Morning Dew

Morning Dew
77


__ADS_3

Pangeran Sera telah mempersiapkan semuanya, termasuk memesan meja yang letaknya cukup tersembunyi namun strategis. Tidak akan ada yang mengetahui Mereka berada di rumah makan ini. Jadi Yuki bisa menikmati makanannya dengan santai. 


Begitu Yuki dan Pangeran Sera duduk di meja, Para pelayan datang mengantarkan pesanan yang telah di persiapkan sebelumnya. Lobster berukuran besar yang di panggang. Penampilannya sangat mengiurkan. Bumbunya masih meletup ketika di letakkan di atas meja. Yuki melupakan kecemasannya saat melihat lobster itu. Perutnya sekarang terasa lapar, rasanya cacing di dalam perutnya berdemo meminta daging lobster yang ada di depannya.


Baru saja Yuki ingin mencicipi lobsternya, hidangan lain datang, udang bakar yang di siram dengan madu hutan dan kerang masak pedas. 


"Ayo Kita makan, biasanya pemilik rumah makan ini jarang sekali memasak sendiri makanannya. Tapi kali ini Kita mendapat pengecualian" Kata Pangeran Sera tenang.


"Benarkah ?" Tanya Yuki terkejut. "Darimana Pangeran tahu ?"


"Kebetulan pemilik restoran ini adalah sahabat baikku. Ketika Aku mengatakan ingin mengajak tunanganku makan di sini, Dia langsung menyiapkan hidangannya sendiri untuk menyambutmu" 


Yuki merasa malu ketika Pangeran Sera memanggilnya "tunanganku" dengan wajah manis.


Yuki menikmati tiga jenis masakannya dengan antusias. Semua hidangan yang di sajikan adalah kesukaannya. Bumbunya pas dengan lidahnya. Bumbu rempahnya bersatu sempurna dengan bahan dasarnya.


Sembari makan keduanya mengobrol ringan. Yuki akhirnya mengetahui kejadian di hutan setelah Pangeran Riana membawanya menaiki Radolft. 


Ketika sedang mencariku yang tidak ada di danau. Pangeran Sera melihat Raldoft Pangeran Riana. Dia langsung menyadari apa yang telah terjadi dan memutuskan untuk memutar arah kembali ke Garduete.


Yuki merasa tidak senang mengetahui Pangeran Sera harus mengambil resiko besar untuk kembali. Dia tidak suka Pangeran berbuat seperti itu hanya untuknya.


Selesai makan, Pangeran langsung mengajak Yuki menuju sebuah taman di tepi sungai. Cahaya lampu sore temaram di sepanjang sungai membuat pemandangan tampak indah. Di tambah pohon sakura yang bermekaran di pinggir sungai, membuat Yuki merasakan kegembiraan tersendiri. Dia berseru kegirangan seperti gadis kecil yang baru pertama kali melihat bunga sakura. 


"Wuuuaahhh" seru Yuki dengan wajah bersemu senang. Bunga sakura sedang berguguran, bunganya nyaris menutupi tanah di sekitarnya. Yuki merentangkan tangan dan berputar penuh semangat. Menikmati ketika kelopak bunga berjatuhan di badannya. Dia tampak bebas dan ceria, dirinya yang dulu kembali lagi. Tawanya lepas.


Pangeran Sera berdiri tenang di dekatnya sembari memperhatikan Yuki. Dia tersenyum lega ketika melihat tawa di wajahnya.

__ADS_1


"Apa Kau senang ?" Tanya Pangeran Sera lembut. 


Yuki berbalik, menganggukan kepala riang. "Terimakasih Pangeran" ucap Yuki tulus.


Setelah puas berlari seperti anak kecil. Pangeran Sera mengajak Yuki duduk di bawah pohon. Yuki meluruskan kedua kakinya. Wajahnya tampak lelah, tapi bibirnya terus menyungingkan senyum kebahagiaan. 


Pangeran Sera memberikan sedikit cemilan dan minuman untuk Yuki. Karena suasana hatinya sedang bagus, Yuki merasa dapat memakan apapun yang di sodorkan padanya. Dia rela melupakan sejenak program dietnya, hanya untuk menikmati dengan total kebebasan yang jarang di milikinya sekarang.


Yuki terdiam ketika memperhatikan sebuah keluarga kecil di dekat Mereka. Terdiri dari Ayah, Ibu dan kedua anaknya yang masih balita. Jika menilik dari penampilannya, Mereka bukan dari kalangan keluarga bangsawan. Tapi Mereka sangat bahagia. Yuki menjadi iri ketika melihat senyum lebar yang menghiasi wajah Mereka. 


"Ada apa ?" Tanya Pangeran Sera ketika menyadari perubahan sikap Yuki.


"Pangeran lihat keluarga kecil itu, Mereka sangat bahagia dengan hidupnya, membuatku iri" Ujar Yuki jujur.


Si Ayah duduk di samping istrinya yang sedang menyusui bayinya. Sementara anaknya yang masih balita sibuk membentuk gunungan bunga di dekat Mereka. Beberapa kali tampak Ayah dan Ibunya bercanda serta tertawa bebas. Ayah memakan bekal Mereka, sembari menyuapi istri dan anak balitanya dengan tangannya.


"Si istri, Dia tidak memakai perhiasan dan pakaian bagus seperti yang sering kukenakan. Tapi Dia jelas terlihat bahagia karena memiliki suami yang menyayanginya dan kedua anak yang sehat. Tidak semua wanita di dunia ini seberuntung Dia"


Yuki menganggukan kepala menyetujui perkataan Pangeran Sera. 


"Pangeran benar" katanya masih memusatkan perhatian pada keluarga kecil di depannya.


"Yuki" panggil Pangeran Sera dengan nada serius, membuat Yuki menoleh untuk menatapnya.


"Di masa depan, Aku memang tidak akan bisa selalu ada bersamamu. Juga tidak akan selalu bisa menemanimu di sepanjang waktuku. Kau juga akan menjadi terikat aturan sebagai wanitaku. Hidupmu tidak akan sama seperti sebelumnya. Dan pasti Aku tidak akan selalu bisa memberimu kebahagiaan seperti yang Kau harapkan. Tapi ingatlah, meskipun begitu bukan artinya Aku tidak selalu berusaha membahagiakanmu. Kau akan selalu menjadi satu-satunya wanita yang menempati hatiku" Pangeran Sera mengatakannya dengan wajah bersungguh-sungguh. Dia menatap mata Yuki dalam. 


Detak jantung Yuki berdebar begitu kencang. Wajahnya memerah, terasa panas. Pangeran Sera melepaskan cadar yang menutupi wajah Yuki. Dia mengusap lembut pipi Yuki, jemarinya turun ke bibir. 

__ADS_1


Perlahan Pangeran Sera menurunkan kain yang menutupi wajahnya, Dan mendekatkan wajahnya ke arah Yuki.


"Pangeran.." bisik Yuki gugup.


Bibir Pangeran Sera baru saja menyentuh bibir Yuki, ketika sebuah suara polos muncul di dekat Mereka.


"Kakak sedang apa ?" Tanya Anak Perempuan dari keluarga yang di perhatikan Yuki tadi. Yuki langsung menjauhkan diri dari Pangeran Sera dan mengenakan kembali cadarnya. Sementara gadis kecil di depannya terus memandangi Mereka dengan wajah polos yang penasaran. Dari kejauhan kedua orang tuanya berusaha memanggil dengan perasaan bersalah.


Wajah Yuki semakin memerah. Dia terlalu gugup untuk menjawab pertanyaan gadis kecil di depannya, yang masih berdiri menunggu jawaban.


Karena tidak kunjung kembali, akhirnya Ayahnya berdiri dan menghampiri gadis kecil tersebut. Wajahnya tampak merasa bersalah.


"Maafkan Putri Kami telah menganggu waktu kalian" Katanya sopan sembari menarik anaknya mendekat.


"Tidak apa-apa"  jawab Pangeran Sera tenang. Dia memandang lembut gadis kecil di depannya. "Gadis kecil, siapa namamu ?" 


"Qaisha" jawab Gadis itu lantang tanpa keraguan.


"Nama yang cantik" Pangeran Sera mengambil permen di kantung pakaiannya dan memberikan seluruh permen yang Dia bawa ke genggaman Qaisha. "Ini untukmu, bagilah dengan adikmu" lanjutnya lagi.


Qaisha menerimanya dengan wajah berbinar senang. 


"Terima kasih kakak" kata Qaisha. Dia kemudian berbalik dan menuju adiknya dengan penuh antusias sembari menunjukan kantung permen di tangannya.


"Terimakasih atas kebaikannya pada Putri Kami" ucap Ayah Qaisha masih merasa tidak enak. "Maafkan anak Saya yang telah lancang menganggu kalian. Dia.tidak bermaksud seperti itu"


"Aku dan istriku senang melihat keluarga kecilmu. Tetaplah menjadi ayah yang baik untuk Mereka" ujar Pangeran Sera sambil menggengam tangan Yuki mesra.

__ADS_1


"Mereka adalah harta Saya yang paling berharga" Kata Pria itu mengakui. Dia memandang keluarganya penuh rasa cinta.


 


__ADS_2