Morning Dew

Morning Dew
30


__ADS_3

"Jadi begitu ceritanya, sekarang Aku sudah mengerti duduk perkaranya" ujar Pangeran Sera setelah keduanya terdiam cukup lama. "Riana bukan orang yang mudah dihadapi, pasti sangat berat untukmu menjalaninya"


Pangeran kembali termenung, Dia tenggelam dalam pikirannya. Dia menatap keluar melalui jendela yang dibiarkan terbuka. 


Kemudian Dia menutup matanya, Orang akan mengira Dia tertidur. Dia hanya diam tidak bergerak.


Yuki sadar tidak seharusnya Dia berada di sini dan menganggu Pangeran Sera. Lagipula tidak baik jika sampai ada yang menemukan Mereka berdua di sini. Akan timbul kesalahpahaman. 


Yuki menajamkan telinganya, Dia tidak mendengar ada suara penjaga di luar. Mungkin saja Mereka sudah pergi, Yuki bisa menyelinap meninggalkan gedung.


Jadi Yuki meletakan cangkir teh nya dan berdiri untuk berpamitan.


Pangeran Sera membuka matanya. "Ada apa ?" Tanyanya ketika melihat Yuki sudah berdiri di depannya dengan canggung.


"Aku rasa keadaan sudah cukup aman, Aku akan pergi. Terimakasih atas bantuan Pangeran dan maafkan Aku sudah menganggu waktunya" ujar Yuki sopan.


Pangeran memegang tangan Yuki. Mencegah gadis itu pergi. Yuki mengerjap, menatap Pangeran Sera tidak mengerti.


"Sebentar saja, tetaplah disini" pinta Pangeran Sera tenang.


Yuki terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Pangeran Sera melepaskan pegangannya. Dia kembali bersandar dan memejamkan mata.


Yuki menarik kembali kursi dan duduk. Dia mengambil cangkir teh yang sebelumnya di letakan di atas meja, meminum isinya lagi dengan tenang.


Pangeran Sera masih di posisinya, masih memejamkan matanya seperti orang yang sedang tidur. Yuki membiarkan saja dan tidak menganggunya. Anehnya, meskipun Yuki tahu Pangeran Sera berasal dari Negeri yang sering bersitegang dengan Negeri Garduete, Dia justru merasa aman di dekatnya.


Pangeran Riana membaca laporan yang diterimanya mengenai perpajakan. Bangsawan Xasfir di dekatnya baru saja melapor mengenai hilangnya empat orang gadis, jika di jumlah total sudah sepuluh gadis menghilang dan sampai sekarang belum diketahui keberadaanya.


Pendeta Serfa duduk di sisi lain, Dia membantu Bangsawan Xasfir membaca kembali dokumen mengenai kasus kebakaran kuil lima belas tahun yang lalu. 


"Mungkin kita bisa bertanya kepada pendeta Agung terdahulu" ujar Pendeta Serfa perlahan.

__ADS_1


Pendeta Agung Yarin adalah Pengawal Raja Calverta, Kakek Pangeran Riana. Setelah Raja Calverta meninggal dunia, Dia mengabdikan dirinya di kuil Dewa Aishwara untuk mensucikan diri dari ikatan dunia. 


Meskipun Pendeta Calverta sudah tidak ikut andil dalam urusan kerajaan, tapi Dia masih bisa mendapatkan informasi mengenai pemerintahan yang sekarang. Kasus kebakaran kuil terjadi saat pemerintahan Raja Bardana, tapi Pendeta Yarin pasti juga mengetahui dengan baik permasalahannya. Lebih mudah bertanya kepada pendeta Yarin ketimbang Pendeta Walloi, Pendeta Agung Raja Bardana. 


Selain itu, Pendeta Serfa memang tidak terlalu akur dengan Pendeta Walloi. 


"Aku akan mengunjunginya sore ini" Pangeran Riana melirik kearah pintu ketika terdengar suara ketukan dari luar.


"Masuk" kata Pangeran Riana sembari menutup buku yang dibacanya. Karena hilangnya beberapa gadis perawan yang baru menstruasi pertama, Riana menambahkan penjagaan kepada Yuki. Dari buku kuno yang Dia pelajari, setelah membunuh sepuluh perawan, untuk menyempurnakan ilmunya Dia harus membunuh lebih banyak gadis perawan lagi agar kekuatannya bertambah.


Pangeran Riana tahu Yuki masih perawan.


Dia belum bisa memastikan apakah dugaan penggunaan ilmu hitam di sekitar kerajaan ada. Tapi Riana tidak mau mengambil resiko. 


Seorang Prajurit penjaga pintu masuk bersama kepala pengawal yang Dia tugaskan untuk menjaga Yuki. Pangeran Riana tahu saat pengawal itu masuk bahwa gadis itu tidak bekerjasama kali ini.


 "Pangeran hamba melapor..."


Kepala Pengawal meneguk air liurnya. "Putri Yuki mengalihkan perhatian Kami saat keluar kelas dan kabur, Kami berusaha mengejar dan mencarinya di gedung sekolah. Sementara dari penjaga yang mengawasi Bangsawan Dalto, Putri Yuki tidak datang menemuinya" kata Kepala pengawal itu langsung.


Pangeran Riana sudah diperingatkan oleh Raja Bardana sebelumnya, jika Putri Yuki bukanlah Putri yang gampang untuk di atur. Dia sekarang mempercayai ucapan ayahnya.


Selain tidak mudah diatur, Dia pembangkang dan keras kepala. Kesabarannya sangat diuji dalam menghadapi gadis itu.


"Maafkan Kami Pangeran, Kami akan berusaha menemukan Putri Yuki secepat mungkin"


"Kalian terus cari sampai ketemu, tanyakan juga pada teman-temannya yang lain" Pangeran Riana mengeluarkan Gulfnya dan menghubungi Bangsawan Voldermon.


"Baik Pangeran, Kami akan laksanakan" Kepala penjaga bergegas mundur. Dia lega Pangeran tidak menghukum Mereka, tadinya Dia sudah berpikir pasrah jika Pangeran menghukum cambuk Mereka atas kelalaian menjaga Putri Yuki.


Bangsawan Voldermon menutup panggilan dari Pangeran Riana, dan kemudian memanggil Putri Norah. Pangeran Riana sangat menjaga jarak dengan anak Raja Bardana yang lain semenjak pemberontakan yang dilakukan Pangeran Eranda, Anak Raja Bardana dengan istri ketiganya Putri Erika.

__ADS_1


Bangsawan Voldermon selalu digunakan sebagai perantara untuk menghubungi mereka. 


"Kau tau dimana Putri Yuki sekarang ?" Tanya Bangsawan Voldermon langsung ketika Putri Norah menerima panggilannya. Wajah Putri Norah langsung masam.


"Aku bukan pengasuhnya" jawab Putri Norah tanpa menyembunyikan rasa tidak sukanya. "Bukankah Dia dikawal empat orang penjaga, Kenapa kakak tidak menanyakan saja pada Mereka"


"Kau tau bagaimana Riana jika suasana hatinya sedang buruk, Dia memintaku untuk mencari informasi darimu"


"Jangan mengancamku, Aku dan Yuki tidak pernah berhubungan baik, jadi bagaimana mungkin Aku tahu Dia ada dimana ?, Tapi Dia belum terlihat di kelas, apakah ada masalah ?"


"Dia mengerjai para penjaga dan menghilang" Bangsawan Voldermon tahu lebih baik memberi sedikit informasi pada Putri Norah. Berdasarkan sifat Putri Norah, dengan informasi kecil seperti ini, Dia akan mencari tahu untuk dijadikan bahan bergosip. Tapi biasanya apa yang di dapat sangat akurat.


"Aku sudah bilang sebelumnya, Dia bukan barang sempurna untuk dijadikan wanita Kakak" cibir Putri Norah dengan senang karena menemukan bahan bergosip.


"Jika nanti Dia kembali ke kelas hubungi Aku"


"Aku tahu"


"Kalau Kau menemukan informasi juga hubungi Aku"


"Astaga, Kenapa Kalian ini, mau saja di permainkan anak kecil" Putri Norah langsung menutup Gulfnya.


Yuki berjalan sendirian di koridor sekolah yang sepi. Pelajaran sudah dimulai setengah jam yang lalu. Hanya terdengar suara dari dalam ruang kelas tempat kegiatan belajar mengajar berlangsung.


Dia tidak tahu harus kemana, setelah berpamitan dengan Pangeran Sera dan mengedap-endap menghindari para penjaga yang masih mencarinya, Dia berhasil sampai di lantai ini. Tapi masuk sekarang di kelas kedisiplinan sama saja cari mati. Yuki tidak tahu sampai kapan Dia tidak diketemukan. Dia juga belum menemukan alasan yang tepat untuk disampaikan kepada Pangeran Riana nanti. Yuki mencoba tidak membayangkan kemarahan Pangeran Riana.


Di ujung tangga ketika Yuki akan berbelok Dia terpekik. Pangeran Riana berjalan memungunginya tak jauh dari tempat Yuki. Dia tidak menyadari keberadaan Yuki. 


Refleks, Yuki langsung mundur dan bersembunyi di balik tembok. Dia mengintip Pangeran Riana untuk membaca situasi.


Dari raut wajah Pangeran Riana, jelas Dia sedang mencari Yuki. Jika Yuki tidak segera menghindar sekarang, Dia akan terkena masalah.

__ADS_1


Yuki tidak menyangka Pangeran Riana sendiri yang turun mencarinya.


__ADS_2