Yuki. Tapi sebenarnya tidak, meskipun Mereka mengerti. Mereka akan memaksa Yuki bertahan di dalam istana dengan berbagai alasan. Jika Yuki memberontak, Mereka akan memaksa Yuki tinggal.


Yuki tidak ingin ada yang melihatnya menangis dan kemudian memandanginya dengan rasa iba. Yuki tidak butuh semua itu. 


Sekarang yang mampu menyelamatkannya hanyalah dirinya sendiri.


Jadi, Yuki ingin kembali ke dunianya. Karena di sana adalah tempat netral yang tidak ada siapapun bisa mengaturnya seperti di kerajaan.


Rasanya sakit saat mengetahui orang yang di cintai harus pergi dengan cara seperti itu. Dan lebih menyakitkan lagi adalah kenyataan bahwa Yuki tidak punya kuasa apapun untuk menolongnya. 


Jika Bangsawan Dalto membunuh orang-orang yang selama ini menyiksanya, Yuki masih bisa memahaminya. Tapi Bangsawan Dalto telah membunuh terlalu banyak orang yang tidak bersalah. Orang-orang yang tidak mengenalnya bahkan tidak pernah berinteraksi dengannya selain detik-detik kematian Mereka. Orang-orang yang tidak ikut andil dalam penderitaan yang telah di alami Bangsawan Dalto.


Bangsawan Dalto menerima hukumannya, atas nama keadilan untuk para korbannya yang tidak bersalah.


Selama ini Yuki telah berusaha memperbaiki hidup Bangsawan Dalto. Memberinya banyak persahabatan dan kasih sayang. 


Awalnya Yuki berpikir semua baik--baik saja pada akhirnya, namun Yuki salah.


Yuki telah gagal menyelamatkan Bangsawan Dalto. 


Hatinya sangat hancur akibat kematian kedua orang tuanya. Dan di perparah dengan bullyian yang di terima dari sekitar. Bangsawan Dalto terlalu lama menyimpan duka dan dendam. Balgira mengetahui kelemahannya dan memanfaatkan kebencian yang ada dalam diri Bangsawan Dalto. Menjadikan Bangsawan Dalto alat untuk mencapai tujuannya.

__ADS_1


Bangsawan Dalto terlalu rapuh hatinya sehingga mudah di kuasai oleh Balgira. Namun, di saat kritis ketika melihat Yuki nyaris mati oleh Balgira, Dia dengan berani menyelamatkan Yuki daan menentang Balgira.


Jika Bangsawan Dalto tidak menggagalkan Balgira, Yuki pasti sudah mati dan dunia di ambang kehancuran.


Yuki tahu Bangsawan Dalto sangat mencintai kedua orang tuanya, khususnya ibunya. Mawar adalah bunga kesayangan ibunya. Alasan Dia meneruskan hobi ibunya merawat Mawar adalah, satu-satunya kenangan yang di ingat akan ibunya adalah ketika Dia membantu ibunya mengurus mawar di kebun mawar milik ibunya. 


Yuki membayangkan Bangsawan Dalto sekarang sudah bertemu dengan ibunya. Mereka berada di kebun mawar yang sangat indah. Tidak ada lagi rasa sakit. Tidak ada kesepian. Yang ada hanya ketentraman. Mereka berdua saling berpelukan melepas rindu antara seorang anak dan ibu. Tertawa lepas sebagai sebuah keluarga yang bahagia.


"Setelah badai ini berakhir, Aku akan mengembalikanmu pulang" ujar Pangeran Sera membuat Yuki langsung mendongak. Memandang Pangeran Sera tidak percaya dengan pendengarannya. "Aku berjanji padamu" Kata Pangeran Sera lagi dengan raut wajah serius seperti memahami keraguan di hati Yuki.


Mereka bertatapan cukup lama.


"Terimakasih" Kata Yuki tulus beberapa saat setelah keheningan yang terjadi di antara keduanya.


"Sekarang makanlah, Kau harus punya cukup tenaga untuk perjalanan lintas dimensi. Jika Kau terlalu lemah, Naru tidak akan bersedia membantu meski Aku yang memberi perintah" bujuk Pangeran Sera sembari menyodorkan ubi bakar yang uapnya masih mengepul di  atas piring.


Keduanya makan dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


Satu jam kemudian, Badai mereda. Pangeran Sera membungkus Yuki dengan mantelnya sebelum Mereka keluar dari pondok. Setelah memastikan kembali semua aman, Pangeran menutup pintu dengan mengkaitkan kawat dari gagang pintu ke paku yang ada di dinding.


"Aku akan meminta orang untuk memperbaiki kuncinya besok" kata Pangeran Sera sembari membantu Yuki menuruni tangga Kayu menuju jalan setapak yang membawa Mereka ke tepi sungai.


Yuki melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Jika gegabah, Dia bisa jatuh terpeleset di sungai. Airnya sangat dingin. Pangeran Sera dengan penuh perhatian selalu memegangi Yuki di saat yang tepat. Membantunya melangkah dengan tegap.


Ketika Mereka akan berbelok di hilir sungai. Yuki membalikan badan untuk melihat pondok mawar Bangsawan Dalto di belakang Mereka. Dia mengamati setiap detail di pondok mawar, seolah ini adalah terakhir kali Dia akan melihatnya.


Banyak kenangan di pondok itu. Tawa, canda, air mata dan mimpi-mimpi yang mewarnai hari Mereka. Kenangan ketika Mereka berbagi suka duka dan pertengkaran menguar di ingatan Yuki. Sekarang pondok mawar terasa hampa tanpa pemiliknya. Air mata kembali menggenang di pelupuk Mata Yuki. 

__ADS_1


Entah bagaimana, Yuki seperti melihat ada seseorang berdiri tenang di antara mawar-mawar yang tersusun rapi di ruang perlindungan. Orang itu menatap Mereka. Seperti mengantarkan kepergiannya dan berharap suatu hari nanti Yuki akan kembali.


Ketika hatinya sudah jauh lebih tenang.


Yuki mengusap air mata yang mengenang agar lebih jelas melihat. Dia merasa konyol, tidak mungkin ada orang lain di pondok mawar.


"Ada apa Yuki ?" Tanya Pangeran Sera dari samping. 


Yuki kembali mendongak. Memperhatikan ke titik di mana Dia merasa ada orang sebelumnya. Tapi saat pandangannya jauh lebih jelas, Yuki menemukan bahwa apa yang di lihat sebelumnya hanyalah halusinasi. 


Tidak ada seorang pun di sana. Yuki hanya salah lihat. Mungkin alam bawah sadarnya yang masih mengharapkan kedatangan Bangsawan Dalto membuat Dia mengkhayal tidak karuan.


"Tidak apa-apa" kata Yuki akhirnya.


"Apa Kau baik-baik saja ?" Tanya Pangeran Sera dengan tatapan menyelidik. Yuki tampak aneh. Dia seperti mencari sesuatu. Tatapannya mengintari area pondok dengan seksama.


"Ya..Ayo kita pergi" ajak Yuki kembali berbalik untuk melanjutkan perjalanan. Pangeran Sera memastikan sekeliling Mereka aman, kemudian mengikuti langkah kaki Yuki.


Jejak kaki Mereka tercetak di atas tumpukan salju.


Yuki memegang dadanya erat. 


Selamat tinggal...Aku tidak akan melupakanmu.


Yuki menutup rapat buku cerita di hatinya, yang mengisahkan antara Dia dan Bangsawan Dalto. Menyimpan rapat dalam ruangan khusus tersendiri di hatinya. 


Ini bukan pertama kalinya Yuki mengalami patah hati. Harinya masih panjang. Banyak hal yang harus di lakukan dan akan di lakukannya. Tapi satu hal yang pasti...dimanapun Yuki berada...apapun yang di lakukannya, jika Dia melihat mawar. Dia akan teringat dengan Bangsawan Dalto. 

__ADS_1


 


__ADS_2