Morning Dew

Morning Dew
193


__ADS_3

"Apa Kita sudah selesai berbicara ?" Tanya Yuki cepat untuk mengakhiri pembicaraan. Dia tidak lagi mendengar semuanya.


"Ya tentu, Aku ucapkan juga selamat atas kehamilan Putri. Kelak Kita akan berjalan beriringan sebagai istri dari Pangeran Riana" ujar Putri Marsha lembut.


"Terimakasih ucapannya. Saya permisi dulu Putri" Kata Yuki lagi sambil berdiri.


Berjalan meninggalkan Gazebo, perasaan Yuki hancur lebur. Pangeran Riana dan Putri Marsha sudah membicarakan masa depan dan pernikahan. Apa lagi yang di harapkan. Yuki hanya seorang calon ratu. Jika bukan itu, Pangeran Riana tidak akan pernah memandangnya.


Jarak Yuki dan Pangeran Riana terlalu jauh. Sulit untuk mendekat.


Terdengar suara ranting di injak di belakang Yuki. Ketika berbalik, Bangsawan Voldermont mengangkat bungkusan di tangannya sembari tersenyum riang, tanpa beban. "Kau sedang senggang ?" Tanyanya senang. "Aku membawa banyak kue untukmu. Ayo temani Aku minum teh"


Tanpa menunggu persetujuan Yuki, Bangsawan Voldermont langsung memeluk bahu Yuki dan mendorongnya untuk mengikuti Bangsawan Voldermont.


 


Mereka duduk di taman istana. Salju sudah sepenuhnya mencair walau hawa dingin masih terasa.


Yuki duduk di ayunan yang di buat di sebuah dahan pohon tua. Bangsawan Voldermont duduk di tanah, di samping Yuki. Keduanya terdiam memandang langit.


Di dekat Mereka, ada piring dengan kue panggang berbagai toping yang di bawa Bangsawan Voldermont sebelumnya. Dan satu botol berisi teh hangat yang siap di minum. Yuki berhasil makan beberapa buah kue tanpa kembali memuntahkannya. Perutnya jauh lebih hangat dan nyaman setelah minum teh.


"Terimakasih, Kuenya sangat enak" ujar Yuki setelah menghabiskan Kue keempat yang di taburi biji kenari.


"Kau sudah baikkan ?" Tanya Bangsawan Voldermont ringan. Tadi Aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Marsha. Kau jangan dengarkan apa yang Dia katakan"


"Tidak...Aku tidak terlalu memikirkannya" Kata Yuki berbohong. 


"Marsha merupakan kesalahan Riana di masa lalu. Percayalah pada Riana. Kemunculan Marsha tidak akan merubah apapun. Dia tidak pernah mencintai Marsha sama sekali" 


"Saat pertama kali kembali kemari, Aku melihat Mereka berdua berciuman di taman" ujar Yuki sembari tersenyum tipis.


"Jadi itukah alasanmu kabur dari istana dan menuju Argueda. Sekarang Aku mengerti" Bangsawan Voldermont menghabiskan sisa teh di cangkirnya. "Apa Kau percaya jika Aku katakan yang Riana cintai adalah dirimu. Bukan Marsha. Hanya, Riana tidak akan mau mengakuinya"


"Apa yang ku lihat tidak seperti itu" kilah Yuki bersikeras.


"Ayolah Yuki, kejadian di taman tidak seperti yang kau pikirkan. Marsha yang mencium Riana, ketika Riana menolak saat Dia ingin kembali menjalin kasih dengan Riana. Sampai sekarang, Riana membiarkannya di sini hanya karena Dia memandang Xasfir yang memohon padanya sebagai temannya"


Yuki diam.


"Dulu Mereka berpacaran karena Xasfir yang memohon pada Riana, untuk mencoba menerima Marsha di sisinya. Tapi Riana tidak pernah mempunyai perasaan lebih pada Marsha" jelas Bangsawan Voldermont dengan tenang. "Jika Kau tidak menyukai kehadiran Marsha di sini, Kau bisa langsung mengatakan pada Riana. Dia akan lebih mendengarkanmu ketimbang yang lain"

__ADS_1


"Aku ingin pergi berlibur" Kata Yuki mengalihkan topik pembicaraan. "Ke suatu tempat yang jauh dari istana dan permasalahannya. Aku ingin bersantai untuk sejenak"


"Jika itu maumu. Ayo Kita pergi"


Yuki berbalik dan mendapati Pangeran Riana berjalan seorang diri mendekatinya.


Apa Dia mendengarkan pembicaraan Yuki dan Bangsawan Voldermont ?.


"Riana ?" Sapa Bangsawan Voldermont tanpa merubah tempat dari duduknya.


"Kita bisa pergi ke utara untuk beberapa waktu" ujar Pangeran Riana tenang. 


 


"Aku setuju. Di sana pemandangannya cukup indah. Aku sudah lama tidak mengunjunginya" Kata Bangsawan Voldermont antusias. "Kucing Kecil, Aku yakin Kau akan menyukainya"


 


 


Yuki berjalan tenang di sepanjang pantai. Di batasi oleh padang bunga yang cukup indah. Kupu-kupu bertebrangan kesana-kemari. Beriringan dengan desir angin yang berhembus lembut, meniup rambut Yuki.


Suasana di istana kecil tempat Mereka berlibur, sedikit terpencil dari dunia luar. Tapi cukup nyaman. Udaranya pun tidak terlalu dingin.


Yuki tidak menyangka, Pangeran Riana menepati janjinya untuk membawa Yuki pergi berlibur jauh dari istana. Setelah mendapat izin dari Raja Bardhana dan Ibu Suri, Mereka segera melakukan perjalanan. Di temani oleh Bangsawan Voldermont, Bangsawan Xasfir dan Bangsawan Asry. Semua membawa pasangan Mereka sendiri.


Kepergian Mereka cukup mendadak. Tapi sangat menyenangkan.


Yuki berjongkok di batas air, mengumpulkan kerang dengan berbagai bentuk dan warna yang tersebar di sepanjang pantai. Ujung gaunnya sedikit basah. Sementara itu tidak jauh dari Mereka, Bangsawan Asry dan Bangsawan Voldermont sedang bermain permainan bola bersama pasangan Mereka. Dan Bangsawan Xasfir asyik berenang di pantai dengan wanitanya.


Rasanya, Yuki kembali menjadi orang biasa yang sedang menikmati liburan di pantai. Suasana yang begitu di rindukan Yuki.


Pangeran Riana ikut berjongkok, membantu Yuki mengambil batu-batu cantik dan memberikannya pada Yuki. 


Terdengar suara musik yang lembut. Bangsawan Asry selesai bermain bola. Dia kemudian memetik gitarnya dan memainkan lagu yang cukup indah.


Langit berwarna orange. Suasana sangat romantis. Yuki berdiri. Tanpa sadar tersenyum lepas. Senyum yang nyaris hilang dari wajah Yuki.


Riana melihatnya. Menatap Yuki dalam. Dia kemudian mengulurkan tangan, menarik Yuki mendekat. Yuki terkejut dan berpaling untuk menatap Pangeran Riana.


Tubuh Yuki di angkat sedemikian rupa. Sehingga kakinya menginjak kaki Pangeran Riana. 

__ADS_1


"Apa yang Kau lakukan ?" bisik Yuki kebingungan. 


"Temani Aku berdansa" kata Pangeran Riana sembari mempererat pelukan di pinggang Yuki. Dia tidak menunggu jawaban Yuki. Langsung bergerak mengikuti irama lagu yang di mainkan Bangsawan Asry. Wajah Yuki memerah karena malu. Mereka bertatapan cukup dekat. 


Angin berhembus dengan lembut, perlahan matahari mulai tenggelam.


"Yuki, Ayo Kita menikah"


Jantung Yuki berhenti berdetak. Dia terpaku. Tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


Pangeran Riana melamarnya.


Yuki menatap mata Pangeran Riana. Mencari tanda kebohongan dalam diri Pangeran Riana. Tapi, Dia tidak melihatnya.


Pangeran Riana semakin menarik Yuki mendekat. Seolah jarak Mereka masih belum cukup rapat. Tanpa rasa malu Pangeran Riana menunduk, dan langsung mencium bibir Yuki penuh pengharapan.


"Riana..." 


Yuki terkejut dan langsung secara refleks melepaskan pelukan Pangeran Riana. Menjauh.


"Aku dengar Kalian pergi kemari. Jadi Aku menyusul Kalian datang"


Putri Marsha muncul dengan mengenakan pakaian pantai yang sangat sexy. Balutan kainnya memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna.


Bangsawan Xasfir berjalan mendekat dengan raut wajah penasaran. Dia sama sekali tidak menyangka Putri Marsha akan datang kemari. Sementara Riana sudah memberi perintah untuk merahasiakan kepergian Mereka dari siapapun. 


Perintah Riana jelas di tangkap Bangsawan Xasfir, semua di tujukan untuk Marsha.


"Bagaimana Kau bisa ada di sini ?" Tanya Bangsawan Xasfir tidak percaya.


"Aku hanya ingin bersama dengan Kalian. Apakah itu salah ?" Tanya Putri Marsha santai.


Bangsawan Xasfir melirik Yuki dengan pandangan meminta maaf.


Putri Marsha menghampiri Pangeran Riana. Dengan gerakan yang tidak ketara, Dia melepaskan genggaman tangan Pangeran Riana pada Yuki.


"Aku sudah lama tidak kemari. Pangeran, Ayo Kita berkeliling seperti dulu" ajak Putri Marsha dengan manja.


"Yuki kembalilah ke dalam kamar. Nanti Aku akan pergi menyusul" kata Pangeran Riana mengikuti tarikan tangan Putri Marsha.


Yuki diam tidak menjawab. Dia berbalik dan pergi tanpa menoleh kebelakang.

__ADS_1


 


__ADS_2