Morning Dew

Morning Dew
96


__ADS_3

Seminggu kemudian Yuki sudah mulai bisa berjalan meskipun kakinya masih kurang nyaman untuk dipakai bergerak terlalu lama. Tapi Yuki merasa bersyukur, setidaknya Dia bisa pergi ke kamar mandi sendiri jika ingin buang air tanpa merepotkan orang lain.


Pangeran Riana sering membantu Yuki jika kebetulan Dia sedang ada di kamar sementara Yuki ingin ke kamar mandi. Meskipun Yuki menolak, Tapi Pangeran Riana tetap membantu Yuki tanpa merasa risih. Dia bahkan tidak segan memandikan Yuki dan memakaikan pakaiannya tanpa di bantu oleh para pelayan. Di depan orang Pangeran Riana tidak merasa canggung membantu menyisir rambut Yuki.


Yuki sangat malu, wajahnya selalu merah padam. Tapi Pangeran Riana justru bersikap tenang seolah yang di lakukannya adalah hal biasa. Berulang kali Yuki mengingatkan Pangeran Riana untuk menjaga jarak demi menjaga perasaan calon Ratunya. Tapi peringatan Yuki selalu diindahkan oleh Pangeran Riana.


Pangeran Riana tidak banyak bicara mengenai kejadian di kuil ketika Yuki bertanya. Dia melarang keras para pelayan terutama Rena untuk membicarakannya dengan Yuki. Yuki tidak punya pilihan lain selain berbicara dengan Bangsawan Voldermont. Sepupu Pangeran Riana itu biasanya sangat terbuka dan lebih rileks ketimbang Pangeran Riana. 


"Aku dengar Kau terus mencariku ?" Dendang Bangsawan Voldermont ketika akhirnya Dia muncul di kamar Yuki. 


Dia masuk ke dalam kamar dengan langkah riang. Yuki sedang duduk di tengah ruangan, memakan buah di temani Rena. Dia langsung meletakkan piringnya begitu melihat Bangsawan Voldermont.


"Sepertinya suasana hatimu sedang baik hari ini" ujar Yuki tersenyum lembut menyambut kedatangan Bangsawan Voldermont.


"Tentu saja, Melihatmu masih hidup adalah kebahagiaan tersendiri untukku" selorohnya sembari menarik kursi di dekat Yuki. Bangsawan Voldermont duduk, tanpa merasa sungkan atau menunggu di tawari. Dia mengambil potongan buah apel di piring Yuki, dan langsung memakannya.


"Benarkah ?" Tanya Yuki dengan mata berkilat nakal. Dia menaikan kedua alisnya. "Apa bukan karena Kau telah menemukan korban baru untuk Kau cabuli ?. Anak gadis ke empat Saudagar Zubira misalnya"


"Walaupun sakit, tapi mulutmu masih tajam rupanya" 


Yuki tergelak ketika mendengar perkataan Bangsawan Voldermont.


"Apa yang ingin Kau tanyakan ?" Tanya Bangsawan Voldermont santai. Yuki mengambil pisau dan kembali mengupas apel, karena sisa apel di atas piringnya dengan cepat berpindah ke perut Bangsawan Voldemont. 

__ADS_1


"Kau pasti sudah tau tujuanku" jawab Yuki tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang rapi.


"Kalau begitu mulailah, mumpung Riana tidak akan kembali sampai nanti malam" Bangsawan Voldermont mengambil irisan apel yang di sodorkan Yuki dan langsung memakannya.


Yuki tahu Pangeran Riana berada di kuil tempat Bangsawan Dalto membunuh para korbannya. Dia bersama Pendeta Serfa dan pasukannya sedang mencari buku terlarang yang sampai saat ini belum di ketemukan keberadaannya. Yuki mendengar Bangsawan Dalto mengatakan buku itu telah di curi ketika Bibinya terbunuh.


Seseorang mengambil buku itu.


Tapi Pangeran Riana tidak mau mempercayai ucapannya begitu saja.


"Bagaimana Kalian tau Aku ada di sana ?" Tanya Yuki kemudian. 


Rena tampak menegang ketika mendengar topik yang sedang di bahas. Tapi Yuki tidak perduli. Dia mencondongkan badannya ke arah Bangsawan Voldermont. Menatapnya dengan sorot penasaran.


Yuki refleks meraba telinganya. Anting kerajaan sudah tidak terpasang di lubang yang di buat Bangsawan Voldermont. Pangeran Sera diam-diam melepaskannya dan membawanya pergi dari Yuki. Ketika Yuki masih dalam keadaan koma di ruang pengobatan istana Raja Bardana.


Hal itulah yang memicu perselisihan kembali di antara Pangeran Riana dan Pangeran Sera.


 "Ada apa dengan anting itu ?" Tanya Yuki tidak mengerti.


"Antingmu dihiasi oleh batu berlian langka, hanya beberapa orang di dunia yang memilikinya" 


"Batu Berlian Agaret ?" Tanya Rena tanpa sengaja. Rena langsung menunduk dan meminta maaf karena lancang memotong pembicaraan. Dia sudah penasaran dari dulu ketika pertama kali melihat anting Putri Yuki. Batu berlian yang menjadi hiasan tampak berbeda dengan batu berlian yang biasa di gunakan sebagai hiasan. Tapi karena tidak pernah melihat langsung Batu Berlian Agaret, Dia tidak terlalu memikirkan sampai ke sana. Dia sama sekali tidak menduga Pangeran Riana akan memberikannya pada Putri Yuki.

__ADS_1


Pangeran Riana mendapatkan batu itu ketika Dia baru saja menyelesaikan misi yang di berikan Raja Bardana. Dan sengaja berjalan pulang dengan memutar jalan menuju Gunung Jayadi, puncak tertinggi di dunia. Hanya untuk mendapatkan Batu Berlian Agaret. Saat itu kerajaan gempar, sebab dikarenakan mencari batu itu, Pangeran Riana nyaris terbunuh akibat tertimbun longsoran salju.


"Benar. Batu itu adalah batu berlian Agaret" jawab Bangsawan Voldermont ringan. Dia tidak ambil pusing dengan sikap Rena yang menyela pembicaraan Mereka. "Batu berlian Agaret memiliki satu keunikan. Dia akan bereaksi dalam radius sepuluh kilo meter dengan Batu Safir Alrqand, salah satu batu safir langka yang di berikan kakek kepada Ibu Suri sebagai cincin kawinnya"


Yuki terdiam sejenak, mencerna penjelasan Bangsawan Voldermont. 


"Jadi, Kalian memberiku pelacak ?" Tanya Yuki tak percaya.


"Itu ide Riana. Dia khawatir Kau pada akhirnya lepas dari pengawasan dan masuk dalam perangkap Bangsawan Dalto. Sebenarnya Kami mengusulkan untuk memakaimu sebagai pancingan, Tapi Riana langsung menolak mentah-mentah ide itu..."


"Tunggu sebentar.." Kata Yuki memotong pembicaraan. "Sejak kapan Pangeran curiga terhadap Bangsawan Dalto ?"


Bangsawan Voldermont tampak berpikir sejenak. "Sejak Perdana Menteri Olwrendho terbunuh. Dia melihat, hanya Dalto yang kemungkinan besar dapat di terima dengan mudah oleh Ayahmu ketika mengunjunginya di malam hari sebelum Penyerangan terjadi. Selain itu, Dia cukup banyak kesempatan untuk mengetahui jati dirimu"


Jadi Pangeran Riana sudah mencurigai Bangsawan Dalto sejak awal dan mampu memprediksi pergerakannya dengan tepat.


Yuki menghela nafas.


Sebenarnya Yuki sudah di introgasi sebelumnya ketika Dia sudah mampu di ajak komunikasi. Semua hal yang Yuki tahu sudah Yuki berikan. Yuki berharap kerajaan akan memberikan keringanan hukuman untuk Bangsawan Dalto dengan penjelasannya.


"Tapi Riana tidak punya bukti apa-apa yang mendukungnya. Kecurigaannya semakin kuat ketika para korban yang mulai berjatuhan adalah Para Bangsawan dan Putri yang bermasalah dengannya" ujar Bangsawan Voldermont membuyarkan lamunan Yuki. "Meskipun pada akhirnya Dalto berusaha mengaburkan penyelidikan dengan pembunuhan acak setelahnya, tetapi justru malah memperkuat dugaan pelakunya adalah Dia dan Bibinya, Putri Bremadi. Bibi dan Ponakan ini saling menutupi satu sama lainnya dengan alibi yang nyaris sempurna"


"Di tambah ketika terjadi serangan sihir di pemakaman Norah. Serangan yang terjadi terlihat sebagai serangan yang mematikan. Tapi sebenarnya serangan itu hanya main-main saja. Sebab jika tidak, menilik dari kekuatan sihir selama ini. Kita seharusnya sudah mati oleh serangan itu" lanjut Bangsawan Voldermont. Dia telah menghabiskan satu apel yang baru saja di kupas oleh Yuki untuknya. "Tampaknya Dalto sudah mulai merasa Dia di awasi. Sehingga Dia membuat berbagai cara agar terhindar dari tuduhan. Sayangnya, tindakannya itu justru membuatnya semakin menonjol. Tapi apa Kau yakin bukan Dalto yang membunuh Putri Bremadi ?"

__ADS_1


Yuki menganggukan kepalanya pelan. "Dia mengatakan Putri Bremadi memiliki banyak musuh karena tingkahnya sendiri" 


__ADS_2