
Angin berhembus kencang, dinginnya sampai menusuk tulang.
Rombongan kerajaan berbaris rapi sementara itu Mendung mengantung di langit seolah ikut merasakan kesedihan yang sedang terjadi.
Pangeran Riana menuntun Yuki dengan hati-hati. Yuki masih tampak binggung. Dia nyaris tidak dapat memikirkan apapun. Dia menyandarkan kepalanya ke belakang, ke dada Pangeran Riana. Kepalanya terasa pusing.
Yuki memejamkan mata sejenak mencoba tetap waras.
Di sekelilingnya, kerumuman orang berpakaian serba putih berdiri dengan rapi memenuhi lapangan tempat acara berlangsung.
"Riana, semua sudah siap !" Seru Bangsawan Voldermon dari atas kudanya. Dia memimpin pasukan yang akan mengadakan upacara penghormatan.
"Ayo Yuki" Yuki tersadar saat Pangeran Riana memanggil namanya. Dia membuka mata, mengikuti tangan Pangeran Riana yang menuntun langkahnya. Dengan gotai Dia berjalan, masih menyandarkan kepalanya di dada Pangeran Riana. Tatapan iba tertuju padanya membuatnya semakin sesak.
Berjalan menuju lapangan luas dimana Baginda Raja Bardhana sudah berdiri menunggu. Dia langsung menghampiri Yuki dan memeluknya lembut. "Tabahlah, Mulai sekarang, Aku yang akan menjagamu" bisik Raja Bardhana lembut di telinga Yuki.
Raja Bardhana menyingkir ke samping Yuki. Yuki berdiri diantara Pangeran Riana dan Raja Bardhana. Orang-orang khususnya rekan kerja Perdana Menteri Olwrendho berbaris rapi menghampiri Yuki untuk menyalami dan memberinya semangat. Elber ikut hadir dalam barisan. Dia tidak mengatakan apapun dan hanya memeluk Yuki.
Perdana Menteri Olwrendho telah meninggal dunia. Kebenaran ini langsung diumumkan oleh kerajaan. Seluruh yang hadir datang untuk memberikan penghormatan terakhir padanya di upacara pemakamannya.
Rombongan Perdana Menteri Olwrendho ditemukan di dalam hutan dalam kondisi mengenaskan oleh penduduk sekitar. Tidak ada yang selamat. Mereka diserang saat melakukan perjalanan kembali ke Kerajaan.
Sore kemarin, Pangeran Riana dipanggil karena adanya laporan penemuan jenasah rombongan Perdana Menteri Olwrendho.
Pangeran Riana masih belum mengetahui apa motif penyerangan itu, untuk berjaga-jaga Dia memerintahkan penjaga agar tidak membiarkan Yuki kembali ke kamarnya. Sebenarnya alasan Pangeran Riana memaksa Yuki tidur bersamanya adalah untuk menjaga Yuki. Kamar Pangeran Riana dilindungi oleh kekuatan Pendeta Serfa. Kamar Itu adalah tempat paling aman sebagai tempat perlindungan.
Pangeran Riana memutuskan untuk.tidak menyampaikan kabar terkait Perdana Menteri Olwrendho kepada Yuki sebelum Dia mendapat konfirmasi yang jelas. Jadi begitu Dia mendapatkan konfirmasi, Dia langsung membawa Yuki dan mempersiapkan diri menyampaikan kabar duka itu pada Yuki.
Pangeran Riana telah menyuruh Bangsawan Xasfir untuk menyelidikinya secara langsung. Tetapi, sampai sekarang belum diketemukan motif penyerangan itu. Tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi di dalam hutan. Semua orang-orang Perdana Menteri Olwrendho telah terbunuh.
Yang pasti kejadian ini tidak ada hubungan dengan perampokan, karena semua harta yang di bawa rombongan masih utuh. Tidak ada bekas bongkar paksa maupun barang yang hilang. Semua masih tersusun rapi di tempatnya.
Tubuh Perdana Menteri Olwrendho yang telah di bersihkan, di baringkan di atas tumpukan kayu. Yuki berdiri di dekatnya tertegun.
Dia masih tidak percaya apa yang telah terjadi. Tubuhnya menggigil.
__ADS_1
Berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya.
Kenapa begini ? Apa yang sedang terjadi ?
Yuki berusaha menemukan jawaban dari pertanyaannya namun Dia sendiri tidak mengerti.
Jalannya proses pemakaman berlangsung hikmat. Yuki berusaha menahan air mata, tapi Dia selalu gagal. Pangeran Riana berdiri di sampingnya dengan sikap melindungi.
Saat Raja Bardhana memegang obor yang menyala dan mengarahkan ke kayu yang ditumpuk di bawah tubuh Perdana Menteri Olwrendho, Yuki tersentak dan refleks berlari untuk menghentikannya.
Api menjilat dengan cepat. Menimbulkan percikan kemerahan yang memenuhi udara. Asap membumbung tinggi ke atas.
Pangeran Riana berhasil mencekal Yuki dengan kuat dan menahannya di dada. Yuki memberontak berusaha melepaskan diri.
"Jaangan bakar Ayahku...Jangan bakar Dia" jerit Yuki histeris. "Ayaahhhh.....Aayaahhh !!!"
Kegelapan menyelimuti Yuki. Pangeran Riana dengan sigap menompang tubuh Yuki saat gadis itu jatuh pingsan.
Dia mengangkat tubuh Yuki dan membawanya dengan cepat meninggalkan lokasi upacara pemakaman.
Akhirnya setelah diam yang cukup lama, Pangeran Sera berjongkok. Dia meraih sisa abu di depannya dan mengenggamnya kuat.
"Sekarang apa yang akan Kita lakukan Pangeran ?" Tanya Pendeta Naru tenang menunggu perintah.
Pangeran Sera memincingkan mata menatap lurus ke depan. Dia membuka kepalan tangannya, Abu di tangannya terbang tertiup angin yang berhembus.
"Bawa Yuki ke Argueda" perintah Pangeran Sera jelas tanpa keraguan.
Yuki...
Yuki bergeming. Suara seorang wanita yang begitu Familiar muncul dalam kegelapan. Yuki mengenal suara itu. Itu adalah suara wanita yang begitu dirindukannya selama ini.
"Mama ?!" Jawab Yuki tidak yakin akan pendengarannya.
Kegelapan yang mengelilingi Yuki memudar. Yuki berdiri di tepi sungai yang luas. Air sungai itu berwarna merah gelap, pekat dan mengerikan.
__ADS_1
Di seberang sungai, pemandangan tidak terlihat jelas karena tertutup kabut tebal. Samar di sana, Yuki melihat siluet seseorang menaiki kapal kecil menuju ke arahnya.
"Yuki"
Yuki berbalik dengan cepat. Dia tersenyum lebar ketika Putri Ransah datang menghampirinya. Yuki merasa ibunya sangat cantik hari ini, senyumnya merekah. Kebahagiaan terpancar di wajahnya.
"Mama...Aku kangen" Yuki menghambur ke pelukan Putri Ransah dengan manja.
"Yuki" Perdana Menteri Olwrendho muncul di belakang Putri Ransah. Yuki melepaskan diri dari pelukan Putri Ransah dan memeluk Perdana Menteri Olwrendho. Ketiganya berpelukan seperti sebuah keluarga bahagia pada umumnya.
Kehangatan menyelimuti hati Yuki. Dia sangat bahagia bertemu kedua orang tuanya.
Suara benturan kayu terdengar cukup keras, ketiga orang di sana berpaling secara serentak.
Di pinggir sungai, perahu kecil yang dilihat Yuki sebelumnya telah tiba. Seseorang mengenakan tudung, duduk menunduk dengan tenang sembari memegang gayuh. Wajahnya tidak terlihat karena tudung yang dikenakan. Yuki melihat jari-jari yang memegang gayuh sangat kurus seperti tulang tanpa daging.
"Sudah waktunya" bisik Putri Ransah lembut. Dia menatap Perdana Menteri Olwrendho, Perdana Menteri Olwrendho membalas tatapan Putri Ransah dengan sorot mengerti. Mereka melepaskan pelukan Yuki. Berjalan bergandengan tangan menuju perahu yang tengah bersandar di tepi sungai.
Yuki mengikuti Mereka di belakang.
"Tidak Yuki, Kau tidak bisa" Putri Ransah mendorong Yuki mundur ketika Yuki hendak mengikuti Mereka naik ke atas kapal. Yuki menatap Kedua orang tuanya dengan wajah binggung.
"Kenapa Aku tidak bisa menaikinya Ma ?"
"Belum waktumu untuk menaikinya Yuki" jawab Putri Ransah dengan suara lembut. Nadanya seperti ketika Dia sedang membacakan dongeng untuk Yuki ketika Yuki masih kecil.
"Apa maksud Mama ?"
"Tempat ini adalah batas antara yang mati dan yang hidup. Kau masih hidup Yuki, waktumu masih panjang, banyak hal yang harus Kau lakukan. Kau belum boleh menaiki perahu ini sekarang !" Jelas Putri Ransah tegas.
"Aku sendirian Ma.." Bisik Yuki sedih.
__ADS_1