
"Hormat Kami pada Pangeran" seluruh Pelayan yang ada di dalam ruangan tiba-tiba membungkukan badan penuh hormat. Yuki memalingkan wajahnya sedikit dan mendapati Pangeran Riana sudah berada di dalam kamar.
"Penampilan itu yang cocok untukmu" kata Pangeran Riana dengan wajah puas. Dia sendiri sudah membersihkan diri dan berganti pakaian.
Yuki kembali menunduk, menekuni buku yang ada di tangannya. Berusaha untuk mengacuhkan keberadaan Pangeran Riana di dalam kamar. Dia Menatap kosong pada lembar halaman buku dengan bibir terkatup rapat.
Yuki telah berpakaian ala puteri kerajaan Garduete. Pakaiannya menunjukan bahwa Dia adalah wanita berpemilik di istana Pangeran Riana. Seorang selir dengan tingkat Consort VII. Ada lambang pengenal kerajaan di hiasan yang di pakai Yuki sebagai ikat pinggang.
Setiap Dia bergerak terdengar suara gemerincing perhiasan yang saling beradu.
"Bagaimana mungkin pakaian seperti ini pantas untuk seorang budak sepertiku" kata Yuki tenang namun memiliki makna yang dalam.
Pangeran Riana menyipitkan mata sesaat. Dia tersenyum sinis menyambut bantahan Yuki. Sementara pelayan tua yang masih ada di dalam ruangan, memandang Yuki dengan raut tidak suka. Tapi pelayan itu tidak mengatakan apapun. Dia tidak berani menegur Yuki di depan Pangeran Riana, meskipun Ibu suri memberinya perintah untuk mengawasi Putri Yuki.
Pangeran Riana berjalan mendekati Yuki. Yuki masih menundukan kepala acuh, sibuk dengan bukunya. Bahkan ketika Pangeran Riana mendekatkan wajahnya untuk menatap Yuki secara langsung, Yuki tetap tidak bergeming dari posisinya.
Pangeran Riana mengulurkan tangan dan langsung merampas buku di tangan Yuki. Melemparkan buku itu hingga menabrak dinding di dekat Mereka. Kedua tangan Yuki masih terulur dengan posisi membaca. Dia tertegun, tidak menyangka Pangeran Riana akan bertindak seperti itu.
Yuki mendongak, memandang Pangeran Riana dengan sorot kebencian. "Apa Kau sudah puas Pangeran ?" Tanyanya lirih, sembari menekan kata Pangeran dengan nada yang tidak bersahabat.
"Kalian pergilah" perintah Pangeran Riana kepada para pelayan yang masih membungkukkan badan.
Mendengar perintah Pangeran, Mereka bergegas membereskan keluar kamar dengan berbaris rapi.
Begitu semua pelayan keluar, Yuki melepaskan gelang di tangannya dan meletakkan di atas meja. Dia baru akan melepaskan antingnya ketika Pangeran Riana mencekal tangannya untuk menghentikan perbuatan Yuki.
"Apa yang Kau lakukan ?" Tanya Pangeran Riana dingin.
__ADS_1
"Semua perhiasan dan pakaian ini untuk wanitamu tapi bukan Aku" jawab Yuki acuh. Dia menepis tangan Pangeran Riana dan kembali mencoba melepaskan antingnya ketika Pangeran Riana duduk dengan tenang di sofa. Dia menyilangkan kaki yang panjang. Menatap Yuki dengan pandangan menunggu.
"Kau percaya padaku ?" Kata Pangeran Riana kemudian. "Jika Kau melepaskan semua perhiasan itu dari tubuhmu. Akan ku buat Kau memakainya semalaman di atas ranjangku, tanpa sehelai benangpun di tubuhmu"
Yuki berhenti. Dia tahu Pangeran Riana bukan orang yang omong kosong. Dia akhirnya menurunkan tangannya, tidak lagi melepaskan perhiasan di tubuhnya.
Menatap Pangeran Riana dengan penuh kemarahan. Pangeran Riana tidak mengatakan apapun lagi. Dia berdiri dan kembali pergi meninggalkan Yuki seorang diri di dalam kamar.
Yuki memandang pantulan dirinya dari kaca lemari yang terbuat dari cermin.
Seorang gadis berambut cokelat yang mengenakan pakaian puteri kerajaan. Impian setiap para gadis. Dia sangat membenci penampilannya yang sekarang. Yuki mengambil vas bunga di atas meja, bunga yang disusun berhamburan ke lantai saat Yuki melemparkan dengan kesal ke kaca yang memantulkan bayangannya.
Praangg
Vas membentur kaca dan menimbulkan suara nyaring disusul pecahan kaca yang berhamburan di lantai.
Yuki memandang dengan dingin ke arah pecahan kaca. Terdengar langkah kaki mendekat. Dua orang penjaga kamar datang mendengar keributan.
Yuki terdiam beberapa saat. Dia kemudian berbalik dengan tenang. "Ya.." jawab Yuki akhirnya.
Penjaga mendekati Yuki. Mengulurkan tangan untuk membantu Yuki menjauh dari tempatnya berdiri sekarang. Sepertinya penjaga takut Yuki akan melakukan hal yang nekat. Yang dapat melukai dirinya.
Seluruh istana tahu, sudah merupakan rahasia umum jika Pangeran Riana memiliki perhatian yang lebih kepada Putri Yuki. Namun, Putri Yuki terus saja menolak dan tidak menunjukan ketertarikan pada Pangeran Riana. Kabarnya yang di dengar dari mulut ke mulut, Pangeran Riana merebut Putri Yuki dari kekasih Bangsawannya dan juga memutuskan secara sepihak pertunangan Puteri Yuki dengan Pangeran Sera dari Argueda.
Semua orang tahu betapa protektifnya Pangeran Riana terhadap Putri Yuki. Bahkan Pangeran Riana menolak membawa Putri Yuki ke istana wanita dan membawanya ke dalam istananya. Bahkan tinggal di istana pribadinya yang notabene tidak sembarang orang diizinkan Pangeran Riana untuk tinggal.
Ibu dari penjaga itu adalah mantan pelayan, yang pernah melayani salah satu istri Raja Bardana yang telah meninggal. Dari Ibunya, Dia sering mendapatkan cerita bagaimana kejamnya kehidupan di Istana Wanita kerajaan. Persaingan dan intrik untuk memperebutkan kekuasaan selalu menghiasi setiap detik kehidupan di sana.
__ADS_1
Pangeran Riana tidak ingin Putri Yuki berada di istana itu. Dia tahu, istri-istri Raja Bardana dan dayang-dayang milik Pangeran Riana akan berusaha menyerang Putri Yuki. Jadi Pangeran Riana dengan tegas menentang peraturan dan Ibu Suri yang memerintahkan agar Putri Yuki tinggal di istana wanita. Cukup jelas bagi Penjaga itu, jika sampai terjadi sesuatu pada Putri Yuki di bawah pengawasannya, Dia bisa kehilangan kepalanya.
"Panggil pelayan untuk membereskannya" ujar Penjaga pada temannya yang jauh lebih muda. Dalam sekejap temannya pergi untuk melaksanakan perintah.
Penjaga mendudukan Yuki dengan hati-hati di sofa. "Putri duduklah dengan tenang, jika pelayan datang, Aku akan meminta Mereka menyediakan teh herbal dan kue buah plum untuk Putri"
Penjaga terus berada di sisi Putri Yuki sampai para pelayan datang, Mereka langsung membersihkan pecahan kaca di lantai. Dua orang penjaga datang untuk mengangkat lemari untuk di perbaiki.
Seorang pelayan atas perintah penjaga telah membawakan teh herbal dan sepiring kue buah plum yang masih mengepulkan asap.
Warna dan bentuk Kue sangat menarik. Jika dalam keadaan normal, Yuki akan menganggumi penampilan kue itu sebelum memakannya.
Pelayan meletakan kue dan teh di atas meja, di depan Yuki yang masih saja membisu.
Mereka semua tahu apa yang telah terjadi sebelumnya di dalam kamar. Jadi tidak ada yang berani menganggu Yuki.
"Makanlah Putri, teh herbal dan kue buah plum dapat membuat perasaan jauh lebih nyaman" pinta Penjaga dengan sopan.
"Aku tidak ingin makan" tolak Yuki lirih.
"Cobalah sedikit Putri, ini.."
"Apa makanpun Aku harus di atur" potong Yuki sengit. Penjaga langsung terdiam dengan ekpresi serba salah.
"Ada apa ini ?" Semua pelayan dan Penjaga langsung membungkuk untuk memberi hormat. Pangeran Riana muncul dari balik pintu. Dia berjalan sembari melirik ke arah para pelayan yang masih membungkuk dengan membawa pecahan kaca di tangan.
Yuki memalingkan wajah. Seseorang telah melapor kepada Pangeran Riana, sehingga membuat Pangeran Riana kembali.
__ADS_1