Morning Dew

Morning Dew
160


__ADS_3

"Tidak apa-apa" bisik Yuki tertahan.


"Aku sudah memanggil Putri sembari tadi. Tapi sepertinya Putri tidak mendengar karena sibuk memikirkan sesuatu sehingga tidak mendengar panggilanku" ujar Pangeran Arana lagi mencoba menjelaskan. "Apa Aku boleh duduk bersama Putri ?" Tanya Pangeran Arana lagi dengan sopan.


Yuki menganggukan kepala menyetujui. Pangeran Arana beringsut dari tempatnya, kemudian duduk di kursi kosong yang ada di dekat Yuki.


"Pantai jika di lihat dari sini sangat indah. Aku lebih suka duduk di taman dan menikmati pemandangan dari sini daripada berada di pantainya langsung" ujar Pangeran Arana membuka pembicaraan. 


Di langit warna langit mulai berubah menjadi oranye kemerahan. Lautan tanpa batas. Kapal-kapal nelayan mulai berlayar menuju ke lautan.


"Pangeran benar, pemandangan dari sini sangat indah" Kata Yuki mengakui kebenaran dari perkataan Pangeran Arana. Dari tempat Mereka duduk, Mereka bisa memandang pantai di bawah Mereka dengan leluasa. 


"Putri, maaf jika Aku sedikit lancang. Apa Aku boleh bertanya sesuatu ?" Tanya Pangeran Arana tiba-tiba.


"Ya,silahkan" jawab Yuki berhati-hati. Dia memegang erat buku catatannya. Khawatir Pangeran Arana telah melihat isinya dan bertanya pada Yuki.


"Apa Putri sedang bertengkar dengan Kakak ?" 


Yuki mengerjap, menatap Pangeran Arana sesaat. "Apa ?" Tanya Yuki kebingungan.


Pangeran Arana tersenyum lega saat melihat ekpresi Yuki.


"Maafkan Aku Putri, tadinya Aku pikir Putri sedang bertengkar dengan Kakak"


"Kenapa Pangeran Arana sampai berpikir sejauh itu ?" Tanya Yuki tidak mengerti.


Pangeran Arana menatap lurus ke rambut Yuki. "Karena Putri tidak mengenakan hiasan rambut yang di berikan Kakak"


Yuki refleks menyentuh rambutnya. Hari ini Yuki memang sengaja tidak mengenakan hiasan rambut yang di berikan Pangeran Sera. Dia ingin tampil sesederhana mungkin, karena tadinya Dia dan Putri Magitha akan kembali berbaur dengan para Putri di pantai. Lagipula Dia juga tidak bisa mengenakan untaian mutiara itu sepanjang waktu. 


"Apakah itu aneh ?" Tanya Yuki tidak mengerti.

__ADS_1


"Hiasan rambut yang di berikan Kakak kepada Putri, adalah milik Ibu yang sebelumnya di berikan oleh Ayah, ketika mengangkat Ibu sebagai wanitanya sebelum Mereka menikah" 


Yuki teringat, Rena juga pernah mengatakan masalah perhiasan itu padanya.


"Hiasan rambut itu di berikan Ibu untuk Kakak, agar Kakak bisa menyerahkannya kepada wanita yang benar-benar dicintainya sebagai pengikat hubungan antara Kakak dan Wanita tersebut, sekaligus sebagai petunjuk pada Ibu, wanita mana yang di pilih Kakak untuk menjadi Ratu yang akan mendampinginya kelak" jelas Pangeran Arana tenang. "Hanya keluarga inti dan pelayan Pribadi Putri yang mengetahui masalah ini. Tapi pasti suatu saat, kerajaan akan menyebarkan makna perhiasan itu secara resmi. Apalagi Kakak telah memberikannya pada Putri" 


Yuki diam mendengarkan penjelasan Pangeran Arana. Di saat seperti ini Dia kembali merindukan Rena. Rena akan selalu paling dulu mengingatkannya jika ada sesuatu yang salah.


"Karena pentingnya perhiasan itu, ada baiknya Putri selalu mengenakan jika keluar Kamar. Karena pergiasan itu adalah simbol pengakuan dari Ibu sebagai Ratu di kerajaan Argueda atas status Putri. Yang otomatis menjadi pengakuan seluruh keluarga besar dari Ibu. Apakah Kakak tidak memberitahu Putri sebelumnya ?" 


"Maafkan Aku Pangeran Arana. Aku sama sekali tidak mengetahui makna dari perhiasan itu. Ketika Aku berangkat kemari, Pangeran Sera sudah tidak ada di istana. Jadi Dia tidak melihat Aku tidak mengenakan perhiasan yang di berikannya" Kata Yuki menyesal. "Terimakasih karena telah memberitahukanku Pangeran Arana. Lain kali Aku akan terus memakainya jika bepergian atau keluar kamar" janji Yuki bersungguh-sungguh.


 


"Tidak apa-apa Putri, Putri masih baru di sini dan belum mengerti mengenai aturan kerajaan Argueda. Tapi Aku yakin suatu saat Putri akan memahaminya" ujar Pangeran Arana penuh arti. 


Yuki menganggukan kepala menyetujui pendapat Pangeran Arana. Dia tidak tahu sampai kapan berada di Argueda. Meskipun Yuki tidak ingin tinggal terlalu lama di Argueda, tapi Dia harus memahami aturan yang berlaku untuk bertahan hidup. Yuki tahu, musuh Pangeran Sera akan selalu mencari celah untuk menyerangnya. Jika Yuki melanggar aturan, Mereka bisa memanfaatkan untuk menghukum Yuki. 


"Ibu sengaja merahasiakan masalah perhiasan itu agar tidak menimbulkan kekacauan. Tapi Karena sekarang Kakak sudah memberikan pada Putri, Ibu juga akan segera membuka masalah ini di depan umum. Para Putri pasti akan heboh, tapi Mereka harus menerima pilihan Kakak dan lebih menghargai Putri sebagai pasangan Kakak"


Sekilas sebuah ide muncul di kepala Yuki. Dia langsung menggengam tangan Pangeran Arana senang. Semua masalah pasti ada jawabannya. Jika tidak mendapatkan dari Para Putri, Dia juga bisa mendapatkan dari orang lain dengan cara yang tidak terduga.


Yuki yakin apa yang akan di lakukannya, akan memancing pelakunya keluar. 


"Terimakasih Pangeran Arana. Kau memang dewa penyelamatku, berkat Kau masalahku terpecahkan" seru Yuki riang.


Pangeran Arana tampak kaget dengan perubahan sikap Yuki. Tapi Yuki sudah tidak perduli. Dia berdiri dari duduknya, dengan senyum penuh percaya diri. Membereskan barang-barangnya di meja.


"Sudah sore lebih baik Aku segera pulang" Kata Yuki kemudian.


"Hati-hati di jalan Putri" 

__ADS_1


"Ah ya...Pangeran, apa Aku boleh meminta tolong padamu. Bisakah Kau sampaikan pesanku pada Putri Magitha. Aku ingin bertemu dengannya besok"


"Jangan khawatir, Aku akan mengunjungi Ibu setelah ini. Akan kusampaikan pesan Putri begitu Aku bertemu dengannya" jawab Pangeran Arana tenang.


Yuki tersenyum mengucapkan terimakasih. "Baiklah, sampai bertemu besok Pangeran" ujar Yuki melambaikan tangan.


Para pelayan dan penjaga yang di tugaskan menjaga Yuki, langsung berbaris rapi dengan sikap bersiap. Yuki meminta Mereka sedikit mengambil jarak dan membiarkan Yuki duduk sendiri dengan alasan ingin menenangkan pikiran.


Dengan perasaan ringan, Yuki berjalan menghampiri Mereka. Kembali menuju istana Pangeran Sera.


Yuki merasa konyol, Dia terus berusaha memikirkan cara menemukan petunjuk atau apapun yang bisa membawanya pada pelaku penyerangan. Padahal jawabannya justru sudah ada pada dirinya. Benda yang sudah sering di pakai Yuki hampir setiap hari. Yaitu hiasan rambut milik Ratu Warda yang di berikan Pangeran Sera padanya.


Sekarang Yuki ingin segera pulang dan menyusun rencana. Dia yakin kali ini akan berhasil.


 


 


Putri Magitha datang keesokan paginya. Ketika Pangeran Sera masih di istana. Jadi Yuki dan Putri Magitha terpaksa menunggu Pangeran Sera pergi dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


Mereka duduk berdua di dalam kamar. Setelah memastikan Pangeran Sera atau mata-matanya tidak ada di tempat. Yuki baru mendekati Putri Magitha.


Yuki menceritakan semua kecurigaannya pada Putri Magitha. Kening Putri Magitha berkerut tidak percaya ketika Yuki menyebut nama Putri Alena. 


Yuki tidak bisa menyalahkan Putri Magitha jika Dia tidak percaya dengan ucapannya. Bahkan Yuki sendiri masih berharap dugaannya salah.


Dia sangat berharap Putri Alena bukan pelakunya. Tapi hati nurani Yuki mengatakan dengan sangat yakin, Putri Alena adalah orang yang selama ini di cari Yuki.


 


 

__ADS_1


__ADS_2