Morning Dew

Morning Dew
247


__ADS_3

Lekky mengulurkan tangan dan kembali menyambar Gulf miliknya. Memutuskan pembicaraan Varmount.


"Ada apa ?" Tanya Lekky singkat.


"Aku baru memasak makan malam untuk Kalian"


Lekky melirik ke jendela. Hari masih sore. Jam makan siang telah lewat tapi jam makan malam juga masih lama. 


"Apa sudah bisa di makan sekarang ?"


"Ya...Aku tinggal menghangatkan untuk nanti malam"


"Tidak perlu. Aku akan makan sekarang. Tunggu" perintah Lekky singkat. Dia kemudian menutup Gulf. Seolah tidak perduli dengan pandangan orang-orang di sekitar yang sembari tadi mengikuti pembicaraannya dengan Yuki.


Varmount langsung melingkarkan kedua tangannya memeluk pinggang Lekky. "Bawa Aku atau Kau tidak bisa pergi dari sini dengan selamat" bisik Varmount manja di telinga Lekkyy. Membuat Lekky merinding.


"Hentikan..Kau menjijikan" erang Lekky berusaha melepaskan pelukan Varmount.


Tapi Varmount tidak.menyerah. Dia bukan takut di tinggal sendiri oleh Lekky. Tapi Varmount melihat ada daging panggang dan berbagai macam sayuran yang di masak Yuki dalam panggilan tadi.


Jadi meski sambil uring-uringan. Lekky terpaksa menggendong Varmount di punggungnya untuk pergi ke tempat persembunyian Yuki di sekolah.


 


"Kau lihat...itu tadi Putri Yuki" bisik orang-orang ketika Lekky dan Varmount sudah menghilang dari hadapan Mereka.


"Tidak salah lagi. Tampaknya gosip itu benar. Putri Yuki memiliki hubungan khusus dengan Lekky"


Semua orang melirik tanpa sadar ke arah Pangeran Riana yang masih berdiri di tempatnya. Semua kejadian tadi di lihat langsung oleh Pangeran Riana.


"Riana..." Bisik Bangsawan Xasfir membuat Pangeran Riana sedikit menoleh ke arahnya.


Sikap Pangeran Riana tidak tampak terganggu sedikitpun. Dia cenderung acuh dan masa bodoh. Wajahnya terlihat datar. "Hubungi yang lain ke ruanganku. Dan katakan pada pelayan untuk menyiapkan makanan di sana"


"Aku mengerti"


Pangeran Riana berjalan tenang sementara Bangsawan Xasfir mulai menghubungi Bangsawan Voldermont.


 

__ADS_1


 


Yuki menuangkan satu sendok nasi goreng ke atas piring yang di sodorkan seorang prajurit. Malam itu Dia ke dapur besar di sekolah untuk mencari teh dan menemukan tiga orang prajurit berada di dalamnya sedang mencari sesuatu untuk di makan.


Para pelayan sudah tidur dan tidak ada lagi orang di dalamnya. Karena kasihan, Yuki menawarkan diri untuk membuatkan Mereka makanan. Dia memutuskan membuat nasi goreng yang tidak terlalu repot di buat. Dengan bahan-bahan yang ada di dapur besar. Kebetulan juga ada banyak sisa nasi di dalam baskom.


"Terimakasih" Kata Prajurit itu ketika Yuki kembali mengulurkan sepiring penuh nasi goreng ke arahnya.


"Aku membuat banyak. Jika masih kurang Kalian bisa menambah" Kata Yuki lirih di balik cadarnya.


Beberapa teman prajurit itu datang karena mendengar ada makanan di dapur. Mereka baru saja datang dari perjalanan jauh untuk menyelesaikan tugas dari Pendeta Suci. Dengan tenang, Mereka makan di halaman dapur kerajaan. Yuki tidak ingin membuat kekacauan di dapur besok. Jadi selesai memasak. Dia tetap tinggal untuk membereskan piring kotor yang di gunakan para prajurit makan.


"Jendral" 


Para Prajurit yang sedang makan langsung berdiri ketika pimpinan Mereka tiba-tiba datang ke dapur besar. Yuki yang saat itu sedang mencuci piring menoleh dan melihat Jendral Dante datang bersama dengan Pangeran Riana.


"Apa yang Kalian makan ?"


Tanya Jendral memperhatikan makanan yang sedang di makan prajuritnya.


"Maafkan kelancangan Kami Jendral, Pangeran. Kami datang ke dapur untuk menemukan sesuatu yang bisa di makan. Dan kebetulan nona ini bersedia membuatkan makanan untuk Kami" jelas Prajurit Kepala menjawab pertanyaan Jendral Dante.


"Kalian sudah bekerja dengan baik. Aku yang merasa bersalah karena tidak menyiapkan makanan untuk Kalian" ujar Pangeran Riana kemudian. "Jendral, Maafkan kelalaianku ini"


 


Yuki langsung membungkukkan kepala hormat.


"Kau..bukankah Kau pelayan pribadi Lekky Darmount ?" Tanya Jendral Dante mengenali.


Yuki kembali menundukkan kepala menjawab pertanyaan Jendral Dante.


"Tidak di sangka" Kata Jendral Dante tidak percaya. Dia tau sepak terjang Lekky Darmount selama ini. Namun tidak menyangka Lekky akan mengambil seorang wanita untuk menjadi pelayan pribadinya. Banyak kabar angin yang beredar mengenai pelayan wanita Lekky Darmount yang misterius ini.


Seorang Prajurit pernah tanpa sengaja melihat cadarnya tersingkap sekilas saat terkena angin. Prajurit itu mengatakan bahwa gadis pelayan itu sangat cantik. Meskipun Dia tidak melihat terlalu jelas wajahnya. Tapi Dia sangat yakin dengan penilaiannya.


Sayang sekali gadis sebaik ini harus jatuh di tangan Lekky Darmount. Pikir Jendral Dante menyayangkan nasib wanita di depannya.


"Nona, Aku juga belum makan. Apa Aku bisa mendapatkan sedikit makanan untuk mengisi perutku ?" Tanya Jendral Dante kepada Yuki.

__ADS_1


"Akan Saya siapkan" bisik Yuki lirih. Dia takut suaranya akan di kenali oleh Pangeran Riana.


"Pangeran, apa Anda juga mau ?"


"Ya.."


Pangeran Riana dan Jendral Dante duduk di meja kayu kecil didepan pintu keluar dapur besar. Yuki menata piring berisi nasi goreng dan telur gulung di atas nampan. Membawanya ke depan Mereka.


Setelah selesai menyajikan. Yuki langsung berpamitan pada Kepala Prajurit yang ada di dekatnya. Dia melarikan diri seperti seorang pengecut.


 


"Masakan apa ini ?. Aku belum pernah melihatnya sebelum ini tapi rasanya lumayan" kata Jenderal Dante heran.


"Nasi goreng" jawab Pangeran Riana menyendok kan nasi dengan sikap tenang.


"Itukah namanya ?. Tapi tampaknya ini bukan makanan yang cukup di kenali. Di mana Pangeran pernah memakannya ?"


Pangeran Riana terdiam beberapa saat. "Dulu ada seseorang yang membuatkan masakan ini dan memberitahuku namanya"


"Benarkah ?. Siapa ?" Tanya Jendral Dante terkejut.


Pangeran Riana mendongak menatap lurus ke arah Jendral Dante. Bibirnya bergerak membentuk kata yang nyaris tidak terdengar. "Yuki.."


 


Yuki memutuskan untuk pergi ke kantin sekolah alih-alih sarapan seperti biasa di dalam kamar. Dia berjalan seorang diri. Lekky sudah tidak ada di dalam kamarnya ketika Yuki mencarinya di kamar.


Tampaknya Dia sedang pergi berolahrga di sekitar sekolah. 


Jadi Yuki memutuskan untuk menunggu Lekky di kantin daripada makan sendirian di dalam kamar. Setidaknya Dia mendapatkan suasana baru sebelum Pangeran Sera kembali, daripada terkurung terus di dalam kamar.


Ketika sampai di kantin sekolah. Suasana sekitar masih cukup ramai. Yuki mengambil piring dan mengambil sarapan secukupnya dari meja panjang. Membawanya ke sudut ruangan yang tidak terlalu menarik perhatian.


Yuki memilih duduk di dekat jendela dengan cahaya pagi yang menerobos bebas menerpanya. Dia membuka buku yang sengaja di bawanya dari kamar. Mulai kembali membaca bukunya sambil menikmati sarapannya. 


Dengan begini, Yuki berharap tidak ada orang yang akan menganggunya dan bertanya mengenai Lekky atau keluarga Darmount lainnya. Juga menghindari orang-orang yang ingin mencari tahu hubungan Lekky Darmount dengan Putri Yuki.


Namun baru beberapa suap Yuki menikmati makanannya. Terdengar suara keributan dari tengah ruangan. Seorang Panglima yang berasal dari negara lain berteriak marah pada seorang pelayan wanita yang masih sangat muda umurnya. Pelayan wanita itu tampak sangat ketakutan. Wajahnya pucat pasi.

__ADS_1


"Aku sudah mengatakan sebelumnya. Aku alergi makanan laut. Tapi Kau malah memasukan udang ke dalam sup ku. Di mana otakmu Hah ?!" Tanya Panglima itu dengan wajah memerah karena gatal-gatal di kulitnya akibat alergi yang di deritanya.


 


__ADS_2