Morning Dew

Morning Dew
99


__ADS_3

Mereka kembali saling bertatapan dalam diam.


Yuki tidak menjawab. Dia berbalik, dan kembali melangkah menemui kepala penjara yang sudah menunggu dengan wajah kesal. Menggerutu mengenai waktu dan akibat jika kerajaan mengetahui tindakan yang di lakukan sekarang.


Ketika Yuki melangkahkan kaki keluar. Pintu di belakang langsung tertutup rapat.


Yuki berjalan melangkahkan kaki dengan gotai. Seperti seorang prajurit yang kalah dalam pertempuran. Dia hanya menundukkan kepala dengan bahu terkulai.


Rasanya sungguh menyesakkan.


Setelah keluar dari penjara, Yuki kembali naik ke atas perahu. Begitu menginjakkan kaki ke darat. Yuki berjalan pelan dengan langkah yang tak pasti.


Udara sangat dingin menusuk kulit. Musim dingin telah tiba. Mungkin besok salju akan turun.


Yuki mendongak menatap langit. Dia merasa hidupnya sungguh tidak adil.


Sampai kapan Dia akan kehilangan orang-orang yang di sayanginya.


Angin bertiup cukup kencang. Yuki menggigil di balik jubahnya. Luka-luka di tubuhnya terasa nyeri berdenyut. Perutnya terasa perih karena seharian Dia belum makan apapun selain obat yang di berikan Rena. 


Yuki merasakan kebas. Dia seperti ingin menghilang selama-lamanya dari dunia ini.


Dengan tenaga yang tersisa. Yuki melanjutkan perjalanan. Melangkah pelan tanpa tujuan di jalan ibukota yang masih ramai. Beberapa kali Yuki menabrak perjalan kaki yang berlawanan arah dengannya. Pikirannya terasa kosong. 


Yuki bahkan nyaris tidak mendengar ketika ada yang meneriakinya.


Akhirnya, Yuki telah sampai di pinggir sungai yang membelah ibukota. Cahaya lampu dari bangunan di sepanjang sungai, terpantul di dalam sungai.


Yuki ingat, tempat ini adalah tempat yang di kunjungi Yuki dan Bangsawan Dalto untuk pertama kalinya ketika Bangsawan Dalto mengajaknya berkeliling kota. Di tempat ini Mereka lebih sering menghabiskan waktu ketika sore tiba. Berlari di pinggir sungai, bercanda dan bermain adu layang-layang. Yuki jarang sekali menang melawan Bangsawan Dalto. Mereka akan bermain sampai tubuh Mereka penuh keringat. Seperti dua anak kecil yang tidak memiliki beban. Jika lelah, Mereka akan duduk di bawah pohon trambesi besar, menikmati suasana sore sambil menyantap makanan yang Mereka beli sebelumnya.


Mereka akan berbicara apa saja. Mimpi-mimpi Mereka. Kesedihan, kegembiraan dan harapan.


Kemudian tertawa lepas menertawakan kebodohan Mereka. 

__ADS_1


Yuki tidak tahu, kapan terakhir Dia bisa tertawa seperti itu semenjak Mereka tidak lagi bersama.


Rasanya baru kemarin, Mereka berada di sana duduk makan jagung bakar yang di beli Bangsawan Dalto dari seorang pedagang keliling.


Jika bisa, Yuki ingin memutar waktu. Memperbaiki kesalahan. Menikmati kembali kebersamaan Mereka yang sederhana namun menyenangkan.


Banyak kenangan yang telah Mereka lalui.


Yuki terduduk di atas tanah. Air mata menetes jatuh membasahi tanah. Nafasnya sesak. Dia tidak dapat membendung kesedihannya. 


Yuki merasakan perasaan sedih, marah dan kecewa dalam satu waktu. Namun,  Dia tidak tahu bagaimana agar semua perasaan negatif yang bercongkol di dalam hatinya dapat keluar. 


Rasanya seperti ada tangan besar yang mencengkram Yuki begitu kuat. Menyesakkan. Membuat Yuki tidak dapat bernafas.


Tetesan air mata semakin deras membasahi wajah Yuki. Dia mengigit bibir. Menahan keinginan untuk berteriak kencang.


"Apa yang Kau lakukan di sini ?" 


Raja Bardana berada tidak jauh dari Yuki. Berjalan mendekat dengan raut wajah cemas. Di belakangnya Bangsawan Voldermont mengikuti.


Raja Bardana sengaja berkeliling ibukota untuk mencari Yuki yang di kabarkan menghilang dari dalam kamar. Dia tidak menyangka menemukan Yuki sendirian di pinggir sungai ketika melewati tempat ini.


Raja Bardana terkejut ketika melihat tangisan Yuki. Dia pernah melihat wajah serupa menangis seperti Yuki beberapa tahun yang lalu. Raja Bardana diam sesaat, memikirkan apa yang harus di lakukan untuk menangani Yuki.


Yuki terus menangis sampai seluruh tubuhnya bergetar.


Raja Bardana maju dengan langkah penuh perhitungan. Menghampiri Yuki dan menyentuh bahu gadis itu dengan lembut. "Bagaimana bisa Kau ada di sini" 


Melihat Yuki yang tidak merespon ucapannya. Raja Bardana menarik tangan Yuki, mencoba membuatnya berdiri. Tapi Yuki menahan tubuhnya, menolak untuk beranjak dari tempatnya bersipuh. 


"Di sini sangat dingin, tubuhmu belum pulih sepenuhnya. Aku akan mengantarmu pulang" bujuk Raja Bardana Lagi.


Yuki mendongak. Menatap Raja Bardana dengan kepedihan. Dia meremas dadanya kuat. Seolah takut kesedihan yang mengerogoti tubuhnya akan meledak, menghancurkannya berkeping-keping. "Bagaimana ini Yang Mulia...apa yang harus kulakukan.." ujar Yuki terisak. Air matanya mengalir semakin deras. Dia memukul dadanya beberapa kali sembari membungkukan badannya. Berharap kesedihan yang di rasa segera menghilang dalam dirinya. "Di sini...di sini sakit sekali..Apa yang harus kulakukan...bagaimana Aku menghilangkannya" kata Yuki kebingungan.

__ADS_1


Raja Bardana berjongkok di dekat Yuki. Tidak mengatakan apapun. Dia memeluk Yuki. Yuki menangis histeris di dada Raja Bardana. Menumpahkan semua perasaan yang tertahan keluar. 


Raja Bardana membiarkan Yuki menangis hingga Yuki tenang. Bangsawan Voldermont datang dan memberikan Jubahnya pada Raja Bardana untuk menutupi Yuki. Tangan dan kaki Yuki nyaris membeku. "Kita pulang ya" ajak Raja Bardana lembut sembari meletakkan jubah milik Bangsawan Voldermont ke bahu Yuki. Menyelimuti Yuki agar tidak mengigil kedinginan. Dia memperlakukan Yuki seperti seorang ayah pada putrinya yang sedang terluka karena patah hati.


Dengan penuh perhatian, Dia menarik Yuki untuk berdiri. Memapahnya berjalan menuju kereta kuda yang telah menunggu.


Namun, sebelum mencapai kereta kuda, pandangan Yuki menjadi gelap. Dalam sekejap Dia ambruk tidak sadarkan diri.


"Yuki.." panggil Raja Bardana ketika badan Yuki limbung ke arahnya. Dia menahan agar gadis itu tidak jatuh ke tanah. Bangsawan Voldermont dengan cekatan menarik Yuki dan langsung mengangkat tubuh Yuki yang terkulai lemas.


"Bawa ke dalam kereta" perintah Raja Bardana yang langsung di turuti oleh Bangsawan Voldermont. Dia mengangkat Yuki dan menidurkan Yuki di bangku panjang yang ada di dalam kereta. Selanjutnya Raja Bardana menyusul masuk. Pintu di tutup. 


Kereta kuda melaju cepat kembali ke istana.


Lonceng besar di atas menara terus berbunyi dengan irama yang mengerikan. Ritmenya stabil tapi memberikan makna yang aneh bagi pendengarnya. 


Orang-orang berbondong-bondong datang dengan antusias. Semakin lama kerumunan semakin banyak. Mereka masuk ke dalam sebuah gedung berbentuk setengah lingkaran yang terletak di atas bukit.


Yuki mendongak menatap langit. Matahari tertutup awan. Hari ini langit terlihat muram. Hawa dingin menusuk tulang.


Dia menatap bimbang ke bangunan di depannya. Dindingnya berwarna kelabu. Terdapat banyak tangga yang menuju ke tribun penonton. Di bawahnya tampak lapangan seluas setengah lapangan bola. 


Ada perasaan menolak ketika Yuki melangkahkan kaki memasuki gedung di depannya. Tapi Dia memaksakan kakinya untuk terus berjalan.


Di tengah lapangan, satu panggung kecil di tempatkan. Ada tiang terbuat dari kayu yang kokoh berdiri menjulang di atas panggung. 


Tidak butuh waktu lama, seluruh trimbun penonton telah di penuh. 


Yuki tahu seharusnya Dia tidak boleh datang. Dia tidak perlu melihatnya agar tidak menambah penderitaannya. Bangsawan Dalto sudah memperingatkan Yuki sebelumnya. 


Bangsawan Dalto tahu Yuki akan terluka lebih dalam bahkan jika Dia tidak datang hari ini.


 

__ADS_1


 


__ADS_2