Morning Dew

Morning Dew
126


__ADS_3

Yuki melihat papan di samping gerbang masuk. Di sana tertulis bahwa area ini adalah pemakaman untuk para penjahat kelas berat, yang meninggal dunia baik di penjara maupun eksekusi kerajaan. 


Yuki berbalik. Memandang Pangeran Sera nanar. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Pangeran Sera menepuk punggung Yuki dengan lembut. Memberi kekuatan agar Yuki bertahan.


"Ada yang ingin kuperlihatkan padamu, Aku harap itu bisa mendamaikan hatimu Yuki" bisik Pangeran Sera lirih.


Yuki tidak mengatakan apapun. Kakinya gemetar ketika memasuki gerbang pemakaman. Dia tidak pernah berpikir akan sampai di tempat ini sebelumnya. Yuki menahan perasaanya untuk berbalik dan pergi dari tempat ini. Pangeran Sera berjalan di belakang Yuki. Menuntun Yuki untuk berjalan.


Selangkah dan selangkah lagi.


Hingga pada akhirnya Yuki berdiri di depan sebuah nisan yang terbuat dari batu hitam. Tepat di samping pohon pinus. Makam ini jelas tidak pernah di kunjungi orang sebelumnya. Banyak rumput liar yang tumbuh di sekitarnya. Tapi Yuki masih bisa membaca tulisan yang ada di permukaan nisan.


Dalto Radit 


Yuki mundur beberapa langkah sembari memeluk kuat tubuhnya. Terhuyung ke belakang. Pangeran Sera dengan sigap menahan Yuki yang limbung. 


"Aku baik-baik saja" bisik Yuki ketika Dia sudah bisa mengendalikan diri. Pangeran Sera melepaskan Yuki ketika Dia yakin Yuki sudah bisa berdiri lagi. Yuki menahan nafas. Melihat kembali tulisan di nisan.


Ada pesan di bawah tanggal kematian Bangsawan Dalto. 


Berbahagialah 


Tulisan itu hanya satu kata. Namun mampu membobol pertahanan Yuki dengan cepat. Hanya satu kata, tapi mampu membuka kembali luka Yuki yang telah lama di pendamnya. 


Yuki memeluk nisan di depannya. Menangis meraung melepaskan semua kepedihan yang selama ini berusaha di sembunyikannya. Pangeran Sera memegang bahu Yuki. Membiarkan Yuki menangis. Dia diam tidak mengatakan apapun.


"Semudah itu Kau mengatakannya...semudah itu.."rancau Yuki di sela tangisannya. 


Yuki terus saja menangis. Melampiaskan semua kepedihannya di depan nisan Bangsawan Dalto. Mengeluarkan emosi negatif yang selama ini menjadi teman Yuki. 


Ketika akhirnya Yuki tenang. Pangeran Sera mendudukan Yuki di sebuah batu di samping makam Bangsawan Dalto. Dia mengusap lembut air mata di pipi Yuki. Mata Yuki sembab dengan rambut yang menempel di wajahnya akibat air mata.


Yuki mulai menceritakan semua hal mengenai Bangsawan Dalto pada Pangeran Sera. Kepedihan Yuki. Frustasi. Rasa bersalah. 


Pangeran Sera mendengarkan semua dengan penuh perhatian. Tangannya menggengam lembut jari jemari Yuki. Seperti mengingatkan Yuki bahwa Dia tidak sendiri. Ada Pangeran Sera di sisinya yang akan terus menopang Yuki.

__ADS_1


"Terimakasih Pangeran sudah membawaku kemari" ujar Yuki tersenyum tulus.


"Semoga dengan ini, Kau bisa menerima kepergiannya" balas Pangeran Sera tenang.


Yuki mendongak. Memandang langit sore yang mulai menampakan warnanya. Dia harus segera kembali ke istana.


Pangeran Sera mengantarkan Yuki kembali ke dalam istana Pangeran Riana. Lebih sulit untuk masuk ke dalam karena penjagaan lebih di perketat. Dari raut wajah para penjaga, Mereka telah mengetahui perihal menghilangnya Yuki. Dan mungkin Mereka sudah di marahi oleh Pangeran Riana.


Yuki mengambil kembali pakaian putri yang telah di sembunyikan. Dia bersyukur tidak ada yang menemukan bungkusan miliknya. Dengan segera, Yuki menganti pakaian dan memakai kembali perhiasannya. 


Pangeran Sera pergi ketika merasa Yuki sudah aman untuk di tinggal.


Setelah pergi dari makam Bangsawan Dalto, Yuki seperti menjadi pribadi yang baru. Kesedihan masih ada di dalam hatinya, tapi Dia jauh lebih bisa mengatasinya daripada sebelumnya.


Seperti seseorang yang telah di beri imun, Yuki lebih kebal dengan sakit yang menggerogoti setahun belakangan ini. Yuki berjanji pada dirinya sendiri untuk menghapus air matanya, Dia tidak akan menangisi Bangsawan Dalto lagi. Yuki telah merelakan kepergiannya, sekarang tugas Dia hanyalah berdamai dengan hidupnya dan melupakan semua kesedihan yang telah di alaminya.


Tidak ada lagi kesedihan.


Berbahagialah...


Yuki mendongak. Menatap langit dengan senyum menghiasi wajahnya. Mengingat sosok Bangsawan Dalto dalam pikirannya.


Aku baik-baik saja, jangan cemas.


"Putri Yuki" para pelayan berseru lega, nyaris menangis ketika melihat Yuki berjalan tenang di koridor yang menuju ke kamarnya.


Mereka langsung berlari menghampiri Yuki, dan mengandeng lengan Yuki seolah takut jika Yuki akan kembali menghilang. 


"Putri dari mana. Kami sudah mencari Putri kemana-mana tapi Putri tidak ada" 


"Aku hanya bersembunyi sebentar untuk mencari ketenangan. Aku butuh waktu untuk sendiri beberapa saat" jawab Yuki berbohong. "Ada apa ?"


"Terjadi bencana alam di perbatasan wilayah Argueda dan Garduete. Sekarang Pangeran Riana akan bersiap ke sana untuk memberi bantuan"


"Bencana alam ?" Tanya Yuki kaget.

__ADS_1


"Ya Putri, Tsunami yang sangat hebat. Di perkirakan jumlah korbannya mencapai ribuan" jelas pelayan panik.


"Di mana Pangeran Riana sekarang ?" Tanya Yuki langsung. Sikapnya langsung berubah seperti seorang prajurit yang siap maju berperang.


"Pangeran sedang berada di halaman depan istana, Beliau mengatur pasukan untuk berangkat secepatnya"


"Antar Aku ke sana" 


Yuki langsung berlari menuju halaman depan dan mengantar Pangeran Riana untuk mengatur pasukan. Kereta barang penuh dengan pembekalan yang di butuhkan berjajar rapi di halaman. Para prajurit, tabib, perawat dan pelayan berbaris rapi di tempatnya. Siap untuk melaksanakan perintah.


"Kau sudah kembali ?" Sindir Pangeran Riana ketika melihat Yuki datang mendekatinya. Yuki diam tidak menanggapi perkataan Pangeran Riana. 


Pangeran Riana memandang wajah Yuki. Yuki langsung salah tingkah. Wajahnya sangat mengerikan sekarang ini, matanya sembab sehabis menangis sepanjang sore. Pangeran Riana tidak mengatakan apa-apa. Dia kembali memalingkan wajah untuk membaca laporan di tangannya.


Bangsawan Asry berdiri di dekat Pangeran Riana untuk menghitung jumlah kereta yang di bawa.


"Ambilkan jubah untuk Putri Yuki dan persiapkan perlengkapannya segera. Dia akan ikut Aku" perintah Pangeran Riana kemudian setelah membaca dokumen kepada pelayan wanita. Para pelayan langsung berlari untuk melaksanakan perintah.


"Kau akan mengajaknya ?" Tanya Bangsawan Asry terkejut.


"Memang berbahaya membawanya ke sana. Tapi Aku tidak akan tenang meninggalkannya di sini. Apalagi jika ada yang berusaha menyelinap ke istanaku untuk membawanya"


Yuki terdiam ketika menyadari bahwa sebenarnya Pangeran Riana tahu Pangeran Sera telah menyelinap ke istananya.


Pelayan datang membawa jubah Yuki. Yuki melepaskan semua perhiasan di tubuhnya dan memberikannya kepada para pelayan. Dia menerima jubahnya dan langsung memakainya tanpa banyak berkomentar. Bahkan Yuki meminta pelayan melepaskan alas kakinya untuk Dia pakai. Yuki tidak mungkin mengenakan sepatu putri ke tempat bencana.


"Sepertinya Putri tidak terganggu dengan keberangkatan ini" tanya Bangsawan Asry keheranan melihat sikap tenang Yuki.


Tampaknya Bangsawan Asry juga akan pergi menemani Pangeran Riana meninjau lokasi bencana.


"Seberapa parah keadaanya di sana ?" Tanya Yuki balik sambil mengambil ikat rambut dan membuat cepol rambut di kepala. Beberapa helai rambut Yuki menjuntai keluar. Bangsawan Asry menggelengkan kepala, terlihat pasrah. Dari sikapnya, Yuki tahu bencana tsunami menimbulkan kerusakan yang parah.


"Kita adalah rombongan pertama dari kerajaan yang akan pergi untuk memberikan bantuan. Riana memutuskan untuk langsung pergi melihat sendiri kondisi di lapangan. Tapi Aku tidak menyangka Dia juga akan membawa Putri Yuki" ujar Bangsawan Asry kalem.


 

__ADS_1


__ADS_2